Senin, 07 Juli 2014

Sindhunata: Jerman Lawan Jerman



Jerman Lawan Jerman
Oleh: Sindhunata

MALAM ini di Recife, Brasil, dunia sepak bola bakal disuguhi duel dua pelatih Jerman, Joachim Loew dan Juergen Klinsmann. Klinsmann adalah pelatih Jerman pada Piala Dunia 2006 dan Loew adalah asistennya saat itu.
Publik bola ingat betapa rukun dan kompak mereka berdua. Keduanya muda, modis, dan trendi. Keduanya sering berangkulan, lebih-lebih ketika mengamati pemain asuhan mereka harus mengeksekusi tendangan yang menegangkan dan menentukan.

Sesungguhnya sekarang Klinsmann dan Loew tidak perlu tegang. Dibandingkan Ghana, apalagi Portugal, Amerika Serikat asuhan Klinsmann dan Jerman yang ditangani Loew berada dalam posisi yang sangat aman. Jika mau, cukup dengan bermain seri dalam duel malam ini AS dan Jerman bisa sama-sama melenggang ke babak 16 besar Piala Dunia Brasil 2014 sebagai wakil Grup G.

Apakah mereka berdua tidak tergoda untuk bermain mata?

Pertanyaan di atas sempat diramaikan oleh kalangan pers Jerman. Alasannya, Jerman tidak sebersih seperti yang dikira orang. Mereka pernah bermain licik dan melanggar ”moral bola”. Itulah noda yang dikenang sebagai die Schande von Giyon atau aib dari Giyon.

Waktu itu, di Giyon terjadi penentuan dalam babak penyisihan Grup B Piala Dunia 1982. Aljazair sudah menekuk Jerman, 2-1, kalah dari Austria, 0-2, dan menang atas Cile, 3-2. Bagi Aljazair, babak berikutnya sudah di ambang mata. Jerman harus menang atas Austria, sedangkan Austria tidak boleh kalah lebih dari 2 gol. Jika skenario ini berjalan, Jerman dan Austria akan lolos dengan mengusir Aljazair pulang secara mengenaskan.

Disengaja atau tidak, ternyata skenario itu sungguh terbaca di lapangan. Pada menit ke-11, gelandang Jerman, Horst Hrubesch, berhasil menyarangkan gol ke gawang Austria. Penonton berharap pertandingan akan berjalan seru. Ternyata dalam 80 menit tersisa tidak kelihatan bahwa, baik Jerman maupun Austria, berniat bermain bola. Mereka hanya main-main. Jelas mereka hanya ingin mempertahankan skor 0-1 untuk kemenangan Jerman sampai akhir pertandingan.

Stadion Giyon menjadi gelanggang caci maki. Penonton bersuit-suit, jengkel. Suporter Aljazair gemas dan geram. Mereka mengacung-acungkan lembaran mata uang seakan hendak mengatakan, Jerman dan Austria adalah ”koruptor bola”. Komentator stasiun televisi Jerman, ARD, Eberhard Stanjek, menyebut laga itu sebagai aib. Koleganya dari televisi Austria, Robert Seeger, menganjurkan sebaiknya penonton di rumah mematikan saja televisi mereka.

Media-media di luar Jerman dan Austria mengecam dengan kasar aksi bola yang tidak terpuji itu. De Telegraaf dari Belanda mencaci peristiwa Giyon itu sebagai ”sepak bola porno yang menjijikkan”. La Gazzetta dello Sport dari Italia mengejeknya sebagai ”sebuah lelucon yang menyakitkan”. Dan, koran Perancis, Liberation, mencela sambil mengingatkan bahaya dari ”amoral bola” itu, ”Jika orang-orang Aljazair menuduh itu rasialisme, tuduhan mereka tidaklah keliru.”

Akankah ”aib dari Giyon” tersebut terulang di Recife? ”Tidak mungkin!” bantah Klinsmann dengan tegas.

Saat peristiwa Giyon terjadi, Klinsmann baru berusia 17 tahun. Dia mengatakan sama sekali tidak punya urusan dengan peristiwa Giyon. Karena itu, tak mungkin dia dan Loew bersepakat untuk membuat ”pakta tidak saling menyerang”. ”Kami datang ke Recife hanya dengan satu tujuan, yakni mengalahkan Jerman,” kata mantan pelatih Jerman itu, seperti dikutip Suddeutsche Zeitung, kemarin.

Kekuatan moral

Joachim Loew, mantan asisten Klinsmann yang kini pelatih Jerman, juga terang-terangan menyatakan tidak mau mengalah. Bagi Loew, kemenangan atas AS adalah mutlak. Sebab, kemenangan itu bisa menguatkan moral untuk pertandingan selanjutnya.

”Apa yang ada di kepala kami akan memengaruhi kelakuan kami,” kata Loew. Karena itu, Loew menjaga agar jangan sampai keraguan ataupun kekhawatiran hinggap di kepala anak-anak asuhannya.

Bola adalah bagian dari kultur. Maka, mengalahkan AS lewat bola juga akan menambah superioritas kultur Jerman terhadap AS. Sebab, menurut pengarang buku Planet Germany, Eric T Hansen, Jerman mempunyai kompleks rasa minder terhadap AS. Menurut Hansen, penulis satir AS yang lama hidup di Jerman, kompleks itu berhubungan dengan dihancurkannya Jerman oleh tentara Sekutu dalam Perang Dunia II.

Koloni AS

Sejak saat itu, Jerman merasa menjadi koloni AS dan orang-orang Jerman merasa AS telah menghancurkan kultur mereka. ”Semua yang jelek datang dari AS,” begitu orang Jerman meratapi nasibnya.

Apabila kompleks itu dibiarkan, orang-orang Jerman bisa menderita psychose. Karena itu, kata Hansen, orang Jerman harus memupuk kesadaran diri dan merasa dirinya sebagai bangsa yang sederajat dengan AS.

”Mereka harus berhenti meratap dan berani berkata, ’selesai dengan Amerika’,” tulis Hansen dalam Zeit online menjelang pertemuan Jerman dan AS di Recife nanti.

”Selesai dengan Amerika,” itulah tekad Loew dengan sepak bolanya. Memang dengan bola Jerman juga bisa mengangkat harga dirinya terhadap AS. Oleh karena itu, kata seri tidak ada dalam benak mereka.

Sementara itu, kata Klinsmann, ”Giyon adalah bagian sejarah Jerman, bukan sejarah AS. Kami adalah sahabat, tetapi kali ini persoalannya bukanlah persahabatan. Kali ini adalah urusan pertandingan untuk menang.” Menjelang duel Jerman-AS nanti, Klinsmann harus menjadi ”orang Jerman yang memusuhi Jerman”.

Menjelang Piala Dunia 2014, Klinsmann telah meminta Berti Vogts, yang juga mantan pelatih Jerman, untuk membantunya. Menurut Vogts, Klinsmann sebenarnya sudah tahu kelemahan-kelemahan Jerman. ”Klinsmann sebenarnya tidak membutuhkan saya untuk mengetahui rahasia kesebelasan Jerman. Ia mengenal mereka dengan lebih baik,” kata Vogts.

Klinsmann amat paham relung-relung kesebelasan Jerman. Mungkin itulah yang akan membuat anak-anak asuhan Loew tidak bakal terlalu mudah mengalahkan anak-anak Klinsmann di Recife nanti. []

KOMPAS, 26 Juni 2014
Sindhunata ; Wartawan, Pemimpin Redaksi Majalah ‘Basis’ Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar