Rabu, 07 November 2012

Gus Mus: Allahu Akbar


Allahu Akbar
15 Nopember 2005 23:05:12 |

 

Allahu Akbar!

Pekik kalian menghalilintar

Membuat makhluk-makhluk kecil tergetar

 

Allahu Akbar!

Allah Maha Besar
Urat-urat leher kalian membesar
Meneriakkan Allahu Akbar
Dan dengan semangat jihad
Nafsu kebencian kalian membakar
Apa saja yang kalian anggap mungkar

Allahu Akbar, Allah Maha Besar!
Seandainya 5 milyar manusia
Penghuni bumi sebesar debu ini
Sesat semua atau saleh semua
Tak sedikit pun mempengaruhi
KebesaranNya

Melihat keganasan kalian aku yakin
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman
Yang kasih sayangNya meliputi segalanya
Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakanNya
Ketika dengan pongah kau melibas mereka
Yang sedang mencari jalan menujuNya?

Mengapa kalau mereka
Memang pantas masuk neraka
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka
Yang menyiksa mereka
Kapan kalian mendapat mandat
Wewenang dariNya untuk menyiksa dan melaknat?

Allahu Akbar!
Syirik adalah dosa paling besar
Dan syirik yang paling akbar
Adalah mensekutukanNya
Dengan mempertuhankan diri sendiri
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri

Laa ilaaha illaLlah! 2005

 

KH. A. Mustofa Bisri

Adhie: Koruptor Hambalang: "Citius, Altius, Fortius!"


Koruptor Hambalang: “Citius, Altius, Fortius!”

Jum'at, 02 November 2012 , 19:07:00 WIB

Oleh: Adhie M. Massardi

 

CITIUS, Altius, Fortius. Tiga kata bahasa Latin ini artinya: lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Baron Pierre de Coubertin, pendiri Komite Olimpiade Internasional (IOC), pada 1894, menjadikan “tiga kata” ini sebagai motto Olimpiade.

 

Pada mulanya citius, altius, fortius itu merupakan kredo bagi para atlet yang berlaga di Olimpiade. Harapan Coubertin, dalam setiap event Olimpiade, muncul semangat untuk mematok rekor baru.

 

Tapi dalam perkembangannya, semboyan itu akhirnya dipakai di dunia olahraga. Makanya, citius, altius, fortius juga terpampang di gerbang utama Gelanggang Olahraga Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta.

Tapi di Indonesia, para koruptor yang sudah menguasai manajemen penyelenggaraan event dan sarana olahraga yang dibiayai negara, tepatnya oleh orang-orang di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, juga memakai motto ini. Tentu saja ada sedikit modifikasi dan penyesuian dengan konteksnya.

 

Citius maknanya menjadi: Lebih cepat dalam melakukan patgulipat dan kongkalikong. Altius: Lebih tinggi anggaran yang dipakai dari jumlah yang seharusnya. Fortius: Lebih kuat dalam membentengi diri. Sehingga bisa mengintervensi BPK untuk menyulap hasil audit, dan meredam KPK agar tidak segera masuk ke pusat korupsi.

 

Sejak dikuasai jaringan koruptor, olahraga di negeri ini memang mengalami perubahan haluan. Tak ada lagi fairness, apalagi fair play. Makanya, jangan heran bila pembesar negara secara terbuka menyuruh timnas PSSI yang hendak bertanding away di luar negeri untuk mencuri poin. Ya, mencuri poin, dan bukan berjuang mengalahkan lawan!

 

Mencuri, menipu, juga menunggu kelengahan lawan, sudah menjadi bahasa baku dalam kamus olahraga kita. Makanya, dalam setiap event olahraga, seperti PON (Pekan Olahraga Nasional), yang dulu merupakan batu loncatan atlet nasional mengukir prestasi guna menembus kelas ASEAN, Asia, lalu dunia, kini menjadi ajang para koruptor beraksi.

 

Makanya, dalam PON kemarin, juga SEA Games sebelumnya, bukan rekor baru atau prestasi atlet kita yang jadi perbincangan, tapi skandal korupsinya yang gila-gilaan. Bahkan dari pentas SEA Games, skandal korupsi pembangunan Wisma Atlet belum dituntaskan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sampai sekarang. Sebab otak segala korupsi di dunia olahraga kita, masih bebas berkeliaran, dan terus merancang strategi korupsi yang citius, altius dan fortius.

 

Begitulah kisah dunia olahraga kita yang sekarang menjadi ajang para koruptor mematok rekor. Maka jangan heran bila di SEA Games XXVI di Jakabaring, Palembang, tahun lalu, tak terdengar bunyi prestasi, kecuali korupsinya. Demikian pula dari PON XVIII Riau yang kacau. Sampai-sampai sejumlah rekor yang diukir para atlet dengan jerih payah, tak diakui dunia internasional gara-gara sarananya tidak memenuhi standar.

 

Ada yang menarik karena merupakan modus operandi baru dalam setiap korupsi di event olahraga. Persiapannya dibuat molor sampai mepet waktu penyelenggaraan. Sehingga membuat kita terpaku pada waktu, sedangkan korupsinya tertutup oleh ketegangan menunggu sarana dan prasarana kelar.

 

Sementara skandal megakorupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan dan Sarana Olahraga di Bukit Hambalang, yang melibatkan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng serta Menteri Keuangan Agus Martowardoyo, proses auditnya oleh BPK yang diintervensi sehingga jadi molor.

 

Kita belum tahu ke mana arah KPK menyisir pusat korupsi di dunia olahraga kita. Kita hanya tahu, proyek Bukit Hambalang semula hanya berbiaya Rp 125 milyar. Tapi ketika proyek itu berada di tangan Andi Mallarangeng, biayanya meningkat pesat jadi lebih dari dua triliun rupiah!

 

Citius, altius, fortius! [***]

 

Sumber:

(Ngaji of the Day) Haji Bukan Wisata Religi


Haji Bukan Wisata Religi

Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)


Selain sebagai ibadah suci, haji merupakan ibadah yang istimewa. Karena ibadah haji memang bukan sembarang ibadah. Haji menjadi ibadah istimewa karena hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu. Kategori mampu pun bermacam-macam. Orang yang hendak haji harus mampu secara finansial, fisik maupun mental.


Haji juga merupakan pilar (Rukun) Islam yang ke-lima. Orang yang mengaku islam tulen, belum dikatakan sempurna islamnya sebelum melaksanakan haji. Namun bukan berarti semua yang belum berhaji bisa dikatakan belum sempurna islamnya. Predikat belum sempurnanya islam di sini adalah bagi mereka yang memiliki kemampuan (Biaya, Jiwa, dan Raga) namun enggan untuk melaksanakan haji.


Namun, kebanyakan umat Islam memiliki cara pandang yang cenderung keliru. Mereka berhaji lebih diniatkan hanya mengejar derajat (Sebutan) “Pak Haji” atau “ Bu Haji” dari pada mengedepankan niat karena Allah SWT. Itu terbukti banyaknya jamaah haji sepulang dari tanah suci tidak jauh berbeda dengan sikap mereka sebelum menunaikan haji. Dalam konteks ini, mereka bisa dikategorikan sebagai haji yang hanya bertujuan wisata. Lebih tepatnya wisata religi.


Agar haji tidak dianggap hanya sebagai wisata religi tentunya harus dapat mencapai derajat mabrur. Tujuan haji jelas adalah untuk memperoleh haji yang mabrur. Kerena haji mabrur merupakan cita-cita dari kebanyakan orang Islam yang telah menjalankan ritual ibadah haji. Kalau tidak mabrur, maka hajinya akan berdampak sia-sia. Kata para pemuka agama, buahnya hanya diunduh di dunia, seperti sanjungan dengan sebutan 'pak haji' dan 'bu hajah'. Sedangkan di akhirat, dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali penyesalan. Tentunya mereka akan rugi.


Tujuan haji mabrur itu tidak akan diperoleh jika para jamaah haji tidak memiliki niat yang benar. Dalam hadist popular disebutkan bahwa niat adalah pangkalnya ibadah. Inamal A’malu Biniat. Jika niatnya salah, bukan karena Allah, maka akan berdampak negatif. Tujuan mereka hanya berkeinginan mendapat prestise 'haji' yang dijadikan sebagai alat memperkuat status sosialnya, khususnya untuk mendapatkan legitimasi sosial dari masyarakat. Mereka tersihir dengan predikat haji sehingga menjadikan dirinya sombong kepada yang belum haji. Songkok putih yang seharusnya menjadi simbol putihnya akhlak telah dikotori dengan sifat-sifat tercela. (Amirul Ulum: 2012)


Diterawang dari segi etimologi, mabrur (bahasa Arab) berasal dari kata barra-yaburru-barran yang mempunyai arti taat berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia karya Ahmad Warson Munawwir dijelaskan kata-kata albirru artinya ketaatan, kesalehan atau kebaikan. Sedangkan mabrur sendiri artinya haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. Berkaitan dengan hal itu Nabi Muhammad SAW bersabda, "Haji yang mabrur tiada balasan kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim)


Agar haji tidak dianggap sebagai wisata religi setidaknya ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi: Pertama, motivasi dan niat ibadah tersebut ikhlas semata-mata mengharap ridlo Allah SWT. Kedua, biaya yang digunakan untuk ibadah haji, baik biaya perjalanan maupun biaya untuk keperluan keluarga yang ditinggalkan diperoleh dengan cara yang halal, bukan berasal dari cara haram. Ketiga, proses pelaksanaannya sesuai dengan manasik yang telah dicontohkan Rasulullah SAW, yakni syarat, rukun, wajib bahkan sunah ibadah tersebut harus terpenuhi.


Keempat, ini yang paling penting, dampak dari ibadah haji tersebut adalah positif bagi pelakunya, yaitu adanya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji. Kelima yang tak kalah pentingnya juga, predikat “Pak Haji” atau “Bu Hajah” tidak menjadikannya larut dalam sanjungan dan kesombongan.


Haji mabrur juga dapat dicapai oleh orang yang melaksanakannya sesuai dengan syarat, wajib dan rukunnya. Dan ketika melaksanakan, dia tidak melakukan rafats, fusuq, dan jidal. Rafats bukan sekadar hubungan seksual tapi termasuk bicara yang porno, matanya juga harus dijaga. Fusuq adalah perbuatan fasik yang maksiat, misalnya, membicarakan kejelekan orang lain atau mengadu domba. Sementara jidal artinya berkelahi. (Amirul Ulum: 2012). Pokoknya selama di Tanah Suci, mereka bisa menahan hawa nafsu untuk tidak menimbulkan amarah orang sehingga dia harus banyak bersabar.


Menggapai haji mabrur memang sangat sulit, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukan berarti para jamaah haji tidak bisa meraih derajat itu. Selagi ada niat yang tulus karena Allah SWT, dan didasari dengan hati yang ikhlas, serta mempunyai progress kearah yang lebih baik tentu Haji Mabrur akan dapat disandang. Mudah-mudahan jamah haji tahun ini menjadi haji yang tidak sekedar berwisata religi. Semoga !


* Akademisi di Fakultas Syariah, IAIN Sunan Ampel Surabaya

(Do'a of the Day) 22 Dzulhijjah 1433H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummaj'alhu hajjan mabruuraa, wa dzanban maghfuuraa wa sa'yan masykuuraa.

 

Ya Allah, jadikanlah hajiku haji yang diterima, dosaku dosa-dosa yang diampuni dan usahaku usaha yang disyukuri.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Keempat.

Selasa, 06 November 2012

(Kuliner of the Day) Kesegaran Es Kelapa Muda Pasimal Lama

Konon katanya, kelapa muda merupakan minuman favorit para wali songo, penyebar ajaran islam di ranah tanah jawa.

 

Hasil survey yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, mengatakan bahwa 12 dari 10 orang menyukai kesegaran kelapa muda, terlebih jika kelapa muda tersebut dicemplungi es batu. Entahlah, apakah kebenaran survey ini bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Namun yang jelas, sampai saat ini saya belum pernah mendengar orang yang membenci es kelapa muda.  So, jika sudah dahaga, silahkan langsung meluncur ke sini saja, dengan Rp 2.500 anda sudah dapat segelas es kelapa muda yang sangat segar. Atau dengan Rp 5.000 jika anda suka yang bulet utuh.





Cak Nun: Merindu Nasionalisasi Indonesia


Merindu Nasionalisasi Indonesia

Oleh Emha Ainun Nadjib

 

Berangkat dari Jokowi ke Indonesia, esai ini bukan tentang pemilihan gubernur, politik Indonesia, atau baik-buruknya pemerintah dan pejabat. Inilah kerinduan manusia Indonesia.

 

Seusai Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta, bangsa Indonesia kini menggerakkan kaki sejarahnya menuju 2014. Namun, imaji mereka terhadap 2014 sangat buram dan penuh kesemrawutan.

 

Bangsa Indonesia hampir mustahil menemukan calon pemimpin yang berani pasang badan, misalnya untuk nasionalisasi Freeport. Bahkan, menghadapi kasus seringan Century, bangsa kita tidak memiliki budaya politik kerakyatan untuk mendorongnya maju atau menarik mundur.

 

Yang rutin, bangsa Indonesia adalah ketua yang tidak berkuasa atas wakil-wakilnya. Bagai makmum shalat yang tidak berdaulat untuk memilih imamnya. Bangsa Indonesia hidup siang-malam dalam penyesalan, dalam kekecewaan atas diri sendiri, tetapi dicoba dihapus-hapus dari kesadaran pikiran dan hati karena mereka selalu tidak mampu mengelak untuk memasrahkan kebun buahnya pada rombongan monyet yang silih berganti.

 

Manusia berani

 

Manusia Indonesia adalah manusia tangguh, tidak peduli punya masa depan atau tidak. Mereka berani hidup tanpa pekerjaan tetap, berani beranak pinak dengan pendapatan yang tidak masuk akal. Berani menyerobot, menjegal, menjambret, dan mendengki seiring kesantunan dan kerajinan beribadah.

 

Manusia Indonesia tidak jera ditangkap sebagai koruptor, tetapi berpikir besok harus lebih matang strategi korupsinya. Mereka melakukan hal-hal melebihi saran setan dan ajaran iblis, pada saat yang sama bersikap melebihi Tuhan dan Nabi.

 

Manusia Indonesia mampu tertawa dalam kesengsaraan. Bisa hidup stabil dalam ketidakjelasan nilai. Terserah mana yang baik atau buruk: Era Reformasi, Orba, atau Orla. Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, atau Mega. Baik-buruk tidak terlalu penting. Benar-salah itu tidak primer. Setan bisa dimalaikatkan dan malaikat pun bisa disetankan kalau menguntungkan. Jangan tanya masa depan kepada mereka.

 

Maka, bawah sadar mereka tergerak memimpikan masa silam. Mereka memilih Jokowi, tidak peduli soal mobil esemka. Ahok biar saja katanya begini-begitu, siapa tahu dia keturunan Panglima Cheng Hoo yang lebih hebat dari Marco Polo.

 

Bangsa Indonesia mampu membikin ”siapa tahu” dan ”kalau-kalau” menjadi makanan yang mengenyangkan perut dan menenangkan hati.

 

Jokowi lho, bukan Joko Widodo. Kalau Joko Widodo assosiasinya ke Ketua Karang Taruna atau penganut kebatinan. Akan tetapi, tambahan ’wi’ telah menyekunderkan ’Joko’. ’Wi’ itu suku kata paling kuat bagi telinga bangsa Indonesia untuk menuansakan masa silam.

 

Sudah sangat lama hati rahasia bangsa Indonesia mengeluh kepada leluhurnya, sampai-sampai mereka membayangkan saat ini sedang berlangsung rekonsiliasi leluhur: dari Rakai Pikatan, Ajisaka, Bung Karno, Sunan Kalijaga, Gadjah Mada, hingga Gus Dur. Semua menangisi anak cucu yang galau berkepanjangan.

 

”Jokowi” itu nama yang mengandung harapan. Bangsa Indonesia sudah sangat berpengalaman untuk tidak berharap pada kenyataan karena mau berharap pada sesama manusia terbukti puluhan kali kecele. Mau bersandar pada Tuhan rasanya kurang begitu kenal.

 

Fauzi Bowo dirugikan oleh penampilannya yang bergelimang teknokrasi dan industri politik. Sosoknya, wajahnya, gayanya adalah prototipe birokrat yang menguras energi. Namanya pun kontra-produktif. Fauzi itu nama Islam lusinan, di tengah situasi global di mana Islam ”harus jelek” bahkan ”miskin, bodoh, dan pemarah”. Ditambah Bowo pula. Kalau ”Prabowo” masih lumayan, punya arti kewibawaan. Bowo itu tipikal umum ”wong Jowo”.

 

Begitu jadi orang Jakarta, Anda tidak lagi tinggal di Pulau Jawa sehingga setiap tahun harus ”mudik ke Jawa”.

 

Jawa adalah entitas masa silam yang sudah jauh kita tinggalkan. Logat Jawa di siaran teve menjadi simbol kerendahan kasta budaya, dijadikan bahan ketawaan, diucapkan buruh atau pembantu.

 

Bukan kendali manusia

 

Pasti tidak ada maksud tim sukses Jokowi untuk berpikir demikian dan menyingkat Joko Widodo menjadi Jokowi. Sejarah umat manusia pun tidak 100 persen dikendalikan manusia. Ada yang lain yang bekerja, malah mungkin lebih bekerja.

 

Waktu pun tidak linier, meskipun kita menitinya melalui garis linier. Proses-proses sejarah berlangsung dengan multisiklus dan lipatan-lipatan tak terduga yang sulit dirumuskan pengetahuan manusia sampai hari ini.

 

Maka, baik-buruknya gubernur terpilih Jakarta, siapa pun dia, terlalu relatif untuk diidentifikasi dan dirumuskan melalui beberapa gumpal ilmu politik, demokrasi dan pembangunan. Sejarah umat manusia tidak semester dua meter, tidak semata-mata selesai dihitung per lima tahun: sesungguhnya kita tidak mengerti apakah yang baik dan benar itu Foke atau Jokowi.

 

Kita jalani hidup dengan sikap kristal: kerjakan yang baik di mana pun dengan apa atau siapa pun. Dipacu dengan rasa syukur dan sangka baik terhadap hari esok sehingga yang kemarin masih kita sangka, hari ini menjadi doa, besok menjelma fakta.

 

Bahkan, apa jadinya manusia kalau tak ada iblis. Bagaimana anak-anak kita naik kelas kalau tidak ada ujian. Apa jadinya kita semua kalau Allah tidak mengambil keputusan mentransformasikan Syekh Kanzul Jannah (bendaharawan surga), senior para makhluk rohani yang sangat dekat dengan-Nya, menjadi Iblis? Yang dikontrak Allah sampai hari kiamat, yang menolak bersujud kepada Adam, yang bahkan para malaikat pun memberi legitimasi ”Ya, Allah untuk apa Engkau ciptakan manusia yang toh kerjaannya adalah merusak Bumi dan menumpahkan darah.”

 

Mencari asal

 

Orang memilih Jokowi mungkin setahap perjalanan di alur ”sangkan paran”, bawah sadar mencari asal muasal, kerinduan kepada diri sejatinya. Di mana mereka menemukannya pada Jokowi. Ya, namanya, ya, sosoknya. Jokowi kurus seperti rakyat, kalah ganteng dari Foke. Mungkin rakyat sadar dulu salah pilih SBY karena gagah-ganteng.

 

Tidak penting, apakah Jokowi benar-benar mengindikasikan asal-usul itu atau tidak, bahkan Jokowi juga tidak akan dituntut-tuntut amat, apakah dia nanti mampu menjadi pemimpin yang baik atau tidak. Manusia Indonesia di Jakarta tidak sadar sedang mencari dirinya, bukan mencari Jokowi.

 

Jokowi beruntung karena mereka menyangka ia yang dicari. Namun, Jokowi punya peluang untuk membuktikan bahwa memang dia yang dicari.

 

Bagi orang Jakarta yang Sunda, diam-diam menemukan sosok manusia Sunda Wiwitan pada Jokowi. Bagi orang Jakarta yang Jawa dan darahnya mengandung virus wayang, Jokowi seperti Petruk, anaknya Kiai Semar, Sang Prabu Smarabhumi, perintis babat alas Jawa.

 

Allah menciptakan Adam dengan menyatakan, ”Sesungguhnya Aku menciptakan khalifah di Bumi”. Manusia dan bangsa Indonesia mengakui mereka gagal mengkhalifahi kehidupan. Maka, mereka rindu, seakan-akan ingin mengulang dari awal, dengan sosok dan kepribadian yang mereka pikir sebagaimana di awal dulu.

 

Secara rahasia bangsa Indonesia berpikir bahwa ”bukan ini Indonesia”. Maka bawah sadar mereka terbimbing untuk Nasionalisasi Indonesia.

 

Emha Ainun Nadjib Budayawan

 

Sumber:

(Ensiklope​di of the Day) Surau


Surau

 


 

Kata Surau, konon berasal dari kata bahasa Arab sugra, yang berarti kecil. Karena pengaruh dialek, berubah dengan bunyi “surau”, yang berarti bangunan lebih kecil dari mesjid, didirikan sebagai bangunan pelengkap rumah gadang.


Di Minangkabau, Surau pada dasarnya adalah tempat para bujangan laki-laki untuk bertemu, berkumpul, rapat dan tidur. Dengan masuknya Islam, fungsi surau diperluas, yakni menjadi tempat mengaji Al-Quran dan tempat shalat seperti halnya mushala.


Surau dalam skala yang lebih besar, kemudian identik dengan sebuah lembaga pendidikan keislaman bagi para santri atau yang dikenal dengan urang siak. Kiai atau guru yang mengelola sebuah surau disebut “tuanku” (terjemahan dari sebuah kata bahasa Arab, sayyidi). Kalau mengasuh sebuah surau besar, maka sang kiai disebut “tuanku syekh”. Sistem pengajaran yang dipakai adalah seperti model pesantren pada umumnya, yakni model salafi, dengan metode halaqah, talaqqi (sorogan) dan sama’i (bandongan).


Surau pertama yang dikenal adalah Surau Ulakan, Pariaman, yang didirikan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1691) yang pernah belajar ke ulama-ulama terkenal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkel dan Syekh Abdullah Arif.


Seabad kemudian, ketika kembali dari Mekkah ke Tanah Minang, Syekh Abdurrahman (1777-1899) mendirikan Surau Batu Hampar, Payakumbuh, pada 1840, dengan jumlah urang siak mencapai ribuan.

 

Setelah itu muncul surau-surau besar lainnya yang terkenal di Minangkabau, seperti Surau Parabek, Surau Silungkang, dan seterusnya.


Selain mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (biasanya ilmu-ilmu tata bahasa Arab, fiqih, tafsir hingga manthiq), surau-surau ini juga mengajarkan tarekat. Kalau Surau Ulakan dikenal sebagai pusat tarekat Syatariyah, maka Surau Batu Hampar lebih dikenal dengan praktek ilmu suluknya, semacam olah kebatinan sufistik.


Surau biasanya dibangun dekat dengan sumber-sumber air. Karena itu di sekitar surau sering muncul permukiman baru, kegiatan dagang dan pasar baru, dan juga peradaban baru. Keberadaan surau-surau tidak lepas dari posisi kedekatannya dengan jaringan keulamaan, jaringan tarekat, hingga jaringan pasar dan perdagangan antar kota-desa-pesisir di Sumatera. Adat pun dirangkul dan dibuat berorientasi ke Mazhab Syafi’i.


Surau Ulakan merupakan surau pertama yang berada dalam sirkuit gerakan keilmuan yang menghubungkan pesisir Sumatera Barat dan pesisir Aceh. Relasi ini menjadi pusat pengembangan Islam dengan adat sebagai mitranya, sehingga terjadi perpaduan serasi antara keduanya. Dalam relasi ini selain ada usaha ekstensifikasi, yakni perluasan penyiaran Islam di tengah masyarakat adat, juga ada upaya intensifikasi, yaitu pendalaman berbagai jenis pengetahuan dan ilmu-ilmu keislaman dalam surau, sehingga keislaman masyarakat benar-benar mendalam, sesuai dengan ajaran kitab dan para ulama salaf.


Selain itu, jaringan ke pedalaman, sejak abad 18, dilakukan oleh surau-surau yang menekuni gerakan tarekat. Ada tiga tarekat besar di masa itu: Naqsyabandiyah, Syathariyah dan Qadiriyah. Kehadiran Surau Batuhampar di pedalaman Minangkabau dimungkinkan berkat jaringan surau-surau tarekat ini.


Selain itu, jaringan surau juga menghubungkan diri dengan jaringan pasar dan ekonomi strategis di Minang, seperti jaringan desa-desa pertanian subur dan makmur, jaringan desa-desa pertambangan yang kaya, dan juga jaringan desa-desa yang terletak di persimpangan rute-rute dagang.


Surau Ulakan misalnya menjadi penggerak jaringan tarekat Syathariyah di jaringan desa-desa dagang dari Padang Panjang, Kota Lawas, hingga ke jaringan persawahan kaya di Agam selatan, terutama di Kota Tua.


Sementara surau-surau yang mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah muncul di sekitar jaringan tambang emas Talawi di Tanah Datar. Demikian pula Surau Silungkang muncul di jaringan desa-desa pertambangan batu bara yang kaya.


Jaringan surau-surau tarekat ini kemudian membawa warna baru ke dalam peta geografis penguasaan ilmu-ilmu keagamaan sejak abad 18.


Jaringan Surau Ulakan dengan tarekat Sythariyah-nya sangat kuat mendalami ilmu-ilmu fiqih. Kitab Minhajuth Thalibin karya Imam Nawawi, Kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami, hingga karya-karya fiqih Syekh Abdurrauf Singkel, adalah bacaan-bacaan favorit urang siak di surau ini.


Surau-surau di Kamang lebih fokus pada ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, shataf dan qawa’id lughah (seluk beluk tata bahasa dan leksikografi Arab). Di Kota Gadang surau-suraunya terkenal dengan penguasaan ilmu manthiq dan ilmu ma’ani, berkat Tuanku di Tanah Rao yang baru pulang dari Mekkah dan menurunkannya kepada Tuanku Nan Katjik. Surau-surau di Kota Tua terkenal dengan ilmu tafsirnya.


Setelah kehadiran Tuanku Nan Tua, seorang ulama kharismatik dan juga dikenal sebagai “pelindung para pedagang” di daerah Agam ini perkembangan tradisi keilmuan surau-surau Minangkabau semakin canggih. Berbagai disiplin keilmuan tersebut yang terpisah-pisah antara satu surau dengan surau lainnya, mulai diintegrasikan ke dalam Surau Koto Tuo Empat Angkat, Agam, yang didirikan oleh Tuanku Syekh Nan Tuo.


Di penghujung abad 18, surau ini menjadi terkenal, dan banyak didatangi oleh para santri atau urang siak dari berbagai daerah.


Kemunculan kelompok Padri di Minangkabu pada abad 19 menghambat laju perkembangan surau-surau, dan berjalan bersamaan dengan masuknya penjajahan Belanda di daerah pedalaman. Kompeni berkepetingan menguasai sumber-sumber ekonomi strategis Minangkabu.


Keributan yang ditimbulkan oleh Kaum Paderi dengan kaum adat dan komunitas surau memunculkan masalah keamanan internal, terutama keamanan bisnis-bisnis kolonial. Maka ada alasan untuk menindak Kaum Paderi dan menjinakkan kaum adat dan komunitas surau untuk melepaskan aset-aset strategis ekonomi mereka.


Perang Paderi dan ekspansi kolonialisme akhirnya memotong jaringan keulamaan, dagang dan pusat-pusat ekonomi strategis yang selama ini dinikmati oleh komunitas surau. Jaringan keulamaan dan tarekat dicerai-beraikan oleh kelompok puritan Paderi dan oleh pelanjutnya, kelompok Wahabi-reformis.


Sementara jaringan dagang dan ekonomi strategis diambil-alih oleh Kompeni, dan keuntungannya dibawa ke negeri Belanda.


Perlawanan terhadap kelompok puritan dan pemerintah kolonial sejak awal abad 20 pun terpencar-pencar, meski tetap digerakkan oleh komunitas surau dan tarekat. Seperti dalam Pemberontakan Kamang tahun 1908. Komunitas surau mulai mengajarkan kemandirian dengan bertani, dan meminta tanah-tanah penduduk untuk tidak dijual atau disewakan kepada orang-orang berkulit putih.


Dalam perkembangan berikutnya, surau-surau mempertahankan dirinya untuk bisa eksis dengan memasukkan sistem madrasah, dengan kurikulum yang lebih modern, mengikuti model ideal sekolah Sumatera Thawalib.


Penyatuan antara sistem salafi dan sistem madrasah ini lalu melahirkan sejumlah surau model baru dan tetap eksis hingga sekarang. Seperti Surau Candung Bukittinggi yang didirikan oleh Syekh Haji Sulaiman ar-Rasuli (pendiri Perti), Surau Parabek Bukittinggi yang didirikan oleh Syekh Haji Ibrahim Musa, dan Surau Jaho Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh Haji Jamil Jaho yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah.


Gerakan modernisasi dan pembaruan Islam yang dilancarkan sejak masa Paderi hingga kemunculan Kaum Muda di tahun 1920-an, ternyata tidak membawa orang-orang Minang untuk menguasai kembali sumber-sumber dan jaringan ekonomi strategis mereka. Mereka lebih suka merantau, dan meninggalkan surau bergumul dengan perkembangan zaman. []

 

(Ahmad Baso)

(Ngaji of the Day) Wisata Religi, Alternatif Dakwah Modern


Wisata Religi, Alternatif Dakwah Modern

Oleh: Mokhamad Abdul Aziz


Wisata realigi merupakan salah satu fenomena masyarakat Indonesia yang sangat memasyarakat dari zaman ke zaman. Di beberapa kelompok masyarakat, wisata realigi ini sering menjadi kegiatan rutin, ada yang mingguan, bulanan, tahunan dan sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pengisi atau refreshing dari rutinitas pengajian-pengajian yang mereka ikuti.


Sekarang ini, sebagian masyarakat Indonesia bisa dikatakan masyarakat yang modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang cenderung sekuler. Interaksi antara anggota masyarakat tidak lagi berdasarkan prisip tradisi atau persaudaraan, tetapi pada prinsip fungsional pragmatisme. Masyarakat merasa bebas dan lepas dari kontrol agama, pandangan dunia metafisis, ciri-ciri yang lain adalah penghilangan nilai-nilai sakral dalam masyarakat terhadap dunia dan meletakkan hidup manusia dalam konteks kenyataan sejarah.


Seharusnya masyarakat modern idealnya terbentuk oleh sebuah proses yang bersifat evolusi (perubahan lambat) bukan revolusi (perubahan cepat), yaitu berkembang secara perlahan-lahan namun pasti (slow but sure), dari tahapan yang sangat sederhana ke arah yang lebih baik dengan proses sosiologis yang diikuti oleh nilai-nilai ajaran Islam. Namun sekarang, harapan semacam ini hanya tinggal harapan saja. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, masuk ke dalam dunia modern dengan lompatan yang cukup jauh.


Ada empat tahapan masyarakat, jika dilihat dari perkembangan peradabannya, yaitu masyarakat agraris, masyarakat pra-industial, masyarakat industrial, dan masyarakat era informasi sekarang ini. Lompatan cukup jauh yang dilakukan Indonesia, yaitu yang mulanya masyarakat agraris menuju ke masyarakat era informasi yang pragmatis. Sedangkan masyarakat era informasi itu sendiri didominasi oleh peralatan elektronik, sehingga era ini bisa juga disebut sebagai era elektonika. Demikian juga dengan pandangan manusia tehadap agama juga berubah.


Munculnya era informasi adalah sebagai sebuah periode baru, tetapi juga bisa masuk ke dalam masyarakat industrial. Kemunculan teknologi baru dibidang komunikasi sering kali menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap masyarakat. Misalnya saja, saat pertama kali dperkenalkan “radio bergambar” yang sekarang ini dikenal dengan nama “televisi” kepada dunia pada tahun 1939 di World’s Fair, New York, teknologi tersebut menimbulkan decak kagum penduduk dunia, tetapi sekaligus menimbulkan kekhawatiran.


Kini, lebih dari setengah abad kemudian, bermacam-macam teknologi di bidang komunikasi dan informasi telah dikembangkan dan dipasarkan. Perkembangan dan pemasaran itu contohnya adalah adanya alat komunikasi yang semakin canggih, seperti handphone dan komputer yang semakin hari semakin banyak inovasi dan variasi berbagai merk. Alat-alat itu tecipta dengan dipadukannya teknologi tulisan atau teks, gambar, suara, dan animasi dalam satu kesatuan yang telah dikomputerisasi, atau juga disebut hypermedia. Perubahan teknologi di Indonesia ini terkesan cepat dan banyak mempengaruhi masyarakat.


Revolusi teknologi mendorong terjadinya perubahan dalam tata kehidupan manusia, baik dalam lingkup sempit, yang meliputi keluarga dan lingkungan sekitar, maupun dalam konteks yang lebih luas, yang menyangkut interaksi antar manusia, lembaga, organisasi, bahkan antar bangsa. Sehingga, teknologi komunikasi telah merubah gaya hidup serta cara pandang manusia pada abad ini. Perubahan itu termasuk dalam perubahan tata cara bekerja, bergaul, bermain, belajar, berjuang, berbelanja, berdakwah, dan juga tata cara berkomunikasi. Inilah jalan Indonesia menuju dunia modern saat ini. Modernisasi yang sebegitu cepat akan membentuk peradaban modern dengan revolusi teknologi informasi.


Padahal lompatan yang sedemikian cepat ini akan berakibat fatal bagi masyarakat, jika masyarakat tidak memiliki kesiapan. Dan pada kenyataannya, diakui atau tidak, bangsa Indonesia masuk dalam perangkat besar lompatan tersebut. Padahal, secara psikologis sebenarnya Indonesia belum siap menerima modernisasi dalam skala cepat (revolusioner). Mengapa? melihat realitas yang ada saat ini, jika dilihat dari aspek ekonomi misalnya, peredaran ekonomi perusahaan selama ini hanya beredar di wilayah kota saja, itu pun hanya di kota-kota besar. Sehingga tujuan pembangunan Indonesia dalam waktu yang cukup lama hanya akan mengena pada masyarakat kota saja. Bagaiamana dengan masyarakat desa yang jumlahnya juga tidak sedikit. Padahal perbandingan antara kota dan desa adalah 20:80.


Namun, jika dilihat dari sisi kesejahteraannya, maka perbandingan itu malah terbalik. Jadi, masyarakat Indonesia yang secara umum siap masuk ke dalam dunia modern hanya berkisar 20%, sementara yang 80% harus dipaksakan untuk memasuki modernisasi, padahal secara mental dan fisik mereka belum siap. Mereka yang dipaksakan menyikapi modernisasi akan menggunakan presepsi akal pada masa agraris. Padahal, modernisasi meskipun dilakukan oleh mereka yang siap secara mental saja, harus berjuang ekstra menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Lalu bagaimana dengan mereka yang belum siap? Dapat dibayangkan bagaimana masyarakat yang masih tertinggal harus hidup dalam alam modernisasi, pastinya akan kedodoran.


John Naisbit mengungkapkan bahwa masyarakat modern dalam konteks dakwah juga mengkhawatirkan, ia mengatakan “spiritualitas, ya. Agama yang diorganisir, Tidak”. Artinya, ada kecenderungan terhadap spiritualitas dalam masyarakat modern, tetapi spiritualitas itu dalam anggapannya tidak selalu mendasar pada agama-agama yang formal. Masyarakat bisa mencari spiritualitas tersebut dalam berbagai elemen seperti animisme, dinamisme, kesenian, budaya, tradisi, dan lain sebagainya. Sehingga, kepercayaan terhadap agama, lama-kelamaan akan menipis dan hilang pada masyarakat modern. Untuk melepaskan diri dari keadaan tersebut, sikap harus diambil seseorang. Bahkan tindakan, dimulai dari tindakan mental yang berupa perenungan mendalam, kemudian diikuti tindakan nyata dalam bentuk perilaku atau perbuatan. Dan salah satu alternatif agar seseorang merenung untuk kemudian melakukan tindakan yang berupa perilaku atau perbuatan tadi adalah dengan cara melakukan wisata realigi.


Wisata realigi memang biasanya rutin dilakukan dan sangat memasyarakat. Namun, jangan sampai wisata realigi hanya dijadikan rekreasi maupun hanya semata-mata berdimensi ekonomis dan berorientasi provit saja bagi para pelaksana jasa wisata. Seharusnya, wisata menjadi media untuk memunculkan kesadaran masyarakat terhadap penghargaan setiap khasanah budaya dan sejarah, yang sesungguhnya terkandung banyak pesan maupun pelajaran berharga yang bisa memberikan kontribusi dalam upaya mewujudkan hidup untuk lebih beradab. Namun, kecenderungan yang muncul dalam dunia wisata saat ini nampaknya kurang memberi ruang bagi munculnya internalisasi kearifan dan nilai yang terkandung dalam objek-objek wisata tersebut.


Kecenderungan dalam dunia wisata dapat dibedakan menjadi dua model. Pertama, model wisata tradisional, yang biasanya lebih menitikberatkan terhadap penghargaan akan berkah dari wisata (tabarrukan) serta kurang memberi ruang bagi pemahaman dan penghayatan terhadap khasanah budaya dan sejarah secara rasional. Kedua, model wisata konvensional, yang biasa dilakukan oleh masyarakat luas yang cenderung hanya mengapresiasi aspek-aspek fisik dan cenderung gelamor tanpa memiliki tujuan yang jelas. Sehingga, kurang berdampak bagi penghayatan spiritual. Sebagai bagian dari aktivitas dakwah, wisata realigi harus mampu menawarkan baik pada objek dan daya tarik wisata agama maupun umum. Sehingga, mampu menggugah kesadaran masyarakat akan kemahakuasaan Allah SWT dan kesadaran beragama. []


* Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, Mantan Aktivis IPNU Kota Rembang

(Do'a of the Day) 21 Dzulhijjah 1433H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahil wallaahu akbar. Allaahumma iimaanan bika wa tashdiiqan bika wa wafaa an bi'ahdika wattibaa'an li sum natika sayyidina shallallaahu 'alaihi wassallam.

 

Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, meluluskan janji kepada-Mu, dan mengikuti sunnah Kanjeng Nabi SAW-Mu.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Keempat.

Senin, 05 November 2012

(Catatan of the Day) Honeycomb, Inspirasi dari Rumah Tawon

Honeycomb paperboard adalah sebuah teknologi packaging terbaru sebagai pengembangan dari corrugated carton box yang sudah lama beredar. Bentuknya yang sekilas mirip dengan sarang rumah tawon, dalam kelahirannya memang banyak terinsporasi olehnya.

Perihal teknologi honeycomb yang belum begitu familiar di indonesia, beberapa hari yang lalu di tempat kami datang beberapa pcs sample honeycomb paperboard yang akan diproses untuk menjadi salah satu sebuah produk. Medium honeycomb, jika belum diproses dan digabung dengan layer nya, bentuknya seperti di bawah ini. Perhatikan sisi sebelah kiri yang masih rapat dan sisi sebelah kanan setelah ditarik sedikit.




jika dilebarkan dengan maksimal, maka medium honeycomb akan tampak terlihat cantik.
 



lantas, medium honeycom tersebut direkatkan dengan kraft paper sebagai layer nya.



dan menjadi sebuah papan kertas yang kekuatannya luar biasa, inspirasi dari rumah tawon.
 



kekuatan nya sungguh jauh di atas corrugated carton box di atas.

MGR: Nabi Muhammad dan Penghinanya


Nabi Muhammad dan Penghinanya

Oleh: Mohamad Guntur Romli


Saat Nabi Muhammad masih di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah, ia dikelilingi lawan-lawannya. Segala macam kekerasan dari yang fisik dan psikis berlipat-lipat diterimanya. Sebuah riwayat yang sering dikutip oleh para khatib untuk menggambarkan ketabahan dan keagungan budi Nabi Muhammad. Setiap Rasul selesai beribadah dari pelataran Ka’bah ia melewati “gang senggol”. Dari lantai atas ada seorang yang senantiasa mengintainya. Setiap Nabi Muhammad melintas ia meludahi dan melemparkan kotoran. Permusuhan orang itu sampai kelewat batas. Suatu hari ia melempar isi perut onta, lambung dan usus yang masih penuh dengan kotoran. Nabi Muhammad jatuh, terengah-engah dan hampir pingsan. Untung saja ada seseorang yang simpati dan menolongnya. Nabi Muhammad tidak membalas kekasaran itu. Hingga pada hari yang lain Nabi Muhammad melewati gang sempit itu tanpa rintangan. Ia heran, seperti menunggu dan mengamati, mencari-cari orang yang memusuhinya. Nabi Muhammad dikabari bahwa orang yang biasa melempar kotoran jatuh sakit. Mendengar kabar itu, Nabi Muhammad tidak menimpalinya dengan “syukurin luu” tapi malah menjenguknya. Didatangi Nabi Muhammad orang itu terharu, minta maaf dan menyatakan keislamannya.


Kisah ini sangat populer. Saya ingat, Muballig kondang di zamannya almarhum KH Zainuddin MZ sering mengutip kisah ini dalam ceramahnya. Dengan gaya Betawi yang khas, seolah-olah peristiwa itu baru saja terjadi dan dekat dengan pendengarnya. Namun sayangnya kisah ini hanya berpengaruh dalam kondisi yang normal. Dalam kondisi yang genting, misalnya ada serangan dan cemohoan kepada Nabi Muhammad, cerita tadi sekan-akan terlupakan.


Ada kisah lain yang tak kalah masyhur. Nabi Muhammad yang menyuapi seorang perempuan Yahudi tunanetra yang tak henti-henti memuntahkan hinaan bahwa Nabi Muhammad adalah orang pendusta. Perempuan itu tak sadar orang yang menyuapinya adalah sosok yang dicemoohnya. Sampai Nabi Muhammad wafat. Abu Bakar yang menggantikan Rasul tak bisa menghindar dari tugas ini. Awalnya Abu Bakar enggan karena perempuan itu masih terus mengolok-olok Nabi Muhammad. Sadar yang menyuapinya bukan orang yang lalu, perempuan itu bertanya, “Siapa kamu? Kamu bukan orang yang biasa menyuapiku.” Abu Bakar menjawab, “Memang bukan, karena orang yang biasa menyuapimu sudah wafat. Dia lah Nabi Muhammad, Rasulullah, orang yang kamu maki-maki. Kini aku yang meneruskan tugasnya.” Perempuan itu terperanjat dan menangis. Meminta maaf dan masuk Islam.


Meskipun dua kisah tadi sangat terkenal dan diceritakan turun-temurun, banyak yang meragukan kesahihannya. Apakah benar-benar terjadi? Apalagi saat ini di tengah kemarahan orang-orang pada cuplikan sebuah film atau kartun yang dituding menghina Rasul—keabsahan dua kisah tadi terus dipertanyakan. Kisah tadi memang tidak bisa dibaca secara harafiyah. Bahkan bisa dipandang agak berlebihan. Namun ada pesan moral yang dikandungnya. Kekasaran tak akan selesai kalau dibalas kekasaran yang serupa. Justru balasan dengan kelembutan dan penuh simpati, kekerasan itu malah takluk dan berpihak pada sosok yang diserangnya. Abu Bakar yang disebut-disebut melanjutkan tugas Rasul dalam kisah anekdotal itu artinya meneruskan keramahan dan keagungan akhlak Nabi Muhammad.


Kalau dua kisah tadi diragukan, saya akan menceritakan kisah Rasul yang diriwayatkan al-Bukhari, seorang perawi hadist yang riwayatnya dinilai paling sahih. Kisah Nabi Muhammad meminta perlindungan kepada Penduduk Thaif. Sepeninggal Abu Thalib paman Rasul, yang juga pelindungnya, kekerasan penduduk Quraisy Mekkah semakin meningkat tajam. Rasul ingin meminta perlindungan dari tiga tokoh Thaif: Abdi Yalel, Khubaib dan Mas'ud dari Bani Amru. Namun sambutan yang diterimanya bukan tangan yang terbuka, justeru makian dan bebatuan yang menghujaninya. Menurut Aisyah, istri Rasul sumber riwayat ini, peritiwa tersebut lebih menyedihkan daripada kekalahan umat Islam pada Perang Uhud (kekalahan terbesar di mana Nabi Muhammad kehilangan pamannya Hamzah yang jenazahnya dimutilasi lawannya).


Nabi Muhammad yang mendatangi mereka dengan baik-baik dan memohon bantuan, diusir secara kasar. Pemuka Thaif mengejek Nabi Muhammad yang mengaku utusan Allah dan menyindirnya bagaimana mungkin seorang utusan Allah dibiarkan tanpa perlindungan-Nya. Tak cukup memaki, di sepanjang jalan yang dilewati Rasul, dua barisan penghinanya melempari batu. Nabi Muhammad luka berdarah-darah dan terpaksa berlindung di sebuah kebun kurma. Di tengah kesedihan itu, Malaikat Jibril menghampiri dan menawarinya agar malaikat penjaga gunung memindahkan dua gunung: Abi Qubais dan Ahmar menghimpit penduduk Thaif. Nabi Muhammad menolak. “Jangan... jangan! Bahkan aku berhadap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun!” Dalam riwayat lain, beliau berdoa allahumma-hdi qawmi fa’innahum la ya’lamun—Ya Allah berilah petunjuk pada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.


Bagi yang tidak percaya ada usulan malaikat tadi—Husain Haykal Penulis Hayât Muhammad tidak mengutip kisah tawaran malaikat tadi—atau ada prediksi Rasul tidak membalas karena kondisinya saat itu masih lemah, rujuk lah periode Nabi Muhammad dan umat Islam yang telah kuat di Madinah. Tak ada informasi Rasul mengirimkan serdadu Islam ke Thaif untuk balas dendam.


Kalau kini (dan mungkin yang akan datang) ada hinaan apakah saya ingin mengajurkan menyikapinya seperti tiga kisah di atas? Sekali lagi saya tak ingin kisah tadi dipahami secara literer, apalagi dengan berharap ada bumbu-bumbu keajaiban, namun juga jangan dilupakan ketika kita dirundung kesedihan dan kemarahan sewaktu sosok yang kita cintai dihinakan. Reaksi yang berlebihan, kalap, kasar, membabi-buta, atau bahkan jatuh korban jiwa semakin membuat umat Islam menderita.


Ketika kita dihina sebagai sosok yang kasar dan barbar kemudian reaksi kita berlebihan dan melakukan kekasaran bukankah kita malah membantu si pencemooh bahwa tuduhannya benar belaka? Cuplikan film yang buruk (sekali lagi baru cuplikannya), berbiaya sangat murah, dan kualitas yang sangat rendah, apakah kita membantu mempromosikannya dengan reaksi yang heboh seperti yang kita saksikan di Libya dan Pakistan?


Mengapa kita tidak seperti deru ombak lautan yang tak terpengaruh dan malah meredam teriakan seseorang di pantai? Mengapa kita seperti tebing batu yang justru menggemakan teriakan dan hinaan itu ke seluruh penjuru mata angin?


Baru cuplikan film sudah menguras energi demo di mana-mana, dan kini akan muncul kembali kartun yang mengejek Nabi. Apakah energi umat akan dihabiskan untuk merespon hinaan dan makian yang berpangkal pada kebodohan.


Saya teringat pada pepatah Arab, tarku-l jawabi ala-l jahili jawabun—tidak merespon pada tindakan orang bodoh sebenarnya adalah respon juga.


Mohamad Guntur Romli, penulis

Sumber: Koran Tempo, Jumat 12 Oktober 2012

(Buku of the Day) Ilmu Falak Praktis (Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahnya)


Solusi Mudah Belajar Ilmu Falak !

 


 

Judul                : Ilmu Falak Praktis (Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahnya)

Penulis             : Ahmad Izzuddin

Penerbit            : Pustaka Rizki Putra

Cetakan            : Pertama, Agustus 2012

Tebal                : 291 halaman

ISBN                 : 978-979-9430-77-9

Harga               : Rp. 40.000,-

Peresensi          : Dito Alif Pratama


Kemanakah kiblat shalat kita, Kapankah awal waktu Shalat, kapankah awal dan akhir Ramadhan, apakah terjadi perbedan, kapankah kita disunnahkan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari pertanyaan dalam kajian ilmu Falak yang kerap memberi kesan di masyarakat bahwa ilmu Falak itu sulit dan rumit.


Saya rasa, pertanyaan semacam itu bukan lagi persoalan yang harus terus dibincang. Dengan semakin majunya tekhnologi dan banyaknya ilmuwan dan pemerhati Falak, ssudah barang tentu akan makin tambah semakin banyak terobosan, langkah serta solusi mudah mempelajari ilmu falak.


Salah satunya adalah buku ini, sebuah buku mahakarya hasil analisis dan pemikiran Ahmad Izzuddin berjudul Ilmu Falak Praktis: Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahanya, mencoba menepis anggapan ilmu Falak itu sulit dan membingungkan, ia hendak menegaskan kepada masyarakat luas bahwa mempelajari ilmu Falak itu mudah dan harus terus dikembangkan.



Di awal buku ini ia coba paparkan sekilas tentang pengertian ilmu Falak, dalam pandanganya ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit, khususnya bumi, bulan, dan matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi. Sejatinya ilmu Falak merupakan ilmu penting yang juga harus dikuasai demi memenuhi hajat hidup manusia modern saat ini, khususnya masyarakat Muslim untuk memenuhi hajat ibadah mereka, mulai dari persoalan menghadap arah kiblat, menentukan waktu shalat, awal bulan Qomariyah hingga penentuan awal dan akhir gerhana bulan dan matahari.


Dalam hal menentukan arah kiblat misalnya, ia coba tawarkan cara mudah menentukan arah kiblat secara praktis dan tanpa mengeluarkan banyak biaya, yaitu metodeTongkat istiwa.dengan metode ini, kita cukup dengan hanya meletakkan sebuah tongkat di tanah yang bidang dan terkena sinar matahari, dalam kurun waktu tertentu kita akan bisa menentukan arah kiblat dengan sangat mudah. Tongkat Istiwa pun dapat dikatakan cara yang lebih teliti daripada sebelumnya. Hal ini dikarenakan cara ini menggunakan alam sebagai media untuk menentukan koordinat geografis. (Hlm. 32)


Dalam buku ini, Izzuddin juga coba paparkan beberapa software dan progam penunjang kemudahan belajar dan memahami ilmu Falak, seperti software mudah menetukan arah kiblat dan langkah-langkah menggunakanya, antara lain, Qibla Locator, Google Earth, Mawaqiit, Al-Miiqat, dan sebagainya (Hlm. 74)


Izzuddin yang juga merupakan Doktor ilmu Falak pertama di IAIN Walisongo Semarang hendak menyapa masyarakat luas untuk mau mempelajari ilmu Falak bersama-sama, terlebih agar masyarakat bisa mempunyai pondasi dan ilmu falak yang nantinya menunjang kepribadian mereka untuk semakin bijak ketika dihadapkan dengan persoalan sosial yang terjadi, khususnya dalam menyikapi perbedaan penentuan awal bulan Qomariyah.

Dalam buku ini, Izzuddin coba menawarkan sebuah solusi ampuh guna menyamakan persepsi tersebut. Solusi yang hendak disampaikan adalah bagaimana mengkompomikan dua mazhab besar yang metode nya berbeda, yaitu hisab dan rukyah, dengan kata lain menghisabkan rukyah dan merukyahkan hisab.


Dalam pandanganya, dua metode yakni hisab dan rukyah merupakan dua metode yang saling melengkapi. Metode hisab sebagai prediksi sebelumnya masih berstatus hipotesis verifikatif yang masih memerlukan observasi (rukyah) sehingga kontinyuitas rukyat dengan dibuktikan dengan hasil hisab harus selalu dilakukan setiap akhir bulam Qomariyah sehingga tidak terbatas rukyat pada akhir bulan Sya’ban, akhir bulan Ramadhan, dan akhir bulan Dzulqo’dah. Pada akhirnya, standarisasi ketinggian hilal (irtifa’ul hilal) dapat dihasilkan sebagai hasil kompromi metode hisab dan rukyah secara empiris ilmiah. (Hlm.145)


Semuanya akan bisa terealisasikan manakala didukung dengan sikap lapang dada tiap-tiap ormas, tidak mengedepankan ego golongan dan yang terepenting adalah mau bersatu menyatukan persepsi demi sebuah kebersamaan.


Ditulis dengan gaya tulisan bahasa yang renyah dan mudah dicerna, Buku ini hendak memberikan pencerahan bagi masyarakat, tidak hanya kaum akademisi tetapi juga masyarakat awam akan solusi mudah mempelajari ilmu Falak. Buku ini layak dibaca oleh masyarakat, terlebih mereka yang ingin mendalami ilmu falak, Agar kedepanya ilmu falak bisa terus dikembang dan dilestarikan.


* Pemerhati Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang