Kamis, 03 Juli 2014

Kang Sobary: Perjuangan Petani Rembang



Perjuangan Petani Rembang
Oleh: Mohamad Sobary

Ketegangan di pegunungan Kendeng di wilayah Pati tempat kediaman sedulur sikep dan di wilayah perbatasan Rembang-Blora seperti bisul memecah. Petani-petani Blora sudah lama resah. Pembangunan pabrik semen yang direstui pemerintah setempat ditolak para petani yang bakal menjadi korban hidup-hidup yang tak dipikirkan pemerintahnya sendiri.

Kawasan pabrik sudah ditentukan secara sepihak oleh pabrik Semen Gresik yang sekarang menjadi Semen Indonesia. Wilayah tempat pabrik beroperasi hanya sekitar setengah kilometer dari desa hunian penduduk. Bunyi bising, polusi suara, tak bisa dibayangkan bagaimana dampaknya bagi ketenangan masyarakat. Polusi udara, debu-debu semen yang beterbangan, menyesakkan nafas penduduknya, tak diragukan bakal menjadi problem mengerikan. Dalam ketegangan terusmenerus pada tahun-tahun terakhir, teror dilakukan. Pihak pabrik dibantu atau minta bantuan– dengan membayar, tentu saja–aparat berwajib.

Kabarnya, ada pihak warga desa yang dipengaruhi dan disuruh meneror mayoritas warga desa lain yang menolak kehadiran semen. Pihak yang menjadi kaki tangan pabrik ini dengan sendirinya juga orang bayaran. Dia memang lahir di desa itu, besar dan hidup di desa itu. Tapi, menurut kabar yang disampaikan warga desa yang mengadu ke suatu pesantren di Rembang, orang itu gigih meneror tetangga- tetangganya sendiri. Bukan hanya itu. Orang-orang yang masih ada hubungan saudara dengannya, yang gigih menolak kehadiran pabrik yang bakal menghancurkan lingkungan mereka, juga diteror.

Kabarnya, dia selalu membawa golok panjang, sejenis pedang, dan ketika mendatangi sasarannya, termasuk keluarganya sendiri, senjata tajam itu diacung-acungkan untuk menakut-nakuti mereka. Tapi, warga desa yang sudah takut kepada pabrik semen tidak begitu takut pada peneror ini. Boleh jadi dia tak akan tega berbuat lebih jauh. Teror itu kekerasan. Tapi, dia tak bakal berani bertindak lebih keras dari kata-kata. Lain hal dengan pihak polisi yang tampak sigap, bersenjata, dan matanya tajam mengawasi setiap warga desa yang menolak kehadiran pabrik semen tadi.

Ada mahasiswa KKN pun kabarnya diselidiki dengan teliti, penuh kecurigaan. Orang desa setempat, orang baik-baik, warga negara yang melakukan kebaikan demi menjaga desa merekasendiri, takutpada polisi itu karena dia aparat resmi. Bagaimana aparat resmi yang seharusnya melindungi warga masyarakat dari berbagai ancaman ternyata tak melakukan tugasnya. Sebaliknya, mengapa dia justru menjadi ancaman bagi masyarakat?

Duit memang berkuasa. Ketegangan demi ketegangan itu pecah dua minggu lalu. Jika bisul pecah merupakan tanda bakal datang kesembuhan, ketegangan dengan kekuatankekuatan luar yang memakai simbol-simbol resmi kenegaraan, apa akan jadinya? Kesembuhan akan datang, apa pemaksaan lebih lanjut, dengan kekerasan lebih kejam?

Saya hadir di Rembang, di sebuah pesantren tempat diskusi itu berlangsung. Warga masyarakat sudah diberi nasihat agar untuk sementara waktu mereka bersikap tenang. Menolak ya menolak. Itu kewajiban yang tak bisa ditunda. Menolak kehancuran diri sendiri dan lingkungan sekitarnya itu wujud kebajikan langit yang diminta diturunkan ke bumi buat menata kehidupan bumi yang makin ruwet dan makin kejam ini.

Penduduk desa itu telah melakukannya. Nasihat itu ditambah lagi: jangan ada tanda-tanda kekerasan dari para petani. Ke mana pun mereka muncul, di sawah, di ladang, apalagi di lokasi bakal pabrik itu didirikan, jangan membawa apa pun yang bisa diartikan bakal melakukan kekerasan. Kalau warga di ladang, usahakan hanya di ladang untuk salat bersama. Semua berbusana putih dan salat di sana sebagai cara kita bertahan agar tak dirusak oleh siapa pun. Langkah itu mulia. Kita hanya salat berjamaah. Kita hanya memohon perlindungan Allah karena polisipolisi yang seharusnya melindungi sudah tak mungkin diharapkan.

Hanya tinggal kepada Allah satu-satunya penolong, pelindung, dan pemelihara yang bisa kita harapkan. Pendek kata, tanda-tanda kekerasan, jangan dilawan dengan kekerasan. Ini tak bakal menolong. Sebaliknya, kekerasan hanya akan memperparah kehidupan warga desa. Mereka pun setuju. Malam itu diskusi diakhiri dengan doa untuk kemudian diawali dengan tindakan nyata; hidup jauh dari simbolsimbol kekerasan.

Sekali lagi dua minggu lalu ketegangan itu pecah dalam bentuk kekerasan. Media nasional juga menyiarkan kekerasan itu. Ibu-ibu –ya, ibu-ibu– tampak dipukuli aparat berwajib karena mereka juga turut demo, mempertahankan sekeping tanah tempat mereka menumpang hidup selama di dunia fana, yang bagi mereka, tak memberi kekayaan apa pun selain kekayaan rohani selama dizalimi pemerintahnya sendiri. Mereka petani miskin. Mereka perempuan-perempuan mulia. Apakah aparat yang kejam itu tak punya ibu? Kalau mereka punya dan ibu mereka juga sudah setua ibu-ibu yang mereka pukuli, apakah mereka tak merasa seperti memukuli ibu mereka sendiri? Jika di dalam hati kecil mereka ada terbetik perasaan seperti itu, mengapa mereka teruskan/mengapa seorang anak memukuli ibu mereka sendiri?

Betapa terkutuk mereka. Atau barangkali mereka sudah disergap mimpi-mimpi buruk sesudah kekejaman terhadap kaum ibu, yang sudah tua itu, sudah mereka lakukan. Mungkin mereka sudah dikutuk oleh perasaan mereka sendiri? Itu kalau mereka punya perasaan. Kalau tidak, siapa yang mengutuk mereka? Warga desa yang tak punya apa-apa selain jiwa yang tulus dan amal baik bagi kehidupan dunia mereka telah dihancurluluhkan oleh aparat keamanan yang membela pabrik semen yang tak bisa berbicara baikbaik dengan warga masyarakat setempat.

Para pimpinan pabrik itu orang sekolahan. Sebagian bisa berdoa. Sebagian salat. Sebagian mungkin orang NU. Tapi, bagaimana mencari untung bagi pabriknya sendiri, untung sendiri, mulia sendiri, kaya sendiri, tanpa berbagi dengan penduduk yang tanahnya dirusakbinasakan?

Saya tinggal di Jakarta. Tempat saya jauh dari lokasi. Ketika mendengar kekerasan itu berlangsung, saya tak bisa berbuat lain selain menulis esai perlawanan ini dan berdoa. Saya menemani penduduk perbatasan Rembang-Blora yang dianiaya. Saya berdoa untuk mereka.

Perlawanan ini untuk mendukung perlawanan mereka dan memperkukuh jiwa mereka bahwa mereka layak ditemani. Orangorang tertindas di mana-mana butuh teman. Para penindas, penguasa pabrik Semen Indonesia, semoga masih bisa mendengar jeritan bangsanya sendiri. Lebih-lebih jeritan ibu-ibu. Apakah para pimpinan yang menyuruh dilakukannya kekerasan itu dulu tidak lahir dari seorang perempuan? Apakah mereka tidak punya ibu dan tak pernah punya ibu? Apakah mereka tak pernah merasakan kasih sayang dan kelembutan ibu mereka? Ibuibu yang dipukuli di ladang itu makhluk sejenis dengan ibuibu mereka sendiri.

Kalau aparat keamanan memukuli mereka, kita paham, mungkin orang tak terdidik dan dilatih kekerasan, tak bisa membayangkan bahwa yang mereka pukul itu ibu mereka sendiri. Tapi, kaum terpelajar, yang menjabat direktur, wakil direktur, bagian keuangan, direksi, atau para pejabat lainnya, membiarkan ibu-ibu dipukuli? Apakah jiwa mereka tumpul, setumpul jiwa aparat keamanan yang tak bisa membayangkan bahwa ibu-ibu itu orang tua mereka, ibu-ibu mereka sendiri? Perjuangan petani Rembang menahan datangnya pabrik mahal sekali ongkosnya. Tapi, ”sedumuk bathuk, senyari bumi”memang layak dibela. Apa pun dan berapa pun ongkosnya. []

KORAN SINDO, 23 Juni 2014
Mohamad Sobary ; Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar