Rabu, 28 Mei 2014

(Ngaji of the Day) Memilih Susu Meninggalkan Arak



ISRA' MI'RAJ IV
Memilih Susu Meninggalkan Arak

Diceritakan dalam kitabnya Ahmad Ad-Dardiri Ala Qishshati Mi’raj bahwasanya Rasulullah SAW dalam perjalanannya setelah menjalankan sholat bersama para Nabi di Baitul Maqdis merasa sangat haus. Sebelum ia ucapkan keadaannya tiba-tiba Jibril telah datang dengan membawa dua cawan yang berisi susu dan arak yang segar.

Nabipun segera mengambil cawan yang berisi susu dan meminumnya, seraya Jibril berkata 'Kau mengambil yang benar. Andaikan Kau ambil arak pastilah umatmu kelak akan hidup dalam kesesatan.' Diriwayatkan pula dari sebagian perawi bahwa Jibril datang dengan membawa tiga macam minuman yaitu susu, madu dan khamar.

Pilihan Rasulullah SAW terhadap susu adalah pilihan yang tepat. Karena air susu adalah air yang sangat cocok untuk manusia dan disukai oleh segenap makhluk. Susu mengandung kesehatan, kekuatan, dan zat yang mengenyangkan. Demikian yang terurai dalam ayat 66 dalam surat An Nahl:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Menurut penafsiran sebagian ulama, susu dengan segala kebaikan kandungan zatnya bagaikan agama Islam yang penuh dengan kesempurnaan. Dan menurut ulama lain, susu diibaratkan sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagai kelompok mayoritas yang berpegang tegung pada ajaran Rasulullah SAW.

Demikianlah posisi air susu yang keluar antara kencing dan darah. Seperti Ahlussunnah wa Jama’ah yang lahir dan berkembang diantara dua kutub besar Qadariyah dan Jabariyah. dalam konteks kekinian posisi air susu dapat diibaratkan sebagai anjuran untuk memosisikan diri di tengah tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kirim. []

Sumber: NU Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar