Rabu, 14 November 2012

(Ngaji of the Day) Spirit Hijrah


Spirit Hijrah

Oleh: Sholihin Hasan


Tahun hijriyah yang merupakan tahun baru bagi umat Islam kembali hadir. Tahun baru hijriyah kali ini jatuh pada hari Ahad, 1 Muharram 1434 H, yang bertepatan dengan 15 November 2012.


Kalender hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhamad dari Makkah menuju Madinah. Perjalanan hijriyah menjadi pilihan karena di tempat yang lama (Makkah), sudah tidak kondusif lagi untuk membangun peradaban yang yang lebih maju. Madinah menjadi pilihan karena mayoritasnya masyarakatnya menghendaki bagi berkembangnya peradaban modern. Khususnya dari suku Aus dan Khazraj.


Rencana hijriyah Nabi yang didasarkan atas sinyal wahyu ternyata tercium intelijen Quraiys. Pada malam 1 Muharram tahun 1 Hijriyah, Nabi Muhamad diperintahkan Allah melakukan perjalanan dari Makkah ke Madinah. Kaum Quraisy malam itu berusaha menghadang dan menghalangi rencana hijrah tersebut. Mereka mengirim 12 orang algojo dengan senjata lengkap untuk mengepung rumah Nabi. Ke-12 algojo itu ditugasi mengintai dan mengawasi gerik-gerik Nabi. Mereka diperintah membunuh Muhamad begitu keluar dari rumahnya.


Kendati kondisi sekitar rumah nabi cukup genting, namun Nabi Muhamad tetap bersikap tenang. Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib yang malam itu berada bersama Nabi agar memakai selimutnya dan tidur di tempat tidur beliau. Sesaat kemudian, Nabi mengambil segenggam debu untuk ditaburkan ke arah 12 orang algojo yang malam itu bersiap menyergap dan membunuh Nabi. Tak lama kemudian mengantuklah para algojo itu. Selanjutnya Nabi keluar rumah rumah untuk melakukan perjalanan menuju Madinah.


Sebelum menuju Madinah, Nabi terlebih dahulu singgah di Gua Tsur bersama sahabatnya setianya Abu Bakar. Setelah keadaan dirasa aman, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan menyusuri bebatuan yang tandus dan hamparan padang pasir yang luas. Perjalanan hijrah Nabi menempuh jarak sekitar 400 kilometer atau menempuh waktu dua bulan lebih.


Atas dasar peristiwa heroik itu, Khalifah Umar bin Khatthab menetapkan malam peristiwa hijriyahnya Nabi sebagai permulaan dimulainya perhitungan tahun baru hijriyah. Dimana, saat Nabi keluar rumah menuju Madinah bertepatan dengan tanggal 1 Muharram.


Peristiwa hijriyahnya Nabi dari Makkah menuju Madinah itulah yang hingga kini diperingati sebagai tahun baru Islam. Dan pada 1 Muharram nanti akan memasuki tahun yang ke-1434 Hijriyah. Di Indonesia, 1 Muharram termasuk hari besar Islam yang diakui pemerintah. Sehingga pada hari itu, kegiatan resmi pemerintahan diliburkan.


Tahun baru hijriyah diperingati dengan maksud agar umat Islam mampu mengambil i’tibar atau pelajaran dari peristiwa tersebut. Baik i’tibar secara tekstual maupun secara kontekstual atau maknawi.


Secara tekstual, peristiwa hijriyah mengandung makna bahwa umat Islam bisa melakukan perjalanan fisik dari satu daerah ke daerah lain. Hijriyah fisik menjadi pilihan manakala di tempat lama umat Islam kesulitan mengembangkan inovasi, kreasi dan membangun peradabannya.


Sedangkan secara kontekstual, peristiwa hijriyah mengandung makna akan adanya keharusan bagi umat islam berhijriyah dalam totalitas. Tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi hijriyah dalam bentuk cita-cita, ucapan, sikap dan perbuatan. Totalitas dalam berhijriyah meliputi segala aspek kehidupan.


Dalam konteks berbangsa dan bernegara, totalitas dalam berhijriyah amat sangat diperlukan. Karena, saat ini setidaknya ada empat masalah besar yang mengharuskan bangsa ini segera berhijrah dalam totalitas. Yakni, kemiskinan, kebodahan, keterbelakangan dan krisis moralitas.


Pemerintah harus terus didorong untuk secepat mungkin mengatasi problem kemiskinan. Masyarakat harus dipacu agar cepat-cepat berhijrah menuju kondisi berkecukupan atau sejahtera. Karena hingga saat ini, masih ada puluhan juta rakyat kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi berkecukupan atau sejahtera dapat ditempuh dengan bekerja keras dan kebijakan yang pro rakyat miskin.


Problem kebodohan juga tidak kalah menariknya. Kendati pemerintah terus berupaya mengejar ketertinggalannya di bidang pembangunan SDM, namun hingga saat ini Indonesia masih berada di urutan bawah dalam hal indek kualitas manusia.


Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) merilis indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2011 berada di urutan ke-124 dari 187 negara yang disurvei. IPM Indonesia hanya 0,617, jauh di bawah Malaysia di posisi 61 dunia dengan angka 0,761. Jika laporan ini sesuai kenyataan di lapangan, maka Indonesia harus segera berhijrah dengan lari kencang. Lari kencang diperlukan agar bangsa bisa menyalip negara lain dalam IPM nya.


Namun, laporan badan dunia itu ditanggapi pemerintah secara biasa-biasa saja. Saat menggelar jumpa pers di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, pada Jumat (18/11/2011) Wapres Budiono menyebutkan, bahwa IPM Indonesia mengalami peningkatan dari 0,423 pada tahun 1980 menjadi 0,613 pada tahun 2010. Sedangkan tahun 2011, IPM Indonesia kembali terkerek ke angka 0,617.


Adapun berdasarkan ranking, pada tahun 2010, Indonesia berada di urutan 108 dari 169 negara. Tahun 2011 ini, jumlah negara yang disurvei UNDP bertambah menjadi 187 negara. Indonesia bertengger di urutan ke 124 atau dapat dikatakan masih seimbang.


Di sisi lain, masyarakat juga harus terus didorong agar tidak menjadi masyarakat yang awam dalam banyak hal. Masyarakat harus diyakinkan bahwa investasi terbaik adalah memintarkan anaknya. Selain itu, upaya pemerintah yang akan meningkatkan pendidikan dasar dari sembilan tahun menjadi dua belas tahun layak didukung semua pihak.


Momentum hijriyah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang luhur, mulia, dan membawa kedamaian. Hijriyah yang dilakukan Nabi Muhamad bertujuan membangun masyarakat yang berperadan tinggi dan mulia serta membawa kedamaian bagi seluruh alam.


Bagi mereka yang masih merasa bodoh agar cepat-cepat berhijrah menjadi orang pintar atau orang berilmu. Yaitu, dengan belajar, melakukan penelitain atau reseach. Begitu juga, bagi yang masih merasa terbelakang, agar secepatnya berhijrah menuju pada kemajuan dan kemulyaan.


Agama memerintah untuk bekerja keras, tujuannya tidak lain adalah agar umat manusia bisa sejahtera. Agama memerintah untuk belajar sejak lahir hingga masuk ke liang lahat, tujuannya agar umat berkualitas SDM nya, dan agama juga mendorong umatnya untuk menjadi umat yang maju dan tidak terbelakang.


Selain itu, salah satu krisis yang menjadi persoalan bangsa ini adalah krisis moralitas atau krisis akhlak. Seperti korupsi, kolusi, nepotis, pergaulan bebas, mabuk-mabukkan, dan narkoba. Karena itu, bagi yang merasa di posisii itu ada baiknya untuk secepatnya berhijrah. Yaitu, meninggalkan perbuatan yang menyimpang dan beralih menuju ke perbuatan yang diridhoi Allah.


Krisis moral juga melanda pelajar dan para mahsiswa kita. Berdasarkan hasil penelitian Prof Dr Masrukhi, guru besar Unnes Semarang pada 2011, menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa di kota-kota besar perilakunya cukup mengkhawatirkan. Karena, 90 persennya cenderung berorientasi pada gaya hidup. Kegiatan sehari-harinya didominasi acara rekreatif dan konsumtif. Mereka cenderung meninggalkan tugas utamanya. Yaitu, menimba ilmu. Karena itu, sudah saatnya para mahasiswa dan pelajar yang waktunya dipenuhi kegiatan rekreatif dan konsumtif agar segera berhijrah. Yaitu, berhijrah dari tidak sungguh-sungguh dalam mencari ilmu menjadi bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu.


Bagi para pejabat dan pemangku kepentingan, saat ini juga rawan tertulari virus korupsi, kulosi, nepotisme dan gila hormat. Bahkan, sebagian kalangan menyebut bahwa perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme sudah membudaya di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, sikap segera berhijrah menjadi keharusan bagi segenap komponen bangsa ini. Sebab, perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme tidak akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi masyarakat dan bangsa ini.


Nabi Ibrahim meninggalkan rumahnya di Ur untuk “hijrah” ke Kan’an. Di situlah Ibrahim membangun peradabannya. Zaman kebesaran Nabi Yusuf dimulai ketika beliau hijrah ke negeri Mesir. Di situ pula Yusuf mengukir kebesarannya. Dan, hijriyahnya Nabi Muhamad juga dalam rangka membangun peradaban Islam yang lebih modern, maju dan bermartabat.


Tak hanya itu, beberapa ulama sahabat nabi, tabiin dan tabiit tabiin juga melakukan langkah yang sama. Imam Syafii, Imam Al-Ghozali, Imam Bukhori, Imam Muslim juga meninggalkan negerinya untuk mengembangkan peradaban. Begitu juga, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Yusuf al-Makassari juga meninggalkan negeri nusantara ini untuk membangun peradaban di tempat lain.


Totalitas dalam berhijriyah mengandung makna tentang pentingnya berhijrah dari perbuatan buruk ke perbuatan baik, dari perilaku menyimpang ke perilaku yang lurus, dari perilaku haram ke perilaku halal, dari perilaku bathil ke perilaku haq, dan perilaku negatif ke perilaku positif.


Dalam Surat Al-Bqarah ayat 195, Allah mengingatkan umatnya agar selalu berbuat baik dan tidak menjatuhkan ke jurang kebinasaan. “Dan Belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.


Momentum hijriyah ada baiknya dijadikan kesempatan merenungi diri dan mengevaluasi amal perbuatan yang telah berjalan setahun lalu. Kalau hasil evaluasi menunjukkan lebih baik dari tahun sebelumnya, berarti termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, kalau amal perbuatan sama seperti tahun sebelumnya, berarti termasuk orang yang merugi.


Bagi yang sudah beruntung, maka tinggal meningkatkan amal perbuatan itu. Tujuannya agar di akhir tahun berikutnya tetap dicatat oleh Malaikat sebagai orang yang beruntung. Sebaliknya, jika masih di posisi sebagai orang yang merugi, segera berhijrah menuju kepada amal kebaikan bisa menjadi solusinya. Dan, semangat hijriyah hendaknya dijadikan pemicu menuju pada kondisi yang lebih baik. []

 

* Penulis adalah alumnus Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, kini staf pengajar di STAI Almuhamad Cepu & kontributor NU Online.

(Do'a of the Day) 29 Dzulhijjah 1433H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummaj'alnii min akrami wafdika 'alaika, wa alzimnii sabiilal istiqaamati hattaa alqaaka yaa rabbal 'aalamiina.

 

Ya Allah, jadikanlah aku tamu-Mu yang mulia di sisi-Mu dan kuatkanlah aku tegak berdiri di atas jalan yang lurus sampai aku bertemu kepada-Mu, wahai Tuhan sekalian alam.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Kelima.

Selasa, 13 November 2012

(Kuliner of the Day) Putu-putu yang Lucu

Suara lengkingan yang keluar dari lubang-lubang kecil terasa menyayat hati, memecahkan keheningan, menghangatkan dinginnya malam, dan menyibak kegelapan. Pak tua dengan raganya yang masih kekar menggowes menjajakan kue putu yang imut, hangat, dan lucu. Aroma wangi pandan yang menggoda Mas Rizal, membuat kami sengaja menghentikan langkah gerobaknya yang saat itu melintas di depan gubuk kami.





Ternyata inilah sumber lengkingan yang menyayat itu.
 



Beraromakan wangi pandan, berisikan manisnya gula jawa, dan bertaburkan parutan kelapa.
 
 
Putu-putu yang lucu, mau???

Cak Nun: Para Kekasih Iblis


Para Kekasih Iblis

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Semakin banyak orang tahu bahwa dunia ini bergerak menuju “Indonesia harus terus hidup, tapi jangan sampai besar dan kuat. Negara Indonesia harus lemah, bangsa Indonesia harus kerdil”.

 

Maka orasi seorang tokoh tua di sebuah “rapat gelap” ini mungkin justru merupakan ungkapan cinta yang mendalam dan pembelaan kepada Indonesia:

 

“Kita bangsa Indonesia jangan sampai berhenti berjuang sebelum Indonesia benar-benar total kehilangan Indonesianya. UUD perlu kita amandemen terus sampai berapa kalipun sampai kelak nasionalisme dan kedaulatan keIndonesiaan terkikis habis”.

 

“Setiap bikin undang-undang baru, peraturan-peraturan baru, di lembaga kenegaraan sebelah manapun, di tingkat paling atas sampai bawah, sebaiknya dipastikan menuju proyek besar sejarah de-nasionalisasi Indonesia hingga titik paling nadir”.

 

“Demikian juga policy dan penanganan segala bidang: perdagangan, pertanian, perpajakan, pendidikan, kebudayaan, sampaipun cara berpikir dan selera makan, hendaknya jangan memanjakan ke-Indonesiaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dengan ketangguhannya siap ditimpa dan memikul ujian-ujian sangat berat yang tak mungkin dipanggul oleh bangsa-bangsa lain”.

 

“Pemimpin bangsa berikutnya haruslah lebih buruk. Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali. Kita memerlukan tempo yang lebih tinggi untuk menyelenggarakan kehancuran, kebobrokan dan kebusukan — bangsa kita amat sangat tahan derita, sanggup hidup nyaman dalam kebusukan, bahkan mampu hidup sebagai kebusukan itu sendiri”.

 

“Dialektika Penghancuran Nasional harus dipacu habis. Kokohkan setiap pemerintahan sebagai perusahaan yang memanipulasi dan mengeksploitasi rakyatnya. Proyek penjualan tanah air dengan segala kekayaannya harus dijadikan ideologi utama”.

 

Pasti itu bukan pernyataan politik. Bukan anjuran sejarah. Itu jeritan orang patah hati.

 

Kalau Negara rusak, pemerintahan penuh dusta, sistem bobrok dan prinsip nilai jungkir-balik: yang terutama menangis adalah “orang”. Adalah “manusia”. Adapun Negara, pemerintah, ssstem, nilai, tak bisa menangis, tak bisa bersedih. Juga tak menanggung apa-apa. Yang menanggung duka derita adalah manusia.

 

Jadi tulisan ini tak lebih hanyalah tegur sapa dengan sesama manusia, dengan derita hatinya, tangisnya, sepi dan bisunya.

 

Dan apa boleh buat, kalau menyapa manusia, tidak mungkin dilakukan tanpa menyapa juga pihak yang bikin manusia: Tuhan. Kemudian juga IBlis, “hulu” derita ummat manusia.

 

Iblis berkata : “Tahukan engkau, Muhammad, aku adalah asal usul dusta. Aku adalah makhluk pertama yang berdusta. Para pendusta di bumi adalah sahabatku. Dan mereka yang bersumpah kemudian mendustakan sumpah itu, mereka adalah kekasihku”.

 

Kurang jelaskah pemandangan wajah Indonesia sekarang ini di kalimat Iblis itu? Kurang tampakkah, sosok pemerintahan Indonesia, tradisi mental banyak pejabatnya, pengkhianatan terhadap amanat kerakyatannya, juga manipulasi kebijakan yang sangat tidak bijak — pada pernyataan Iblis itu?

 

Dan, pen “citra” an, apakah gerangan ia kalau bukan dusta? Siapakah yang memamerkan wajahnya, menyorong punggungnya, menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin, selain sahabat dan kekasih Iblis?

 

Iblis tidak berjarak dengan diri kita, dengan karakter budaya, politik dan pasar sejarah kita. Malah Tuhan yang jaraknya cenderung semakin menjauh dari kita, kecuali pas kita perlukan untuk memperoleh keuntungan atau mentopengi muka.

 

Akan tetapi dalam kehidupan kita Iblis bukan fakta. Ia hanya simbol. Idiom. Icon. Hanya abastraksi untuk menuding “kambing hitam”. Atau Tuhan kita perlukan untuk kapitalisasi karier, bisnis pendidikan, usaha dagang sedekah dan industri zakat, kostum religi perbankan dan bermacam-macam lagi dusta liberal penyelenggaraan kapitalisme kita.

 

Tuhan juga makin jadi “dongeng”. Segera Ia akan masuk daftar dongeng sesudah Malaikat dan dan Iblis. Peta mitos. Khayalan tentang suatu pemahaman yang disepakati istilahnya: Iblis, Setan, Dajjal, sebagaimana abstraksi kata Bajingan, Bangsat, Dancuk, Anjing. Sebab pada makian “Anjing!” yang dimaksud bukan benar-benar anjing. Anjing adalah binatang yang baik, tidak pernah berdosa, tidak pernah berbuat jahat dan tidak ada statemen Tuhan yang menyatakan bahwa anjing masuk neraka. Bahkan dalam faham pewayangan malah Puntadewa atau Prabu Dharmakusuma yang hidupnya sangat ikhlas dan sumeleh, tidak bisa naik ke langit yang lebih tinggi sementara anjingnya melaju ke sana.

 

Iblis dipahami sebagai simbol, tidak sebagai fakta. Itupun wilayah berlakunya simbolisasi Iblis tidak dipetakan secara memadai. Iblis diidentifikasi sebagai “idiom” untuk menyebut segala jenis keburukan dan kejahatan manusia — dan itu tidak sepenuhnya benar. Sedangkan “arupadatu” di Borobudur pun fakta, tak hanya “rupa datu” yang tampak oleh mata, yang tergolong “Ilmu Katon”: pemahaman tentang segala sesuatu yang bisa dilihat dengan mata. Iblis sendiri tidak sepenuhnya tinggal di wilayah “arupadatu”. Ia sangat faktual di “rupadatu”, sebab ia berada pada syariat utama kehidupan manusia, yakni darah yang mengalir di dalam tubuhnya.

 

“Kamu Muhammad”, kata Iblis suatu hari, “tak akan bisa berbahagia dengan ummatmu, karena aku bisa memasuki darah mereka tanpa mereka bisa menemukanku”. Iblis melanjutkan, “aku minta kepada Allah agar menganugerahiku kemampuan untuk mengalir di dalam darah manusia, dan Allah menjawab Silahkan!”.

 

Sebentar. Yang menyuruh Iblis datang ke Muhammad adalah Tuhan sendiri. Yang disuruh itu lazimnya adalah anak buah. Dan kalau musuh tidak pada tempatnya menyuruh musuh. Allah menginstruksikan agar Iblis tidak berdusta kepada Muhammad, menjawab pertanyaan dengan jujur, serta membuka semua rahasia tugasnya dari Allah di medan kehidupan manusia.

 

Coba ingat kata-kata Iblis “Akulah makhluk pertama yang berdusta”. Fakta dusta Iblis yang pertama adalah ia tidak mau bersujud kepada Adam. Penolakan untuk menghormati manusia ini parallel dengan pernyataan semua Malaikat kepada Tuhan: “Kenapa Engkau ciptakan manusia, yang kerjanya merusak bumi dan menumpahkan darah”. Andai di-kalimat-kan, Iblis meneruskan: “Maka aku menolak bersujud kepada Adam”.

 

Kemudian Allah mengizinkan Iblis yang meminta “tangguh waktu” sampai hari Kiamat, untuk kelak membuktikan bahwa setelah menjalani sekian peradaban, manusia terbukti tidak punya kelayakan untuk dihormati atau “disembah” oleh Iblis dan para Malaikat. Dan Iblis hari ini tersenyum-senyum: tak perlu nunggu sampai Kiamat, datang saja ke Indonesia tanggal berapa bulan apa saja untuk menemukan bahwa penolakan bersujud oleh Iblis itu pada hakekatnya bukan dusta.

 

Jadi, siapa yang lebih kompatibel dengan neraka: kita atau Iblis? Ketika ada orang berbuat jahat, kita maki “Dasar Iblis!”, secara idiomatik makian itu tidak faktual. Ketika 70.000 anak-anak Iblis berdebat, lantas salah satu dari mereka memaki “Dasar manusia!”, itu bisa jadi itu malah benar dan jujur.

 

Kayaknya salah satu kesalahan manusia yang paling serius adalah memanipulasi Iblis. Padahal seluruh keburukan yang kita ludahkan itu bukan bikinan Iblis, melainkan produk keputusan kita sendiri.

 

“Aku tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk menyesatkan manusia”, kata Iblis lagi kepada Muhammad, “Aku hanya membisiki dan menggoda. Kalau aku dikasih kuasa untuk menyesatkan manusia, maka tak akan tersisa satu orangpun yang menjadi pengikutmu. Sebagaimana engkau Muhammad, tak ada kemampuanmu untuk memberi hidayah kepada manusia. Engkau hanya berhak dan mampu menyampaikan, tetapi tak bisa mengubah hati manusia. Sebab kalau kau dianugerahi kesanggupan untuk memberi hidayah, tak akan ada satu orangpun yang menjadi pengikutku”.

 

Begitu banyak — mengacu ke Borobudur — fakta “rupadatu” pada kehidupan manusia yang mata mereka tak melihatnya. Udara yang ia hirup, suaranya sendiri, bahkan mata tidak mampu melihat mata, paling jauh ia melihat bayangannya di cermin, tapi bukan diri mata itu sendiri. Jangankan lagi dengan semakin canggihnya teknologi ultra-modern sekarang: kita bingung siaran televisi itu berasal dari “rupadatu”, diantarkan oleh “arupadatu”, ditangkap dan diekspressikan secara “rupadatu”. Belum lagi ke kerjaan frekwensi yang lain: software di komputer, lalulalang Sms, Bbm, unduh ini unggah itu. Dulu saya menyangka telegram itu dikirim kertasnya meluncur nyantol lewat kabel-kabel sepanjang jalan. Se-nyata dan se-faktual itulah Iblis dalam kehidupan kita, bahkan di dalam diri kita, bahkan ia mengalir di dalam darah kita.

 

Maka sebagaimana formula “casting” Iblis, orasi tokoh tua kita di atas tepatnya dipahami tidak dengan logika linier. Ia suatu lipatan, mungkin dialektika berpikir yang zigzag, mungkin spiral, mungkin siklikal. Kalimat seniman kita “Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali” adalah sisipan cita-cita mulia di tengah deretan pernyataan yang seolah-olah mendorong kita ke kehancuran.

 

Muhammad bertanya, “Siapa temanmu?”

 

Iblis menjawab, “Para pemakan riba”. Sangat jelas mappingnya di Indonesia.

 

“Siapa tamumu?”

 

“Para pencuri”. Sampai-sampai diperlukan KPK, yang kita doakan segera bubar, yakni sesudah Kepolisian Kejaksaan Kehakiman bisa dipercaya untuk menangani perilaku tamu-tamu Iblis.

 

“Siapa utusanmu?”

 

“Tukang-tukang sihir”. Sihir pemikiran, cara berpikir, peta manipulasi wacana berpikir, di Sekolah, Kampus, semua media wadah pemikiran.

 

“Siapa teman tidurmu?”

 

“Para pemabuk”. Mabuk idolatri, mabuk tayangan-tayangan, mabuk artis-artisan, Ustadz-ustadzan, Gus-Gusan, Kiai-Kiaian… yang terbuat dari plastik… seperti mobil-mobilan untuk kanak-kanak di pasar Kecamatan.

 

Iblis juga menyindir kita: “Gosip dan adu-domba adalah hobiku”.

 

Ada baiknya kita undang Iblis menjadi narasumber rembug nasional, dengan syarat: “Aku mendatangi semua manusia, yang bodoh maupun pintar, yang durjana atau yang salah, yang bisa membaca atau buta huruf. Semuanya, kecuali orang ikhlas”.

 

Yogya 25 September 2012

Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 49 XVIII 11 Oktober – 17 Oktober 2012

(Ngaji of the Day) Momentum Hari Pahlawan dan Krisis Kepemimpinan


Momentum Hari Pahlawan dan Krisis Kepemimpinan

Oleh Zainal Fanani*


Para pahlawan bangsa adalah orang-orang yang paling berjasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari kekuasaan penjajah. Mereka rela mengorbankan jiwa raganya demi Indonesia. Kalau dipikir-pikir hampir tidak mungkin pasukan yang bersenjatakan bambu runcing bisa mengalahkan tentara musuh yang bersenjata lengkap dan serba canggih. Semboyannya kala itu adalah “mati dalam keadaan mulia atau hidup penuh kehinaan”. Berkat kegigihan para pahlawan inilah akhirnya Indonesia dapat merdeka.


Mengapa mengenang jasa para pahlawan menjadi penting? Karena hal itu merupakan sebuah bentuk rasa syukur kita terhadap usaha mereka dalam membebaskan Indonesia dari tangan penjajah. Kita tidak merasakan penderitaan dan kesulitan yang dihadapi mereka di medan tempur, pemaksaan kerja rodi, dan berbagai bentuk penganiayaan yang tidak manusiawi lain. Singkatnya, sekarang kita tinggal menikmati buahnya yang berupa ‘kemerdekaan’.


Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah kita merefleksikan ungkapan terima kasih kita kepada para pahlawan yang telah gugur dalam medan tempur? Apakah hanya cukup dengan acara upacara tahunan, yang setelah acara selesai, selesai pula rasa hormat kita. Ataupun dengan menyematkan ‘gelar pahlwan’ kepada mereka. Yang ironisnya penyematan gelar itu, pada saat sekarang, kerap kali ditumpangi oleh kepentingan politik orang-orang yang berada di Senayan.


Menurut hemat penulis, cara mengungkapkan rasa balas budi kita kepada para pahlawan adalah tidak dengan cara-cara seperti di atas. Penulis berkeyakinan bahwa para pahlawan tidak membutuhkan semuanya itu. Karena para pahlawan berjuang melawan kolonialis atas dasar keikhlasan dan karena mereka ingin bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang terjajah. Para pahlawan justru lebih bangga kalau para penerusnya juga mempunyai semangat yang tinggi untuk meneruskan perjuangannya dalam mengisi kemerdekaan ini.


Jika seandainya mereka berjuang karena ingin mendapatkan imbalan, niscaya bangsa ini selamanya tidak akan merdeka. Seperti krisis kepercayaan yang sedang terjadi saat ini, dimana banyak orang ingin maju menjadi anggota dewan dengan motif untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Alih-alih menyampaikan aspirasi rakyat, yang diperlihatkan sekarang justru aksi-aksi korupsi yang merugikan negara dan rakyat.


Hal ini terjadi karena ia maju menjadi anggota dewan bukan berangkat dari rasa keikhlasan dan cenderung memakai cara-cara yang tidak terpuji. Dengan cara money politic misalnya. Akibatnya, ketika sudah menjadi anggota dewan maka ia dengan berbagai cara akan mengambil modal yang telah ia keluarkan pada saat kampanye dan pemilihan. Dan bukan aspirasi rakyat lagi yang dipikirkan.


Masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah saat ini. Seperti kasus pertikaian antar suku kemarin, yang melibatkan suku Lampung melawan Suku Bali dinilai oleh sebagian pengamat juga karena kelalaian pemerintah. Masalah ini jika tidak diselesaikan secara tegas akan mengancam kebhinekaan dan keberagaman Indonesia yang telah dipertahankan ratusan tahun lamanya. Karena sebagaimana diketahui, isu-isu seputar SARA adalah isu yang paling sensitive di Negeri Indonesia. Oleh karenanya, pemerintah mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sangat besar dalam usaha-usaha penyelesaian isu-isu SARA tersebut.


Sebagai generasi penerus perjuangan para pahlawan kita mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan ini dari berbagai bentuk penjajahan. Entah itu berbentuk serangan-serangan dari luar yang ingin mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, budaya asing yang membodohkan, dan produk luar yang merugikan rakyat. Atau datang dari dalam negeri sendiri yang berbentuk usaha-usaha memecah belah NKRI, korupsi yang merugikan Indonesia, dan sebagainya.


Dengan adanya momentum hari pahlawan ini berarti mengingatkan memori kita kepada perjuangan para pahlawan pada tanggal 10 Nopember 1945 silam. Setidaknya ada rasa semangat yang diwariskan oleh para pahlawan. Kita semua tentunya tidak ingin bangsa kita menjadi bangsa yang terjajah, baik dari segi sosial, budaya, politik dan ekonomi. Jika demikian, mari kita berjuang bersama-sama meneruskan para pahlawan untuk mempertahankan bangsa ini dengan kemampuan yang kita miliki masing-masing. Yang masih sekolah atau kuliah dengan belajar yang sungguh-sungguh, yang menjadi wakil rakyat dengan mengabdikan dirinya dengan sepenuh jiwa, bukan malah menjadikan kedudukannya sebagai piranti untuk memperkaya diri.


* Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Hadhramaut-Yaman. Sekarang menjabat sebagai Kepala Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut PPI Yaman.

(Do'a of the Day) 28 Dzulhijjah 1433H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma a'idznii minasysyaithaanir rajiim, wa a'idznii min kulli suu-in wa qanni'nii bimaa razaqtanii wa baariklii fiihi.

 

Ya Allah, peliharalah aku dari syetan yang terkutuk, peliharalah aku dari tiap-tiap kejahatan dan jadikanlah aku bersifat qana'ah (sederhana) terhadap rezeki yang Kau limpahkan kepadaku dan berikanlah keberkahan padanya.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Kelima.

Senin, 12 November 2012

BamSoet: Fakta Membantah Citra

Fakta Membantah Citra

 

Bambang Soesatyo

Anggota Komisi III DPR RI

 

KETIKA rakyat sering mempertanyakan peran dan kehadiran pemerintah di tengah sejumlah persoalan kenegaraan dan persoalan kemasyarakatan, pertanyaan itu sama dan sebangun dengan pernyataan tentang buruknya kinerja pemerintah. Dengan begitu, semua upaya pencitraan tentang keberhasilan dan kepedulian pemerintah terbantahkan oleh pertanyaan itu.

                                             ,

Kini, publik memaknai pencitraan sebagai upaya untuk menyesatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kinerja pemerintah. Sebab, apa yang diklaim serba baik oleh pemerintah nyata-nyata bertolakbelakang dengan fakta dan realita. Kualitas penegakan hukum terus menurun. Perang melawan korupsi memang belum berakhir, tetapi untuk saat ini, negara dalam posisi kalah karena dua alasan ini; pertama, korupsi makin merajalela. Kedua, pemerintah sangat minimalis menyikapi upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Begitu pun di bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan ekonomi lebih ditopang konsumsi dalam negeri. Revitalisasi sektor pertanian dan tanaman hanya sampai pada konsep, sehingga ketergantungan pada bahan pangan impor terus meningkat. Keinginan mempercepat pembangunan infrastruktur pun sebatas wacana di forum-forum seminar. Kemiskinan tak kunjung berkurang. Angka Pengangguran masih tinggi. Sementara itu, konflik horizontal di berbagai daerah dirasakan makin tinggi intensitasnya akhir-akhir ini. Terbanyak berlatarbelakang konflik agraria.

 

Kalau fakta dan realitanya seperti itu, wajarlah kalau pencitraan untuk meyakinkan publik bahwa segala sesuatunya serba baik, dimaknai sebagai upaya menyesatkan pemahaman publik terhadap kinerja pemerintah. Citra, sejatinya, terbentuk oleh rangkaian fakta dan rasa. Karena itu, upaya mencitrakan kinerja pemerintah yang mumpuni atau progresif tak cukup dengan klaim sepihak. Pun tak perlu dipidatokan atau tepuk dada. Rakyat bisa melihat dan merasakannya. Dari situ, citra dan persepsi tentang kinerja pemerintah akan terbentuk, negatif atau positif.

 

Bukan memanipulasi dan meyulap fakta buruk menjadi suatu yang indah menurut diri sendiri. Upaya menampilkan citra yang baik akan gagal jika dikemas dengan ketidakjujuran menyikapi dan memaknai fakta. Maka, jangan kecewa jika pencitraan yang memuat pesan tentang keberhasilan dan kejujuran bisa dengan mudah dimentahkan atau dibantah oleh fakta-fakta tentang kegagalan dan rangkaian kebohongan.

 

Rakyat tidak bisa terus menerus dininabobokan dengan janji-janji atau klaim sepihak mengenai kinerja progresif pemerintah di bidang ekonomi, hukum, sosial, politik dan keamanan. Sebab, rangkaian pencitraan bukanlah mesin yang mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat, mewujudkan keadilan sosial dan membersihkan birokrasi negara dari perilaku korup. Pencitraan pun tak akan bisa menolong warga miskin, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya beli rakyat, mengatasi masalah pendidikan dan kesehatan masyarakat. Wujud pencitraan hanya rangkaian kata plus gambar, sedangkan plus minus kesejahateraan dan keadilan itu dirasakan langsung, baik individu maupun komunitas. Kata orang bijak, rasa itu tak bisa dibohongi. Jadi, kalau sesuatu yang nyata-nyata tidak enak tetap diaku enak, di situ ada kebohongan.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata 6 persen per tahun tak perlu diperdebatkan lagi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI per 2012 sebesar 6,2%. Ada tantangan karena pertumbuhan di negara mitra dagang RI dipastikan terganggu oleh ketidakpastian ekonomi dunia akibat krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah sendiri mematok target pertumbuhan 6,7%, sedikit lebih tinggi dari 2011 yang 6,5%. Keyakinan pemerintah bisa bertahan dari dampak krisis utang Eropa patut diapresiasi.

 

Namun, sudah berulangkali masyarakat bertanya tentang siapa saja yang menikmati pertumbuhan tinggi itu? Seberapa kuat pertumbuhan yang tinggi itu menciptakan lapangan kerja dan menaikkan daya beli pekerja? Mampukah pertumbuhan itu merespons masalah kemiskinan di dalam negeri?

 

Boleh percaya boleh tidak, BPS mengumumkan bahwa hingga Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari tercatat 6,32%, dan jumlah Jumlah penduduk miskin  per September 2011 tercatat 29,89 juta orang (12,36 persen). Kalau klaim BPS itu dihadakan dengan data tentang program beras untuk warga miskin (Raskin) dan jumlah Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) yang berhak mendapatkan Raskin, gambaran kemiskinan versi BPS itu terjungkirbalikan.

 

Untuk tahun ini, kantor Menko Kesra mengumumkan bahwa Program Raskin 2012  menyediakan beras bersubsidi kepada 17.488.007 RTS-PM dengan kondisi sosial ekonomi terendah di Indonesia (kelompok miskin dan rentan miskin). Katakanlah minimal per RTS-PM beranggotakan empat orang. Maka, jumlah warga miskin sebenarnya bisa lebih dari 70 juta jiwa.

 

Maka, angka kemiskinan versi BPS bukan hanya tidak realistis, tetapi jelas-jelas lebih bertujuan pencitraan. Angka-angka BPS itu ingin mengatakan bahwa pemerintah berhasil menurunkan jumlah warga miskin. Tetapi, program Raskin berikut RTS-PM yang dirancang pemerintah justru membantah klaim BPS itu. Kalau program pengentasan kemiskinan hanya berpatokan pada angka BPS,  pembangunan nasional akan sesat jalan dan sesat sasaran?

 

Kesimpulannya, tingginya pertumbuhan ekonomi RI dalam beberapa tahun terakhir sama sekali tidak bermutu. Buruknya kualitas pertumbuhan ekonomi tergambar dari pembangunan yang belum merata. Masih menurut BPS,  hingga triwulan I/2012, struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh kelompok provinsi di Jawa dan Sumatra. Kelompok provinsi di Jawa memberikan kontribusi  57,5% terhadap PDB, diikuti Pulau Sumatra 23,6%, Kalimantan 9,8%, Sulawesi 4,5%, Bali dan Nusa Tenggara 2,4%, dan Maluku dan Papua sebesar 2,2%.

 

Hadir dan Melindungi

 

Rasa keadilan rakyat pun sudah tercabik-cabik, karena kualitas penegakan hukum yang buruk. Masyarakat di sejumlah daerah konflik merasa pemerintah dan institusi penegak hukum tidak pernah hadir ketika mereka terperangkap dalam persoalan sengketa agraria yang  berpotensi memicu konflik horizontal. Ketika masyarakat berhadap-hadapan dengan kekuatan bisnis yang besar, alat-alat negara justru tidak independen karena cenderung berpihak pada pemodal. Kecenderungan ini tampak begitu nyata dalam tragedi berdarah di Mesuji maupun konflik agraria di daerah lain.

 

Moral pemerintahan SBY memerangi korupsi pun praktis sudah rontok. Apa yang terjadi sekarang adalah perang semu melawan komunitas koruptor. Negara ini sudah kehilangan konsistensinya dalam perang melawan korupsi, karena pemerintah tidak all out melindungi KPK dari upaya pelemahan yang dilakukan dengan berbagai cara dan modus.

 

Menyikapi buruknya kinerja institusi penegak hukum, presiden hanya bisa prihatin. Padahal, presiden punya wewenang dan kapasitas untuk membenahi kinerja institusi penegak hukum. Akan tetapi, karena wewenang itu tidak digunakan, memburuknya kualitas penegakan hukum tak terhindarkan. Itu sebabnya proses hukum terhadap sejumlah kasus besar, seperti skandal Bank Century dan Mafia Pajak, tidak berkepastian hingga kini.

 

Setiap kali didesak menggunakan wewenangnya memperbaiki koordinasi dan sinergi antarinstitusi penegak hukum, presiden selalu menghindar dengan argumentasi ‘tidak ingin mengintervensi’. Kini, argumentasi seperti itu sudah dilihat sebagai pencitraan yang ngawur. Intervensi terhadap bawahan yang lamban menyelesaikan tugasnya jelas tidak sama dengan makna ‘intervensi proses hukum’.

 

Dalam sejumlah kasus atau masalah, masyarakat sudah berulangkali mempertanyakan peran dan kehadiran pemerintah, baik sebagai penengah maupun fasilitator.  Kehadiran presiden atau pemerintahannya sangat diperlukan untuk menyelesaikan setiap masalah. Presiden dan pemerintahannya harus bersikap, berketetapan, dan berkeputusan atau menetapkan kebijakan agar setiap masalah bisa diselesaikan. Wacana tidak diperlukan,  karena wacana cenderung menjadi upaya pencitraan. Kalau para pembantu presiden tidak juga bisa menyelesaikan masalah bersangkutan, presiden harus mengambilalih persoalan dan menuntaskannya. Jangan menggantung masalah dengan membiarkan para pembantu berseteru. []

 

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

(Buku of the Day) Manhaj Bernegara Dalam Haji (Kajian Sirah Nabawi dalam Haji)


Napak Tilas Kajian Sirah Nabawi, Memetakan Bernegara dalam Haji

 


 

Judul Buku        : Manhaj Bernegara Dalam Haji (Kajian Sirah Nabawi dalam Haji)

Penulis             : Muhammad Rasuli Jamil

Penerbit            : Media Madania

Tahun terbit       : November, 2011

ISBN                 : 978-602-19227-0-5

Tebal                : xxiv + 236 hal

Peresensi          : Nursodik Ibnu Nurhadi


Sudah menjadi catatan sejarah, setiap bulan Zulhijah, jutaan manusia berbondong-bondong bertandang di lembah gersang kerontang untuk melakukan serangkaian ritual spiritual. Dimana Baitullah dan Mekkah menjadi pusat peribadatan. Bangunan sederhana dari tumpukkan batuan itu kini menjadi medan magnet, mampu menarik hati jutaan manusia mendatanginya.


Buku karangan Muhammad Rasul Jamil sangatlah kompleks, yang mana menyingkap esensi hikmah dari Ibadah Haji dalam konteks bernegara dalam Islam. Alur kajian dan telaah dalam buku ini dimulai dari Millah Ibrahim dengan mengkaji epistemologi Tauhid tentang ajaran samawi dari segi aspek rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah. (hal 15).


Ibadah haji (Manasik Haji) merupakan rukun Islam yang ke-5, sebagaimana telah disyari’atkan (syar’u man qoblana) dalam Islam pada tahun keenam hijriyah. Ibadah yang berasal dari Millah-Ibrahim. Sebuah jejak simulasi dari sebagian perjalanan napak tilas nabi Ibrahim yang mengajarkan orang-orang beriman tata cara (thariqoh) merebut dan mempertahankan Baitullah, Ka’bah. Dari mulai “miqat” tempat bermulanya haji meliputi waktu dan tempat, memakai pekaian ihram, hingga melakukan amalan-amalan haji dan umrah lainnya. Semua nya terhimpun dalam manasik haji (hal 24, 25).


Melalui buku ini kita bisa menelaah kajiaan sirah nabawiyah mengenai Islam dalam bernegara. Semuanya dibahas terperinci dalam sub bab buku ini. Hebatnya pengarang buku ini menguraikan sub bab dengan metode 3M. Tiga marhalah yang telah disistematik oleh Rasuli Jamil sebagai penerapan amalan ibadah haji, yakni Iman, Hijrah, Jihad (IHJ). Dalam pendeskripsikannya Marhalah Iman berawal dari miqat Makany dan Zamany sampai kepada hari Tarwiyah. Marhalah Hijrah bermula dari hari tarwiyah menuju padang ‘Arafah, mabit muzdalifah. Sedangkan Marhalah Jihad dalam haji berlaku di Mina dengan melontar Jumrah dalam beberapi hari dari pagi 10 Zulhijah hingga petang 13 Zulhijah. Setelah melakukan amalan tersebut, semua jama’ah haji bertahalul, melepas pakaian ihram, dan tawaf ifadah dan sya’i. (hal 59,60,61)


Buku ini sangatlah penting bagi pemahaman umat Islam terkait Ibadah Haji, bukan hanya khusus bagi para jamaah haji agar haji nya menjadi mabrur, akan tetapi bagi Seluruh umat Islam agar tergerak untuk memahami dan menjiwai serta membentuk kepribadian atau akhlak mujahid, berdisplin berani, membela sesame, jujur. Yang mana menjadi prasyarat bagi tumbuhnya futuh Islam.


Sejalan dengan telaah itu, Kecermelangan penulis buku ini melalui Metode Tiga Marhalah mampu mendiskripsikan sejarah politik dan ideologi Pergerakan Islam di Indonesia yang mempengaruhi peta politik Indonesia, dengan “tafsiran baru” berdasarkan fakta sejarah sebagai peristiwa. Jalan panjang perjuangan umat Islam bangsa Indonesia dikaji dalam metode penulisan dan kajian sejarah menggunakan “Metode Tiga Marhalah” Iman – Hijrah dan Jihad.


Tahun 1900-1942 adalah patokan bermulanya Marhalah Iman yaitu timbulnya kesadaran Iman yang bersumber dari kepercayaan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini memberikan kesadaran dan kepercayaan dirii sebagian muslim untuk memerdekakan diri dari penjajahan colonial Kerajaan Protestan Belanda. Sehingga di tahun ini mulai lahir organisasi-organisasi sosial dan pendidikan klasikal (modern), sekaligus tumbuhnya organisasi yang berbaju politik. (hal 183-184)


Penggal kedua Marhalah Hijrah (1945-1948) ditandai dengan adanya jarak pemisah (Hijrah) masyarakat Islam dari kerajaan Shito Jepang (akhir Perang Dunia II), jatuhnya bom atom di kota Hirosima dan Nagasaki, Jepang dan disusul dengan menyerahnya Kaisar Hirohito pada 14 Agustus 1945 (hal 201).


Ketiga, Marhalah Jihad, perang Sabilillah umat Islam terhadap Belanda telah diumumkan secara resmi pada pertengahan tahun 1947,Perang Jihad yang dimaksud diantaranya Perang jihad menghadapi kafir Penjajah, Kerajaan Protestan Belanda (1947-1949) dan kemudian Civil-War, perang saudara dengan RIS (1949-1951) dan Republik Indonesia Baru (1951).

 

Membaca dan menilik buku ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan keteguhan hati untuk senantiasa mengkaji dan menerapkan sirah nabawi dalam bernegara di masa sekarang. dan yang akan datang. Namun hanya sedikit saja ulasan mengenai sejarah Islam bernegara di Indonesia penulis buku membatasi hanya dalam kurun waktu antara awal tahun 1900-an sampai 1962-an. Selebihnya buku ini menarik untuk dibaca sebagai telaah dan khazanah keilmuan. []

(Ngaji of the Day) "Apakah Mayyit ini Orang Baik?" "Baik...!"


"Apakah Mayyit ini Orang Baik?" "Baik...!"

 

Ketika seseorang muslim meninggal dunia sudah menjadi kewajiban bagi muslim yang ditinggalkan untuk mengurusnya. Mulai dari menyiapkan penguburan, mengkafani hingga mendirikan shalat jenazah. Hal ini merupakan tuntunan syariat yang telah berlaku sebagai tradisi di masyarakat.Diantara rangkaian urusan jenazah, adalah Ibro’ yang dilakukan sebelum mayyit berangkat ke pemakaman. Ibro’ adalah permohonan maaf dan penyelesaian hutang piutang dari keluarga yang ditinggalkan kepada masyarakat, keluarga atau sanak family.

 

Dalam ibro’ juga dilakukan isyhad yaitu kesaksian terhadap mayyit. Pada praktiknya isyhad biasa dipimpin oleh seorang imam yang bertanya dengan lantang, “Apakah si A (mayyit) ini orang baik?” jama’ah dan hadirin serentak akan menjawab “baik”, begitu secara tradisi diulang hingga tiga kali. Hal ini berdasar pada satu hadits Rasulullah yang menerangkan bahwa kesaksian orang muslim atas kebaikan saudaranya bisa menjadi faktor pendukung menuju surga.

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ . قُلْنَا وَثَلاَثَةٌ قَالَ وَثَلاَثَةٌ . قُلْتُ وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ . ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنِ الْوَاحِدِ

 

Nabi bersabda: Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkannya ke surga. Kami (para sahabat) bertanya “kalau disaksikan 3 orang ya Rasul?” Rasul menjawab “Ya 3 orang juga (akan masuk surga)”, Kami (para sahabat) bertanya lagi “kalau disaksikan2 orang ya Rasul? Rasul menjawab “Ya 2 orang juga (akan masuk surga)”. Dan kami (para sahabat) tidak menanyakan mengenai kesaksian satu orang.

 

Isyhad secara filosofis adalah usaha untuk mengingatkan kebaikan-kebaikan mayyit selama hidupnya, agar dikenang oleh mereka yang ditinggalkan. Selain itu, isyhad juga memberikan optimisme kepada keluarga bahwa kebaikan mayyit menjadi modal tersendiri dalam menghadapi alam kematian.

 

Bahkan dalam kitab Al-Adzkar ,Imam Nawawi menganjurkan untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan mayyit dan memujinya.

 

ويستحب الثناء على الميت وذكر محاسنه

 

Begitu pula anjuran dalam Fathul Wahhab, hal ini didasarkan kepada Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Hakim “sebutlah kebaikan seseorang yang meninggal dunia dan hindari membuka aibnya.”

 

اذكروا محاسن موتكم وكفوا عن مساويهم

 

Demikianlah, betapa tradisi disekitar kita yang terasa sebagai kebiasaan ternyata memiliki dasar hukum dalam syariat, yang apabila diniati dengan benar memilki nilai ibadah. []

 

Sumber: NU Online

(Do'a of the Day) 27 Dzulhijjah 1433H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma lakal hamdu hamdan yuwaafii ni'amaka, wa yukaafi'u maziidaka, ahmaduka bi jamii'I mahaamidika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam 'alaa jamii'I ni'amika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam, wa 'alaa kulli haalin.

 

Ya Allah, bagimu segala puja dan puji, puji yang yang bertaut dengan nikmat dan puji yang menambah nikmat karena bersyukur. Aku persembahkan pujian kepada-Mu dengan sekuruh jenis pujian yang baik yang aku ketahui dan yang tidak kuketahui atas nikmat-Mu, baik yang aku ketahui dan yang tidak kuketahui atas segala keadaan.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Kelima.

Jumat, 09 November 2012

(Masjid of the Day) Berdampingan Bersama Nurul Hikmah di Jatiwangi, Cikarang Barat - Kab. Bekasi

Sebuah desa yang mempesona, penduduknya ramah, damai dan sentosa. Walaupun berjarak tidak jauh dari salah satu Kawasan Industri terbesar di Kabupaten bekasi, suasana desa ini sepertinya tidak begitu menghiraukan keberadaaanya. Penduduk desa tetap ingin hidup damai dengan ataupun tanpa adanya kawasan industri berdiri di sampingnya. Namun, sebagian warga yang lain, sepertinya juga ingin menjadi salah satu bagian darinya. Ingin dapat memberikan manfaat dari apa yang ada di sampingnya.

 

Maka, berdirilah sebuah bangunan megah di pinggir jalan yang ingin menampung hasrat manusia untuk menghadap-Nya, siapa saja itu. Entah warga Jatiwangi sendiri, ataukah dia dari Kawasan Industri yang ada di sampingnya, dan dia bernama Nurul Hikmah.

 

Nurul Hikmah yang mempesona, berdiri gagah di samping jalan desa.
 
 



jalan desa di jatiwangi, kecamatan cikarang barat, kabupaten bekasi.
 



gagah dan sederhana, akrab berdampingan dengan deretan kontrakan milik warga.
 



kesejukan suasana di sana, mampu melepas lelah siapa saja yang mendatanginya.
 



ah, ternyata ada juga bedugnya... ciri khas islam nusantara jaya raya.
 



mari kita lihat di dalamnya, tengok ke atas, tepat di bawah kubahnya... pancaran warna biru muda yang mempesona.
 



bagaimana dengan suasana di belakang kita?
 



sudah, sudah, sudah... marilah kita bersama-sama menghadap-Nya.