Senin, 03 Mei 2021

(Ngaji of the Day) Letak Keistimewaan Lailatul Qadar: Turunnya Al-Qur'an dan Malaikat

Berdasarkan keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, disebutkan bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam yang indah itu disebut Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Bila seorang muslim mengerjakan kebaikan-kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih baik dari mengerjakan kebaikan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun sampai 84 tahun.

 

Malam indah yang lebih baik dari seribu bulan itu adalah malam yang penuh berkah, malam yang mulia dan memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Syekh Muhammad Abduh memaknai kata “al-Qadar” dengan kata “takdir”. Ia berpendapat demikian, karena Allah s.w.t. pada malam itu mentakdirkan agama-Nya dan menetapkan khittah untuk Nabi-Nya, dalam menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Khittah yang dijalani itu, sekaligus melepaskan umat manusia dari kerusakan dan kehancuran yang waktu itu sedang membelenggu mereka. (Hasbi Ash Shiddieqy, 1996: 247).

 

Kata “al-Qadar” diartikan juga “al-Syarf” yang artinya mulia (kemuliaan dan kebesaran). Maksudnya Allah s.w.t. telah mengangkat kedudukan Nabi-Nya pada malam Qadar itu dan memuliakannya dengan risalah serta membangkitkannya menjadi Rasul terakhir. Mengenai hal ini diisyaratkan dalam surat al-Qadar, bahwa malam itu adalah malam yang mulia, malam diturunkannya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang terakhir. Surat al-Qadar itu lengkapnya sebagai berikut:

 

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. al-Qadr, [97]: 1–5).

 

Keagungan dan keistimewaan malam Qadar pada dasarnya terletak dalam dua kemuliaan, yaitu turunnya Al-Qur’an (nuzulul qur'an) itu sendiri dan turunnya para malaikat dalam jumlah yang besar, termasuk di dalamnya malaikat Jibril. Para malaikat turun di malam itu dengan cahaya yang cemerlang, dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan.

 

Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan ucapan selamat kepada orang yang melaksanakan puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah lainnya. Kemuliaan turunnya al-Qur’an, merupakan hari yang agung dan bersejarah, turunnya kitab suci itu merupakan titik awal dimulainya suatu kehidupan “Dunia Baru” yang terlepas dari kesesatan dan kezaliman, menuju kebenaran yang hakiki.

 

Mengenai ketentuan waktu kapan malam Qadar itu terjadi, tidak ada ketetapan secara pasti dalam tanggal-tanggal Ramadhan. Akan tetapi kalau dianalisa dan difahami dari surat al-Qadr tersebut dan dikaitkan dengan ayat 185 surat al-Baqarah:

 

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ

 

عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)

 

Dari kaitan keduanya, mudah ditarik kesimpulan, bahwa Al-Qur’an turun pada malam Qadar dan Al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan, maka malam Qadar pun berada pada bulan Ramadhan. Kajian berikutnya adalah mengenai terjadinya malam itu, pada tanggal berapa dalam bulan Ramadhan? Tentang hal ini dijumpai beberapa riwayat yang satu dengan lainnya berbeda, karena itu tidak dapat dipastikan. Namun demikian, Nabi mengisyaratkan bahwa malam Qadar itu terjadi pada hari-hari sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa malam yang dinantikan itu jatuh pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh hari tersebut.

 

Menurut pandangan beberapa sahabat, bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan. Pendapat itu didukung oleh Ubay Ibn Ka’ab r.a, Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Umar r.,a. Sebagian ulama berpendapat bahwa malam kemuliaan itu berpindah-pindah dalam sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam itu pasti terjadi pada salah satu tanggal dari bulan Ramadhan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa malam Qadar terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. bersabda:

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

 

Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda, "Carilah malam Qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1878 dan Muslim: 1998)

 

سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 

Aku mendengar Ibn Umar r.a. menceritakan hadis dari Nabi s.a.w. tentang malam Qadar, beliau bersabda, "siapa yang mau mencarinya, maka carilah ia pada malam tanggal 27 Ramadhan". (Hadis Hasan, riwayat Ahmad: 4577)

 

Sahabat Ibnu Umar meriwayatkan hadis yang lebih umum, yaitu pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, semua malamnya bukan hanya di malam yang ganjil saja. Nabi s.a.w. bersabda:

 

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

 

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan. Bila salah seorang di antaramu merasakan lemah atau lelah, maka jangan kamu kalah dalam mencarinya pada tujuh malam terakhir (bulan Ramadhan)”. (Hadis Shahih, riwayat Muslim: 1989).

 

Hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar menyebutkan, bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

 

سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 

Aku mendengar Ibn Umar r.a. menceritakan hadis dari Nabi s.a.w. tentang malam Qadar, beliau bersabda, "siapa yang mau mencarinya, maka carilah ia pada malam tanggal 27 Ramadhan". (Hadis Hasan, riwayat Ahmad: 4577)

 

Ubay bin Ka’ab r.a. juga meriwayatkan bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan:

 

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 

Dari Ubay bin Ka'ab r.a. ia berkata: “Malam Qadar adalah malam tanggal dua puluh tujuh (Ramadhan)”. (Hadis Hasan, riwayat Ahmad: 20265).

 

Riwayat ini didukung pula oleh hadis Zar bin Hubaisy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

 

قَالَ أُبَيٌّ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا قَالَ شُعْبَةُ وَأَكْبَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 

Ubay bin Ka'ab r.a. berkata tentang malam Qadar: "Demi Allah sungguh aku mengetahuinya, Syu'bah r.a. berkata, "Pengetahuanku yang paling utama adalah tentang suatu malam yang Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada kami untuk menghidupkannya (malam Qadar) yaitu malam tanggal dua puluh tujuh (Ramadhan)”. (Hadis Shahih, riwayat Muslim: 2000).

 

Kemuliaan malam Qadar banyak dijelaskan hadis Nabi s.a.w. antara lain:

 

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهَا فِي وَتْرٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ فَمَنْ قَامَهَا ابْتِغَاءَهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

 

Dari Ubadah bin Shamit r.a. sesungguhnya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai malam Qadar. Rasulullah s.a.w. menjawab, "(Ia berada) dalam bulan Ramadhan, maka carilah malam tersebut pada sepuluh yang akhir, yaitu pada malam-malam ganjil; malam tanggal 21, atau 23, atau 25, atau 27, atau 29, atau malam terakhir Ramadhan. Siapa yang mengerjakan ibadah (qiyam) pada malam itu dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya pada masa lalu dan masa yang akan datang”. (Hadis hasan riwayat Ahmad: 21654).

 

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan hadis dari Nabi s.a.w.

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

“Siapa yang mengerjakan ibadah pada malam Qadar dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1768 dan Muslim: 1268). []

 

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

(Hikmah of the Day) Khaulah binti Tsa’labah, Perempuan yang Memprotes Nabi dan Dibela Allah

Adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang sahabat perempuan yang memiliki paras cantik nan jelita. Ia diperistri oleh seorang laki-laki bernama Aus bin As-Shamit.

 

Satu ketika sang suami, Aus bin As-Shamit, melihat sang istri sedang melakukan shalat di rumahnya. Selama sang istri dalam shalatnya Aus terus memandanginya dari arah belakang. Ia sungguh terkesan dengan keindahan tubuh istrinya. Terlebih ketika Khaulah sedang bersujud, bagian belakang tubuhnya membuat Aus menginginkan istrinya.

 

Maka ketika sang istri selesai dari shalatnya Aus mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri, namun Khaulah menolak. Atas penolakan ini Aus marah besar hingga akhirnya keluar kalimat yang menjadikan Khaulah tertalak. Kepadanya dengan emosi Aus mengatakan, “Bagiku engkau laksana punggung ibuku!” (Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, menyamakan istri dengan punggung ibu suami adalah cara suami untuk menceraikan istrinya, red).

 

Syekh Nawawi Banten memiliki catatan tersendiri yang perlu diketahui perihal perilaku seksnya Aus. Disebutkan bahwa Aus berhasrat terhadap perempuan dan menginginkan menggaulinya dengan cara yang tidak semestinya perempuan digauli. Karenanya Khaulah menolak permintaannya itu. Atas penolakan ini Aus marah dan mengatakan, “Bila kamu keluar dari rumah sebelum aku melakukannya denganmu, maka bagiku engkau seperti punggung ibuku.”

 

Usai mengucapkan kalimat itu Aus menyesalinya. Ia paham bahwa dengan kalimat seperti itu sama saja ia menceraikan istrinya. Pada saat itu, di masa Jahiliyah, belum ada hukum dhihar. Kalimat dhihar seperti itu masih dianggap dan dihukumi sebagai talak.

 

Adapun Khaulah pun tak terima bila ia dicerai oleh suaminya. Maka serta merta ia mendatangi Rasulullah. Kepada beliau ia sampaikan, “Aus menikahiku saat aku masih gadis yang disukai banyak lelaki. Kini setelah aku tua dan memiliki banyak anak, ia menyamakanku dengan ibunya (baca: menceraikan). Aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Kalau mereka aku serahkan kepada Aus, mereka akan tersia-sia. Tapi kalau mereka aku yang mengurus, mereka akan kelaparan.”

 

Dengan aduan itu Khaulah berharap agar Rasulullah tidak menghukumi talak atas hubungan perkawinannya dengan Aus. Namun Rasulullah tetap menghukumi talak atas ucapan Aus tersebut. Khaulah masih belum mau menerima. Ia bersikeras, “Rasul, demi Allah ia tidak mengatakan kalimat talak. Dia itu bapaknya anak-anakku. Dia itu orang yang paling aku cintai.”

 

Namun Rasulullah tetap bersikeras menghukumi talak atas Khaulah dan Aus. “Engkau haram baginya,” kata beliau. Tapi Khaulah tetap tidak mau terima. Terjadilah perdebatan di antara keduanya. Khaulah bersikeras untuk tidak mau dihukumi talak, sementara Rasulullah tetap dengan pendiriannya.

 

Sebagaimana diketahui, bahwa setiap kali ada permasalah yang disampaikan oleh para sahabat kepada Rasulullah, maka beliau tidak akan menghukumi kecuali setelah adanya wahyu dari Allah. Pun demikian dengan kasus Khaulah ini. Karena tidak ada wahyu yang turun menyangkut kasus tersebut, maka beliau tetap menghukumi talak dan tidak menerima permintaan Khaulah untuk memutuskan hukum yang lain.

 

Melihat kenyataan bahwa keinginannya tak akan dipenuhi oleh Rasulullah, Khaulah tak berputus asa. Kepada Rasul ia katakan, “Baiklah, akan aku adukan masalah ini kepada Allah!”

 

Maka kemudian Khaulah menengadahkan kepalanya ke arah langit. Dengan suara lantang ia berseru, “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu. Turunkanlah solusi bagi masalahku ini melalui lisan Nabi-Mu!” Ia terus mengadukan masalahnya kepada Allah.

 

Di saat seperti itulah wajah Rasulullah terlihat berubah. Kepada beliau turun ayat yang menghukumi bahwa masalah Khaulah dan suaminya itu adalah masalah dhihar, bukan talak. Seorang suami yang men-dhihar istrinya dan berkeinginan untuk mencabut ucapannya itu, maka ia tidak boleh menggauli istrinya kecuali setelah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu memerdekakan budak, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Dan bila tidak mampu, maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

 

Ayat dimaksud yang turun atas permasalah Khaulah ini adalah ayat 1 – 4 dari surat Al-Mujadilah. Allah berfirman:

 

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١) الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢) وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٣) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٤)

 

Artinya: “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.”

 

Demikianlah Khaulah binti Tsa’labah. Perempuan dari kalangan sahabat yang tidak saja mengadukan permasalahannya kepada Rasul tetapi juga kepada Allah. Sahabat perempuan yang aduannya didengar dan dikabulkan oleh Allah, dan karenanya terbentuklah hukum dhihar dalam syari’at Islam.

 

Kisah ini banyak ditulis oleh para ulama tafsir dalam berbagai kitab mereka. Di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl (Beirut: Darul Fikr, 2007, II: 405).

 

Imam Al-Qurthubi dalam kiab tafsirnya Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn menuturkan sebuah cerita. Satu saat Sayidina Umar bin Khatab bersama beberapa orang berkendara menunggangi khimar. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Khaulah binti Tsa’labah. Khaulah kemudian menghentikan perjalanan Umar bin Khatab dan teman-temannya.

 

Kepada khalifah kedua itu Khaulah kemudian memberikan banyak nasihat dan didengarka dengan seksama oleh Umar. Ia berkata, “Wahai Umar, engkau dahulu diundang dengan Umair, lalu kau dipanggil Umar, dan kini engkau diundang dengan sebutan Amirul Mukminin. Takutlah engkau kepada Allah, wahai Umar! Sesungguhnya orang yang yakin dengan kematian, maka ia takut kehilangan. Orang yang yakin dengan hisab, ia takut pada azab.”

 

Umar bin Khathab terus mendengarkan nasihat Khaulah, hingga ada yang mengatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau berhenti hanya untuk mendengarkan ucapan perempuan tua ini?”

 

Mendengar ucapan tersebut Umar bin Khathab menjawab, “Demi Allah, seandainya perempuan ini menahanku dari awal hingga akhir siang, aku tak akan berhenti mendengarkannya kecuali untuk melakukan shalat maktubah. Tidakkah kalian mengenal siapa perempuan ini? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah. Allah telah mendengarkan ucapannya dari atas tujuh langit. Bila Tuhan semesta alam mau mendengarkan ucapannya, pantaskah bila Umar tak mau mendengarnya?” (Lihat: Muhammad Al-Qurthubi, Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn, [Kairo: Darul Hadis, 2010, jil IX, juz XVII: 223). Wallahu a’lam. []

 

Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif dalam kepengurusan PCNU Kota Tegal dan sebagai penghulu di Kementerian Agama Kota Tegal

(Ngaji of the Day) Dialog Rasulullah dengan Para Sahabat tentang Dajjal (2)

Seperti disampaikan sebelumnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan para sahabatnya akan fitnah Dajjal. Dajjal sendiri adalah sosok yang mengaku sebagai tuhan dan menguji keimanan manusia akhir zaman. Tak sedikit mereka yang kemudian beriman kepada ketuhanannya. Dalam sebuah perbincangan, secara panjang lebar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menggambarkan bagaimana sepak terjang Dajjal merusak keimanan manusia. Di tenagh perbincangan itu, para sahabat bertanya banyak, “Wahai Rasul, tidakkah kita menentang dan mendustakan Dajjal?”

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab, “Tak ada seorang pun di antara kalian yang mengira akan mampu menentang Dajjal. Ketika fitnah Dajjal datang kepada kalian, kalian akan mengikutinya, tersesat, dan kufur.”

 

“Kala itu, siapa yang menjadi bukti paling besar di hadapan Dzat Pencipta seluruh alam?”

 

“Akan ada seorang mukmin yang berani menemui Dajjal, namun dia akan lebih dulu berhadapan dengan para tentaranya. Mereka bertanya, ‘Hendak ke manakah engkau, wahai lelaki?’ Dia menjawab, ‘Sengaja aku mendatangi seorang yang mengaku dirinya tuhan itu.’ Mereka pun terkejut mendengar jawaban lelaki tersebut. Mereka kembali bertanya, ‘Apakah engkau tak beriman kepada tuhan kami?’ Sang lelaki menjawab, ‘Dia bukan tuhan. Tuhan kalian adalah yang menciptakan langit dan bumi. Dia hanyalah orang murtad dan kafir.’”

 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan, “Mereka pun kian kesal dan menyeru untuk membunuhnya. Begitu semangatnya mereka ingin membunuh. Seandainya tokoh mereka tidak mengingatkan bahwa Dajjal melarang membunuh seseorang sebelum diketahuinya. Akhirnya, mereka mengikat lelaki itu dan membawanya kepada sang Dajjal. Begitu melihat Dajjal, lelaki itu lalu berteriak sekeras-kerasnya, ‘Wahai manusia, janganlah kalian tertipu oleh setan ini. Sebab dia adalah Dajjal sang pendusta, yang mengklaim sesuatu yang bukan haknya. Dialah sosok yang diwanti-wanti oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.’ Akibatnya, kemarahan sang Dajjal pun semakin membuncah. Dajjal lalu memerintah para pengikutnya. Dan mereka pun yakin bahwa Dajjal masih menjadi momok yang menakutkan. Mereka lalu menghujani punggung dan perut sang lelaki dengan pukulan. Dajjal kembali memberi perintah kepada bala tentaranya untuk terus menyiksa dan melukai sang lelaki. Namun, lelaki yang disiksa itu semakin bertambah keimanannya.”

 

Lebih lanjut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengisahkan, “Bahkan kala itu, Dajjal memerintah para pengikutnya agar menggergaji sang lelaki dari bagian kepala hingga kedua kaki. Setelah terpisah, kedua bagian tubuhnya dijauhkan satu sama lain dan Dajjal berjalan di antara keduanya sambil menunjukkan ketuhanannya. Akibatnya, manusia menjadi tunduk sujud kepadanya dan mengakui kebesaran serta kesombongannya. Sang Dajjal berkata kepada sang lelaki, ‘Bangkitlah!’ Kedua bagian tubuh sang pria pun saling mendekat dan saling menyatu, hingga dia kembali hidup. Dajjal lalu bertanya, ‘Apakah engkau beriman kepadaku sebagai tuhan?’ Wajah sang pria terlihat gembira. Tak lama dia menjawab, ‘Tidaklah bertambah apa pun pada dirimu kecuali sebagai bukti. Sesungguhnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengambarkan kepada kami bahwa engkau akan berbuat demikian kepadaku.’ Setelah itu, pria itu berteriak sekeras-kerasnya, ‘Hati-hatilah, wahai manusia, tak akan ada seorang pun setelahku yang mampu berbuat semacam ini.’ Namun, kali berikutnya sihir Dajjal gagal. Sang pria kembali ditarik oleh Dajjal untuk disembelih. Namun, Dajjal tidak berhasil karena Allah meletakkan logam tembaga di antara kedua lututnya sampai tenggorokannya. Kemudian, Dajjal mengambil kedua kaki dan tangan sang pria lalu melemparkannya. Orang-orang yang hadir mengira jika pria itu dilemparkan ke dalam neraka, padahal dilemparkan ke dalam surga. Dan itu adalah bukti yang paling nyata di sisi Tuhan Pencipta seluruh alam.”

 

“Wahai Rasul, bagaimana Allah menyelamatkan kami dari fitnah Dajjal?”

 

“Dalam kondisi itu, Allah akan mengutus saudaraku, Isa ‘alaihissalam agar menjadi busur panah yang mematikan musuh-Nya dan musuh kalian.”

 

“Di manakah Isa ‘alaihissalam berada, wahai Rasul?”

 

“Dia berada di langit, diangkat oleh Allah untuk mengelabui kaum Yahudi yang saat itu hendak membunuhnya. Di sanalah Allah memelihara Isa untuk kembali ke bumi pada waktu yang telah ditetapkan-Nya dan untuk perkara yang telah dikehendaki-Nya.”

 

“Berikah kami gambaran tentangnya, ya Rasul!”

 

“Dia turun di atas menara putih, sebelah timur Damaskus, dengan berpakaian bagus, seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap kedua malaikat. Ketika menundukkan kepala, tampak air wudhu bercucuran darinya. Ketika mengangkat kepala, terlihat tetesan air turun darinya bagaikan mutiara asli. Tidaklah seorang kafir mencium wangi napasnya kecuali akan meninggal.Wangi napasnya tercium hingga ujung pandangan matanya.” “Bukanlah pada waktu itu ada jamaah kaum Muslimin?”

 

“Betul sekali, adalah Al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, setelah sebelumnya penuh dengan kejahatan dan kezaliman. Allah akan menolong kaum Muslimin melalui tangannya. Dia berasal dari keluargaku, putra Al-Hasan ibn Ali. Dialah yang menaklukkan ibukota Romawi, Itali, yang langgeng dengan pasukan kafir Eropa.”

 

“Mengapa Dajjal membutuhkan banyak negeri, sementara kaum Muslimin di sana kuat?”

 

“Bukanlah sudah aku katakan bahwa itu adalah fitnah besar, di mana kaum Muslimin banyak yang murtad di tangan Dajjal.” “Lalu, di manakah Al-Mahdi berada, ya Rasul?”

 

“Di Al-Quds yang dikepung Dajjal. Dia berusaha menembusnya untuk dijadikan ibukota tetapnya, ibukota Yahudi sekaligus ibukota Dajjal mereka. Namun Al-Mahdi dan bala tentaranya terus mempertahankannya. Mereka berusaha memerangi Dajjal dan pasukannya sekaut-kuatnya.”

 

“Apa yang akan dilakukan Al-Masîh ‘Isa ‘alaihissalam ketika singgah di Damaskus?”

 

“Dia akan bertolak dan masuk ke Al-Quds. Di sana Al-Mahdi dan kaum Muslimin mengenali Dajjal. Kaum Muslimin begitu gembira atas kedatangan Nabi Isa. Mereka pun menyerahkan kepemimpinan mereka kepadanya untuk memerangi Dajjal.”

 

“Apa yang akan dilakukan sang Dajjal saat mendengar Nabi Isa datang?”

 

“Dia akan lari ke daerah Al-Ludd, sebuah kota di Palestina yang dekat dengan Al-Quds. Namun, Nabi Isa akan mengejarnya dan terus melemparinya dengan tombak. Dajjal akan luluh di hadapan Isa ‘alaihissalam bagaikan garam yang larut dalam air. Saat itu pula, Allah mengangkat segala kesulitan dan kesusahan kaum Muslimin.Nabi Isa ‘alaihissalam juga menceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derajat mereka di surga. Dia mengusap wajah mereka dengan tangan mulianya. Itulah kebahagian terbesar yang mereka rasakan di dunia.”

 

Demikian kisah yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Anas radliyallahu ‘anhu (nomor hadits 2937). []

 

Sumber: NU Online

(Ngaji of the Day) Dialog Rasulullah dengan Para Sahabat tentang Dajjal (1)

Sahabat Anas radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tak satu pun nabi kecuali telah memperingatkan umatnya dari sang pendusta yang buta sebelah mata. Matanya buta sebelah, sedangkan Allah tidak. Di antara kedua matanya tertulis huruf kaf, fâ’, dan râ’.”

 

Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengawali perbincangannya tentang sosok Dajjal. Kala itu, para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, biasanya Engkau bercerita banyak tentangnya. Kali ini persingkatlah agar kami mengira bahwa dia sudah dekat dengan kami; agar dia sebentar lagi menampakkan diri kepada kami dari arah kebun kurma sana.”

 

“Tak ada yang paling aku takuti dari kalian selain Dajjal. Jika dia muncul di tengah kalian, akulah yang akan menjadi pembela kalian. Namun, jika dia muncul dan aku tidak berada di tengah kalian, maka masing-masing kalian harus membela diri. Setiap kalian harus bertanggung jawab atas dirinya. Dan Allah adalah penggantiku bagi setiap Muslim,” papar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

“Wahai Rasul, mohon gambarkan kepada kami seperti apa Dajjal itu?”

 

“Dia adalah sosok anak muda yang berambut tebal. Mata kanannya melotot bak biji anggur yang mau keluar. Cahaya mata kanannya hilang, sedangkan mata kirinya buta. Dia mengaku sebagai tuhan. Di keningnya tertulis kata ‘kâfir’. Tulisan itu terlihat jelas oleh orang yang beriman,” tuturnya.

 

“Dari mana dia munculnya, ya Rasul?”

 

“Dia muncul di antara Syam dan ‘Irâq. Ke mana pun dia pergi, selalu berbuat kerusakan di muka bumi.”

 

“Di manakah dia tinggal? Dan berapa lama tinggal di muka bumi?”

 

“Empat puluh hari, namun sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu, hari-harinya seperti hari-hari kalian.”

 

“Wahai Rasul, pada hari yang lamanya seperti setahun itu, cukupkah kami shalat sehari, sedangkan bagi setiap Muslim, shalat laksana air kehidupan. Dia tak bisa hidup tanpanya?”

 

“Tidak. Ukurlah hari itu sebagaimana biasanya. Aturlah waktu pada hari itu, meskipun rasanya seperti setahun.”

 

“Lantas, siapa saja yang menjadi pengikutnya, ya Rasul?”

 

“Pengikutnya tujuh puluh orang Yahudi Ashfahân dengan pakaian yang dihiasai warna hijau.”

 

“Seperti apa kecepatannya di bumi ini, ya Rasul?”

 

“Seperti hujan yang ditiup angin kencang, sehingga dia bisa sampai ke setiap pelosok bumi.”

 

“Apakah dia akan masuk ke setiap negeri dan melakukan kerusakan di dalamnya?”

 

“Seluruh negeri akan dilaluinya, kecuali Makkah dan Madinah. Keduanya akan dihalangi dan dijaga para malaikat yang baris berlapis-lapis. Begitu sampai Madinah, Dajjal akan singgah di tanah kosong nan tandus yang tak jauh darinya. Madinah pun berguncang sebanyak tiga kali dan Allah akan mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik.”

 

“Lalu apa yang sebaiknya kami lakukan apabila Dajjal muncul dan kami masih hidup?”

 

“Larilah kalian ke gunung dan jangan berada di jalannya. Sungguh, tidak ada perkara yang lebih besar sejak Adam diciptakan hingga hari Kiamat kecuali perkara Dajjal. Siapa di antara kalian yang bertemu dengannya, maka bacalah pembukaan Surat Al-Kahfi.”

 

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

 

“Dia akan mendatangi suatu kaum. Kemudian mereka akan mengimani dan memenuhi perintahnya. Ketika dia memerintah langit, langit akan hujan. Ketika memerintah bumi, bumi langsung menumbuhkan tanaman. Saat unta, sapi, dan ternak mereka pulang tubuhnya langsung tinggi, besar, gemuk, dan susunya melimpah. Itulah ujian besar yang mengharuskan kita berlindung kepada Allah agar senantiasa tetap kokoh memegang agama-Nya. Ketika melewati bekas bangunan yang telah diruntuhkan pemiliknya sejak lama, dia berkata, ‘Kelurkanlah harta simpananmu.’ Harta simpanan itu pun menurutinya laksana lebah jantan yang berkerumun. Itulah yang menyebabkan para pengikutnya semakin sesat. Setelah itu, dia menemui dan menyeru kaum yang lain. Namun kali ini, mereka menolak seruannya. Keimanan mereka diteguhkan oleh Allah. Akhirnya, dia berpaling dari mereka. Namun sepeninggalnya, mereka dilanda penderitaan. Tak ada hujan yang turun di tengah mereka.Tanah mereka kering dan gersang. Akibatnya, mereka tidak memiliki harta atau ternak apa pun. Marilah kita memohon agar agama mereka senantiasa diteguhkan Allah.”

 

“Ya Rasul, apakah Dajjal membawa sesuatu yang lain?”

 

“Betul, di antara yang dibawa Dajjal saat kemunculannya adalah air dan api. Yang terlihat air oleh manusia adalah api yang akan membakar, sedangkan yang terlihat api oleh mereka adalah air tawar yang sangat dingin. Siapa saja di antara kalian yang menemuinya, maka pilihlah api karena ia sejatinya air tawar yang baik.”

 

Demikian kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas radliyallahu ‘anhu (nomor hadits 2937). []

 

Sumber: NU Online

BamSoet: Pancasila Memelihara Takdir Saudara-saudara Se-tanah Air

Pancasila Memelihara Takdir Saudara-saudara Se-tanah Air

Oleh: Bambang Soesatyo


"SAUDARA-saudaraku Sebangsa dan Setanah Air", akan menjadi ungkapan salam atau sapaan tanpa makna, jika generasi muda terkini tidak tahu memaknai dan mengejahwantahkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai perekat takdir keberagaman Indonesia. Pondasi NKRI akan terus digerogoti jika Kegagalan orang muda menghayati Pancasila terus dibiarkan.


Ketika banyak elemen masyarakat atau komunitas meneriakan semangat dan prinsip "NKRI Harga Mati", ungkapan ini lebih sebagai dorongan kepada negara untuk segera bersikap lebih tegas terhadap aksi dan ujaran dari kelompok-kelompok yang terus berupaya menggerogoti pondasi NKRI.


Fakta dan kecenderungan menyangkal takdir keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diperjuangkan dan dipertontonkan kelompok-kelompok tertentu itu sudah menjadi pengetahuan umum, dan setiap komunitas memiliki catatan contoh kasus.


Paling baru dan relevan untuk dikedepankan adalah contoh kasus serangan bersenjata di Mabes Polri oleh seorang wanita muda, akhir Maret 2021, dan juga aksi bom bunuh diri oleh pasangan suami-istri berusia muda di gerbang Gereja Katedral di kota Makassar. Ketiga pelaku pada dua aksi itu diyakini memiliki banyak simpatisan atau pendukung. Sebab, ada penelitian yang mengungkap bahwa sejumlah kampus sudah terpapar paham radikal.


Bahkan, Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2018 juga menerbitkan catatan tentang 41 dari 100 rumah ibadah milik kementerian/lembaga serta BUMN pun sudah terpapar paham radikal. Temuan GP Ansor juga memperkuat data BIN itu. Selain itu, investigasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2019 pun mengungkap sekitar dua juta pegawai BUMN berpotensi terpapar paham radikal.


Mereka adalah komunitas yang menolak keberagaman, dan dengan sendirinya menyangkal pula Pancasila sebagai perekat keberagaman itu. Mereka memilih menerima dan patuh tanpa syarat terhadap pandangan atau ajaran yang mengajak atau menyuruh mereka memusuhi negaranya sendiri, serta membenci siapa saja yang pandangan hidupnya tidak sama dengan mereka. Dengan begitu, dalam konteks Ke-Indonesia-an semua komunitas di negara ini, mereka pun menolak atau tidak mengakui orang lain di luar kelompok mereka sebagai "Saudara Sebangsa dan Setanah Air".


Penyangkalan terhadap Pancasila sebagai perekat keberagaman NKRI bisa terjadi karena negara dalam sebuah periode yang cukup panjang tidak militan dalam upaya menanamkan nilai-nilai luhur lima sila Pancasila kepada generasi muda. Absennya negara menghadirkan Pancasila dalam proses tumbuhkembang orang muda dimanfaatkan kelompok-kelompok penganut paham radikal untuk menanamkan ajaran-ajaran sesat, termasuk ajakan memusuhi negara dan masyarakat, serta rangkaian aksi bunuh diri. Pembawa paham radikal itu melakukan penetrasi hingga ke berbagai aspek kehidupan orang muda; dari ruang belajar, kelompok kegiatan hingga tempat kerja. Akibatnya sudah dialami dan dirasakan semua orang.


Negara harus belajar dari semua pengalaman buruk itu. Ketiadaan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib bagi orang muda di semua jenjang pendidikan menjadi sebuah kesalahan cukup fatal, dan kesalahan ini harus dibayar dengan cukup mahal. Mencari dan menunjuk siapa paling bersalah tidak akan menyelesaikan masalah. Sangat bijaksana jika hal itu diterima sebagai kesalahan bersama yang tentu saja harus segera diperbaiki.


Karena itu, inisiatif Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mendorong revisi UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) guna mengembalikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib patut diapresiasi dan didukung. Seperti diketahui, Pasal 37 UU Sisdiknas mewajibkan kurikulum pendidikan dasar, menengah, dan tinggi memuat pendidikan kewarganegaraan. Pancasila tidak secara khusus tercantum sebagai mata pelajaran atau mata kuliah wajib. Maka, belajar dari pengalaman buruk selama ini, sekarang adalah waktunya bagi negara membuat dan memberlakukan keputusan tegas, dengan mewajibkan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan.


Perjalanan sejarah bangsa mencatat bahwa takdir keberagaman NKRI direkatkan atau sudah dimeteraikan oleh Pancasila. Pancasila -- yang kandungan falsafahnya bersumber dari kearifan lokal semua suku dan golongan di seantero bumi nusantara -- merekatkan persaudaraan semua komponen bangsa. Dan, Pancasila akan selalu memelihara dan merawat persaudaraan itu. Itu sebabnya, setiap orang Indonesia berhak menyapa warga dari semua daerah dan golongan dengan salam dan sapaan "Saudaraku Sebangsa Setanah Air".


Memang, adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia merasakan masih adanya tantangan kebangsaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tantangan itu antara lain berupa melemahnya toleransi dalam menyikapi keberagaman, demoralisasi generasi muda bangsa, dan memudarnya identitas dan karakter bangsa. Fakta bahwa Indonesia per geografis sebagai negara kepulauan yang terpisah oleh laut tidak boleh menjadi faktor yang melemahkan.


Dan, kendati secara sosio-kultural, bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, adat istiadat, agama dan kepercayaan tidak akan pernah merusak prinsip "Saudara Sebangsa Setanah Air". Penyatuan dan persaudaraan itu dipelihara dan dirawat oleh Pancasila sebagai benteng untuk menghadapi berbagai potensi ancaman yang ingin menceraiberaikan ikatan kebangsaan.


Dengan begitu, Pancasila sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa sudah final. Tak hanya merekatkan kebhinekaan, Pancasila juga menjadi sumber nilai bagi pembangunan karakter generasi muda bangsa (nation character building). Sebab, di dalam lima sila itu terkandung falsafah, prinsip dan semangat spiritualisme, humanisme, nasionalime, etika serta standar moral, dan beragam sistem nilai positif hingga nilai dan prinsip kebenaran universal. Bukankah semua kandungan nilahi luhur ini menjadi gizi yang amat dibutuhkan anak dan remaja dalam proses tumbuhkembang mereka?
[]

 

SINDONEWS, 27 April 2021

Bambang Soesatyo | Ketua MPR/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia/Wakil Ketua Umum Partai Golkar

(Ngaji of the Day) Reaksi Nabi Muhammad Melihat Istrinya Berkemah untuk I’tikaf Tanpa Izin

Salah satu ibadah yang digiatkan Nabi Muhammad saw. saat bulan Ramadhan adalah i’tikaf (berdiam di dalam masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Terlebih pada 10 hari terakhir bulan suci tersebut. Beliau lebih giat lagi karena pada waktu-waktu itu lah, lailatul qadar terjadi.

 

Lailatul qadar (malam seribu bulan) adalah malam yang paling mulia. Bahkan, ia lebih mulia dibanding seribu bulan sekalipun. Barang siapa yang beribadah pada malam lailatul qadar, maka ia akan mendapatkan pahala lebih dari 1000 bulan atau 84 tahun. Oleh sebab itu, Allah merahasiakan waktu lailatul qadar agar manusia berlomba-lomba beribadah untuk mendapatkannya. Salah satu ibadah yang biasa dilaksanakan umat Islam untuk menyambut lailatul qadar adalah i’tikaf.

 

Ada cerita menarik dari Nabi Muhammad tentang i’tikaf di bulan Ramadhan. Suatu ketika, setelah melaksanakan Shalat Subuh Nabi Muhammad kembali ke tempat i’tikafnya di Masjid Nabawi. Sayyidah Aisyah mencegat Nabi sebelum beliau kembali beri’tikaf. Dia lantas meminta izin Nabi Muhammad agar diperbolehkan melaksanakan i’tikaf. Beliau mengizinkan. Sayyidah Aisyah gembira dan langsung mendirikan kemah untuk i’tikaf di halaman Masjid Nabawi.

 

Istri Nabi yang lainnya, Sayyidah Hafshah bin Umar bin Khattab juga tertarik melakukan i’tikaf setelah melihat Sayyidah Aisyah. Dia kemudian mendirikan kemah untuk i’tikaf di samping kemahnya Sayyidah Aisyah ,tanpa izin terlebih dahulu dengan Nabi. Dua istri Nabi lainnya juga mengikuti jejak Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah. Juga tanpa izin dari Nabi Muhammad.

 

Usai subuh keesokan harinya, Nabi Muhammad kaget melihat ada empat kemah di halaman Masjid Nabawi. Beliau kemudian menanyakan miliki siapa saja kemah-kemah itu. Merujuk buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015), Nabi Muhammad kemudian meminta agar kemah-kemah itu dipindahkan setelah mengetahui kalau itu adalah milik istri-istrinya untuk beri’tikaf. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga tidak melanjutkan i’tikafnya. Beliau melanjutkan i’tikafnya pada 10 hari bulan Syawal.

 

Demikianlah sikap Nabi Muhammad saat istrinya beri’tikaf. Beliau mengizinkan ketika Sayyidah Aisyah meminta izin untuk ber’itikaf. Namun, saat ada istrinya yang tidak izin untuk beribadah i'tikaf maka beliau memiliki sikap lain. Oleh sebab itu, izin dari seorang suami juga menjadi sesuatu yang harus diperhatikan manakala seorang istri hendak melaksanakan ibadah i’tikaf. Yang perlu digarisbawahi, sesuai dengan kisah di atas, wanita sebetulnya memiliki hak untuk ber’itikaf. Asal mendapatkan izin dari suami.

 

Hal itu juga ditegaskan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitabnya Ibanatul Ahkam. Di situ disebutkan: “Boleh i'tikaf perempuan di masjid dengan izin suami bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.” Wallahu ‘Alam []

 

(Muchlishon)

Nasaruddin Umar: Etika Politik dalam Al-Qur'an (46) Isu Mayoritas-Minoritas dalam Al-Qur'an

Etika Politik dalam Al-Qur'an (46)

Isu Mayoritas-Minoritas dalam Al-Qur'an

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Al-Qur'an sejak awal mengingatkan umatnya untuk tidak menjadikan kedudukan mayoritas dan minoritas sebagai isu politik yang bisa melahirkan anarki kaum mayoritas dan tirani kaum minoritas. Al-Qur'an tidak pernah memperkenalkan konsep mayoritas (aktsariyyah) dan monoritas (aqaliyyah) dalam arti pemberian otoritas mutlak kepada kaum mayoritas atau pemberian hak-hak istimewa kepada kaum minoritas. Al-Qur'an memperkenalkan konsep al-musawa, yaitu persamaan kedudukan, hak dan kewajiban bagi segenap warga umat tanpa menekankan keberadaan mayoritas dan minoritas.

 

Memang ada sejumlah istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an yang dapat diasosiasikan kepada eksistensi kelompok mayoritas dan minoritas, yaitu kata katsirah dan qalilah, seperti yang disebutkan dalam ayat: Kam min fiatin qalilah gulibat fiatin katsirah bi idzn Allah (Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar/Q.S. al-Baqarah/2:249). Ayat ini tidak jelas apakah yang dimaksud kelompok mayoritas (katsirah) dan minoritas (qalilah), apakah merujuk kepada mayoritas-minoritas secara kualitatif atau secara kuantitatif? Yang jelas ayat itu mengingatkan kita bahwa eksistensi kelompok mayoritas bukan jaminan untuk menang dan kelompok minoritas bukan kepastian untuk kalah. Sejarah kemanusiaan telah berulang kali membuktikan kebenaran ayat ini.


Al-Qur'an juga pernah menyoroti keberadaan kelompok mayoritas secara kuantitatif dan secara kualitatif dan ada golongan minoritas secara kuantitatif dan kualitatif, misalnya disebutkan dalam ayat: Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Anfal/8:26).


Al-Qur'an menegaskan tidak boleh melecehkan walau hanya satu orang (nyawa), sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, ... maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32). Al-Qur'an juga sudah mengisyaratkan relasi antar golongan di dalam masyarakat, harus diambil manfaatnya dengan cara menekankan aspek "pertemuan" (encounters), bukannya menekankan aspek negatif (conflict), sebagaimana diisyaratkan di dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13).


Di dalam mengatasi problem mayoritas-minoritas ini tentu yang diperlukan bukan jalan tunggal di dalam mencapai suatu tujuan, tetapi diperlukan jalan-jalan alternative, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. (Q.S. Yusuf/12:67). Yang penting bagi para komponen masyarakat, baik golongan mayoritas maupun minoritas dimenita untuk menekankan titik temu, (kalimah sawa'), sebagaimana disebutkan dalam ayat: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (common flatform) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu. (Q.S. Ali 'Imran/3:64).


Golongan manapun, baik mayoritas maupun minoritas, diminta untuk berbaik sanka antara satu sama lain, sebagaimana disebutkan dalam ayat: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (Q.S. al-Hujurat/49:12). Jika rambu-rambu yang di tanam di dalam Al-Qur'an ini diimplementasikan di dalam masyarakat sudah barang tentu akan lahir sebuah masyarakat ideal.
[]

 

DETIK, 06 November 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(Ngaji of the Day) Pahala dan Dosa Dilipatgandakan di Bulan Ramadhan

Islam sebagai agama paripurna memberikan ruang kebebasan kepada pemeluknya untuk selalu meningkatkan ibadah agar bisa menjadi penyebab tingginya derajat di sisi Allah subhanahu wata’ala. Meski setiap ibadah berbuah pahala (apabila sesuai dengan ketentuan), masing-masing orang bisa mendapatkan pahala yang berbeda. Orang alim dan orang bodoh, misalnya, meski keduanya melakukan ibadah yang sama dengan waktu yang sama, serta durasi yang juga sama, tidak kemudian mendapatkan pahala yang sama pula. Begitupun perihal dosa, jenis perbuatan, waktu, dan durasi yang sama, tidak lantas menghasilkan dosa yang sama.

 

Waktu merupakan salah satu barometer yang bisa menjadikan nilai pahala dan dosa tidak sama, misalnya bulan Ramadhan. Pada bulan ini semua pahala ibadah serba berlipat ganda. Namun tak hanya itu, Allah juga melipatkgandakan dosa dalam setiap maksiat.

 

Keistimewaan bulan Ramadhan memang tidak bisa dihitung banyaknya, mulai dari dilipatgandakannya pahala, hingga dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka. Oleh sebab itu, umat Islam seharusnya menjaga kesakralan bulan suci ini dengan bersungguh-sungguh menjauhi setiap hal yang bisa merusak kesakralan Ramadhan. Karena, semua itu bisa berdampak pada dirinya, serta tidak mendapat nilai apa pun dalam menjalankan puasanya. Syekh Abdurrahman bin Qasim pernah menjelaskan dengan bentuk syair:

 

إِذا لم يَكنْ في السَّمْعِ مِنّي تَصامُمٌ # وفي بَصَرِي غَضٌّ وفي مَنْطِقي صَمْتُ فحَظِّي إِذاً مِنْ صَوْمِيَ الجُوعُ والظَّمَا # فإِنْ قُلْت يوماً إِنَّنِي صُمْتُ ما صُمْتُ

 

Artinya, “Jika telingaku masih saja tanpa penjagaan (membiarkan mendengarkan sesuatu yang haram), dalam ucapanku tidak ada jeda (dari kesalahan), dan percakapanku tidak kudiamkan.

 

Maka, bagiku dalam melakukan puasa hanyalah lapar dan dahaga, betapa pun aku berkata ‘aku puasa’, sejatinya aku belum puasa” (Syekh Abdurrahman bin Qasim, Lathaifur Ramadhan, h. 21).

 

Momentum meraih kebaikan pada bulan Ramadhan terkadang masih disia-siakan banyak orang. Betapa banyak yang tidak menjaga kesakralan bulan mulia itu, betapa banyak yang tidak mengindahkannya, menyia-nyiakan keagungan posisinya, serta keluhuran darajatnya.

 

Dalam keadaan seperti ini, penting kiranya untuk merenungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallah yang diriwayakan oleh Ummi Hani’ binti Abi Thalib karramallahu wajhah dan dicatat Imam at-Thabrani dalam kitab Mu’jamus Shagir.

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إِنَّ أُمَّتِيْ لَمْ يَخِزُّوْا مَا أَقَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ). قِيْلَ يَا رَسُوْلَ الله وَمَا خَزِيُهُمْ فِي إِضَاعَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قال: (اِنْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ فِيْهِ مِنْ زِنَا فِيْهِ أَوْ شَرِبَ فِيْهِ خَمْرًا لَعَنَهُ اللهًُ وَمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ إِلَى مِثْلِهِ مِنَ الْحَوْلِ فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ رَمَضَانُ لَمْ تَبْقَى لَهُ عِنْدَ اللهِ حَسَنَةٌ يتقي بها النار فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيْمَا سِوَاهُ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ).

 

Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya umatku tidak akan terhina, selama mereka mendirikan bulan Ramadhan.’ Sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa bentuk kehinaan mereka dalam menyia-nyiakan bulan Ramadhan?’ Rasulullah menjawab, ‘Pelanggaran terhadap hal-hal yang haram pada bulan Ramadhan, seperti zina atau minum khamar. Allah dan para malaikat melaknatnya hingga tahun berikutnya. Jika ia meninggal sebelum bulan Ramadhan berikutnya, maka ia tidak mempunyai kebaikan apa pun di sisi Allah yang bisa menyelamatkannya dari neraka. Oleh sebab itu, berhati-hatilah terhadap bulan Ramadhan, karena pahala kebaikan demikian juga ganjaran kejelekan akan dilipat gandakan” (Imam at-Thabrani, al-Mu’jamus Shagir, juz 2, h. 16).

 

Hadist di atas memberikan sebuah pemahaman tentang betapa besarnya nilai ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Sekecil apa pun pahala yang dilakukan pada bulan tersebut menjadi luar biasa pahalanya ketika dibandingkan dengan bulan selain Ramadhan. Namun, pada bulan tersebut juga Allah lipatgandakan dosa dalam setiap perbuatan buruk. Sekecil apa pun kesalahan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan tetap mengungguli bulan yang lain perihal dosanya.

 

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan untuk sangat berhati-hati pada bulan tersebut. Bagaimanapun bulan Ramadhan hanyalah periode tahunan yang tidak bisa dijumpai dua kali dalam satu tahun. Sehingga, jika sudah tidak bisa mengambil kebaikan dan keberkahan pada bulan tersebut, tentu satu bulan Ramadhan hilang tanpa ada keberkahan dan manfaat yang diraih dan ancamannya, jika mati sebelum menjumpai bulan Ramadhan setelahnya, maka mendapatkan jaminan neraka. Naudzubillah min dzalik.

 

Demikianlah bulan Ramadhan. Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan semua pekerjaan yang ada di dalamnya; mulai dari ibadah yang dibalas dengan jaminan berlipat ganda pahala, sampai maksiat yang juga dibalas dengan jaminan berlipat ganda dosa. Semua itu tidak lain, kecuali agar manusia lebih meningkatkan serta lebih semangat dalam menjalankan ibadah pada dzat yang maha kuasa, serta menjauhi larangan-larangannya. []

 

Sunnatullah, santri Pondok Pesantren Al Hikmah Bangkalan

(Ngaji of the Day) Ramadhan, Madrasah Peningkatan Kesalehan Ritual dan Sosial

Dalam kitab al-Fikr al-Maqâshidî buah karya Syekh Ahmad ar-Raisuni, salah seorang pakar Maqhâsid Syarî’ah asal Maroko, disebutkan, Man ‘arafa mâ qashada hâna ‘alaihi ma wajada, ‘Siapa pun yang memahami arah tujuannya, maka sangatlah mudah untuk menemukan apa yang ditujuannya’. Pepatah ini, atau yang semakna, sudah sangat lumrah bagi kita, bahkan orang awam sekalipun, kendati mungkin tidak hafal teks Arabnya. Namun, sedikit sekali yang menyadari dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Termasuk dalam menjalani ritual ibadah puasa. Dengan memahami serta menyadari tujuan berpuasa (maqâshid as-shoum), semoga dapat mempermudah kita mencapai tujuan tersebut.

 

Bulan Ramadhan bisa kita sebut sebagai madrasah yang disiapkan Allah subhanahu wata’ala untuk meningkatkan kualitas kesalehan kita kaum muslimin, baik ritual maupun sosial. Allah subhanahu wata’ala berfiman dalam surah Al-Baqarah ayat 183:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

 

Para ulama menjelaskan, kesalehan tidak hanya tentang laku-laku ritual dan pertalian spiritual kita dengan Allah subhanahu wata’ala (hablum minallah). Tetapi juga terkait erat dengan hubungan sosial kita dengan sesama manusia (hablum minannas), bahkan, kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, sebagai ejawantah dari atensi ekologis kita terhadap semesta. Hal ini sebagaimana masyhur dikatakan, As-shâlihu huwa al-muqîmu bi huqûqillah wa bi huqûqi ‘ibâdih, ‘Orang saleh itu adalah orang yang senantiasa menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya’.

 

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan sekalian hamba-Nya berpuasa, tiada lain kecuali untuk meningkatkan derajat sang hamba sebagai manusia bertakwa. Sementara ketakwaan hanya bisa diraih dengan mengendalikan hasrat-hasrat rendah (asy-syahawât) yang menempel pada setiap insan. Tentu, sangat senafas dengan adanya puasa sebagai media yang disyariatkan Tuhan. Mengingat, tak dapat dipungkiri juga bahwa sebagian besar kita berjuang demi kebutuhan perut dan kelamin. Hal ini sebagaimana yang pernah ditulis Imam Fakhruddin ar-Razi (604 H) dalam at-Tafsîr al-Kabîr-nya (juz 5, hal. 77) yang berbunyi:

 

المرء يسعى لغاريه بطنه وفرجه

 

Artinya, “Orang itu (kebanyakan) berjuang untuk dua lubang, yaitu perut dan kelaminnya.”

 

Sehubungan dengan ini, maka sangat tepat bila kita diperintahkan untuk berpuasa, bahkan diancam siksa bagi yang tidak mengerjakannya. Bukan karena benci, lalu Allah menyuruh kita selama sebulan penuh jalani hari dengan lapar dan dahaga, melainkan karena kasih sayang-Nya, agar kita tidak menjadi hamba yang hina-dina. Inilah makna dari kalimat, la’allakum tattaqûn, ‘agar kamu bertakwa’ dalam penggalan surah al-Baqarah ayat 183 itu.

 

Di bulan Ramadhan ini, kaum muslimin tidak hanya akan dicetak sebagai manusia yang saleh ritual atau individual (shâlih fardi). Melainkan juga sebagai manusia yang saleh secara sosial (shâlih jama’i). Terbukti, dalam beberapa riwayat hadist, umat Islam di bulan Ramadhan banyak diiming-imingi dengan pahala yang berlipat ganda bagi siapa saja yang mendermakan hartanya di bulan Ramadhan. Seperti keterangan tentang ganjaran bagi orang yang menyuguhkan hidangan berbuka kepada yang lain. Dalam al-Mu’jam al-Kabîr (juz 11, hal. 187) karya Abu al-Qasim at-Tabrani (360 H), disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

 

من فطّر صائما فله مثل أجره

 

Artinya, “Barang siapa yang memberi hidangan buka puasa kepada sesama, maka pahalanya sama persis dengan pahala yang berpuasa.”

 

Dalam Sunan at-Tirmidzi (juz 3, hal. 464) terdapat tambahan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

 

من فطر صائما كان له مثل أجره، من غير أن ينقص من أجر الصائم شيء

 

Artinya, “Barang siapa yang memberi hidangan buka puasa kepada sesama, maka pahalanya sama persis dengan pahala yang berpuasa, tanpa ada sedikit pun yang berkurang.”

 

Menyikapi dua hadist di atas, syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam as-Sulami (660 H), menulis dalam kitabnya Maqâshid as-Shoum (hal. 26) terkait ganjaran pahala sepuluh kali lipat dari satu kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan. Ia menjelaskan:

 

فمن فطر ستة وثلاثين صائما في كل سنة فكأنما صام الدهر ومن كثر بفطر الصائمين على هذه النية كتب الله له صوم عصور ودهور

 

Artinya, “Barang siapa yang setiap tahun memberi hidangan berbuka kepada 30 orang, maka (pahalanya) seolah berpuasa sepenuh tahun. Dan, siapa saja yang sangat sering memberi hidangan berbuka dengan tulus-ikhlas (tiada motif lain), maka Allah akan mencatat pahala seolah berpuasa sepanjang masa dan zaman.”

 

Sebenarnya, spirit dari hadist di atas adalah agar masyarakat memiliki pertalian sosial yang baik dengan sesama. Jangan sampai ketika adzan maghrib telah berkumandang, saat di mana para muslimin lainnya tengah menyantap berbagai macam hidangan berbuka, ada beberapa orang yang masih memeras keringat hanya untuk sesuap nasi dan seteguk air. Terakhir, semoga di bulan suci Ramadhan tahun ini, kita semua termasuk peserta didik yang sukses meningkatkan kualitas kesalehan ritual dan sosial kita. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawâb. []

 

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus sekaligus pengajar di Ma’had Aly Situbondo, Jawa Timur

Jumat, 30 April 2021

(Do'a of the Day) 18 Ramadlan 1442H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

 

Allaahummaghfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a'lamtu wa maa asraftu wa maa anta a'lamu bihii minnii antal muqaddimu wa antal mu'akhkhiru wa anta 'alaa kulli syai'in qadiirun.

 

Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu maupun yang akan datang, yang kurahasiakan, yang jelas kunampakkan, yang kulakukan karena terlanjur, dan yang Engkau sendiri lebih mengetahui daripadaku. Engkaulah Yang Awal Tiada Berpermulaan dan Yang Akhir Tiada Berkesudahan dan Engkau pula yang Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 18.