Rabu, 02 Juli 2014

Dahlan: Memperjuangkan Impian, Menitipkan Harapan



Memperjuangkan Impian, Menitipkan Harapan
Sabtu, 31 Mei 2014

Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat telah berakhir. Dan alhamdulillah, saya ditetapkan sebagai pemenangnya. Walaupun tahapan konvensi hanya berhenti di situ. Tak bisa lanjut ke tahap berikutnya. Takdir berkata lain. Perolehan suara Partai Demokrat tak memungkinkan mengusung capres. Koalisi dengan partai lain pun gagal terbentuk. Tidak mengapa. Inilah takdir yang harus kita terima.

Konvensi Partai Demokrat bagaimanapun juga harus tetap kita apresiasi. Hal itu menjadi penambah warna dalam demokrasi Indonesia. Tahun ini hanya Demokrat yang menggelar konvensi terbuka. Sebuah langkah maju bagi demokrasi, walaupun hasilnya belum sesuai harapan.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Relawan Dahlan Iskan (ReDI) yang telah membantu banyak hal, pada semua pendukung yang mengantarkan pada perolehan rating tertinggi dalam konvensi. Bagaimanapun juga kerja keras selama proses konvensi telah berhasil. Dengan ketetapan saya sebagai pemenangnya. Para relawan tak perlu kecewa.

Masyarakat telah mengetahui realitas dan konstelali politik yang ada. Banyak tanggapan. Ada yang mengatakan bahwa konvensi antiklimaks. Ada yang bilang saya jadi cawapres saja. Tapi yang paling banyak adalah pertanyaan “Pak, setelah gagal nyapres lalu bagaimana?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan ini.

Sudah berkali-kali saya katakan bahwa nyapres bagi saya bukanlah ambisi. Ingin, iya. Tapi bukan yang harus dikejar dengan mati-matian. Masih banyak cara mengabdi di negeri ini selain dengan nyapres.

Seperti yang sering saya katakan, yaitu dengan; Kerja! Kerja! Kerja!

Apa pun kata orang jangan terlampau dipedulikan. Buktikan saja dengan kerja. Itu yang saya lakukan selama ini. Dari dulu hingga sekarang sebagai menteri.

Sebenarnya ada tiga pilihan bagi saya saat ini. Pilihan yang harus saya renungkan dengan baik. Pilihan ini tidak hanya berkonsekuensi bagi saya pribadi, tapi juga bagi Indonesia.

Pertama, berhenti. Artinya, ya, sudah. Cukup. Berhenti saja dan menjadi penonton pertarungan dua capres yang ada. Kedua, berhenti sebentar lalu lanjut lagi. Tahun ini mungkin tidak bisa nyapres. Tunggu lima tahun lagi. Ketiga, pada tahun ini menitipkan harapan dan cita-cita kepada orang yang kita yakini mampu mengembannya.

Seorang manusia diingat bukan karena wajahnya. Tapi karena ide, cita-cita dan gagasannya. Manusia yang tanpa punya cita-cita mudah dilupakan. Orang yang telah lama tiada bisa jadi abadi karena idenya dikenang. Diwariskan pada generasi selanjutnya. Berusaha untuk diwujudkan.

Saya juga punya cita-cita bagi negeri ini. Sebuah harapan untuk kemajuan bangsa. Sewaktu mengikuti konvensi saya uraikan hal itu dengan panjang lebar. Juga dengan langkah- langkah mencapainya. Dan sangat mungkin untuk dilakukan.

Saya selalu mengatakan bahwa Indonesia harus melakukan pengamanan energi jangka panjang. Energi merupakan factor vital yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi, social bahkan politik. Ketergantungan atas BBM perlu dicarikan alternatifnya. Ini perlu political will yang kuat dalam pengembangan teknologi dan penerapan kebijakan. Semua negara maju telah melakukan langkah ini. Saya juga bercita-cita dalam lima tahun ini Indonesia mampu menjadi Negara terbesar nomor 9 di dunia. Menurunkan indeks Gini dari 4,2 menjadi 3,4 agar kesejahteraan lebih merata. Serta menaikkan ranking MDG’s.

Sebuah cita-cita harus diwujudkan. Kalau itu demi bangsa harus dikerjakan. Lewat tangan siapa pun. Kalau tak bisa dikerjakan sendiri, minta tolong orang lain untuk membantu mengerjakan. Oleh karena itulah, tak ada pilihan berhenti. Pilihan pertama sudah gugur. Tinggal dua pilihan, berhenti untuk mengambil jeda atau menitipkan cita-cita pada orang lain.

Saya lebih memilih untuk menitipkan cita-cita pada orang lain. Pada orang yang kita percayai. Pada orang yang menurut kita mampu untuk melaksanakannya. Dan saya memilih itu. Karena bagi saya, terwujudnya cita-cita itu lebih penting dari sekadar duduk di posisi itu. Kewenangan tidak untuk dinikmati, tapi dibuktikan dengan kerja. Kerja harus merupakan perwujudan cita-cita.

Tahun ini kita semua dihadapkan pada pemilihan presiden. Dengan dua pasangan calon, yaitu Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Saya lebih memilih untuk menitipkan cita-cita pada orang lain. Ini piihan. Sebuah keputusan yang saya ambil. Pilihan ini saya ambil karena saya tak mau berhenti bekerja. Saya tidak mau “jeda” kalau itu urusan bangsa dan negara. Jangan jadi penonton, tapi lakukan sesuatu. Kerjakan sesuatu. Inilah motto hidup yang saya pegang selama ini.

Saya tidak memaksa untuk mengikuti pilihan saya, terutama untuk para relawan. Perbedaan pendapat bukanlah akhir dari sebuah hubungan. Hubungan baik yang sudah terjalin selama ini jangan sampai retak hanya persoalan selisih pendapat. Yang paling penting adalah cita-cita yang kita emban bersama. Dimanapun pilihan itu dijatuhkan, pastikan cita- cita itu diwujudkan.

Kerja! Kerja! Kerja! []

Dahlan Iskan

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar