Kamis, 03 Desember 2020

(Ngaji of the Day) Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?

Suara yang bagus adalah sebuah bakat yang tidak dimiliki semua orang, apalagi jika suara indah itu digunakan untuk melantunkan bacaan Al-Qur’an. Tentu, siapa pun yang mendengarnya akan merasa berbeda jika dibandingkan dengan lantunan dari suara orang yang biasa-biasa saja.

 

Persoalannya, bagaimana dengan nasib orang-orang yang memiliki suara yang biasa-biasa saja? Apakah berbeda pahalanya? Mana yang lebih baik, baca Al-Qur’an dengan nada dan irama lagu disertai suara yang indah, dengan baca Al-Qur’an yang biasa saja, tanpa nada atau suara yang indah?

 

Melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan suara dan indah memang suatu kelebihan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadis riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.

 

عن البراء رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : زينوا القرآن بأصواتكم ، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا.

 

Artinya, “Dari al-Barrā’ RA, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hiasilah Al-Qur’an dnegan suaramu, karena sesungguhnya suara yang bagus akan menjadikan bacaan Al-Qur’an bertambah bagus pula.” (al-Hakim, al-Mustadrak, [Beirut: Darul Maʽrifah, t.t], j. 1, h. 575)

 

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi-nya.

 

ويستحب تحسين الصوت بالقراءة وتزيينها

 

Artinya, “Disunnahkan memperindah suara bacaan Al-Qur’an dengan menghiasinya (dengan nada atau irama).” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

 

Namun, kesunahan memperindah bacaan itu bukan berarti tanpa batasan. Para ulama menetapkan koridor tertentu dalam memperindah bacaan Al-Qur’an, yaitu selama tidak melampaui batas. Yang dimaksud melampaui batas dalam hal ini adalah menggunakan lagu atau irama yang justru tanpa sadar dapat merubah bacaan Al-Qur’an, baik merubah bacaan hurufnya, harakatnya, dan lain sebagainya.

 

ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط ، فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفى حرفا ، هو حرام. وأما القراءة بالألحان، فهي على ما ذكرناه إن أفرط، فحرام، وإلا فلا

 

Artinya, “Selama tidak melampaui batas, jika melampaui batas sehingga menambah huruf secara jelas atau huruf yang sama, maka haram. Adapun membaca dengan nada atau irama maka hukumnya sebagaimana yang kami jelaskan di atas: jika melampaui batas, haram hukumnya. Jika tidak, maka boleh.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

 

Dari beberapa referensi di atas, bisa disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan irama, jika tidak mengubah bacaan Al-Qur’an (menambah huruf secara jelas atau samar), maka lebih utama karena dapat memperindah Al-Qur’an juga. Namun jika menggunakan irama atau lagu justru malah mengubah dan merusak huruf dan makna Al-Qur’an maka lebih baik tidak menggunakan irama atau lagu. Wallahu A’lam. []

 

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Yudi Latif: Pendidikan Pemanusiaan

Pendidikan Pemanusiaan

Oleh: Yudi Latif

 

Detak jantung kehidupan bangsa bisa memompakan dua corak alunan emosi publik: cinta dan takut. Emosi cinta mengalirkan agama kasih sayang, perikemanusiaan, persatuan, kesetaraan, keadilan, dan perdamaian. Emosi takut mengalirkan agama kebencian, permusuhan, pembelahan, dominasi, kesenjangan, dan kekacauan. Manakala daya cinta pudar dari jiwa suatu bangsa, takut akan merajalela menghantui segala sendi kehidupan. Cita-cita kemuliaan dan kebahagiaan hidup bersama terjerembap jatuh ke lembah kebiadaban susah nestapa.

 

Bagaimana hidup mulia apabila beragama tak bisa susila, berilmu tak bisa bijaksana, berkuasa tak bisa rumeksa, berharta tak bisa bederma. Bagaimana hidup sentosa jika agamawan tak jadi teladan, penguasa tak jadi penjaga, sarjana tak jadi sujana, hartawan bukan  peraharja. Bagaimana hidup damai apabila iman tanpa akhlak, ilmu tak bawa haluan, politik tak bawa tertib, dan  ekonomi tanpa sejahtera.

 

Telah lama diingatkan para pendiri bangsa. Di seberang jembatan emas kemerdekaan, akan terbentang jalan bercabang dua. Jalan pertama, jalan sama rasa sama bahagia;  jalan kedua, sama ratap sama sengsara.  Bahagia dan sengsara itu pilihan nilai emosi publik yang kita tumbuhkan dalam kehidupan bersama.

 

Demi menumbuhkan nilai-nilai cinta, suatu bangsa memerlukan proses pembudayaan pendidikan bermakna. Suatu pendidikan dikatakan bermakna sejauh bisa menjadi wahana persemaian bagi pertumbuhan kehidupan yang baik. Sesuatu dikatakan baik kalau sesuai dengan tujuannya. Jam yang baik menunjukkan ketepatan waktu. Anjing yang baik menjaga tuannya. Manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengembangkan keutuhan kodrat kemanusiaannya.

 

Hendaklah disadari bahwa manusia tidaklah sepenuhnya sebagai wahana persemayaman nilai-nilai cinta mulia. Pada diri manusia juga menitis tetesan genetik primata purba. Susunan kromosomnya dengan simpanse tidaklah banyak berbeda. Dalam diri manusia mengendap kecenderungan naluriah serupa simpanse. Mementingkan diri sendiri, berkelompok atas kesamaan primordial dengan relasi dominasi, mencintai hierarki dengan supremasi lelaki, dan melakukan penguasaan ruang.

 

Beruntung, dengan kromosom sedikit berbeda, manusia menjadi satu-satunya primata yang bisa mengembangkan keyakinan, nilai, dan intelektualitas tinggi. Dengan itu, manusia membentuk dan dibentuk agama-spiritualitas, etika, estetika, dan ilmu kebijaksanaan. Dengan itu,  manusia bisa bertransformasi diri secara meninggi, yang dapat mengatasi dorongan naluri simpanse.

 

Dalam komunitas simpanse, kehidupan hanya mengikuti seleksi alam dengan kebebasan alamiah yang mementingkan diri sendiri dan golongan. Siapa yang paling fit, itulah yang bertahan. Siapa yang paling kuat ikatan primordialnya, itulah yang menang. Dalam komunitas manusia, kehidupan bisa melampaui kesempitan kompleks superioritas itu berkat tuntunan keyakinan, nilai, dan kebijaksanaan.

 

Dengan keyakinan, manusia bisa mengembangkan pandangan dunia yang memuliakan persaudaraan semesta. Dengan nilai, manusia dituntun mengasihi yang lemah, mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Dengan ilmu kebijaksanaan, manusia bisa mengatasi beban derita yang memasung kebebasan. Di bawah kebebasan sipil yang berkeadaban, kepentingan diri dan golongan tunduk pada kehendak umum dan kebajikan bersama.

 

Agama hadir untuk memuliakan manusia, meninggikannya dari kerendahan watak simpanse. Agama sejati menyeru pemeluknya menjadi bagian dari jaringan keyakinan dan nilai kebajikan demi memperbesar peluang menundukkan naluri-naluri kebinatangan.

 

Rumah-rumah ibadah didirikan sebagai rumah etis, ajang perwujudan agama kemanusiaan, yang memuliakan persaudaraan sesama makhluk, membudayakan konsensus damai, membela yang teraniaya, memberdayakan yang marjinal. Jaring-jaring agama adalah mosaik pelangi kasih yang memungkinkan segala warna menyatu, rasa bersambung, rezeki berbagi.

 

Dengan tuntunan nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan, kemuliaan dan kebahagiaan hidup manusia jauh melampaui derajat pencapaian simpanse. Bagi simpanse, kebahagiaan sudah bisa tercapai dengan pemenuhan kehendak untuk bersenang dan kehendak untuk berkuasa. Alhasil, asal sudah bisa makan dan menaklukkan yang lain, impian kebahagiaan simpanse sudah tercapai.

 

Bagi manusia, tak cukup makan sendiri dan mendominasi yang lain. Kebahagiaan paripurna terengkuh tatkala bisa berbagi makanan dan melayani kepentingan banyak orang. Dengan kata lain, kebahagiaan tertinggi manusia terletak pada kemampuannya untuk bisa lebih besar dari dirinya sendiri dengan mengejar makna hidup yang luhur.

 

Singkat kata, pendidikan bermakna adalah pendidikan yang bisa mengembangkan kemanusiaan seutuhnya. Suhu pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, secara tepat menyatakan bahwa pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan belajar dari kehidupan sepanjang hidup.

 

Dengan pengertian seperti itu, inti pendidikan tak lain adalah pendidikan budi pekerti.  ”Budi” mengandung arti ”pikiran, perasaan, dan kemauan” (aspek batin); pekerti artinya ”tenaga” atau ”daya” (aspek lahir). Pendidikan budi pekerti adalah pendidikan berkebudayaan yang mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan, dan tekad kemauan manusia yang mendorong kekuatan tenaga yang dapat melahirkan penciptaan dan perbuatan yang baik, benar, dan indah.

 

Pendidikan berkebudayaan diaktualisasikan melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga, yang secara sinergis dan simultan melahirkan profil pelajar Pancasila, dengan lima poros kepribadian mulia: berketuhanan dengan semangat akhlak mulia; cinta Tanah Air dengan semangat persaudaraan semesta; mandiri dengan semangat gotong royong; bernalar kritis-kreatif dengan semangat hikmat permusyawaratan; berkompeten dengan semangat pelayanan dan keadilan. Itulah hakikat pendidikan pemanusiaan. []

 

KOMPAS, 26 November 2020

(Ngaji of the Day) Jika Mau Kaya dan Dekat dengan Surga, Bersedekahlah

Manfaat membayar zakat sangat besar bagi setiap orang yang membayarkannya. Seperti yang dijelaskan pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin, Suci, Manyar, Gresik, KH Masbuhin Faqih, bahwa memberikan sebagian harta kepada golongan masyarakat yang tidak mampu baik dalam bentuk zakat maupun sodaqoh atau sedekah memiliki 'fadhilah' atau keutamaan yang tidak sedikit.

 

"Fadhilahnya belas kasihan itu sangat luar biasa. Membuat manusia menjadi dekat pada Allah, dekat pada manusia, dekat pada surga dan jauh dari api neraka," kata Kiai Masbuhin dalam sebuah pengajian di Pesantren Suci.

 

Di samping kita melaksanakan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah SWT, kita harus bermurah hati dan penuh kasih sayang. Oleh karenanya, menurut Kiai Buhin, jika kita telah menunaikan zakat yang wajib kita juga sebaiknya memperbanyak ibadah sunnah. 

 

"Maka kita harus bersyukur jika kita semua sudah menunaikan zakat, ita menunaikan juga sedekat sebanyak-banyaknya. Kita harus memiliki sifat welas (mengasihi) pada orang yang tidak punya karena fadhilahnya sangat besar," katanya.

 

Manfaat sedekah juga pernah disampaikan Habib Yahya Rosyad Grobogan sebagai cara untuk meraih kekayaan. "Kalau pengen kaya maka bersedekahlah, jangan bersedekah menunggu kaya," kata Habib Yahya kala itu. 

 

Beliau memaparkan wejangan dari kanjeng Nabi Muhammad SAW, "Ma naqoso maalul bi sodaqoti bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, tetapi tambah, tambah, tambah. Assodaqotu pangkal kaya, utawi sedekah itu pangkal kaya," tegas Habib Yahya.

 

Tetapi menurutnya, setan menakut-nakuti manusia jika bersedekah akan jatuh miskin atau fakir. Makanya hati manusia sering bimbang perihal sedekah yang banyak. Akibatnya banyak orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk bersedekah.

 

Dalam sebuah ulasan, Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur menuliskan lima manfaat membayar zakat: Pertama mendatangkan hidayah atau petunjuk dalam segala urusan. Kedua dengan membayar zakat seseorang dijanjikan pahala yang sangat besar yaitu masuk ke surga. Ketiga, membayar zakat juga berguna untuk mendatangkan ampunan dari Allah SWT atas berbagai kesalahan yang telah dilakukan. Keempat, zakat juga akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada pembayarnya. Kelima, menjadikan hartanya berkah, berkembang semakin baik dan banyak. []

 

Sumber: NU Online

Nasaruddin Umar: Membaca Trend Globalisasi (11) Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Memperkenalkan Dunia Astrolabe

Membaca Trend Globalisasi (11)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Memperkenalkan Dunia Astrolabe

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Satu persatu temuan ilmuan Islam menggelobal. Satu lagi di antaranya ialah pengembangan dunia Astrolabe. Sesungguhnya Astrolabe hampir sama bidang kajiannya dengan astronomi. Hanya saja astrolabe lebih spesifik dan dapat dikatakan bagian dari astronomi dalam arti umum. Astrolabe adalah pengukuran secara spesifik dengan menggunakan system peralatan tertentu di dalam menyelesaikan problem yang berhubungan dengan waktu dan posisi matahari dan bintang. Dengan kecanggihan ilmu computer sekarang ini maka dunia astrolabe semakin canggih. Sekarang sudah dapat ditemukan berbagai program Astrolabe, termasuk yang paling canggih saat ini Astrolabe Planispheris.

 

Astrolabe yang paling pertama dibuat pada 1500 tahun lalu oleh ilmuan Islam. Keitika dunia Islam menguasai Andalusia (Spanyol) sekitar abad ke 12M, sudah ditemukan tidak kurang dari 800 Astrolabe dengan tingkat akurasi yang tinggi. Berbagai spesifik Astrolabe sudah digunakan di sejumlah laboratorium, bukan hanya untuk keperluan mengajar tetapi juga untuk kebutuhan praktis, misalnya untuk melihat dan menganalisis benda-benda langit guna keperluan penentuan waktu dan selanjutnya untuk kepentingan pertanian, pelayaran, dan penentuan musim. Astrolabe juga sering juga digunakan untuk kepentingan astrologi, yang dihubungkan dengan ramalan nasib seseorang. Karya-karya monumental ilmuan muslim di abad pertengahan ini diakui oleh para ilmuan fisika dunia Barat.


Banyak factor yang mendukung perkembangan dunia Astrolabe, di antaranya ialah: 1) Kebutuhan ketepatan waktu sangat diperlukan untuk pelaksanaan shalat lima waktu dan imsak, yaitu Shalat Subuh, Shalat Dhuhur, Shalat Ashar, Shalat Isya, dan Imsak, batas waktu untuk memulai puasa, baik puasa sunnat seperti Senik dan Kamis maupun puasa Ramadhan. 2) Kebutuhan ketepatan arah kiblat, agar shalat yang seharusnya menghadap ke kiblat tidak salah arah. Termasuk juga pada pembangunan masjid dan mushallah, sangat penting penggunaan alat-alat ukur seperti Astrolabe ini. 3) Kebutuhan untuk penentuan kepastian twrwujudnya hilal (wujud al-hilal) guna penentuan tanggal 1 Ramadhan untuk menentukan puasa Ramadhan, tanggal 1 Syawal untuk penentuan hari raya Idul Fitri, dan tanggal 1 Zulhijjah untuk penentuan Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah. 4) Untuk keperluan nafigasi para saudagar dan muballig muslim yang terkenal berani menembus ganasnya ombak laut dan panas teriknya padang pasir. Kebutuhan-kebutuhan praktis seperti ini mendorong para ilmuan Islam untuk senantiasa berkreasi.


Tokoh utama yang merintis Asrolabe ialah Mohammad Al-Fazari yang pertama menemukan astrolube kemudian dijadikan jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang) dan Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa yang dikenal sebagai Phoenix pada zamannya (Zaman Abbasiyah). Kedua tokoh ini sesungguhnya bukan yang pertama merintis Astrolabe. Yang paling pertama di dalam catatan sejarah Astroblabe ialah Hipparchus (w.180SM) ilmuan kelahiran Nicaea Asia Kecil, sekarang di kota Iznik, Turki dan Apollonius (w.225SM), seorang ilmuan Yunani, namun karya-karya Astrolabenya masih sangat sederhana characteristics. Hipparchus did not invent the astrolabe, but he did refine the projection theory.


Dunia Astrolabe selanjutnya berkembang pesat terutama di masa pemerintahan kerajaan Umayah dan Kerajaan Abbasiyah, yang memberikan apresiasi kepada tikoh-tokoh keilmuan. Di antara para raja ada yang menyiapkan lahan di lingkungan istana kerajaan bagi para ilmuan untuk berkantor dan membangun laboratoriumnya. Bahkan ada beberapa raja di antara mereka menimbang buku-buku karya ilmuan dengan emas dan perak. Dengan demikian, warga masyarakat yang menaruh minat besar terhadap dunia sains semakin bergairah. Bahkansejumlah ilmuan diterima sebagai anak menantu yang pada akhirnya memiliki kekuasaan di dalam kerajaan. Akhirnya dunia keilmuan betul-betul mendapatkan dukungan penuh dari kerajaan dan para pemerintah dunia Islam, bahkan juga belakangan oleh pemerintah negara-negara non muslim. []

 

DETIK, 17 Agustus 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(Ngaji of the Day) Zaid bin Haritsah, Memilih Tinggal Bersama Rasulullah daripada Orang Tuanya

Pada saat usianya delapan tahun, Zaid bin Haritsah al-Ka’by diajak ibundanya, Su’da binti Tsa’labah untuk mengunjungi kaumnya, Bani Ma’in, di suatu wilayah yang lumayan jauh. Satu riwayat menerangkan, mereka dirampok di tengah jalan. Riwayat lainnya menyebutkan kalau mereka tiba di Bani Ma’in dengan selamat. Namun ketika mereka baru tiba di kampung kaumnya, Bani al-Qain menyerang Bani Ma’in.

 

Bani al-Qain menjarah semua harta benda dan menawan anak-anak –termasuk Zaid bin Haritsah-di kampung Bani Ma’in. Anak-anak tersebut kemudian dibawa ke pasar Ukaz untuk dijual. Zaid sendiri dibeli oleh Hakim bin Hizam bin Khuwailid dengan harga 400 dirham. Kemudian Hakim bin Hizam memberikan Zaid bin Haritsah kepada bibinya, Sayyidah Khadijah, sebagai hadiah. Riwayat lain, Sayyidah Khadijah sendiri lah yang membeli Zaid di pasar Ukaz.

 

Singkat cerita, Sayyidah Khadijah menghadiahkan Zaid bin Haritsah kepada Nabi Muhammad sesaat setelah mereka menikah (saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi). Maka sejak saat itu, Zaid menjadi pelayan dan tinggal bersama dengan Nabi Muhammad. Seiring dengan berjalannya waktu, Zaid bin Haritsah menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling istimewa. Bahkan, nantinya Nabi Muhammad mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya.

 

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), semula Zaid menangis karena teringat dengan bapak dan ibundanya. Tapi lama-lama Zaid menjadi nyaman bersama Nabi Muhammad. Perlakuan Nabi Muhammad yang lembut dan penuh kasih sayang lah yang membuat Zaid betah tinggal dengannya. Dia memiliki nasib yang beruntung karena bisa mengenal dan melayani Nabi Muhammad.

 

Namun di sisi lain, orang tua Zaid dirundung kesedihan yang mendalam. Ibunda Zaid, Su’ad binti Tsa’labah, terus-terusan menangis meratapi nasib anaknya yang hilang. Kesedihannya bertambah karena dirinya tidak tahu apakah Zaid masih hidup atau sudah mati. Begitupun dengan ayah Zaid, Haritsah. Dia tidak pernah berhenti mencari anaknya ke seluruh penjuru kawasan. Dia juga bertanya kepada kafilah yang ditemuinya. Saking sedihnya, Haritsah menumpahkan perasaannya itu melalui bait-bait syair.

 

“Oh hidupku (maksudnya putranya, Zaid), aku rela mengorbankan nyawaku demi kami, karena setiap orang pasti akan mati, meskipun dia terbuai dengan angan-angan,” kata Haritsah dalam syairnya, dikutp buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018)

 

Orang tua Zaid terus bersedih hingga akhirnya ada kabar kalau anaknya masih hidup. Saat itu, ada sekelompok orang dari kaum Zaid bin Haritsah menunaikan haji di Makkah. Pada saat thawaf, mereka berpapasan dengan Zaid. Keduanya berbincang-bincang dan menanyakan kabar masing-masing. Setelah kembali, rombongan tersebut langsung memberi tahu Haritsah dan Su’ad perihal keadaan dan tempat tinggal anaknya yang pernah hilang dulu.

 

Haritsah mengajak saudaranya, Ka’ab, untuk menemui Nabi Muhammad dan menjemput pulang Zaid. Mereka tidak lupa menyiapkan sejumlah uang untuk menebus anaknya. Sesampai di Makkah, mereka langsung menemui Nabi Muhammad. Mereka meminta izin agar anaknya dikembalikan. Tidak lupa mereka menyodorkan sejumlah uang dibawanya sebagai tebusan untuk anak mereka.

 

Nabi Muhammad tidak langsung menolak ataupun menerima tawaran orang tua Zaid tersebut. Beliau kemudian memanggil Zaid untuk memilih sendiri; Apakah memilih tetap bersama Nabi Muhammad atau memilih pulang dan tinggal bersama orang tuanya. Nabi Muhammad tidak mengharapkan uang tebusan itu manakala Zaid lebih memilih orang tuanya.

 

“Anda sungguh-sungguh berlaku adil,” kata mereka kepada Nabi Muhammad.

 

Zaid langsung ketika menangis melihat ayah dan pamannya. Ia tidak kuasa menahan isak tangisnya itu. Setelah kondisi Zaid cukup tenang, Nabi Muhammad menyampaikan maksud kedatangan ayahnya dan kemudian melontarkan dua pilihan tadi. Zaid tidak langsung menjawab. Baginya, itu adalah sebuah pilihan yang tidak mudah. Namun setelah lama berpikir, Zaid akhirnya menjawab untuk tetap bersama Nabi Muhammad.

 

Seketika itu, Haritsah mengucapkan sumpah serapah kepada anaknya. Dia tidak terima anaknya lebih memilih menjadi budak dan menolak pulang bersamanya. Nabi Muhammad kemudian mencoba menenangkan Haritsah. Beliau mengajaknya ke Hijir Ismail yang berada di sisi Ka’bah. Di sana, Nabi Muhammad mendeklarasikan bahwa mulai saat itu Zaid adalah anak angkatnya.

 

“Wahai segenap yang hadir di sini, saksikanlah bahwa ia –Zaid- adalah anakku. Dia adalah ahli warisku,” kata Nabi Muhammad.

 

Hati Haritsah dan Ka’ab menjadi tenang setelah mendengar ‘deklarasi’ Nabi Muhammad itu. Mereka menjadi maklum dan bisa menerima keputusan Zaid yang lebih memilih bersama Nabi Muhammad daripada dirinya. Mereka tahu, anaknya memiliki kedudukan mulia di Makkah. Mereka pun kembali dengan hati lega, tenang, dan puas. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Rabu, 02 Desember 2020

(Do'a of the Day) 17 Rabiul Akhir 1442H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii. Allaahumma radhdginii bi qadhaa'ika wa baarik lii fiima quddira lii hattaa laa uhibba ta'jiila maa akhkharta wa laa ta'khiira maa 'ajjalta.

 

Dengan menyebut nama Allah, kuserahkan diriku, hartaku, dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha menerima keputusan-Mu dan berkahilah apa yang ditakdirkan bagiku sehingga aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan dan tidak pula memperlambat yang Engkau segerakan.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 5, Bab 12.

Trend Robek


(Hikmah of the Day) Ketika Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

Di antara watak yang dimiliki Nabi Musa ‘alaihissalam adalah memperlakukan orang lain secara spontan sesuai dengan kepribadiannya. Tak mengherankan ketika malaikat maut datang kepadanya dalam wujud seorang pria yang akan mencabut nyawanya, Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menampar muka sang malaikat hingga bola matanya pecah. Kemudian, Allah pun memberikan dua pilihan kepadanya: apakah akan beralih ke hadirat-Nya atau tetap berada di dunia beberapa lama lagi hingga malaikat maut kembali datang menjemput nyawanya. Namun, Nabi ‘alaihissalam memilih untuk segera bersanding di sisi Tuhannya dan meninggalkan kepenatan dan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Maka Allah mengabulkan doanya untuk didekatkan dengan Tanah Suci (Baitul Maqdis) sejauh lemparan batu. Konon, kuburannya pun berada di sana.

 

Selengkapnya, kisah itu dapat disimak dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

 

Artinya: Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan berkata, “Penuhilah panggilan Tuhanmu!” Namun spontan Musa menampar mata malaikat hingga bola matanya terpecah. Akhirnya, malaikat maut kembali kepada Allah dan menyampaikan, “Sesungguhnya Engkau telah mengutusku menemui hamba yang tidak menginginkan kematian. Akibatnya, mataku terpecah.” Kemudian, Allah segera mengembalikan penglihatannya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan sampaikan padanya, apakah engkau terus menginginkan kehidupan? Jika engkau masih menginginkannya, letakkanlah tanganmu pada punggung sapi jantan. Satu bulu yang tertutupi tanganmu, maka engkau akan hidup satu tahun.” Musa bertanya, “Lalu apa setelah itu?” Allah menjawab, “Tetaplah engkau akan meninggal.” Musa berkata lagi, “Wahai Tuhanku, sekarang kupilih kematian itu dalam waktu dekat.” Kemudian Nabi Musa menyampaikan keinginannya, “Matikanlah aku dekat Tanah Suci (Baitul Maqdis) sedekat lemparan batu.” Terakhir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menambahkan, “Demi Allah, andai aku berada di sisinya, niscaya akan aku perlihatkan kepada kalian kuburannya berada di pinggir jalan, tepatnya pada gundukan pasir.”

 

Dalam hadits di atas disampaikan bahwa Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dalam wujud seorang pria. Dia meminta Nabi untuk memenuhi panggilan-Nya. Melalui malaikat, Allah juga menyampaikan bahwa ajalnya sudah dekat dan saat kematiannya akan segera tiba. Namun, sebagai sosok yang tegas, tidaklah mengerankan jika begitu didatangi malaikat, Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menampar wajah malaikat tersebut hingga matanya terpecah. Maksudnya mata di sini adalah mata malaikat yang kala itu datang dalam wujud seorang pria. Sebab, jika bukan dalam wujud manusia, pasti Nabi ‘alaihissalam tidak akan bisa menamparnya.

 

Akhirnya, malaikat maut kembali kepada Allah dan mengadukan tamparan Nabi Musa ‘alaihissalam yang dialaminya. Maka, Allah segera mengembalikan penglihatannya dan memerintah untuk kembali menemui Nabi Musa ‘alaihissalam guna meminta meletakkan tangannya di atas punggung sapi jantan. Kemudian, ia menghitung bulu-bulu sapi yang tertutup tangannya. Setiap bulu yang tertutup dihitungnya sebagai tambahan usia satu tahun. Walhasil, tambahan usianya sebanyak bulu sapi yang tertutup tersebut. Namun, Nabi ‘alaihissalam tidak mengambil tambahan usia itu. Andai ia melakukannya, niscaya ia masih hidup hingga sekarang ini.

 

Namun, begitu dikabarkan bahwa setelah tambahan usianya itu tetaplah kematian, Nabi Musa ‘alaihissalam memilih kematian dalam waktu dekat. Sebab, tidaklah para nabi, rasul, dan orang-orang saleh berada di sisi Allah kecuali lebih baik dan lebih kekal.

 

Jika arwah para syuhada diserupakan dengan burung-burung yang terbang di taman surga, memakan buah-buahnya dan meminum air sungai yang ada di dalamnya, berlindung di bawah lampu-lampu yang bergantung di bawah langit ‘Arasy al-Rahmân, maka kehidupan para nabi dan rasul di sana tentu lebih dari itu. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana keeadaan Musa ‘alaihissalam jika masih hidup hingga hari ini? Ia akan terus mendapat ujian dan beban hidup. Artinya, keberadaannya di dunia sebagai negeri ujuan dan kehancuran tidak akan lebih baik ketimbang keberadaaannya di surga dan rahmat Allah bersama para nabi dan rasul yang lain.

 

Namun, sebelum kematian, Nabi Musa ‘alaihissalam memohon kepada Allah agar nyawanya dicabut dekat Tanah Suci (Baitul Maqdis) hingga sedekat lemparan batu.

 

Permohonan itu menunjukkan betapa cintanya Sang Nabi kepada Tanah Suci. Bahkan, dikubur pun ingin di dekatnya. Tetapi, Nabi ‘alaihissalam tidak meminta Allah agar mencabut nyawanya tepat di dalam tanah suci itu, sebab dirinya tahu bahwa Allah mengharamkan tanah tersebut pada generasi yang dijatuhi balasan atas ketidaktaatan mereka kepada Allah saat diperintah untuk memasukinya. Malahan mereka berkata, Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja, (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 24). Akibatnya, Allah menetapkan, mereka tersesat di padang Sinai selama empat puluh tahun.

 

Allah pun mengabulkan permohonan Nabi Musa ‘alaihissalam. Rasulullah shalallahu ‘alaihis wasallam mengabarkan bahwa kuburannya berada di Tanah Suci Baitul Maqdis, tepat di serambinya yang ada pada gundukan pasir. Ditambahkan dalam riwayat itu, andai berada di sana, beliau pasti telah memperlihatkannya kepada para sahabat.

 

Pesan dan pelajaran penting dari kisah di atas adalah:

 

  1. Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa sebelum dicabut nyawa, para nabi selalu diberikan pilihan: apakah memilih tambahan hidup, ataukah memilih segera berpulang ke rahmat Allah, sebagaimana halnya Nabi Musa ‘alaihissalam. Bahkan, berkenaan dengan hal ini, ‘Aisyah pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berucap saat sakit terakhirnya, “Ya Allah, kupilih al-Rafîq al-Alâ (surga).” Dari ucapan itu, ‘Aisyah tahu bahwa al-Rafîq al-‘Alâ itu lebih baik, makanya beliau memilih itu.

 

  1. Para malaikat mampu menunjukkan diri dalam wujud manusia. Tak terkecuali saat menemui Nabi Musa ‘alaihissalam.

 

  1. Kematian itu sesuatu yang pasti dan tak bisa ditolak. Andai di antara kita ada yang selamat darinya, tentu para nabi dan rasul juga sudah selamat.

 

  1. Tingginya kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam sampai-sampai mampu menampar malaikat maut hingga bola matanya terpecah. Andai bukan karena kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam di sisi Allah, niscaya malaikat maut akan melakukan pembalasan berat kepadanya.

 

  1. Kuburan Nabi Musa ‘alaihissalam berada di Tanah Suci Baitul Maqdis. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah memberi tahu keberadaan kuburannya. Bahkan, beliau menyebutkan beberapa tanda keberadaan tersebut, yaitu di samping jalan, tepat pada gundukan pasir.

 

  1. Nabi Musa ‘alaihissalam menginginkan kuburannya berada dekat dengan tanah yang penuh berkah. Karena itu, tidak ada salahnya jika ada seseorang yang juga ingin meninggal di tanah yang penuh berkah itu.

 

  1. Tanah Suci dimaksud memiliki batasan-batasan yang telah diketahui. Nabi Musa ‘alaihissalam pun meminta kepada Allah untuk mendekatkan dirinya pada tanah itu sedekat lemparan batu. Tetapi demikian, jenazahnya dikuburkan di luar tanah tersebut. (Lihat: Umar Sulaiman al-Asyqar, Shahih al-Qashash al-Nabawi, [Oman: Darun Nafais], 1997, Cetakan Pertama, hal. 97).

 

Wallahu a’lam.

 

[]

 

Sumber: NU Online