Selasa, 18 Juni 2013

(Ensiklopedi of the Day) Batamat Qur'an


Batamat Qur'an

 



 

Batamat Qur’an adalah upacara di daerah Kalimantan Selatan yang menandai bahwa seorang anak telah menyelesaikan pelajaran membaca Al-Qur’an. Umumnya si anak berusia antara 9-10 tahun, karena pelajaran membaca Al-Qur’an dimulai pada usia 6-7 tahun.


Batamat Qur’an bisa disebut sebagai bentuk “wisuda” tradisional yang menandai bahwa si anak sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai makhraj dan kaidah tajwid. Acara ini digelar oleh orang tua si anak yang telah menamatkan pelajaran membaca Al-Qur’an tersebut secara pribadi, namun bisa juga diselenggarakan dengan teman-temannya yang lain secara bersama-sama, jika kebetulan mereka menyelesaikan pelajaran membaca al-Qur’an dalam waktu bersamaan.


Acara dihadiri oleh teman-teman si anak, para tetangga, dan handai tolan lainnya. Acara bisa diadakan di rumah guru tempat belajar mengaji, di masjid atau langgar, atau bisa juga di rumahnya sendiri.


Di dalam prosesinya, setelah pembukaan yang didahului dengan pembacaan al-Fatihah oleh pimpinan acara yang biasanya guru mengaji si anak atau kiai setempat, si anak kemudian disuruh membaca Al-Qur’an secara tartil mulai surat ad-Dhuha (QS: 93) hingga surat an-Naas (QS: 114).


Jika yang melaksanakan batamat adalah beberapa anak, maka surat-surat itu dibaca secara bergantian. Bagian akhir dari setiap surat akan dibaca secara bersama-sama (koor). Jika terjadi kekeliruan dalam membaca, guru mengaji yang membimbingnya segera mengoreksi dan membenarkannya. Para hadirin menyaksikan dan mendengarkan pembacaan itu dengan saksama.


Di dalam upacara ini, orang tua si anak akan menyajikan ketan yang dibentuk seperti gunungan, bagian atasnya dikasih inti (kelapa parut yang dikasih gula), di lereng sekelilingnya terdapat telur pindang, dan beberapa bendera kertas dengan batang bambu yang ditancapkan, serta kembang sarai. Beras ketan yang bersifat lengket melambangkan suatu pengharapan agar pengetahuan dan kesetiaan si anak pada ajaran Al-Qur’an terus melekat, lestari, dan abadi sepanjang hidupnya.


Ketika pembacaan sampai pada permulaan surat al-Fiil (QS: 105), telur pindang yang menghiasi gunungan ketan diambil dan diserahkan kepada anak yang menjalani acara batamat. Setelah pembacaan al-Qur’an selesai, disambung dengan pembacaan bagian awal surat al-Baqarah (QS: 2) dan doa khatmul Qur’an yang dipimpin oleh si guru mengaji atau mualim setempat.


Seusai doa, anak-anak biasanya akan ramai memperebutkan hiasan-hiasan pada gunungan ketan, sedangkan orang dewasa disuguhi makanan ketan dan telur yang telah disajikan. Untuk memeriahkan acara, kue yang disajikan kadang-kadang lebih banyak dan bervariasi seperti wajik, dodol, dan lain-lain.


Upacara Batamat Qur’an juga menjadi bagian dari prosesi perkawinan di kalangan masyarakat Banjar. Hal ini terutama berlaku bagi calon pengantin yang belum pernah tamat al-Qur’an atau belum melakukan acara Batamat Qur’an.


Maknanya, dengan acara itu, calon pengantin sudah dinyatakan siap untuk menikah, berkeluarga, dan mengarungi hidup karena sudah selesai mempelajari al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, acara ini lebih banyak bersifat formal-simbolis.


Pernik-pernik acara Batamat Qur’an sebagai bagian dari prosesi perkawinan ini umumnya lebih kompleks, meski rangkaian acaranya kurang lebih sama. Acara biasanya dilakukan sehari sebelum persandingan, baik bagi calon pengantin laki-laki maupun pengantin perempuan yang digelar di tempat terpisah.


Calon pengantin dengan berpakaian muslim atau muslimah (kalau laki-laki menggunakan baju koko atau jas, sarung, dan peci, sedangkan perempuan menggunakan jilbab atau kerudung, sarung, dan baju kurung) yang akan menjalankan acara duduk di atas lapik, yang dialasi kain putih atau sajadah. Lapik ini bagian dari saji yang akan dihadiahkan kepada guru mengajinya. Acara dipimpin oleh guru mengaji atau kiai setempat dan dihadiri oleh teman dan handai tolan. Sesajian berupa kue di dalam acara ini lebih bermacam-macam, seperti nasi lemak kuning, telur dadar, wajik, dan telur bebek rebus. Kadang-kadang acara ini disertai makan besar di akhirnya untuk para undangan dan tamu yang mengikuti acara. []

 

Sumber: Ensiklopedi NU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar