Tampilkan postingan dengan label Kuliner of the Day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner of the Day. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

(Kuliner of the Day) Lontong Kupang plus Sate Kerang, Lezat dan Gurihnya Terus Terngiang-ngiang



Kupang adalah sejenis hewan laut semacam kerang atau tiram. Bentuknya teramat sangat kecil, dengan ukuran tidak sampai 5 milimeter. Berdasarkan wikipedia, di sana kupang dikatakan bahwa kupang sebagai hewan laut semacam kerang kecil. Disebut juga kerang putih atau Corbula Faba. Binatang ini biasanya dapat hidup di pinggiran pantai atau lumpur yang berair asin.

Habitat kupang biasanya mudah ditemukan di pinggiran pantai utara jawa timur yang berombak kecil dan sedikit tenang, atau apabila air laut terlihat surut. Surabaya, Sidoarjo, dan Pantai Madura merupakan lokasi yang kaya akan habitat kupang ini. Untuk itulah, kupang-kupang kecil yang hidup dan tumbuh di air asin ini akan terasa sangat gurih apabila telah disajikan di atas piring, sama gurihnya dengan ikan laut lainnya. Gurihnya kupang tidak akan pernah terlupan, niscaya akan terus terngiang-ngiang.

Mencari seporsi lontong kupang di wilayah "Gerbangkertosusila", tidak akan kesulitan karena hampir semua warganya menyukai makanan ini. Mulai dari restoran yang mahal, warung atau depot di pinggir jalan, warung tenda semipermanen, hingga yang berkeliling keluar masuk perkampungan di seluruh wilayah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan dengan sangat mudah menikmati lontong kupang ini.






Sekali panggil, Pakde Imron, warga asli Kepuh Legundi, Kab. Gresik ini dengan cekatan akan segera meracik seporsi lontong kupang. Dimulai dengan olesan petis, cabe rawit, dan berbagai macam bumbu yang diuleg di atas piring dengan menggunakan sendok. Tidak perlu ulegan khusus semacam menguleg sambel terasi atau rujak cingur. Ulegan yang sudah jadi, masih perlu ditambahkan dengan kuah kupang secukupnya agar gurihnya lebih terasa mantab.





 
Selanjutnya beberapa iris lontong diletakkan di atas piring, ditambahkan dengan lentho goreng, serta tiga tusuk sate kerang. Finishing dari sajian ini adalah guyuran kuah gurih dan lezat yang bertabur dengan kupang-kupang kecil yang empuk. Nyam nyam nyam... Selamat makan, karena lezat dan gurih nya akan terus menerus terngiang-ngiang.








ANANTO PRATIKNO

Kamis, 24 Maret 2016

(Kuliner of the Day) Saat Hujan dan Dingin, Rasakanlah yang Virgin




Musim penghujan yang biasanya terjadi pada Januari, Februari, dan Maret sampai kemungkinan April tentu saja menggembiarakn bagi sebagian atau bisa dikatakan mayoritas orang. Selain memberikan kualitas oksigen yang lebih baik, kedatangannya kerap dan selalu dinantikan untuk memberikan siraman kesegaran. Udara segar dan sejuk hampir setiap saat akan kita rasakan.

Biasanya, di saat-saat tertentu, di saat curah hujan meninggi, ada rasa dingin yang sesekali menusuk tulang. Nah, apabila sensasi dingin seperti itu yang telah kita rasakan, maka ada satu penawar yang harus kita coba. Kita harus merasakan dan menikmati sesuatu yang masih "virgin", maka niscaya akan semakin menghangatkan kedinginan itu.

Segera, langsung saja kita meluncur ke sebuah lokasi yang bernama "Bonded Zone", di daerah Cikarang Barat. Tepat berada di titik -6.306298, 107.088147 atau koordinat 6°18'22.7"S 107°05'17.3"E, maka kenikmatan si virgin atau sang perawan bisa kita rasakan. Terserah selera kita, mau merasakan sendiri ataukah merasakannya secara ramai-ramai.



Masuk ke area "Bonded Zone", lokasi sasaran kita dalam mencari yang virgin, terselip berada di tengah rerimbunan pepohonan yang besar dan teduh. Konon, sang virgin memang kerap berad di tengah rerimbunan untuk menjaga suasana tetap segar. Jika sudah siap, silahkan cari posisi tempat duduk yang pas. Bisa di pinggir, di pojokan, atau di tengah. Sate Virgin, "Kambing Betina Menambah Energi", begitu motonya.



Silahkan pilih menu yang anda sukai. Di dalam daftar menu yang tersedia di sini, ada Sate Kambing khas Virgin yang dibanderol dengan harga Rp 4.600 per tusuk, kemudian ada Sate Ati Kambing seharga Rp 4.800 per tusuk, dan menu andalan, Sate Kambing tanpa Lemak seharga Rp 5.600 per tusuk. Jika berselera dengan sop yang berkuah panas, di sini juga disediakan Sop Kambing Betina dengan harga Rp 32.000 per porsi.



Setelah semua pesanan tercatat, mari kita tunggu sembari menghirup kebul-kebul harumnya asap daging kambing betina yang dibakar di sudut sana. Sesaat, tersaji piring putih yang terdapat irisan bawang merah, irisan tomat, dan irisan cabe rawit ijo. Ah, ternyata itu adalah tempat untuk menikmati sang perawan yang sedang dibakar. 



Selanjutnya, hadir Teh Tong Tji khas Tegal komplit dengan gula batunya. Hujan dan dingin, benar-benar terasa komplit ketika disertai dengan seruputan teh panas asli Tegal yang tersaji dengan teko berbahan tanah liat ini. Bongkahan gula batu yang disediakan bersama teko ini, manisnya tersa pas di lidah. Sangat berbeda dengan rasa manis yang dihasilkan oleh gula pasir biasanya. Panas dan manis berbaur menjadi satu kesatuan.



Kedatangan berikutnya adalah semangkok sop panas. Sop daging kambing betina ini terlihat berkuah bening, dengan aroma harum khas kambing betina yang masih perawan. Dengan irisan berbagai macam sayuran di dalamnya seperti wortel, kentang, kol, dan daun bawang. Ah, sungguh semakin sempurna sajian di hawa dingin ini.



Wa ba'du dan yang ditunggu-tunggu, sepuluh tusuk Sate Kambing Betina yang Perawan tanpa Lemak tersaji di atas hot plate. Masih panas membara, aroma harumnya menyeruak kedua lubang hidung, dan lidah segera menari-nari tak sabar untuk segera menyantapnya. Selamat merasakan sensai dinginnya hujan, selamat merasakan kambing betina yang masih virgin, dan selamat makan.



ANANTO PRATIKNO

Kamis, 03 Desember 2015

(Kuliner of the Day) Bubur Sruntul dan sebongkah Es Batu, Menjanjikan Kesegaran yang Tiada Bertepi



Bubur sruntul, makanan apakah gerangan? Pernahkah anda menjajalnya? Nama jajanan yang terkadang ditulis dengan "Seruntul", dengan sisipan huruf "e" di dalamnya ini terdiri dari beberapa item. Beberapa item barang yang dominan berbahan baku ketan ini di sajikan dengan kuah santan yang lezat. Dan juga lelehan gula jawa yang manisnya pas di lidah.



Panganan yang disajikan di dalam mangkok ini, akan semakin sempurna apabila sebongkah es batu dimasukkan ke dalamnya. Kesegarannya akan terasa tiada bertepi. Kelezatan tekstur ketan, lembutnya tepung hunkwe, dan manisnya lelehan gula jawa akan memanjakan seluruh tubuh. Mulai dari ujung bibir, seluruh permukaan lidah, kerongkongan, hingga rongga-rongga perut kita akan merasakan kesegaran yang sempurna dan tiada bertepi ini.

Semangkok jajanan yang luar biasa ini, ditemukan Mas Dimas berada di pinggir Jalan Raya RA. Basuni, Kabupaten Mojokerto - Jawa Timur, sekitar 50 meter dari SMAN Negeri 1 Sooko. Dengan menggunakan kendaraan pick up yang telah dimodifikasi, pedagang Bubur Sruntul yang berasal dari Sumobito Jombang ini menawarkan kesegaran bagi siapa saja yang kebetulan melintas di jalan yang beraspal mulus ini. Tepat di titik koordinat -7.498375, 112.423331, di pinggir jalan raya yang penuh dengan pepohonan rindang dan adem, lokasi ini dengan sangat mudah terlihat.





Tidak pakai harga yang mahal, cukup sediakan Rp 3.500 per porsi dengan ukuran mangkok sedang, maka niscaya kelembutan tepung hunkwe disertai dengan manisnya lelehan gula jawa yang tersaji bersama bongkahan es batu segera meluncur melalui tenggorokan kita.



Bubur sruntul, sudahkan anda mencoba kesegarannya yang tiada bertepi?



ANANTO PRATIKNO

Rabu, 09 September 2015

(Kuliner of the Day) Gado-gado Bersimbah Bumbu Siram khas Gerbangkertosusilo, 'Salad' Nikmat ala Nusantara



Bagi anda yang tinggal di sekitar Jabodetabek, tentunya tidak asing dengan makanan atau kudpan yang di dalamnya bercampur-baur berbagai jenis sayuran yang diiris-iris. Apabila kudapan yang terdiri sayuran yang kita nikmati tersebut masih dalam kondisi mentah dan segar, biasa disebut dengan karedok. Di dalam khalayak umum, karedok dinisbatkan sebagai makanan khas sunda yang di dalamnya terdiri sayur mayur mentah yang berisi antara lain mentimun, taoge, kol, kacang panjang, kemangi, dan terong. Semuanya itu kemudian dicampur dengan saus kacang dengan racikan bumbu-bumbu tertentu.

Sementara apabila makanan yang terdiri dari sayuran yang kita nikmati tersebut dalam kondisi sudah direbus, kita biasa menyebutnya dengan gado-gado. Nah, makanan bernama gado-gado ini ternyata memiliki jenis dan turunan yang berbeda pula. Dengan istilah yang sama, gado-gado di wilayah yang berbeda ternyata memiliki perbedaan dalam pengolahan, penampakan, maupun cita rasa.

Dalam hal proses pengolahan, gado-gado di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan sekitarnya memiliki tahapan proses yang berbeda dengan gado-gado yang beredar di wilayah Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) dan sekitarnya. Peracik makanan gado-gado khas Jabodetabek, biasanya membuat bumbu kacang terlebih dahulu di atas ulegan. Bumbu yang terdiri dari bermacam-macam rempah dan biji-bijian khas nusantara ini diuleg dan dihaluskan sedemikian rupa sehingga menjadi lembut. Selama proses penghalusan bumbu, bisa ditambahkan pula cabe rawit sebagai sensasi rasa pedas sesuai dengan selera. Lantas, sayur mayur yang sudah disiapkan diiris-iris di atas bumbu tersebut. Baru kemudian setelah itu diaduk menggunakan sendok atau peralatan lainnya. Setelah itu baru disajikan dengan taburan bawang goreng di atasnya dan dengan tambahan kerupuk secukupnya.

Nah, bagaimana dengan gado-gado khas Gerbangkertosusilo ini? Untuk lebih jauh agar dapat menikmati gado-gado khas timur pulau jawa ini, perlu kiranya terlebih dahulu kita memilih lokasi yang pas. Tempat yang pas menurut Ayah Dimas ini terletak di pinggir Jalan Brawijaya, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Berjarak kurang lebih sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Mojokerto, tempat tinggal Mbah Putrinya Dimas. Yap, warung makan Bu Ismi yang menyediakan makanan gado-gado, tahu lontong, dan sejenisnya.

Warung yang berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Mojokerto - Kota Malang via Pandaan ini menyuguhkan nuansa kesederhanaan serta kemurah meriaan, tentunya... :) Memanfaatkan halaman sebuah kantor jasa keuangan partikelir, sembari lesehan kita bisa mencoba menikmati kelezatan gado-gado khas Gerbangkertosusilo racikan Bu Ismi.




Pertama, pada gado-gado khas wilayah timur pulau jawa ini, bumbu yang mirip saus kacang sudah disiapkan terlebih dahulu. Kekentalan atau viskositas bumbunya jauh lebih encer dibandingkan dengan gado-gado khas Jabodetabek. Selanjutnya, Bu Ismi mulai memotong-motong berbagai macam sayuran baik yang telah direbus maupun yang masih segar seperti timun, kol, toge, kacang panjang, wortel, selada, kentang rebus, dan juga irisan telor rebus. Selain itu, ada juga irisan tempe goreng, tahu goreng, dan tentu saja lontong nasi. Semua itu teriris-iris dengan rapi di atas piring dan kemudian disiram dengan bumbu kacang yang telah disiapkan.

Di atasnya, kemudian ditaburi bawang goreng, emping melinjo, dan krupuk ikan. Jika masih dirasa kurang, boleh ambil kerupuk udang maupun kerupuk kulit yang juga tersedia di atas meja.

Penampakan gado-gado khas Gerbangkertosusilo ini sekilas lebih cantik apabila dibandingkan dengan gado-gado khas Jabodetabek. Ini dikarenakan gado-gado yang disebutkan dari timur ini ditata rapi di atas piring sebelum diberikan baluran bumbu kacang dan topping bawang goreng. Pengadukan dan pencampuran isi gado-gado sebelum disantap, dilakukan sendiri oleh pelanggannya. Sementara gado-gado khas dari barat, proses pengadukan dan pencampuran sudah dilakukan sejak di atas papan ulegan.




Irisan separuh telur ayam bulat rebus yang diletakkan dengan manis di atas tumpukan sayuran yang diiris-iris bersimbah bumbu kacang dan di samping sehelai dau selada yang hijau segar menambah sedikit kacantikan penampakan gado-gado khas Gerbangkertosusilo ini. Sekarang tinggal kesiapan kita untuk memulai melahapnya. Apakah dicampur aduk terlebih dahulu, apakah dicicipi dau seladanya terlebih dahulu, apakah dikremes kerupuk ikan dan emping melinjonya, ataukah yang mana? Semua terserah kita dan terserah selera anda bagaimana memulainya. Yang jelas, mari kita nikmati saja gado-gado yang bersimbah bumbu siram khas Gerbangkertosusilo ini. Saldad yang nikmat ala Nusantara Jaya Raya.



ANANTO PRATIKNO