Selasa, 30 Juli 2013

(Taushiyah of the Day) Ramadhan, Momentum Bebas dari Korupsi


Ramadhan, Momentum Bebas dari Korupsi

Oleh: Munawir Aziz*

 

Ramadhan sejatinya adalah momentum untuk merefleksikan diri, kembali ke asal dan fitrah sebagai manusia. Fitrah sebagai hamba Tuhan, sebagai khalifah fil-ardh dan makhluk yang diberi kecerdasan dan kemampuan berpikir. Akan tetapi, seringkali kemampuan berpikir serta kecerdasan justru menjadi alat untuk menghancurkan dunia, menjadi instrumen untuk menggelisahkan sesama.

 

Hadirnya bulan suci kali ini, dapat menjadi ruang kontemplasi atas bangsa yang dihujani kasus korupsi. Di negeri ini, membentang pejabat-pejabat dengan praktek korup entah di pemerintahan, ataupun pada internal rumah tanggaya. Korupsi tidak hanya pada uang, namun juga pada motode kerja, prinsip batin, hingga moral diri. Ramadhan dapat menjadi oase untuk menyejukkan kembali hati yang gersang dan gelisah karena badai korupsi.

 

Meski merayakan Ramadhan merupakan sebuah anurgah, namun kenyataan yang dihadapi warga Indonesia dari hari ke hari semakin pahit. Ramadhan kali ini hadir ketika bangsa ini sedang berduka. Negeri merdeka ini mengimpikan kedaulatan utuh, akan tetapi yang ada hanyalah kemerdekaan lahir, belum menyentuh kemerdekaan batin. Bangsa ini belum berdaulat seutuhnya, kemerdekaan ruhani hanya menjadi simbol semata, hanya topeng artifisial.

 

Warga negeri ini masih terbelenggu krisis jati diri, kebijakan politik yang dipilih pemerintah masih terseok-seok ketika menghadapi konflik politik. Di ranah hukum, aparatur negara seolah kehilangan legitimasi, berbagai institusi hukum sengaja dilumpuhkan untuk menjaga ritme skandal antar pejabat.

 

Sedangkan, di ranah politik, kasus-kasus korupsi pejabat hilir mudik mengisi informasi keseharian manusia Indonesia. Sementara, di ranah agama, radikalisme, pemurtadan, benih-benih terorisme masih menggurita. Kekerasan berjubah agama semakin sering dijumpai, yang berkebalikan dengan subtansi agama sebagai lorong menuju kedamaian, menuju cinta. Kedaulatan negara juga makin tumpul oleh berbagai bentuk kolonialisme ekonomi dan pengetahuan.

 

Kesadaran Sosial

 

Untuk itu, warga Indonesia perlu merumuskan cita-cita keindonesiaan dalam konteks kekinian, tentu dengan kesadaran dan keinsyafan. Dengan demikian, ramadhan kali ini dapat memberi seribu hikmah, serta dapat mendorong kebangkitan Indonesia dari krisis multi ranah. Jika dihayati secara mendalam, ibadah puasa dapat menghadirkan ketenangan ruhani, kecerdasan pemikiran dan kejernihan jiwa, sehingga memacarkan sinar kedamaian.

 

Puasa pada hakikatnya, tidak hanya menahan diri dari desakan lapar dan sakitnya dahaga. Akan tetapi, pengendalian diri menjadi kunci suksesnya puasa. Dalam hal ini, Sayyed Hossein Nasr dalam Ramadhan; Morivating Believers to Action, menuliskan, “Aspek yang paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada hati dari jiwa hewani, the carnal soul, an-nafs al-amarah dalam al-Qur’an. Ramadhan menjadi benteng keimanan yang menyelamatnya manusia dari gempuran nafsu dan godaan syahwat. Manusia dapat terbebas dari terkaman kejahatan dengan melaksanakan puasa sepenuh hati.

 

Ibadah puasa juga mampu menekan nafsu keserakahan, orientasi pekerjaan menjadi semakin fokus. Puasa dapat menghantarkan manusia meraih sifat amanah, jujur dan bertanggung jawab. Keinginan untuk menguras harta negara menjadi hilang, sehingga “dosa publik” semakin berkurang. Hal inilah yang menjadi hakekat puasa sesungguhnya, derajat ketaqwaan yang disandang akan mampu melecut semangat menuju produktifitas. Ketaqwaan dengan balutan produktifitas itulah yang dibutuhkan sekarang. Tak hanya sekedar mempunyai nurani suci, akan tetapi memiliki karakter dan pola kepemimpinan yang visioner.

 

Ramadhan hendaknya menjadi jembatan pembebasan nafsu serakah. Puasa dapat menjadi medium pembebasan nafsu korupsi yang membelenggu. Maka dari itu, keteguhan hati menjadi modal utama menggapai berkah puasa. Dalam analisis Syed Ali Asyraf (2000), Puasa harus dilakukan secara lahir dan batin. Puasa model ini, hendaknya merujuk kedisiplinan seseorang dalam mencegah nafsu agar tidak dilampiaskan sehingga tidak terperangkap pada kejahatan.

 

Standar ketaqwaan manusia yang menjadi barometer kesuksesan beribadah, dapat menjadi tonggak pembebasan sifat korupsi. Bangsa ini, harus menjalani “puasa korupsi” agar terbebas dari dekapan krisis. “Puasa substansial”, yang tak sekedar simbolik, dapat menjadi gerbang pencerahan jiwa manusia. Dan, Ramadhan kali ini menjadi gerbang untuk menghantarkan warga Indonesia bebas dari jerat korupsi dan krisis mental kebangsaan.

 

* Munawir Aziz

Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar