Kamis, 28 November 2013

Napak Tilas Jejak Bung Karno dan Bung Hatta di Rengas Dengklok, Karawang – Jawa Barat


Napak Tilas Jejak Bung Karno dan Bung Hatta di Rengas Dengklok, Karawang – Jawa Barat

 

Suatu malam yang belum begitu gelap, Firdaus Ananta Ababiel atau biasa dipanggil Mas Abiel menghampiri ayahnya seraya membawa buku pelajaran sekolahnya yang pada salah satu halamannya menyajikan sebuah puisi perjuangan karya sang maestro Nusantara, Chairil Anwar.

 

Karawang – Bekasi

 

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

 

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

 

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

 

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami


Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

 

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

 

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

Ah, puisi legendaris itu, pernah juga dibaca secara perlahan-lahan oleh sang Ayah, dulu waktu dia seusia Mas Abiel. Entah rasa apa yang singgah di dalam benak sang Ayah ketika meresapi puisi hebat itu. Bergejolak, berkecamuk, bergemuruh, bergelegak, ataukah hanya sepoi – sepoi saja. Dan, apakah rasa yang sama juga hinggap di dalam benak Mas Abiel dan juga teman – teman seusianya saat ini?

 

“Yah, Mas Abiel ingin berkunjung ke RUMAH SEJARAH di Rengas Dengklok - Karawang,” pungkas Mas Abiel membuyarkan lamunan sang Ayah. “Tolong diantar, ya, Yah…”, Mas Abiel menyambung permintaannya sebelum sang Ayah memutuskan sikapnya.

 

“Lho, apa hubungannya antara puisi Chairil Anwar dan Rengas Dengklok, mas?” sang Ayah mencoba untuk menelisik.

 

“Yah, bukannya Bung Karno dan Bung Hatta pernah diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengas Dengklok yang masih masuk Karawang itu?”, jawab Mas Abeil cepat. Dan, sang Ayah pun tersenyum. “OK, Insya Allah nanti Hari Minggu Ayah akan antar. Ajak Mas Rizal juga sekalian,” punkas Ayah menyanggupinya.

 

Dan singkat cerita, Hari Minggu yang agak mendung namun cerah itu pun segera datang. Berbekal Honda Karisma 125 cc kesayangan dari Kota Metropolitan Cikarang, Ayah, Mas Abiel, dan Ar Rizal Ridwan Kinantaka atau lebih suka dipanggil Mas Rizal pun bersama-sama menuju titik awal di koordinat -6.274708,107.270929 atau titik (A).

 


 

Perempatan besar di titik koordinat (A) tersebut seringkali disebut dengan pertigaan Tanjungpura, Kabupaten Karawang. Dia berada hanya beberapa puluh meter setelah Sungai Citarum yang sangat besar. Sungai legendaris yang pembatas geografis sekaligus menjadi pemisah antara Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang.

 

Jalan nasional yang selalu ramai ini menjadi salah satu urat nadi transportasi sangat penting bagi warga di dua Kabupaten yang berbeda tersebut.

 

Ayah kemudian menyalakan lampu sign karisma kesayangannya untuk berbelok kea rah kiri, menyusuri Jl. Proklamasi. Teruuuuus menyusur dengan sangat pelan – pelan sekali. Pelannya laju karisma diisi Ayah dengan berdendang shalawat, terkadang berdendang senandung lainnya sambil menikmati keindahan hijaunya persawahan khas Karawang di kanan dan kiri jalan mulus itu, yang bersejajar dengan Sungai Citarum

 

Laju karisma akhirnya semakin diperlahan ketika sampai kepada titik koordinat -6.175804,107.297193 atau titik (B).

 



 

Di titik pertigaan ini, sign lampu kedip kuning tanda berbelok ke kiri dinyalakan kembali oleh Ayah. Ketika mendekati lokasi ini, Ayah menyarankan agar kita tidak malu untuk bertanya. Jangan segan mematikan mesin karisma untuk berhenti dan kemudian turun emnghampiri warga di sekitar untuk sekedar bertanya, “Nuhun, pak… apakah benar jalan ini menuju ke RUMAH SEJARAH nya Bung Karno?”.

 

Maka, niscaya dengan sangat ramahnya warga sekitar akan memberikan jawaban kepada kita. Ya, silahkan diingat – ingat bahwa jalan berbelok ke kiri menuju lokasi yang akan dituju itu bernama Jl. Tugu Proklamasi.

 



 

Entah kenapa ruas jalan ini beridentitas hampir sama dengan jalan utama Rengas Dengklok yang bernama Jl. Proklamasi ini. Jalan Tugu Proklamasi yang akan kita lewati ini terlihat belum lama dibangun. Beton semen tampak masih berusia muda, belum sampai puluhan tahun sebagaimana Jalan Utama yang beraspal.

 

 

Monumen Tugu Proklamasi

 

Ya, lokasi pertama yang akan dituju oleh Ayah, Mas Abiel, dan Mas Rizal adalah Monumen Tugu Proklamasi yang berada di koordinat -6.157798,107.289409 atau titik (C).

 

Sebuah bangunan yang sangat gagah, dengan berbagai macam bangunan beton berdominasi warna cat putih mengelilingi sebuah patung pergelangan tangan raksasa yang terbuat dari logam. Ya, ada berapa ya… Ada sekitar tiga pergelangan tangan yang entah dia menyimbolkan apa.

 



 
 

Mas Abiel dan Mas Rizal mencaba untuk mengelilingi kompleks Monumen ini. Duduk beristirahat sambil mengambil botol air minum mineral dalam kemasan (AMDK), kakak beradik ini berbicara santai dengan Ayahnya tentang berbagai macam sejarah perjuangan bangsa. Mengapa Bung Karno diculik dan dibawa ke Rengas Dengklok, mengapa tidak dibawa ke Bandung saja atau ke Lampung, misalnya.

 

Perbincangan yang astik dan seru itu disudahi setelah isi AMDK habis tanpa sisa. Lantas sang Ayah kembali menawarkan untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju ke koordinat -6.157049,107.288916 atau titik (D).

 

 

Monumen Kebulatan Tekad

 

Di titik (D) ini, berdiri sebuah bangunan yang jauh lebih terawat dari bangunan yang berdominasi warna cat putih sebelumnya tadi. Ketika sampai di bangunan bernama Monumen Kebulatan Tekad ini, Mas Abiel dan Mas Rizal kembali banyak bertanya berbagai hal kepada sang Ayah. Dan, kembali dengan senyum, sang Ayah menjelasakan semuanya.

 



 

Monumen Kebulatan Tekad seluas ± 1.500 meter persegi ini tepat berdiri di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengas Dengklok, Kecamatan Rengas Dengklok, Kabupaten Karawang. Berdasarkan informasi dari papan nama yang ada di lokasi, bangunan bersejarah ini masuk dalam tanggungjawab Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, dan Nilai Tradisional Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

 

Tidak terlalu lama Mas Abiel dan Mas Rizal berada di lokasi ini, dikarenakan matahari sudah terlihat mulai mendekati titik tengah langit, sementara lokasi tujuan utama belum juga tersinggahi.

 

Akhirnya, setelah kesepakatan bersama diambil, karisma kembali menunaikan tugas mulianya untuk mengantar mereka bertiga munuju persinggahan Utama: RUMAH SEJARAH.

 

 

Rumah Sejarah

 

Dan, sesungguhnya lokasi tujuan utama ini berjarak tidak lebih dari 200-an meter dari Monumen Kebulatan Tekad. Dengan sebuah tanda pintu gerbang bebentuk gapura yang menyambut menuju ke sebuah bangunan di koordinat -6.156734,107.290115 atau titik (E) ini, kita rmulai asakan napak tilas sejarah perjuaangan anak bangsa.

 



 

Melalui gapura ini, akan kita susuri jalan perkampungan yang masih sangat asri. Sama sekali tidak ada bau polusi industry di sini, sebagaimana mudah tercium di Kota Metropolitan Cikarang. Hanya bau segar dedaunan dan tanah basah yang tercium. Tidak ada bau cerobong pabrik dan bau anyir limbah cair.

 

Dari kejauhan bangunan yang dianntikan sudah terlihat mengendap-endap. Bangunan yang dijadikan lokasi Bung Karno dan Bung Hatta “diculik dan disembunyikan” oleh para pemuda menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

 



 

Tiba di depan Rumah Sejarah, semilir angin sepoi menggerakkan hati untuk memasukinya. Ada rasa penasaran yang dibaluti rasa mistis yang turut mendorong agar kita segera memasukinya. Tidak hanya sekedar gerbang halaman, namun juga memasuki dan merasakan setiap jengkal pelataran serta di dalam rumah sejarah ini.

 



 



 

Bagaimana ruang tamunya, kamar Bung Karno, kamar Bung Hatta dan semua perabotannya serasa memiliki daya magis yang luar biasa.

 



 

Kamar Bung Karno


 

Kamar Bung Hatta


 



 




Walaupun penggalan napak tilas yang dilakukan MAs Abiel dan Mas Rizal ini hanya secuil, namun sesungguhnya dari Rengas Dengklok lah percikan percikan gaung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 ini sepertinya bermula.

 

ANANTO PRATIKNO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar