Rabu, 20 November 2013

Santri versus Priyayi


Santri versus Priyayi

 

Pada awalnya bangsa ini bersatu padu. Berbagai lapisan masyarakat, baik pedagang, priyayi, santri, petani bangsawan dan rohaniawan saling akrab. Meraka hidup alam sebuah kosmologi yang sama yaitu kosmologi Nusantara yang meletakkan mereka dalam posisi dan peran masing-masing yang bertugas memayu ayuning bawono (menjaga ketertiban dunia). Dengan cara itu kehidupan menjadi harmonis, sebab mereka dididik dalam satu sistem yang sama yaitu pesantren atau paguron.

 

Ternyata kehidupan yang komunal dan harmoni itu menyulitkan Belanda untuk menyeleundupkan agenda kolonialnya, maka mereka lalu dipecah belah. Caranya belanda mendidik para pemuda dalam sekolah Belanda yang kemudian menjadi ambtenaar (pegawai belanda). Priyayi ambtenar ini berbebeda dengan priyayi sebelumya ang dididik di pesantren, sehingga tidak berkonflik dengan santri. Tetapi priyayi ambtenaar ini dididik secara Belanda dan diajari membenci segala yang berbau pribumi dan agama yang merupakan karakter para santri.

 

Bahkan para kiai yang dulunya setara dengan para priyayi dan para bangsawan kerajaan, derajatnya direndahkan oleh para priyayi ambtenar itu. Mereka menempatkan diri sebagai bendoro, sementara kiai diangap kawulo. Kalau ada yang mau menghadap harus bersila dilantai, sementara mereka, para priyayi ambtenar itu duduk di singgasana. Mereka menggunakan bahasa kasar (ngoko), sementara terhadap mereka harus menggunakan bahasa yang halus (kromo).

 

Melihat kenyataan itu para kiai dan satri menjauhkan diri dari pusat kota, kediaman para priyayi untuk menghindari gaya hidup yang materialis sebagai kaki tangan penjajah. Karena itu pembanguna pesantren baru selalu mengambil tempat yang jauh dari keramaian untuk menghindari pengaruh negatif Belanda, dengan tetap menjaga nilai agama dan mengembangkan kepribadian bangsa Nusantara.

 

Dengan cara itu pendidikan agama berjalan dengan baik sehingga moralitas masyarakat bisa dipertahankan jauh dari materialisme dan hedonisme yang dikembangkan penjajah. Dengan adanya pesantren itu pula berbagai tradisi dan kebudayaan Nusantara bisa terus dikembangkan tanpa gangguan dari Belanda.

 

Menyembuhkan stigma yang dibuat Belanda itu memang tidak mudah. Hingga saat ini walaupun sudah sangat tipis stgma itu terkadang masih ada. Tetapi kini pola hidup santri kembali menjadi pilihan yang membanggakan. []

 

Mun’im DZ,

Disadur dariu buku 'Peringatan 20 tahun Indonesia Merdeka', Departemen Penerangan RI, Jakarta: 1965

Tidak ada komentar:

Posting Komentar