Selasa, 26 Oktober 2021

(Ngaji of the Day) Shalat Khusyuk Menurut Imam Al-Ghazali

Kita sering bertanya terkait shalat khusyuk seperti apa. Kita kemudian mencoba membayangkan shalat khusyuk seperti apa. Kita selanjutnya mencoba mengejar shalat yang khusyuk menurut bayangan kita tersebut.

 

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin tidak mendefinisikan shalat khusyuk seperti apa. Tetapi kita dapat memahami konsep khusyuk Imam Al-Ghazali dari sejumlah kutipannya. Imam Al-Ghazali dalam menerangkan keutamaan khusyuk mengutip ayat Al-Qur’an, hadits nabi, qaul sahabat, dan pengalaman ulama.

 

Imam Al-Ghazali pertama mengutip Surat Thaha ayat 14:

 

قال الله تعالى وأقم الصلاة لذكري

 

Artinya, “Laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku,” (Surat Thaha ayat 14).

 

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip Surat Al-A’raf ayat 204:

 

وقال تعالى ولا تكن من الغافلين

 

Artinya, “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai,” (Surat Al-A’raf ayat 204).

 

Imam Al-Ghazali lalu mengutip Surat An-Nisa ayat 43:

 

وقال عز وجل لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون

 

Artinya, “Jangan kalian mencoba mendekati shalat dalam keadaan mabuk hingga kalian menyadari apa yang kalian baca,” (Surat An-Nisa ayat 43).

 

Imam Al-Ghazali mengutip sejumlah keterangan ulama perihal mabuk yang dimaksud pada Surat An-Nisa ayat 43:

 

قيل سكارى من كثرة الهم وقيل من حب الدنيا وقال وهب المراد به ظاهره ففيه تنبيه على سكر الدنيا إذ بين فيه العلة فقال حتى تعلموا ما تقولون وكم من مصل لم يشرب خمرا وهو لا يعلم ما يقول في صلاته

 

Artinya, “Ada ulama mengatakan, mabuk (yang mengganggu shalat pada Surat An-Nisa ayat 43) disebabkan kebanyakan bimbang terhadap masalah duniawi atau disebabkan oleh hubbud duniya atau gila duniawi. Wahab berkata, yang dimaksud dengan mabuk adalah zahirnya. Surat An-Nisa ayat 43 mengisyaratkan mabuk duniawi karena Allah menerangkan illatnya, ‘hingga kalian menyadari apa yang kalian baca.’ Berapa banyak orang shalat tidak meminum khamar tetapi tidak mengerti apa yang dibaca dalam shalatnya,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz I, halaman 194).

 

Imam Al-Ghazali lalu mengutip Surat An-Nisa ayat 43:

 

وقال النبي صلى الله عليه و سلم من صلى ركعتين لم يحدث نفسه فيهما بشيء من الدنيا غفر له ما تقدم من ذنبه

 

Artinya, “Siapa saja yang melakukan shalat dua rakaat dan tidak bergumam tentang dunia pada keduanya, niscaya diampuni dosanya yang terdahulu,” (HR Ibnu Abi Syaibah dan dan Bukhari Muslim tanpa lafal ‘Bi syay’in minad duniya’).

 

Imam Al-Ghazali juga mengutip keterangan kitab suci sebelumnya:

 

وروي عن الله سبحانه في الكتب السالفة أنه قال ليس كل مصل أتقبل صلاته إنما أقبل صلاة من تواضع لعظمتي ولم يتكبر على عبادي وأطعم الفقير الجائع لوجهي

 

Artinya, “Diriwayatkan dari kitab-kitab suci terdahulu, Allah berfirman, ‘Tidak setiap orang yang melakukan shalat Kuterima ibadah shalatnya. Aku hanya menerima shalat orang yang merendahkan diri pada keagungan-Ku, shalat orang yang tidak sombong terhadap hamba-hamba-Ku, dan shalat mereka yang memberi makan fuqara yang lapar karena mengingat-Ku,’” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/194-195).

 

Imam Al-Ghazali mengutip hadits nabi perihal tujuan dasar ibadah:

 

وقال صلى الله عليه و سلم إنما فرضت الصلاة وأمر بالحج والطواف وأشعرت المناسك لإقامة ذكر الله تعالى فإذا لم يكن في قلبك للمذكور الذي هو المقصود والمبتغى عظمة ولا هيبة فما قيمة ذكرك

 

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Shalat diwajibkan, haji dan thawaf diperintahkan, dan manasik disyi’arkan untuk menegakkan zikrullah. Jika di hatimu Allah yang dimaksud dan dituju tidak hadir dengan keagungan dan kehebatan, maka tidak ada nilai zikirmu.’ (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi),” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/195).

 

Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits nabi perihal seharusnya pikiran diarahkan pada saat shalat:

 

وقال صلى الله عليه و سلم للذي أوصاه وإذا صليت فصل صلاة مودع أي مودع لنفسه مودع لهواه مودع لعمره سائر إلى مولاه كما قال عز و جل يا أيها الإنسان إنك كادح إلى ربك كدحا فملاقيه

 

Artinya, “Rasulullah SAW berwasiat kepada sahabatnya, ‘Bila kamu shalat, maka laksanakanlah seperti shalat orang perpisahan,’ (HR Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi), yaitu shalat orang yang meninggalkan nafsunya, shalat orang menjelang wafatnya, shalat orang yang berjalan kepada Tuhannya sebagaimana firman Allah ‘Wahai manusia! Sungguh, kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya,’ (Surat Al-Insyiqaq ayat 6),” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/195).

 

Imam Al-Ghazali mengutip pengalaman Aisyah RA dan Rasulullah SAW yang sangat mengagungkan Allah melalui ibadah shalat:

 

وعن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يحدثنا ونحدثه فإذا حضرت الصلاة فكأنه لم يعرفنا ولم نعرفه اشتغالا بعظمة الله عز و جل

 

Artinya, “Dari Sayyidatina Aisyah RA, ia bercerita, “Suatu hari kami berbincang dengan Rasulullah SAW. Ketika masuk waktu shalat, tiba-tiba beliau seakan tidak mengenal kami dan kami tidak mengenalnya karena terpaku pada keagungan Allah.” (HR Azadi),” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/195).

 

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip hadits nabi perihal perhatian Allah pada shalat yang seperti apa:

 

وقال صلى الله عليه و سلم لا ينظر الله إلى صلاة لا يحضر الرجل فيها قلبه مع بدنه

 

Artinya, “Rasulullah bersabda, ‘Allah tidak memandang shalat orang yang hati dan badannya tidak menghadap (kepada Allah),’” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/195).

 

Imam Al-Ghazali juga meriwayatkan Imam Al-Hasan yang melihat seseorang yang sedang melakukan shalat sambil memainkan kerikil dengan berkata, “Allāhumma zawwijniyal hūral īna atau Ya Allah kawinkanlah aku dengan bidadari surga.”

 

Selesai shalat, Imam Al-Hasan berkata kepadanya, “Kamu seburuk-buruk pelamar perempuan. Kamu melamar bidadari sambil bermain dengan kerikil.”

 

Imam Al-Ghazali juga mengutip ucapan Ibnu Abbas RA, “Shalat dua rakaat dengan durasi sedang dengan tafakur pada keagungan Allah lebih baik daripada qiyamul lail dengan hati lalai,” (Lihat Imam Al-Ghazali, 2018 M: I/195).

 

Kita memang tidak menemukan pengertian shalat khusyuk secara definitif dalam Kitab Ihya Ulumiddin. Tetapi dari berbagai kutipan tersebut, kita dapat menarik simpulan sebagai catatan atas shalat khusyuk.

 

1. Shalat khusyuk dilakukan dengan hati yang hudhur atau hati yang sadar menghadap kepada Allah.

 

2. Shalat dilakukan tanpa melakukan perbuatan di luar rukun fi’li seperti iseng-iseng bermain kerikil, colek jamaah sebelahnya, menginjak kaki orang lain, bercanda atau bermain ujung sajadah sebagaimana kelakuan anak-anak (yang dapat dimaklumi).

 

3. Shalat dilakukan dengan mengikuti tuntunan dalam kajian fiqih shalat.

 

4. Shalat dilakukan dengan tenang sebagaimana diajarkan kiai dan orang tua terdahulu seperti yang diamalkan oleh masyarakat Indonesia selama ratusan tahun.

 

5. Shalat juga harus dibarengi dengan kepedulian sosial terhadap mereka yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan.

 

Wallahu a’lam. []

 

Sumber: NU Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar