Senin, 10 September 2012

(Buku of the Day) Agama adalah Penyakit


Benarkah Agama itu Penyakit?

 


 

Judul                : Agama adalah Penyakit

Penulis             : M. Yudhie Haryono, dkk.

Penerbit            : Grafika Media

Cetakan            : I, November 2011

Tebal                : xv+239 Hal, 14,8x21 cm

Harga               : Rp. 35.000,00

ISBN                 : 978-602-19154-0-0

Peresensi          : Hamidulloh Ibda*


Agama ketika mati, ia terlahir kembali. Nyawanya semilyar. Sebab, ia diwariskan, diajarkan, dihidupi dan menghidupi manusia. Ia bagai angin yang bergerak, hidup dan memvirusi manusia di mana saja dan kapan saja. Ia juga seperti tumbuhan, bisa mati kapan saja dan di mana saja. Manusia berutang budi pada keberadaannya. Sebab, ia disimpan seperti azimat yang kapan-kapan dikeluarkan untuk perdebatan dan dijadikan obor saat perasaan kegelapan menjelang. Bahkan ia dilaknat juga dipikat (hal iii). Karena itu, agama memang sesuatu luar biasa.


Saat ini banyak sekali kekerasan atas nama agama, terorisme, radikalisme, dan sebagainya. Inilah yang menjadikan agama berubah menjadi “penyakit”. Ia tak melahirkan perdamaian, tapi justru kerusakan. Banyak kekerasan diperlihatkan telanjang atas nama agama. Bahkan, penyakit ini timbul di tubuh agama itu sendiri dan antar agama lainnya.


Agama dan kekerasan


Sebenarnya, agama selalu menyeru perdamaian dan ketentraman. Di dunia ini, tak ada satu pun agama menyeru “kekerasan” dan radikalisme. Di dalam buku dijelaskan, bahwa ketika pengikut suatu agama menjadi fanatik, merasa paling benar dan menyalahkan yang lain, itulah penyebab agama menjadi penyakit.


Zaman dulu, ketika Nabi Muhammad membawa Islam di Mekkah, kaum Jahiliyah juga menolaknya dengan kekerasan/perang. Namun, Muhammad dan pengikutnya tetap setia mempertahankan basis ideologinya, salah satunya dengan berperang (hal 224). Sampai saat ini, fenomena kekerasan juga tak kunjung reda, bahkan merajelela. Perang atas nama Tuhan dan agama masih mengemuka, bom meledak di mana-mana. Padahal, agama selalu berseru pada kedamaian. Inilah penyebab pemeluk agama menjadi buta tak terarah.


Beberapa tahun terakhir, terorisme menggemparkan negeri ini. Di media massa selalu menyuguhkan terorisme. Kata terorisme semakin popular seiring meledaknya bom di beberapa daerah. Karena itu, fenomena ini melahirkan ketakutan, merisaukan, mengancam tatanan dunia, aksi teror itu banyak diteliti para sosiolog. Salah satunya Mark Jeurgensmeyer, ia merupakan guru besar sosiolog dan Direktur Global and International Studies Universitas California di Santa Barbara, Amerika Serikat.


Di dalam penelitiannya, Mark menggambarkan bahwa kekerasan atas nama agama bukan salah agamanya. Dalam hal ini, tentu saja agama tak salah. Sebab, agama selalu mengajarkan kebaikan. Menurut Mark, kekerasan merupakan respon masyarakat dalam menyikapi masalah politik. Mereka menggunakan agama sebagai alat mengkritik, dengan memobilisasi kekerasan sebagai alternatif.


Lalu, bagaimana cara menghentikan kekerasan, terorisme, radikalisme atas nama agama? Menurut Mark, ada lima skenario yang bisa menghentikannya. Pertama, power atau kekerasan. Jadi, kekerasan harus dibalas kekerasan pula. Namun, cara ini dianggap bukan solusi baik, karena jika kekerasan dibalas kekerasan, pasti timbul kekerasan baru. Kedua, ancaman pembalasan atau pemenjaraan dengan kekerasan. Sehinnga, mereka takut melakukan radikalisme. Ketiga, melakukan kompromi/negosisasi dengan aktivis agama atau ormas agama yang terlibat kekerasan. Dari ketiga cara ini, menurut Mark juga belum ampuh (hal 226-227). Karena itu, harus ditempuh cara yang lebih jitu.


Keempat, pemisahan agama dan politik, serta kembali pada landasan moral. Artinya, politisasi bisa dipecahkan melalui sekularisasi. Selain itu, pemerintah dan penegak hukum harus menyelesaikan kekerasan itu. Kelima, penghormatan dan mengembalikan agama pada hakikatnya. Cara ini harus ditempuh melalui kesadaran pemeluk agama, serta memahami “substansi agama” yang diyakini masing-masing (hal 228).


Dari lima skenario itu, Mark menjelaskan kekerasan tak akan reda jika masyarakat, pemeluk agama, dan pemerintah tak melakukan sinergi bersama (hal 230). Apalagi, saat ini banyak ormas radikal yang bermunculan, seperti FPI, FUI, dan kelompok radikal lainnya. Karena itu, pemerintah harus mempertegas Undang-undang Ormas, jangan sampai peran ormas melampaui peran negara. Pemerintah dan petinggi agama harus mendekontekstualisasi kekerasan, seperti doktrin perang suci atau jihad. Jika pemeluk agama di Negara ini menjalankan ajaran dan substansi agama dengan baik, maka kekerasan pasti musnah, begitu pula sebaliknya.

 

Substansi Agama


Di dalam buku ini, dijelaskan bahwa substansi agama adalah “bertuhan” dan menjalankan perintahnya. Sesungguhnya, sejak lahir seluruh agama membawa pesan yang mirip secara seimbang; ketuhanan (tauhid), kemanusiaan dan lingkungan (hal ix). Sayangnya, dimensi-dimensi tersebut sudah tak dipegang oleh para pemeluk agama. Maka, tak heran jika kekerasan atas nama agama selalu menjamur di mana-mana.


Tentu saja kajian dan sikap tauhid itu penting, karena ia merupakan salah satu untuk menemukan substansi agama. Namun, tauhid idealnya tak hanya menghasilkan kesalihan ritual (vertikal) tanpa keseimbangan sosial (horisontal), karena hanya akan membuat agama cacat secara konsepsi. Jika dibiarkan, maka akan melahirkan “prestasi buruk dalam beragama, berbangsa, dan bernegara”. Prestasi itu meliputi delapan dosa sosial, 1) agama tanpa substansi (iklan), 2) kekayaan tanpa kerja keras (korupsi), 3) kolusi, 4) nepotifsme, 5), pendidikan tanpa karakter, 6) teknologi tanpa humanisasi, peribadatan tanpa pengorbanan (ritual), 8) perjuangan tanpa pemihakan pada si miskim/kemubadziran (hal x).


Sudah saatnya umat beragama menjalankan agamanya sesuai substansi tanpa kekerasan dan prestasi buruk yang menjadikan agama menjadi penyakit. Agama harus menjadi sumber kesehatan, perdamaian, dan ketentraman, bukan sumber penyakit. Buku ini membuka wacana kebaragamaan, agar seluruh umat beragama menjalankan ajaran agamanya secara “kaffah” (menyeluruh) tanpa memandang bungkusnya, namun juga substansinya. Wallahu a’lam bisshawab.


* Direktur Rumah Baca Cendekia Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar