Rabu, 27 Oktober 2021

Gus Im dan NU Online (Bagian 2-Habis)

Pekan-pekan Terakhir Gus Im Kamis siang 20 Juli 2020 pukul 11.00, saya dan Hengki, salah satu kru islami.co, tiba di kediaman Savic Ali ("Mas Savic," kami menyebutnya). Kamis merupakan jadwal senggang di mana tim redaksi islami.co membicarakan apa saja. Saya kadang ikut nimbrung.

 

“Emang ada orangnya?” tanya petugas keamanan di muka perumahan yang mengerti Savic lebih banyak di rumah sakit.

 

“Ada pak, kita sudah janjian,” jawab saya.

 

Tiba di rumahnya, saya dan Hengki disambut dengan ingar bingar musik lawas Barat yang keluar dari sound system di dekat teve. Dengan rambut agak basah ia membukakan pintu dan mempersilakan masuk.

 

Suara perbincangan kami harus berlomba keras dengan alunan musik yang memenuhi ruangan. Kami membahas apa saja mulai dari temuan saya atas metode cepat belajar nahwu, gramatika Arab, sampai pengalaman estetis ketika menonton konser besar Kantata Takwa di Parkir Timur Senayan dengan kualitas sound system-nya berkekuatan 300.000 watt yang tidak pernah mengecewakan penonton dan konser solo Iwan Fals pada medio awal 2000an.

 

Kita bercerita bagaimana kita saat itu dimanjakan dengan acara MTV atau M 97 FM, radio yang memutar full seri-seri classick rock yang memperdengarkan lagu-lagu rock, rock n roll, blues dari tahun 1960-an hingga 1990-an.

 

Di tengah suara ingar bingar musik classic rock, saya menceritakan pengalaman nge-band saat MTS-SMK pada 1998-2004, termasuk tarif sewa studio musik di tepi Jakarta mulai dari harga Rp.5000-Rp.21.000 pada masa itu.

 

Saya juga membahas karakter khas suara gitar Les Paul, SG dari Gibson, Ibanez, dan terutama Fender yang umumnya dipakai studio musik ketika itu. Saya menunjuk kekhasan suara Les Paul di tangan Mick Taylor (gitaris Rolling Stone 1969-1974, pasca-Brian Jones) dan di tangan Slash, "eks" gitaris Guns N Roses.

 

Adapun Savic Ali menceritakan kualitas sound system dan memperkenalkan alat kecil sejenis amplifier mini yang baru dibelinya yang mempengaruhi kejernihan dan kualitas suara musik. Ia juga mengabarkan audio cenverter, alat kecil yang mengubah audio dalam satu format ke format audio lainnya.

 

Kita membahas perkembangan classic rock dari 1960-1990an dan musisi idola serta koleksi kaset masing-masing selain perubahan teknologi dari medium analog ke digital melalui beberapa tahapan. Terakhir saya menanyakan kondisi terkini Gus Im.

 

Senin siang 20 Juli 2020, saya memimpin rapat rutin redaksi di Kantor NU Online. Juli 2020 merupakan jadwal piket bulanan koordinator liputan NU Online. Direktur NU Online Savic Ali membuka pintu kantor dan nimbrung dalam rapat tersebut yang sebenarnya diselenggarakan secara daring.

 

Selesai rapat dan peserta rapat undur diri, Savic Ali (Pemred NU Online 2010-2015) bercerita aktivitas terakhirnya dan juga terkait kesehatan Gus Im yang terus menurun. Ia bercerita bahwa ia dan beberapa orang saja menunggui Gus Im yang sudah dirawat di rumah sakit sejak beberapa pekan.

 

“Dirawat di Lebak Bulus,” kata Savic Ali.

 

Ketika seorang kru redaksi bertanya “Rumah Sakit Fatmawati?” Savic menjawab, “Bukan.” Saya hanya mengangguk-angguk dan tidak mencoba menyebutkan rumah sakit lain yang saya ketahui di sana.

 

Kepada kita, ia mengatakan kesehatan dan kesadaran Gus Im terus menurun. Meski demikian, ia masih dapat berdiskusi banyak hal. Gus Im juga masih berdiskusi tentang musik. Sebagaimana diketahui, Gus Im berselera pada musik klasik Eropa Abad Ke-18 dan juga musik kontemporer seperti band Metallica dan Guns N Roses.

 

Savic Ali selama satu bulan terakhir lebih banyak di rumah sakit daripada di rumah menulis, “Pernah aku puterin Metallica, Janis Joplin maupun Beethoven, karena ia sempat ngomongin Beethoven. Juga pernah, saat kondisi sangat lemah, aku bilangin, ‘Wis, la haula wala quwwata Illa billah aja.’ Dan, ia menirukan dan meneruskan ‘aliyyil adzim.’”

 

Kamis 23 Juli 2020, saya dan kru redaksi NU Online Abdullah Alawi (per 1 Agustus 2020 menjadi Pemred NU Online Jabar) mengunjungi kediaman Savic Ali di pinggiran Jakarta. Kami bertukar kabar tentang perkembangan terkini terkait NU dan lain sebagainya.

 

“Aku bawa sound kecil untuk Gus Im dan beberapa seri classic rock,” kata Savic.

 

Di rumahnya, saya mencoba menebak rumah sakit di Lebak Bulus tempat Gus Im dirawat karena hampir setiap hari saya melewatinya. Saya pun menyebut nama rumah yang dimaksud.

 

“Jangan bilang-bilang ke yang lain,” pesan Savic.

 

Tidak ingin ramai-ramai adalah khasnya Gus Im. Oleh karena itu, betapa terkejutnya Savic Ali ketika pada 28 Juli 2020 saya kabarkan di grup redaksi sebuah selebaran medis dengan keterangan pasien atas nama lengkap Gus Im sedang memerlukan darah golongan B.

 

“Yah, gimana sih orang-orang. Tapi ya sudah lah,” kata Savic.

 

Senin 27 Juli 2020, kita mengelar rapat redaksi. Savic Ali datang sebagaimana biasa, bermasker. Ia datang sekira 20 menit sebelum rapat selesai. 5 menit rapat selesai, Wakil Direktur NU Online H Syaifullah Amin datang. Mereka kemudian menuju rumah sakit tempat Gus Im dirawat.

 

“Kosong Min, ayok nginep di rumah sakit,” kata Savic kepada H Syaifullah Amin di meja redaksi.

 

Rabu 29 Juli 2020, Savic Ali datang ke kantor NU Online lebih pagi. Wajahnya menampakkan wajah orang kurang tidur. Ia duduk sebentar, makan, lalu menandatangani sejumlah berkas yang diajukan tim manajemen NU Online.

 

“Mas, saya minta profil umum Gus Im,” kata saya.

 

“Kamu ambil saja dari buku puisi (Bunglon, buku puisi yang pernah dia kasih ke saya pada akhir November 2014),” jawabnya.

 

“Wah itu terlalu singkat dan umum mas,” kata saya.

 

“Ya nanti kutulis,” katanya.

 

Dia ambil minum sebentar kemudian meninggalkan kantor.

 

Sabtu subuh, 1 Agustus 2020, kita semua dikabarkan bahwa Gus Im meninggal. Selamat jalan Gus. Pandanganmu terkait khittah keredaksian NU Online yang mengintegrasikan diaspora orang NU, menyediakan bahan keislaman-ke-NU-an, dan mewakili ortodoksi (sikap organisasi) NU masih terngiang di benak kami hingga hari ini. []

 

(Alhafiz Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar