Tampilkan postingan dengan label Sirah of the Day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah of the Day. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2022

(Ngaji of the Day) Hajar Aswad dan Cara Rasulullah Atasi Perselisihan Masyarakat Quraisy

Di usia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke-35 tahun, masyarakat Quraisy berkumpul untuk merencanakan pembangunan Ka‘bah. Disampaikan oleh Musa ibn ‘Uqbah, adapun yang mendorong mereka membangun Ka‘bah adalah banjir besar yang merusak dindingnya. Mereka khawatir jika air masuk ke dalamnya. Terlebih saat itu, ada seorang laki-laki bernama Mulaih mencuri beberapa barang berharga yang ada di dalam Ka‘bah. Karena itu, mereka kian terdorong untuk membangunnya, meninggikan pintunya, agar tidak ada orang yang sembarangan masuk ke dalamnya. Mereka kemudian menghimpun biaya dan para pekerja. Setelah persiapan matang, mereka mulai merobohkannya dengan hati-hati. Sebab, mereka khawatir jika Allah menghalangi tujuan mereka.

 

Dikisahkan oleh Ibnu Ishaq, selanjutnya kabilah-kabilah dari masyarakat Quraisy sibuk mengumpulkan batu. Semua kabilah bersatu dan bahu-membahu dalam pembangunan Ka‘bah. Sampai akhirnya sampailah saatnya meletakkan Hajar Aswad. Namun, mereka berselisih siapa dan kabilah mana yang berhak meletakkannya. Masing-masing mengklaim berhak melakukannya. Diskusi alot dan perselisihan antarkabilah pun tak terelakkan. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menawarkan solusi perang dan angkat senjata.

 

Kala itu, datang warga Bani Abdid Dar membawa mangkuk yang penuh darah. Mereka dan warga Bani Adi sepakat mengambil jalan perang hingga titik darah penghabisan. Sejak itu, warga Quraisy pun sempat menarik diri sampai empat atau lima malam. Kemudian, mereka kembali berkumpul di masjid guna bermusyawarah dan mencari jalan tengah.

 

Seorang yang paling sepuh di antara mereka yang bernama Abu Umayyah ibn al-Mughirah ibn ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn Makhzum memberi pandangan, “Jadikanlah orang yang pertama kali masuk pintu masjid ini sebagai orang yang memutus masalah yang kalian perselisihkan.”

 

Rupanya, orang yang pertama masuk masjid adalah seorang pemuda yang bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu mengetahui orang yang akan menyelesaikan masalah mereka adalah Rasulullah, mereka langsung setuju. “Ini Muhammad seorang pemuda yang jujur. Kami rida kepadanya.”

 

Ketika hal itu disampaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berilah aku sebuah kain.” Kemudian, beliau mengambil batu Hajar Aswad langsung dengan tangannya dan meletakkan batu tersebut di atasnya. Tak lama beliau kembali bersabda, “Silakan masing-masing kabilah memegangi pinggir kain ini dan mengangkatnya secara sama-sama.” Mereka lantas bergotong-royong menjalankan saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesampainya di tempat semula, Hajar Aswad pun ditempatkan langsung oleh Rasulullah. Sejak itu, pembangunan pun kembali dilanjutkan. Sebab, masing-masing merasa puas akan keputusan tersebut.

 

Perlu diketahui bahwa pada zaman Nabi Ismail ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan oleh as-Suhaili, tinggi bangunan Ka‘bah hanya 9 hasta. Kemudian, oleh orang-orang Quraisy sebelum Islam, tingginya ditambah 9 hasta lagi. Jadi tingginya 18 hasta. Selain itu, pintunya ditinggikan dari permukaan tanah, sehingga tidak bisa dimasuki kecuali menggunakan tangga atau tahapan. Kemudian, pada zaman Ibnu az-Zubair, ditambah lagi tingginya sebanyak 9 siku, sehingga tinggi keseluruhannya menjadi 27 hasta. Setinggi itu pula Ka‘bah hingga sekarang. (Lihat: Muhammad ibn Muhammad al-Ya‘mari, ‘Uyun al-Atsar, Jilid 1, hal. 67). []

 

Sumber: NU Online

Senin, 15 November 2021

(Ngaji of the Day) Proses Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah

Nafisah binti Munyah adalah sahabat Sayyidah Khadijah. Dia memiliki peran penting dalam terwujudnya pernikahan Nabi Muhammad dengan sahabatnya itu. Semula Sayyidah Khadijah curhat kepada Nafisah perihal perasaannya terhadap Nabi Muhammad. Mulanya, Sayyidah Khadijah minder dan ragu apakah Nabi Muhammad mau menerimanya, mengingat perbedaan status dan umurnya yang sangat mencolok.

 

Tapi, Nafisah berhasil meyakinkan Sayyidah Khadijah bahwa dia adalah orang yang pantas bagi Nabi Muhammad. Selain memiliki nasab yang agung, Sayyidah Khadijah adalah seorang saudagar yang sukses dan perempuan yang dihormati di Makkah.

 

Nafisah kemudian menyusun sebuah rencana. Ia menemui Nabi Muhammad dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah. Iya, dia lah ‘mak comblang’ yang menyambungkan perasaan Sayyidah Khadijah kepada Nabi Muhammad.

 

"Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya," kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

 

Nafisah adalah orang yang cerdik. Setelah menyampaikan ‘lamaran’ Sayyidah Khadijah, ia tidak meminta Nabi Muhammad untuk menjawab secara langsung pada saat itu juga. Nabi Muhammad diberi waktu untuk memikirkan dan merenungkannya. Apa yang dilakukan Nafisah ini menjadi pintu dari perjalanan cinta Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah.

 

Singkat cerita, baik Nabi Muhammad maupun Sayyidah Khadijah kemudian berdiskusi dengan keluarga besarnya masing-masing untuk menindak lanjuti apa yang disampaikan Nafisah tersebut. Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya kedua keluarga besar sepakat untuk menikahkan anak-anaknya.

 

Nabi Muhamamad diantar oleh pamannya—Abu Thalib dan Hamzah—berangkat ke rumah Sayyidah Khadijah. Mereka disambut oleh paman Sayyidah Khadijah, Amr bin Asad. Abu Thalib yang ditunjuk sebagai juru bicara Nabi Muhammad langsung menyampaikan khutbah tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka ke kediaman Sayyidah Khadijah.

 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), berikut khutbah lengkap Abu Thalib saat meminang Sayyidah Khadijah untuk keponakannya;

 

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita anak keturunan Ibrahim, hasil tumbuhan Isma’il, dan berasal usul dari Ma’d, serta unsur kejadian dari Mudhar. (Segala puji bagi-Nya) yang menjadikan kami pemelihara rumah-Nya, pengelola tanah suci-Nya, dan menganugerahi kita rumah (Kakbah) yang dikunjungi, wilayah yang aman, dan menjadikan kita penguasa-penguasa atas manusia," kata Abu Thalib.

 

"Selanjutnya, anak saudaraku ini, Muhammad, adalah dia yang tidak diukur seorang pemuda pun dari Quraisy, kecuaali dia mengunggulinya dalam kemuliaan, keluhuran, keutamaan, dan akal. Kedati dalam hal harta dia memiliki sedikit, tetapi harta adalah bayangan yang hilang dan pinjaman yang harus dikembalikan. Muhammad dalah siapa yang hadirin telah kenal keluarganya. Dia melamar Khadijah putri Khuwailid, dan bersedia memberi mahar dari harta milikku yang jumlahnya secara tunda sekian dan kontan sekian. Di samping itu, dia, demi Allah, sungguh bakal menjadi berita penting dan peristiwa agung," tambahnya.

 

Khutbah lamaran yang disampaikan Abu Thalib tersebut dibalas oleh Amr bin Asd dengan sebuah ‘perumpamaan’. Kata Amr, "Ini adalah unta jantan yang tidak dipotong atau ditandai hidungnya." Dalam masyarakat Arab, unta berketuruna baik maka hidungya tidak dilukai. Unta tersebut juga diberi kebebasan mendekati unta betina manapun untuk melanjutkan keturunannya.

 

Sementara unta yang berasal dari keturunan yang tidak terpuji akan ditandai hidungnya. Ia dijauhkan dari unta betina agar tidak melahirkan keturunan yang buruk.

 

Riwayat lain menyebutkan bahwa Waraqah bin Naufal lah yang menyambut khutbah Abu Thalib tersebut. kata Waraqah:

 

"Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebagaimana yang Anda sebut-sebut. Kita adalah pemuka-pemuka masyarakat Arab dan pemimpin-pemimpinnya, saudara-saudara wajar untuk kemuliaan itu, keluarga besar pun tidak mengingkarinya keutamaan saudara-saudara, tidak juga seorang pun bisa menampik kebanggaan dan kemuliaan saudara-saudara."

 

"Kami senang menjalin hubungan dengan saudara-saudara dan menghubungkan (diri) dengan kemuliaan saudara-saudara, maka bersaksilah atasku wahai masyarakat Quraisy bahwa sesungguhnya aku telah menikahkan Khadijah binti Khuwailid dengan Muhammad putra Abdullah dengan emas kawin 400 dinar," kata Waraqah bin Naufah.

 

Setelah mendengar perkataan Waraqah, Abu Thalib mengatakan bahwa dirinya senang bila paman Sayyidah Khadijah, Amr bin Asad, juga ikut berkhutbah untuk menikahkan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah.

 

"Bersaksilah atasku, bahwa aku telah menikahkan Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid," kata Amr bin Asad yang disaksikan para pemuka Quraisy. Dengan demikian, maka Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah resmi menjadi suami-istri. []

 

(Muchlishon Rochmat)

Senin, 08 November 2021

(Ngaji of the Day) Alasan Muharram Jadi Bulan Pertama Hijriyah, Bukan Rabi’ul Awwal

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (QS At-Taubah: 36).

 

Kalender Hijriyah dikenal sebagai sistem penanggalan Islam. Dia memiliki 12 bulan dan sekitar 354-355 hari dalam satu tahun. Kalender Hijriyah menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya sehingga dalam setahun jumlah harinya lebih sedikit 11 hari dari pada Masehi yang mengacu pada peredaran matahari (sekitar 365-366 hari).

 

Adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab orang yang menetapkan kalender Hijriyah. Dia menjadikan hijrah Nabi Muhammad ke Kota Madinah sebagai permulaan dari kalender Islam tersebut. Umar bin Khattab menilai, hijrah Nabi Muhammad adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Karena, pada saat hijrah lah dakwah Islam menjadi semakin kuat dan gemilang—tentunya dengan pertolongan Allah.

 

Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriyah adalah Muharram, bukan Rabi’ul Awwal? Bukankah Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah pada bulan Shafar dan tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-14 kenabian? Mengapa Umar bin Khattab tidak menetapkan Rabi’ul Awwal sebagai bulan pertama Hijriyah?

 

erujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) dijelaskan, beberapa ahli menilai bahwa permulaan hijrah justru terjadi pada bulan Muharram. Hal ini didasarkan pada Baiat Aqabah kedua yang terjadi pada bulan Dzul Hijjah. ​​​​​​Ketika baiat tersebut, hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah telah disepakati. Bahkan, sebagian sahabat telah berangkat ke Madinah mendahului Nabi Muhammad. Oleh karena itu hijrah dihitung setelah ada kebulatan tekad dan kesepakatan untuk melakukannya, bukan pada pelaksanaannya.

 

Sistem penanggalan Islam ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, pada tahun ke-16 Hijriyah—16 tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad. Sebelum ada kalender Hijriyah, umat Islam terkadang menggunakan Tahun Gajah atau peristiwa-peristiwa besar lainnya dalam sejarah peperangan orang Arab sebagai patokan penanggalan.

 

Penetapan kalender Hijriyah oleh Umar bin Khattab bukan tanpa perbandingan dengan sistem penanggalan yang sudah ada. Umar pernah membandingkan sistem penanggalan Hijriyah dengan kalender Persia dan Romawi. Hasilnya, kalender Hijriyah lebih cemerlang dari pada kalender Persia dan Romawi karena kalender Islam telah menerjemahkan peristiwa besar dalam sejarah dunia, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Madinah.

 

da ‘misi khusus’ dibalik Umar bin Khattab membuat kalender baru tersebut, yakni persatuan Arab di bawah naungan Islam. Demikian disebutkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Umar bin Khattab (2015). Misi Umar tersebut semakin kokoh manakala pasukan umat Islam berhasil membebaskan beberapa wilayah di luar semenanjung Arab; menaklukkan beberapa daerah seperti Kisra, Kaisar, Madain, dan Yerusalem—hingga mendirikan Masjidil Aqsa di samping Gereja Anastasis.

 

Riwayat lain menyebutkan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab menerima beberapa surat, termasuk sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari. Sayangnya, surat-surat tersebut tidak memiliki keterangan tanggal dan hari. Hal itu membuat Umar bin Khattab kesulitan untuk membalasnya; surat dari siapa dulu yang harus dibalas. Dia kemudian mengumpulkan beberapa sahabat senior dan mengajaknya bermusyawarah untuk menyusun sistem penanggalan Islam.

 

Musyawarah tersebut menghasilkan beberapa usulan terkait dengan patokan awal kalender Islam. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi, tahun pengangkatan Nabi, tahun wafatnya Nabi, dan tahun hijrahnya Nabi. Singkat cerita, akhirnya disepakati bahwa permulaan kalender Islam adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad. Waallhu ‘Alam. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Senin, 25 Oktober 2021

(Ngaji of the Day) Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda yang Ditunjuk Nabi

Usamah merupakan salah satu sahabat yang dekat dengan Nabi Muhammad secara personal. Ayah Usamah, Zaid bin Harits, adalah pelayan yang kemudian menjadi anak angkat Nabi Muhammad. Sementara ibunda Usamah, Ummu Ayyam, 'budak peninggalan' ayah Nabi Muhammad, Abdullah bin Abdul Muthalib. Namun, Nabi begitu menghormatinya. Bahkan, Nabi menganggap Ummu Aiman sebagai ibu keduanya.

 

Usamah lahir dan tumbuh di Makkah, dalam lingkungan rumah tangga Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, sejak kecil ia sudah mengenal dan memeluk Islam. Nabi begitu sayang terhadap Usamah. Tidak jarang beliau memangku Usamah, bersama dua cucu kesayangannya; Sayyidina Hasan dan Husain.

 

"Ya Allah, sayangilah mereka, karena aku menyayangi mereka. Ya Allah, cintailah mereka, karena aku mencintai mereka," kata Nabi Muhammad, mendoakan Usamah, Hasan, dan Husain suatu hari.

 

Salah satu kasih sayang yang ditunjukkan Nabi Muhammad kepada Usamah adalah ketika 'cucunya' itu jatuh tersungkur hingga keningnya terluka. Pada saat itu, sebagaimana dikisahkan Nizar Abazhah dalam Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (2011), mendekati dan langsung menyesap darah luka yang ada di kening Usamah tersebut, lalu meludahkannya. Hingga luka itu menjadi bersih dan Usamah tidak lagi kesakitan.

 

Di lain kesempatan, Nabi Muhammad juga rela menunda melaksanakan tawaf ifadah pada saat haji wada demi menunggu Usamah. Ketika Usamah datang, Nabi langsung memintanya untuk naik ke untanya. Tentu saja hal itu membuat sekelompok orang Yaman yang hadir bersama Nabi merasa keheranan. Bagaimana mungkin Nabi menunda bertawaf demi seorang Usamah.

 

Meski demikian, Nabi juga pernah tidak suka dengan salah satu perbuatan Usamah bin Zaid. Ketika itu, Usamah mengejar seorang lelaki musyrik. Ketika lelaki tersebut terpojok, Usamah langsung mengangkat tombaknya dan mengarahkan kepadanya. Entah karena motif apa, lelaki musyrik tersebut mengucapkan syahadat. Namun Usamah tetap membunuhnya.

 

Kabar tentang kejadian itu sampai kepada Nabi. Apa yang dilakukan Usamah tersebut membuat Nabi sedih dan murka. Karena bagaimanapun, ketika orang mengucapkan syahadat maka dia sudah menjadi Muslim. "Bagaimana kau bisa membunuh orang yang mengucapkan syahadat?" Nabi mengulang perkataan itu beberapa kali hingga membuat Usamah cemas. Kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi Usamah dan seluruh umat Islam agar tidak mengalirkan darah orang yang mengucapkan syahadat.

 

Ketika usia Usamah beranjak dewasa, Nabi Muhammad menunjuknya menjadi panglima perang yang memimpin pasukan umat Islam melawan Romawi Timur (Byzantium). Merujuk buku Perang Muhammad Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014), kejadian ini terjadi pada awal bulan Shafar tahu ke-11 H atau saat Usamah berusia 17 tahun—riwayat lain 18 tahun. Penyerangan tersebut dimaksudkan sebagai pertahanan, agar Romawi Timur (Byzantium) tidak lagi berpikir untuk menyerang Madinah.

 

Sebagian sahabat keberatan dengan penunjukan Usamah tersebut. Mereka berpikir bahwa Usamah masih terlalu muda untuk memimpin tugas berat tersebut. Masih ada pembesar kaum Muhajirin dan Anshor yang lebih layak menempati posisi Usamah tersebut. Nabi kemudian mendatangi mereka yang meragukan Usamah dan menyampaikan pidato berikut seperti terekam dalam The Great Episodes of Muhammad Saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017):

 

"Jika kalian meremehkan kepemimpinan Usamah bin Zaid, berarti kalian juga meremehkan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, jiwa kepemimpinan telah terpatri dalam dirinya. Demi Allah, dia orang yang paling aku cintai. Demi Allah, Usamah diciptakan untuk menjadi pemimpin," kata Nabi Muhammad.

 

Usamah lantas berangkat meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Jurf, sebuah wilayah yang jaraknya sekitar satu farsakh dari Madinah, ia menghentikan pasukannya dan mendirikan kemah setelah mendengar kondisi kesehatan Nabi Muhammad memburuk. Beberapa saat kemudian, Nabi Muhammad wafat. Detasemen yang dipimpin Usamah gagal berangkat ke tujuan. Usamah langsung kembali ke Madinah. Ia menangis tersedu di makam Nabi karena kehilangan ‘kakek’ yang begitu dikasihinya.

 

Usamah dan detasemennya baru diberangkatkan ke wilayah penduduk Ubna, yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur, pada masa kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar mengantar Usamah sebagai panglima perang dengan berjalan kaki, sementara Usama berada di atas pungguh unta. Hal itu merupakan bentuk penghormatan yang dilakukan Abu Bakar kepada Nabi Muhammad, yang telah menunjuk Usamah sebagai panglima perang.

 

Ketika melepaskan Usamah dan pasukannya yang berkekuatan 3000 prajurit, Abu Bakar as-Shiddiq menyampaikan sebuah pidato yang bagus sekali.

 

Berikut pesan Abu Bakar kepada Usamah dan pasukannya: "Berperanglah dengan nama Allah dan di jalan Allah. Jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan memotong-motong tubuh mayat. Jangan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, juga wanita. Jangan menebang pohon, jangan merusak, dan membakar pohon kurma. Jangan menyembelih kibas atau unta kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati suatu kaum yang berdiam di biara-biara, biarkan mereka. Perangi orang yang memerangi kalian dan berdamailah dengan orang yang berdamai dengan kalian," kata Abu Bakar as-Shiddiq. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Senin, 24 Mei 2021

(Ngaji of the Day) Air Zamzam dan Pembelahan Dada Nabi Muhammad

“Atap rumahku terbuka –saat aku di Makkah- Jibril as. lalu turun dan membuka dadaku. Kemudian ia membersihkan dadaku dengan air zamzam. Lalu, ia membawa baskom emas yang penuh hikmah dan iman. Setelah itu, ia meraih tanganku dan mengajakku naik ke langit yang bawah,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Bukhari.

 

Zamzam merupakan kata dari bahasa Arab yang memiliki makna melimpah atau yang banyak. Nama zamzam selalu merujuk pada sumber mata air yang memancar 'akibat injakan' Nabi Ismail as. Mata air tersebut berada di sekitar Ka’bah dan tidak pernah kering. Ia menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.

 

Umat Islam meyakini bahwa air zamzam berbeda dengan air lainnya. Ia memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki air-air lainnya. Saking istimewanya, malaikat Jibril bahkan menggunakan air zamzam untuk membersihkan dada Nabi Muhammad. Merujuk buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015), Jibril as. membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkannya dengan menggunakan air zamzam sebanyak empat kali.

 

Pertama, saat Nabi Muhammad berusia empat tahun dan masih tinggal bersama dengan ibu susunya, Sayyidah Halimah as-Sa’diyah, di kampung Bani Sa’d. Ketika itu Jibril as. mendatangi Muhammad kecil waktu dia sedang bermain dengan teman-temannya. Jibril as. kemudian membelah dada Muhammad kecil.

 

“Ini adalah bagian setan darimu,” kata Jibril as., kemudian meletakkan hati Nabi Muhammad itu di atas nampan emas dan membersihkannya dengan menggunakan air zamzam. Setelah selesai, Jibril mengembalikan hati Nabi Muhammad seperti sedia kala.

 

Sementara itu, teman-teman se-permainan Muhammad kecil lari terbirit-birit. Mereka mengadu kepada Halimah as-Sa’diyah perihal apa yang terjadi pada Muhammad kecil. Halimah kemudian mendatangi tempat dimana Muhammad kecil berada. Ia langsung memeluk erat tubuh anak susuannya yang tengah menggigil ketakutan dan pucat wajahnya.

 

Kedua, ketika Nabi Muhammad berusia 10 tahun. Ketika mendekati usia taklif (mukallaf), dada Nabi Muhammad juga dibelah lagi. Hatinya dibersihkan malaikat Jibril as. dengan air zamzam agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dapat membuat seorang pemuda cacat.

 

Ketiga, ketika Jibril as. membawa wahyu pengangkatan nabi atau saat usia Nabi Muhammad 40 tahun. Hikmah di balik pembelahan ketiga ini adalah agar Nabi Muhammad mampu menerima wahyu dengan hati yang kuat, bersih, dan diridhai. Keempat, ketika Isra Mi’raj. Sesuai dengan hadits riwayat Bukhari di atas, Jibril as. membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkan hatinya sebelum mengajaknya naik ke langit untuk Mi’raj.

 

Selain menambah kemuliaan Nabi Muhammad, peristiwa pembelahan juga dimaksudkan untuk menambah kekuatan dan kesiapan Nabi Muhammad dalam menerima apa yang diwahyukan kepadanya dengan hati yang kuat. Di samping itu, hikmah lain dari pembelahan dan pembersihan dengan air zamzam adalah agar Nabi Muhammad memiliki kesiapan ketika berhadapan dengan Allah dan bermunajat kepada-Nya.

 

Demikianlah Allah mengkhususkan air zamzam dari air lain-lainnya. Yakni dengan menjadikannya sebagai air untuk membersihkan hati kekasih-Nya, hati Nabi Muhammad. Bukankah hati manusia paling mulia hanya akan dibersihkan dengan air yang paling mulia juga? []

 

(Muchlishon)

Senin, 17 Mei 2021

(Ngaji of the Day) Cara Nabi Muhammad Meringankan Beban Ekonomi Abu Thalib

Muhammad kecil hidup di rumah kakeknya, Abdul Muthalib, setelah ibundanya, Sayyidah Aminah, wafat. Kemudian ketika Abdul Muthalib juga wafat, Muhammad kecil akhirnya tinggal bersama pamannya, Abu Thalib.

 

Pada saat awal-awal tinggal bersama Abu Thalib, Muhammad kecil biasa-biasa saja. Ia bermain dan makan bersama dengan anak-anak Abu Thalib. Namun lama kelamaan, Muhammad kecil mulai sadar bahwa kondisi ekonomi pamannya memprihatinkan. Ditambah pamannya juga memiliki anak yang banyak. Hal itu lah yang menggerakkan Muhammad kecil untuk berbuat sesuatu. Bekerja apapun itu, yang penting bisa menghasilkan uang untuk sekedar membantu ekonomi keluarga pamannya.

 

Suatu ketika, Muhammad kecil menyampaikan keinginannya untuk menggembala kambing kepada pamannya, Abu Thalib. Sang paman kaget mendengar hal itu. Ia berusaha mencegahnya, namun gagal. Begitu pula dengan sang bibi, Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib. Keduanya sebetulnya tidak tega kalau keponakannya yang masih kecil itu harus kerja menggembala kambing. Akan tetapi tekad Muhammad kecil begitu bulat sehingga tidak bisa dihentikan.

 

Dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018) disebutkan, salah satu alasan Nabi Muhammad menggembala kambing saat anak-anak adalah untuk meringankan beban keuangan yang dialami pamannya, Abu Thalib.

 

Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad juga melakukan hal yang sama –membantu meringankan beban ekonomi Abu Thalib, namun dengan cara yang berbeda. Suatu ketika, kaum Quraisy mengalami krisis yang parah. Digambarkan bahwa mereka sampai memakan tulang busuk untuk mengganjal perutnya.

 

Hal yang sama juga dialami Abu Thalib. Dia tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada anak-anaknya. Setelah mengetahui hal itu, Nabi Muhammad berpikir untuk meringankan beban yang menimpa pamannya itu.

 

Gayung bersambut, Allah memberi Nabi Muhammad ilham untuk menyelesaikan persoalan itu. Nabi Muhammad kemudian mendatangi pamannya yang lain, Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau meminta pamannya itu untuk ikut serta membantu Abu Thalib. “Wahai paman, saudaramu, Abu Thalib, banyak keluarga. Kau tahu orang-orang sedang dilanda krisis. Mari kita ke sana, kita ringankan bebannya,” kata Nabi Muhammad.

 

Seketika itu, Nabi Muhammad dan Abbas bertandang ke rumah Abu Thalib. Kepada Abu Thalib, Nabi Muhammad menyatakan bahwa beliau ingin menanggung atau mengasuh sebagian keluarganya. Abu Thalib mempersilahkannya, namun ia meminta agar Uqail tetap bersamanya.

 

Seperti tertera dalam buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandhlawi, 2019), Nabi Muhammad kemudian mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan Abbas mengambil Ja’far bin Abu Thalib. Ja’far masih tetap bersama Abbas sampai ia hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

 

Demikian sikap Nabi Muhammad ketika mengetahui ada keluarganya yang mengalami kesulitan. Beliau tidak segan-segan mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang menimpa keluarganya. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Senin, 03 Mei 2021

(Ngaji of the Day) Reaksi Nabi Muhammad Melihat Istrinya Berkemah untuk I’tikaf Tanpa Izin

Salah satu ibadah yang digiatkan Nabi Muhammad saw. saat bulan Ramadhan adalah i’tikaf (berdiam di dalam masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Terlebih pada 10 hari terakhir bulan suci tersebut. Beliau lebih giat lagi karena pada waktu-waktu itu lah, lailatul qadar terjadi.

 

Lailatul qadar (malam seribu bulan) adalah malam yang paling mulia. Bahkan, ia lebih mulia dibanding seribu bulan sekalipun. Barang siapa yang beribadah pada malam lailatul qadar, maka ia akan mendapatkan pahala lebih dari 1000 bulan atau 84 tahun. Oleh sebab itu, Allah merahasiakan waktu lailatul qadar agar manusia berlomba-lomba beribadah untuk mendapatkannya. Salah satu ibadah yang biasa dilaksanakan umat Islam untuk menyambut lailatul qadar adalah i’tikaf.

 

Ada cerita menarik dari Nabi Muhammad tentang i’tikaf di bulan Ramadhan. Suatu ketika, setelah melaksanakan Shalat Subuh Nabi Muhammad kembali ke tempat i’tikafnya di Masjid Nabawi. Sayyidah Aisyah mencegat Nabi sebelum beliau kembali beri’tikaf. Dia lantas meminta izin Nabi Muhammad agar diperbolehkan melaksanakan i’tikaf. Beliau mengizinkan. Sayyidah Aisyah gembira dan langsung mendirikan kemah untuk i’tikaf di halaman Masjid Nabawi.

 

Istri Nabi yang lainnya, Sayyidah Hafshah bin Umar bin Khattab juga tertarik melakukan i’tikaf setelah melihat Sayyidah Aisyah. Dia kemudian mendirikan kemah untuk i’tikaf di samping kemahnya Sayyidah Aisyah ,tanpa izin terlebih dahulu dengan Nabi. Dua istri Nabi lainnya juga mengikuti jejak Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah. Juga tanpa izin dari Nabi Muhammad.

 

Usai subuh keesokan harinya, Nabi Muhammad kaget melihat ada empat kemah di halaman Masjid Nabawi. Beliau kemudian menanyakan miliki siapa saja kemah-kemah itu. Merujuk buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015), Nabi Muhammad kemudian meminta agar kemah-kemah itu dipindahkan setelah mengetahui kalau itu adalah milik istri-istrinya untuk beri’tikaf. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga tidak melanjutkan i’tikafnya. Beliau melanjutkan i’tikafnya pada 10 hari bulan Syawal.

 

Demikianlah sikap Nabi Muhammad saat istrinya beri’tikaf. Beliau mengizinkan ketika Sayyidah Aisyah meminta izin untuk ber’itikaf. Namun, saat ada istrinya yang tidak izin untuk beribadah i'tikaf maka beliau memiliki sikap lain. Oleh sebab itu, izin dari seorang suami juga menjadi sesuatu yang harus diperhatikan manakala seorang istri hendak melaksanakan ibadah i’tikaf. Yang perlu digarisbawahi, sesuai dengan kisah di atas, wanita sebetulnya memiliki hak untuk ber’itikaf. Asal mendapatkan izin dari suami.

 

Hal itu juga ditegaskan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitabnya Ibanatul Ahkam. Di situ disebutkan: “Boleh i'tikaf perempuan di masjid dengan izin suami bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.” Wallahu ‘Alam []

 

(Muchlishon)

Jumat, 11 Desember 2020

(Ngaji of the Day) Ketika Nabi Muhammad Mendamaikan Dua Orang yang Bertikai

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)….(al-Hujurat: 10)

 

Nabi Muhammad adalah juru damai yang handal. Terbukti, beliau berhasil mendamaikan dua kelompok –Bani Aus dan Bani Khazraj- yang sudah lama bertikai. Iya, kedua bani itu terlibat peperangan selama puluhan tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

 

Banyak korban berjatuhan dalam perang saudara tersebut. Bahkan, semua pemimpin Bani Aus dan Bani Khazraj gugur dalam perang Bu’ats –perang ini terjadi lima tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ketika Nabi Muhammad di Madinah, keadaan menjadi damai. Bani Aus dan Khazraj tidak lagi berperang. Malah keduanya menjadi saudara seiman yang saling mendukung dan menghormati. Tidak ada lagi kebencian. Tidak ada lagi dendam di antara mereka. Yang ada adalah kerukunan dan perdamaian. Semuanya berbait kepada Nabi Muhammad.

 

Namun demikian, ada kejadian dimana ‘api konflik’ itu masih tersulut. Dikisahkan, suatu ketika Bani Aus dan Khazraj sedang berkumpul dalam satu majelis untuk mendiskusikan suatu hal. Tiba-tiba ada seorang pemuda dari Bani Aus melantunkan sebait syair yang mengandung celaan terhadap Bani Khazraj. Tidak terima dengan ejekan tersebut, seseorang dari Bani Khazraj membalasnya.

 

Mereka kemudian saling serang. Tidak cukup sampai di situ, mereka pulang ke rumah dan mengambil senjatanya masing-masing untuk berperang. Tidak lama berselang, kabar pertikaian antara dua orang dari Bani Aus dan Bani Khazrah tersebut sampai ke telinga Nabi Muhammad. Dan pada saat bersamaan, Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an Surat Ali Imrah ayat 102.

 

Beliau kemudian bergegas menemui mereka untuk melerainya. Merujuk buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019), betis Nabi Muhammad sampai terluka karena saking cepatnya beliau berjalan menuju tempat pertikaian.

 

Ketika melihat kedua orang yang hendak berperang itu, Nabi Muhammad langsung membacakan wahyu yang baru saja diterimanya. Kata Nabi Muhammad, ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn),” kata Nabi Muhammad. Mendengar hal itu, mereka yang sudah bersiap berperang langsung membuang senjatanya, saling berpelukan, dan menangis tersedu-sedu.

 

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad menyatakan bahwa mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa adalah termasuk sedekah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan agar mempererat hubungan antarmanusia dan mendamaikan dua pihak yang bertikai dengan cara yang adil.

 

Dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa mendamaikan dua pihak yang berkonflik itu memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada shalat, puasa, dan sedekah.

 

“Maukah kalian saya beri tahu tentang amal yang derajatnya lebih tinggi dari shalat, puasa, dan sedekah?” tanya Nabi Muhammad kepada sahabatnya.

 

“Mau wahai Rasul,” jawab mereka.

 

“Mendamaikan dua pihak yang bermusuhan. Karena sesungguhnya bila dua orang yang bermusuhan itu sudah rusak (nalar dan perilakunya) maka dia akan memangkas (agama mereka),” balas Nabi.

 

Saking pentingnya mendamaikan orang yang bertikai, Islam memberikan keringanan kepada orang yang melakukannya. Yakni dibolehkannya berbohong demi mewujudkan perdamaian di antara mereka. “Tidak termasuk pembohong orang yang mendamaikan dua orang (yang bermusuhan), dan berkata baik kepada pihak sini dan pihak sana,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud. []

 

(A Muchlishon Rochmat)