Selasa, 16 September 2014

(Ngaji of the Day) Haji, Antara Ibadah dan Kehormatan



Haji, Antara Ibadah dan Kehormatan
Oleh: Zaimuddin Ahya’

--Haji merupakan rukun Islam kelima setelah syahadad, sholat, zakat, dan puasa. Ibadah yang satu ini dianggap sangat istimewa oleh kebanykan umat Islam. Hal itu mungkin disebabkan haji dilaksanakan di tempat yang istimewa bagi umat islam, yaitu Makah Al-Mukaromah, kota lahirnya agama Islam sekaligus Nabinya.

Melaksanakan ibadah haji adalah dambaan setiap muslim, sehingga sebagian mereka rela hidup sederhana supaya dapat menabung untuk ongkos naik haji. Haji dianggap sebagai ibadah penyempurna keislaman seseorang. Maka, tidak sedikit orang yang tambah rajin beribadah seusai melaksanakan rukun Islam yang ke lima ini.

Haji adalah ibadah yang harus dilakukan hanya  karena Allah semata seperti halnya ibadah-ibadah lain, tapi menumbuhkan rasa ikhlas dalam ibadah haji lebih berat dari pada ibadah-ibadah yang lain. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

Pertama, haji memerlukan ongkos yang tidak sedikit, karena itu orang yang telah mampu menunaikan ibadah haji terkesan orang yang berkecukupan,sehingga memungkinkan timbulnya rasa unggul di atas orang-orang yang belum berhaji. Kedua, berubahnya status sosial, karena ketika orang telah melaksanakan ibadah haji, dia akan lebih dihormati dan disegani oleh masyarakat dan ini bisa menimbulkan hilangnya keikhlasan dan tumbuhnya keinginan untuk dihormati.

Niat yang Salah

Haji yang sebenarnya sebuah ibadah bisa berubah menjadi kemaksiatan ketika niatnya salah, sebagaimana sabda Nabi “Innamal ‘amalubinniyyat”, sesuatu itu tergantung niatnya. Mungkin hal inilah yang menjadi penyebab seseorang yang sudah haji berkali-kali tetapi tidak punya moral, bahkan memanfa’atkan status hajinya untuk pencitraan an sich.

Mungkin juga, kesalahan niat tersebut yang menyebabkan para pemimipin bangsa ini hajinya berkali-kali tapi korupsinya juga tak mau berhenti, bahkan semakin hari semakin mejadi-jadi. Menurut Gus Mus, hal ini disebabkan ibadah yang mereka laksanakan hanya sampai pada daging, tidak menembus k eruh. Maka, selama haji mereka adalah haji daging, ibadah haji tidak akan berdampak kecuali hanya sekedar ritual formal belaka.

Pemandangan memilukan juga terjadi dalam masyarakat, seperti seseorang yang telah mengerjakan ibadah haji ketika tidak dipanggil dengan sebutan “Pak Haji” atau“Bu Haji”, merasa direndahkan.

Belajar dari Sejarah Haji

Haji adalah ibadah fisik yang seakan-akan takberma’na, tapi sebenarnya mempunyai ma’na yang mendalam, ada kesabaran dan ketulusan. Ibadah haji sudah ada sebelum Rasulullah SAW diutus, ibadah ini disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim as, karena itu banyak bentuk ritual haji yang berhubungan dengan kehidupan beliau.

Misalnya sa’i dari bukit Sofa ke Marwah, ritual ini menggambarkan bagaimana payahnya Siti Hajar dalam mencari air dengan penuh kesabaran sehingga Allah meberikan pertolongan berupa air yang keluar dari bongkahan batu yang tersentuh oleh kaki NabiIsma’il as. Peristiwa tersebut memberikan sebuah pelajaran bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya yang ikhlas. Kemudian wukuf di Arafah, di tempat ini semua jama’ah haji berkumpul jadi satu tanpa membedaan pangkat dan status sosial.

Maka, bagi mereka yang berpikir akan tersirat dari lubuk hati masing-masing, bahwa manusia pada hakikatnya tidak punya apa-apa dan mempunyai hak  yang sama dimata Allah, yang membedakan hanyalah ketaqwaan. Kesadaran semacam ini penulis yakini akan medorong kepada perbaiakan moral yang lebih baik. Amiin. []

Zaimuddin Ahya’, Santri Al-Fadlu Kaliwungu dan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar