Selasa, 01 September 2015

Shambazy: Judil dan Malari



Judil dan Malari
Oleh: Budiarto Shambazy

Satu lagi buku menarik tentang Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) telah terbit, berjudul Biografi Judilherry Justam, Anak Tentara Melawan Orba. Judil menduduki posisi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI) ketika ditangkap Orde Baru (Orba) karena didakwa terlibat Malari.

Seperti halnya biografi, buku ini bercerita tentang sosok Judil yang dikenal sebagai aktivis politik sejak mahasiswa sampai kini. Ia konsisten mengkritisi Orba tidak hanya saat menimba ilmu kedokteran di UI, tetapi juga setelah itu melalui Petisi 50.

Risiko dan penderitaan yang ditanggung Judil bukan main! Ia bukan cuma dipenjara atau dibuntuti aparat intelijen ke mana pun pergi, lisensi praktiknya sebagai dokter pun dicabut.

Judil membuat gempar panggung politik ketika mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1978 menjadi pesaing Presiden Soeharto. Bersama dengan sejumlah tokoh anti Orba, Judil melanjutkan kiprah politik dengan mendirikan Partai Ummat Islam tahun 1998.

Sejak Malari sampai kini, Judil berhasil mencatatkan diri sebagai aktivis/politisi yang tidak "menjual diri" yang terus berupaya menjaga integritas. Seperti salah satu bab biografinya, Judil adalah "Anak Tentara Besar di Sekolah Katolik dan Menjadi Aktivis HMI".

Nah, latar belakang politik terjadinya Malari sampai kini masih gelap. Kerusuhan itu memakan korban 11 orang tewas, 685 mobil hangus, 120 toko hancur dan rusak, serta 128 korban luka berat dan ringan.

Proyek Senen yang kala itu diperkirakan bernilai sekitar Rp 2,6 miliar terbakar habis. Petang hari, Proyek Senen hangus dilalap api yang tak pernah padam sampai esok paginya. Penjarah menghabisi Proyek Senen sampai ludes. Mereka mencuri perhiasan emas dan permata, barang elektronik, sampai pakaian atau mebel.

Peristiwa berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar dari Kampus UI di Jalan Salemba menuju Kampus Universitas Trisakti di bilangan Grogol pada tengah hari. Di situ mahasiswa dan pelajar memaklumatkan Apel Tritura 1974, yang meminta pemerintah menurunkan harga-harga, membubarkan lembaga Aspri (Asisten Presiden), dan menggantung koruptor-koruptor.

Setelah apel bubar, mahasiswa dan pelajar itu membakar patung Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Lalu, mereka menuju ke Istana dan coba menerobos masuk. Istana ketika itu menjadi tempat pertemuan Presiden Soeharto dan PM Tanaka, yang bertamu sejak 14 Januari 1974.

Entah siapa yang memulai, demonstrasi murni anti dominasi ekonomi Jepang itu berubah menjadi kerusuhan massal. Di berbagai jalan protokol, puluhan mobil dibakar massa.

Gedung Astra di Jalan Jenderal Sudirman rusak berat dilempari berbagai macam benda. Kerusuhan juga terjadi hampir di sepanjang Jalan Gajah Mada serta Jalan Hayam Wuruk. Di daerah bisnis Glodok, banyak para pengendara harus rela menyaksikan kendaraan mereka dirampas, dirusak, sampai dibakari warga. Jakarta jadi wilayah tak bertuan dan, seperti biasa, warga Tionghoa yang tak bersalah menjadi korban amok.

Aparat keamanan baru mampu mengendalikan keadaan sekitar waktu maghrib. Pemerintah segera memberlakukan jam malam. Pada 16 Januari, kobaran api dan asap masih terlihat di beberapa wilayah Ibu Kota. Namun, situasi dengan cepat kembali normal 17-18 Januari 1974 sehingga aturan jam malam dikurangi.

Bukan cerita baru Malari meletus akibat persaingan antara Wapangab/Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dengan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Bidang Khusus Mayjen Ali Moertopo. Tanggal 2 Januari 1974, Soemitro bersama Ali dan Kepala Bakin Letjen Sutopo Juwono menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana untuk membantah mereka terlibat persaingan.

Selesai pertemuan, Soemitro kepada para wartawan membantah dirinya berniat melancarkan makar terhadap Soeharto. "Kalau terus-terusan begini, seolah-olah Pak Mitro akan mengadakan makar. Ini orang dua diadu terus. Soemitro, Ali Moertopo, calon-calon presiden. Apa-apaan ini...," kata Soemitro sambil menunjuk Ali.

Rumor tentang rencana makar oleh Soemitro sebenarnya sudah beredar setahun sebelum Malari meletus. Ia sering berkunjung ke kampus-kampus di Jawa dan mengintrodusir pernyataan tentang kepemimpinan nasional yang dianggap membahayakan kekuasaan yang sah.

Terlepas dari kebenaran rumor makar oleh Soemitro, suasana politik sudah telanjur "membusuk" beberapa tahun sebelum terjadi Malari. Tewasnya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Rene Louis Conrad, dalam "konfrontasi" mahasiswa melawan ABRI pada September 1970 merupakan salah satu insiden politik yang penting.

Masyarakat muak menyaksikan Golkar memulai kebiasaan bermain curang untuk memenangi secara mutlak Pemilu 1971. Kerusuhan di Bandung pada Agustus 1973 menjadi awal kemunculan sentimen anti Tionghoa.

Setelah meletusnya kerusuhan Malari, lebih dari 50 pemimpin lembaga kemahasiswaan serta para cendekiawan ditangkap. Beberapa surat kabar nasional diberedel.

Sempat beredar kabar seram mantan Ketua MPRS Jenderal (Purn) AH Nasution pun akan ditangkap, gosip yang tak menjadi kenyataan. Setelah Malari, Soeharto tetap berdiri tegak. Jenderal demi jenderal, demonstrasi demi demonstrasi, tak mampu menggoyahkannya.

Pelajaran dari Malari: selalu ada pihak-pihak yang mengail di air keruh demi kekuasaan. Mereka tega meletuskan kerusuhan massal, tak peduli dengan kerugian nyawa ataupun harta yang biasanya hanya ditanggung rakyat biasa.

Dalam acara peluncuran biografi Judil, Kamis (27/8), di Jakarta, aktivis yang juga dipenjarakan karena Malari, Rahman Tolleng, menyebut Judil tokoh anomali karena sikapnya idealistis. "Idealisme bagai seonggok debu di atas batu yang akan hilang ditiup angin. Tapi, Judil tidak. Ia tidak kenal menyerah memperjuangkan idealisme sampai era pasca Reformasi," ujar Tolleng.

Cuma sedikit aktivis atau politisi yang menempuh "jalan yang jarang dilalui" (the road less traveled) yang butuh panduan moral dan stamina batin yang tak mudah ditundukkan kekuasaan. Kita lebih banyak menjumpai aktivis dan politisi yang menempuh jalan semrawut dan berisik. []

KOMPAS, 29 Agustus 2015
Budiarto Shambazy | Wartawan Senior Kompas

Kang Komar: Akar Rumput



Akar Rumput
Oleh: Komaruddin Hidayat

Kita semua tahu ketika mendengar orang menyebut kata akar-rumput. Namun ketika dua kata ini diungkapkan bukan oleh petani, melainkan intelektual dan politisi, maknanya menjadi lain.

Mari kita membayangkan sejenak tentang akar dan rumput. Fungsi akar sangat vital bagi sebuah pohon. Pohon besar dengan batangnya yang tinggi, dahan bercabang-cabang dan ditutup daun lebat dan rindang serta buahnya bergelayutan, semua itu tidak lepas dari jasa dan peran akarnya. Jika akarnya tidak menghujam kokoh ke dalam tanah, pohon besar tadi akan mudah roboh ketika diterpa angin kencang.

Fungsi akar juga untuk menyerap vitamin atau pupuk yang kemudian disalurkan ke seluruh bagian dari pohon, sehingga jika akarnya mengalami defisit vitamin, pohon akan kurus mengering layaknya tubuh manusia. Kita sering kagum melihat pohon yang tumbuh segar dan rindang, namun jarang menyadari akar sangat besar jasanya, meskipun tidakterlihat oleh mata.

Jarang kita memuji akar karena memang tidak terlihat. Mata lebih mudah kagum dan terkecoh oleh objek yang terlihat. Begitu pun ketika kita masuk restoran menikmati hidangan lezat, yang menarik perhatian adalah pramusajinya serta dekorasi ruangnya. Padahal peran juru masak di belakang layar sangat menentukan kualitas makanannya. Lebih dari itu adalah jasa para petaninya.

Bagaimana halnya dengan rumput? Banyak sekali peran dan manfaat rumput untuk kehidupan kita. Tanpa rumput, yang muncul adalah tanah atau padang pasir gersang. Bagi mereka yang pernah melewati dataran gundul atau padang pasir, sangat menyadari betapa vitalnya rumput untuk menutupi permukaan bumi agar air yang dikandungnya tidak cepat menguap.

Agar permukaan bumi tidak gersang. Rumah-rumah mewah dengan halaman yang luas pasti memerlukan rumput untuk mempercantik halamannya dan menjaga kandungan air yang terserap di bawah permukaan tanah. Tanpa dukungan dan perlindungan rumput, tanggul-tanggul di pinggir jalan akan mudah tergerus air jika turun hujan.

Jangan tanya betapa besarnya peran rumput dalam permainan sepak bola dan golf. Lihat saja tayangan televisi ketika menyiarkan pertandingan sepak bola atau golf yang berkelas dunia. Di situ hamparan rumput nan hijau dan tertata rapi menimbulkan pemandangan yang indah bagi berlangsungnya sebuah festival berupa permainan dan pertandingan olahraga.

Jadi, jangan sekali-kali memandang rendah fungsi dan eksistensi rumput. Lalu, bagaimana ketika akar dan rumput digabung menjadi “akar rumput”? Lebih jauh lagi, bagaimana ketika akar rumput itu mengering? Yang dimaksud akar rumput oleh analis politik adalah eksistensi dan fungsi rakyat bawah atau rakyat kecil yang masif.

Mereka ini memiliki kekuatan sebagai penyangga jajaran elite yang berada di atas. Tanpa dukungan rakyat kecil, kehidupan berbangsa dan bernegara ini akan mudah ambruk ketika diterpa guncangan politik. Lebih bahaya lagi ketika akar rumput itu mengering, akan mudah sekali terbakar atau dibakar.

Hanya dengan lemparan sebatang rokok yang menyala, rumput itu akan mudah tersulut karena akarnya pun sudah mengering. Mereka mengering karena banyak penyebabnya. Bisa jadi karena kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, meningkatnya jumlah pengangguran, buruknya kesehatan, yang semua ini akan mendekatkan pada keputusasaan dan menggerus kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Jika akar rumput ini sudah mengering dan meluas maka sangat mudah terbakar dan menghanguskan bangunanbangunan capaian atau prestasi yang sudah diraih selama ini. Sekali lagi, yang dimaksud akar rumput itu tak lain adalah rakyat kecil. Lantaran kecil dan jumlahnya banyak, maka mereka dianalogikan dengan rumput.

Kalaupun dedaunan rumput itu terlihat mengering, namun jika akarnya masih kuat tertanam di bawah permukaan tanah, maka ketika mendapatkan siraman hujan, rumput itu akan seketika tumbuh subur menghijau. Namun jika yang kering itu sudah merasuk sampai akarnya, mudah sekali terbakar dan dapat menghanguskan hutan dan bangunan di sekitarnya ketika jilatan apinya dihempas angin.

Demikianlah adanya, jika rakyat sudah sampai pada titik lelah, jenuh, dan terhimpit oleh tekanan ekonomi yang dirasakan semakin sulit, maka mereka mudah sekali diprovokasi untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya yang bisa menciptakan kerusuhan dan keresahan sosial. []

Koran SINDO, 28 Agustus 2015
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

(Ngaji of the Day) Bolehkah Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Toilet?



Bolehkah Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Toilet?

السلام عليكم ورحمة الله وبركات.

Pak ustadz. Ada satu hal yang mengganjal di hati saya, apa hukum menyimpan aplikasi al-Qur’an di hp mengingat hp adalah barang yang selalu saya bawa kemana-mana bahkan ke kamar kecil. Apakah saya berdosa...Terima kasih atas jawabannya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Trisa – Sidoarjo

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Penanya yang budiman, Al-Qur’an adalah Kalam Allah SWT  yang merupakan mu’jizat bagi Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushhaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Begitu defenisi Al-Qur’an  menurut Dr. Subhi Sholih.

Sebagai kitab suci, terdapat beberapa aturan untuk menyimpan dan memegangnya. Di antaranya, diri kita harus dalam keadaan suci dari hadats jika hendak memegang Al-Qur’an. Kemudian, Al-Qur’an  harus diletakkan di tempat yang layak sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya. Oleh karena itu Ulama melarang membawa Al-Qur’an  dibawa ke dalam toilet. Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Mughnil Muhtaj hal. 155 mengutip pendapat Imam Al-Adzra’i ;

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

Artinya : Imam Al-Adzra’i berkata : pendapat yang tepat adalah haram membawa Mushhaf dan semisalnya ke dalam toilet tanpa dhorurot. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap Mushhaf.

Di sini perlu diperjelas tentang Mushhaf yang dimaksud dalam kutipan di atas. Imam Nawawi Banten mengatakan tentang batasan Mushhaf ; Yang dimaksud dengan Mushhaf adalah setiap benda yang di sana terdapat sebagian tulisan dari Al-Qur’an yang digunakan untuk dirosah (belajar) seperti kertas, kain, plastik, papan, tiang, tembok dan sebagainya.(lihat Nihayatuz Zain hal. 32).

Masalahnya kemudian, sekarang banyak Software Al-Qur’an  yang terdapat dalam PC, laptop dan Handphone/Smartphone yang bisa kita baca dan juga bisa kita gunakan untuk belajar. Apakah Software tersebut dihukumi seperti Mushhaf dan bagaimana hukum membawanya ke dalam toilet? Dalam hal ini, ulama kontemporer menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana yang terdapat dalam fatwa-fatwa kontemporer yang dikompilasikan dalam kitab Mauqi’ul Islam, Sual wa jawab hal. 53 ;

ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺠﻮﺍﻻﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﺿﻊ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﺗﺴﺠﻴﻼ، ﻻ ﺗﺄﺧﺬ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻟﻤﺴﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﺨﻼﺀ ﺑﻬﺎ، ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﻟﻴﺲ ﻛﻜﺘﺎﺑﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ، ﻓﻬﻲ ﺫﺑﺬﺑﺎﺕ ﺗﻌﺮﺽ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﻝ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺣﺮﻭﻓﺎ ﺛﺎﺑﺘﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﻣﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻏﻴﺮﻩ

Artinya: Handphone atau Smartphone yang di dalamnya terdapat Al-Qur’an  baik yang tampak sebagai tulisan atau berupa audio tidak dihukumi sebagai mushhaf. Oleh karena itu boleh memegangnya dalam keadaan hadats dan juga boleh membawanya ke dalam toilet. Ini disebabkan tulisan Al-Qur’an  yang tampak di HP/Smartphone tidak seperti tulisan dalam Mushhaf, tulisan tersebut adalah getaran listrik atau pancaran sinar yang bisa nampak dan bisa hilang serta bukan merupakan huruf yang tetap. Lebih dari itu, dalam HP/Smartphone terdapat banyak program atau data selain Al-Qur’an.

Penanya yang dirahmati Allah, dari penjelasan di atas bisa dilihat bahwa membawa HP yang di dalamnya terdapat software Al-Qur’an hukumnya BOLEH. Akan tetapi kita harus menghormati Al-Qur’an  sebisa mungkin dengan tidak membuka software Al-Qur’an  ketika di dalam toilet.

Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan jawaban ini memberi manfaat bagi kita semua. Semoga kita senantiasa diberi taufiq dan hidayah oleh Allah SWT. untuk selalu membaca Al-Qur’an  dan semoga Allah SWT menjadikan Al-Qur’an  sebagai petunjuk, rahmat dan cahaya bagi kita. Aamiin…

والله الموفق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya’ Ulumuddin
Tim Bahtsul Masail NU

Senin, 31 Agustus 2015

(Do'a of the Day) 16 Dzulqa'dah 1436H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Hafidhakallaahu bimaa hafidhta bihi nabiyyahu.

Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memelihara Nabi-Nya.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 16, Bab 24.