Rabu, 27 Maret 2013

(Hikmah of the Day) Doa yang Ditunggu-tunggu


Doa yang Ditunggu-tunggu

Oleh: Ali Wafa Yasin

 

Dalam kitab ath-Thabaqât, Tajuddin as-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Ali bin Abi Thalib dan kedua putranya, Hasan dan Husein raa mendengar seseorang bersyair.:

 

Wahai Zat yang mengabulkan doa orang yang terhimpit kezaliman

Wahai Zat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan rasa sakit

Utusan-Mu tertidur di rumah Rasululah, sedang orang-orang kafir mengepungnya

Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah tidur

Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa-dosaku

Wahai Zat tempat berharap para makhluk di Masjidil Haram

Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah

Maka siapa yang akan menganugerahi nikmat kepada para pendosa?

 

Ali lalu menyuruh orang mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu pun datang menghadap Ali seraya berkata, “Aku, wahai Amîrul-Mu’minîn!” Laki-laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan Ali.

 

Ali bertanya, “Aku telah mendengar syairmu. Apa yang menimpamu?”

 

Laki-laki itu menjawab, “Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah swt memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang zalim. Karena ayah terus-menerus menasihatiku, maka aku memukulnya. Karenanya, ayahku bersumpah akan mendoakan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah swt. Ia pun berdoa, dan karenanya tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku sampai ia berjanji akan mendoakan kebaikan untukku jika Ali mau berdoa untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar di antara dua batu besar, lalu ia mati di sana.”

 

Ali lalu berkata, “Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.”

 

Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, demikianlah yang terjadi.”

 

Kemudian Ali berdiri, melakukan salat beberapa rakaat, dan berdoa kepada Allah dngan pelan, kemudian berkata, “Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!” Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala.

 

Ali berkata, “Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendoakan kebaikan untukmu.” []

 

Sumber: Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar