Tampilkan postingan dengan label Gus Mus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Mus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Gus Mus: Selamat Datang, Ramadan


Selamat Datang, Ramadan
Oleh: A. Mustofa Bisri

RAMADAN kali ini datang dalam suasana dan situasi yang lain. Ramadan-Ramadan kemarin datang dan pergi seperti tidak meninggalkan bekas. Seperti hal-hal rutin lain yang datang: kita sambut seperlunya, kita rayakan, dan kemudian sudah.

Yang kita katakan ’’Ramadan Suci’’, kesuciannya tak (banyak) mempengaruhi pribadi kita, setelah pergi. Pribadi kita rata-rata tak terlalu berbeda dengan sebelum kedatangannya.

Memang, suasana kehidupan kita pada saat Ramadan kentara sekali berubah. Tapi perubahan-perubahan rutin juga yang setiap tahun begitu-begitu saja.

Jadwal makan yang biasanya di siang, menjadi malam hari dengan menu yang agak istimewa. Kebersamaan kita tetap kebersamaan yang lebih bersifat seremonial. Tarawih, tadarus, dan buka bersama.

Ini pun harus bersaing dengan tontonan televisi yang disiapkan secara spesial. Menyambut Bulan Suci dengan tayangan-tayangan semalam suntuk; untuk mengawani dan menghibur mereka yang di siang hari berjuang melawan lapar dan haus.

Pendek kata, keistimewaan Ramadan kemarin-kemarin justru lebih terlihat dari ’’kemeriahan’’-nya. Perbedaan lain –dibandingkan dengan kesibukan sehari-hari sebelum Ramadan– ialah: jatah kebersamaan kita dengan keluarga relatif agak lebih banyak.

Ramadan demi Ramadan, yang selalu kita sebut sebagai bulan suci, kemarin datang, umumnya tidak sampai kita cermati sebagai Saat anugerah Ilahi bagi penyucian diri, khususnya penyucian batin. Sebelas bulan, kebanyakan kita boleh dikata tidak pernah istirahat, sibuk dengan dunia kita dan sering kali kesibukan itu tidak sempat terpikirkan manfaat-mudaratnya.

Sebelas bulan, kebanyakan kita nyaris tidak pernah dengan sengaja bersendiri dengan diri sendiri dan Allah untuk sekadar merenungkan apa yang sudah kita lakukan –sebagai hamba mukmin– selama 11 bulan kehidupan kita bagi kepentingan kita pribadi, terutama di alam keabadian kelak.

Jangankan dengan diri dan Tuhan kita, dengan keluarga kita sendiri, banyak di antara kita yang berjarak. Dunia dan duniawi benar-benar telah menyihir kita sedemikian rupa, sehingga kita tak mampu lagi membedakan antara mana yang muhim (penting) dan yang tidak; apa pula antara yang muhim dan yang aham (yang lebih penting) bagi kepentingan hakiki kita.

Untunglah, Allah begitu baik dan sayang kepada kita. Alih-alih Dia murka karena kita tak juga mengindahkan ’’pelajaran’’ atau isyarat-Nya berulang-ulang untuk ’’membuat jarak’’ dengan dunia yang menipu, Dia justru menolong kita dengan cara yang unik. Menolong dan sekaligus memberi pelajaran yang dahsyat kepada kita.

Kalau selama ini kita –yang sebenarnya diangkat menjadi khalifah-Nya, menjadi penguasa dunia– justru seperti takluk dan tunduk di bawah kekuasaan dunia, maka melalui makhluk-Nya yang mahalembut, Dia paksa dunia seisinya –termasuk kita yang sok akbar– untuk berhenti berputar.

Kita sendiri dipaksa membuat jarak dengan sesama makhluk, untuk dapat menyendiri dengan Sang Khalik. Sesuatu yang mungkin luput dari pemahaman kita setiap kali datang Ramadan selama ini; satu dan lain hal karena kita terlalu fokus pada menahan lapar-haus dan pahalanya saja.

Kini Ramadan datang dalam kondisi yang sangat membantu kita untuk sepenuhnya menghayati kesuciannya. Bukan hanya menahan lapar di siang hari dan kemudian kembali ’’ingar-bingar’’ di malam hari. Dalam kesenyapan dan kesendirian, kesyahduan ibadah kita menjadi semakin terpusat.

Dengan perhatian kita yang semakin sungguh terhadap kesucian raga, kita menjadi teringat kepada pentingnya kesucian jiwa pula. Dengan ’’istirahat’’-nya dunia dan kendurnya godaan segala yang bersifat duniawi, kita bisa lebih kondusif dan khusyuk menyendiri dengan diri kita dan Tuhan kita. Dan kita bisa lebih fokus kepada bagian kehidupan kita yang lebih hakiki dan abadi. Masa depan kita yang sesungguhnya. Akhirat.

Selamat datang, Ramadan. Semoga kedatanganmu kali ini lebih memberi manfaat dan keberkahan kepada kita. Semoga kali ini kita –hamba-hamba yang daif ini– dapat lebih mendahulukan hak Allah dan kewajiban kita daripada hanya mengedepankan kepentingan kita sendiri. Semoga. []

JAWA POS, 23 April 2020
A. Mustofa Bisri | Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang

Jumat, 16 Agustus 2019

Gus Mus: Memperingati 7 Hari Mbah Moen: Kiai Bangsa yang Mencintai dan Dicintai


Memperingati 7 Hari Mbah Moen: Kiai Bangsa yang Mencintai dan Dicintai
Oleh: A Mustofa Bisri

SAYA sedang sarapan di Salatiga bersama anak dan cucu ketika tiba-tiba “petir” itu menyambar. Anak saya, Rabi’ah Bisriyah, yang duduk di depan saya, sambil melihat handphone-nya, istirjaa’ -innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun- dan terbata-bata berkata, “Bah, Mbah Moen kapundut.” Lalu, pecahlah tangisnya. Kami pun berhenti sarapan, sibuk mencari kebenaran berita mengejutkan itu.

Bagi saya sendiri yang sebelumnya sudah merasa khawatir akan ditinggal beliau, berita itu tetap bagaikan petir di siang bolong.

Ya, saya merasa khawatir karena belakangan sesepuh yang saya cintai dan hormati itu setiap bertemu hampir selalu berdoa dan minta didoakan agar husnul khaatimah. Apalagi ketika mendengar cerita saudara sepupuku yang diminta putra-putra Mbah Moen untuk “mencegah” beliau berangkat haji tahun ini. Belum sampai misinya disampaikan, beliau sudah menyergah dengan tegas, “Kowe dikon ngalang-ngalangi aku budal kaji yo (Kamu disuruh mencegah aku berangkat haji, ya)?!”

Mungkin “membaca isyarat” itu juga antara lain, mengapa putra-putra dan keluarga beliau mengikhlaskan beliau dimakamkan di Makkah, di Tanah Suci, sebagaimana beliau idamkan. Jika wafat dan dimakamkan di Tanah Suci memang merupakan keinginan beliau, siapakah di antara santri dan umat beliau yang tidak ikhlas? Sedangkan Allah sendiri ternyata memenuhinya. Di antara kita mungkin ada yang kecewa atau menyesali diri karena tidak bisa hurmat, secara fisik menghormati dan mengantar kepergian junjungan mereka. Tapi, akhirnya mereka itu pun pasti memaklumi dan ikhlas. Bukankah beliau -Allahu yarham- selama ini hampir tak pernah punya keinginan sendiri karena lebih mementingkan untuk memenuhi keinginan mereka, umat yang beliau cintai.

***

Sampai hari ini, setelah wafat dan dikebumikannya Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) di Tanah Suci Makkah pada Selasa, 6 Agustus 2019, ndalem beliau di Sarang, Rembang, masih terus diserbu umat beliau, seperti ketika beliau masih ada. Saya sendiri datang ke Sarang hari ketiga, hari Kamis. Begitu masuk Sarang, jalan pantura sudah macet. Mobil-mobil, terutama truk-truk, memenuhi kanan-kiri jalan, hampir tidak bergerak. Padahal, acara tahlil bersamanya dimulai habis isya. Wah, sampai ndalem acara tahlilnya sudah usai, pikir saya. Tapi alhamdulillah, tiba-tiba ada santri naik motor, menyuruh saya turun saja dari mobil dan bonceng dia. Belakangan saya diberi tahu bahwa itu ide Kapolsek Sarang.

Kompleks Pesantren Al-Anwar dan ndalem kiai sudah penuh sesak dengan jamaah pencinta Mbah Moen dari berbagai daerah. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari luar Jawa. Banyak kiai dan habaib yang juga memerlukan datang bertakziah, disambut putra-putra Mbah Moen yang tidak pergi haji -Gus Ubab, Gus Najih, Gus A. Ghofur, dan Gus Idror- mewakili tuan rumah.

Masuk ndalem dan memeluk satu per satu putra-putra Mbah Moen yang sebenarnya masih kapernah cucu-cucu saya, rasanya diri ini seperti melayang. Biasanya, bila saya sowan Mbah Moen, beliau menyambut dengan wajah beliau yang teduh dan tawa yang renyah. Jabatan tangannya dilanjutkan dengan terus memegangi dan membimbing tangan saya ke “singgasana” beliau, tempat duduk panjang yang biasa beliau duduki saat menemui tamu. Jangan salah sangka. Bukan saya saja yang beliau perlakukan demikian. Hampir semua kenalan yang sering sowan, terutama yang sepuh-sepuh, beliau minta duduk di samping beliau.

Menerima tamu memang salah satu “pekerjaan” kiai yang dituakan. Tapi, untuk Mbah Moen sepertinya tidak sekadar “pekerjaan” sambilan. Kelihatannya bagi beliau, menerima tamu, siapa pun, adalah tugas kewajiban. Melihat aktivitas mengajar beliau di pesantren, dakwah beliau di berbagai daerah, kegiatan beliau yang bersifat kenegaraan, dan frekuensi beliau menerima tamu, orang mungkin bertanya-tanya kapan dan berapa lama beliau tidur. Tamu-tamu beliau terdiri atas beberapa kalangan dan berbagai etnis, agama, aliran, partai, dan kebangsaan. Mulai tamu-tamu dari luar negeri, presiden, calon presiden, menteri-menteri, pimpinan dan anggota DPR-MPR-DPD, panglima, Kapolri, pejabat-pejabat lain dari berbagai jajaran, pimpinan ormas, pimpinan parpol, hingga rakyat jelata. Semua beliau terima dengan kegembiraan hati dan kecerahan wajah yang sama.

Meskipun umumnya kiai itu berilmu, menurut saya, istilah kiai itu bukanlah terjemahan dari ulama. Kiai ialah istilah budaya. Berasal dari budaya Jawa. Orang Jawa menyebut apa atau siapa yang mereka hormati dengan sebutan kiai.

Kiai Nogososro atau Kiai Sengkelat, misalnya, adalah keris yang dihormati. Nah, orang yang dengan tulus berkhidmah kepada masyarakat, bahkan seluruh hidupnya seperti diwakafkan untuk masyarakat, dipanggil kiai. Orang yang tidak tahu diajari, orang yang memerlukan sesuatu dibantu. Atau seperti ajaran salah satu Wali Sanga, Sunan Drajat, “Menehana teken marang wong kang wuta; menehana mangan wong kang luwe; menehana busana marang wong kang wuda; menehana ngiyup marang wong kang kodanan (Berikanlah tongkat kepada orang yang buta; berilah makan orang yang lapar; berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang; berikanlah naungan kepada orang yang kehujanan).” Mengajar mereka yang masih bodoh; membantu menyejahterakan kehidupan mereka yang miskin; mendidik akhlak mereka yang tidak punya malu; mengayomi dan melindungi mereka yang sengsara.

Contoh kiai pesantren yang segera bisa kita lihat seperti itu ya Mbah Moen. Orang tahu semata kiprah kemasyarakatan Mbah Moen selama hidup beliau. Pertanyaannya, mengapa ada orang yang begitu peduli dan dengan tulus ikhlas -tanpa meminta imbalan- mendarmabaktikan hidupnya, tenaga dan pikirannya, untuk umat dan sesamanya? Jawabnya, menurut hemat saya, pertama, karena orang seperti Mbah Moen ini sangat mencintai umat dan sesamanya. Kedua, contoh dan panutan kiai seperti Mbah Moen ini adalah -siapa lagi kalau bukan- pemimpin agungnya, kanjeng Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita tahu Kanjeng Rasul sangat mencintai dan peduli terhadap umatnya, tidak bisa melihat umatnya menderita (Q 9: 128). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lemah lembut terhadap sesama, memaafkan bila ada yang bersalah kepadanya, memintakan ampun bila ada yang berdosa kepada Tuhannya, dan mengajak mereka bermusyawarah mengenai hal-hal yang menjadi kepentingan bersama. (Q 3: 159). Maka, anehkah bila semua orang yang mengenal Mbah Moen sangat mencintai beliau?

Di samping itu, kalau umumnya kiai pesantren mencintai tanah airnya, hubbul wathan, Mbah Moen termasuk yang paling menonjol. Bukan hanya karena beliau memang didikan pesantren di mana kiai-kiainya adalah pejuang, tapi lebih dari itu, beliau sendiri sejak muda -tanpa banyak yang mengetahui- adalah pejuang di antara pejuang-pejuang kemerdekaan. Maka, tidak seperti umumnya tokoh-tokoh lain, meskipun Mbah Moen sampai wafatnya menyandang jabatan tertinggi partai, Partai Persatuan Pembangunan (ketua majelis syariah), dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (mustasyar), beliau tidak pernah menempatkan partai dan jam’iyah yang ikut beliau pimpin sebagai yang paling utama, apalagi sebagai tujuan akhir.

Kalau tidak salah, saya sempat memperhatikan hiasan dinding yang dipasang di ndalem. Di atas sendiri terpasang kaligrafi “Allah” dan “Muhammad”; di bawahnya simbol Garuda Pancasila; di bawahnya tanda gambar NU; dan di bawahnya lagi gambar Kakbah PPP. Bahkan, beliau pernah berpidato di acara khataman Alquran. Beliau antara lain berkata, “Kulo niki mboten kados paklik kulo Mustofa, piyambakipun meniko taksih kapernah paman kulo. Menawi piyambake, nomer setunggal niku NU; menawi kulo mboten. Menawi kulo nomer setunggal nggih Garuda Pancasila (Saya ini tidak seperti paman saya Mustofa, dia itu masih terhitung paman saya. Kalau dia, nomor satu itu NU. Kalau saya tidak. Kalau saya, nomor satu ya Garuda Pancasila).”

Beliaulah yang memopulerkan akronim PBNU: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945. Beliau selalu tampak hadir dalam acara-acara keindonesiaan. Beliau bahkan tidak sungkan melilitkan pita merah-putih di kepala seperti pencinta-pencinta Indonesia yang lain. Maka, anehkah bila semua orang Indonesia yang mencintai negerinya mencintai Mbah Maimoen dan menangisi kepergian beliau?

Mereka semua yang sedikit-banyak pernah mencecap “ilmu kehidupan” dari beliau merasa bangga karena menjadi santri beliau. Maka, tidak berlebihanlah apabila kita menjuluki Mbah Moen sebagai Kiai Bangsa. Semoga santri-santri beliau, terutama putra-putra beliau, dapat meneladani dan meneruskan khidmah dan perjuangan beliau. Nafa’anaallaahu bi’uluumihi wa akhlaaqihi wakifaahih. []

JAWA POS, 12 Agustus 2019
A Mustofa Bisri | Pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang

Senin, 19 Februari 2018

Gus Mus: Ketika Agama Kehilangan Tuhan



Ketika Agama Kehilangan Tuhan
Oleh: A. Mustafa Bisri

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh sebab agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas di antara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diper-Tuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci?

Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama. []

REPUBLIKA, 14 Februari 2018
KH. A. Mustafa Bisri | Pimpinan Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang

Senin, 13 Maret 2017

Gus Mus: Mulut



Mulut

Di mukamu ada sebuah rongga
Ada giginya ada lidahnya
Lewat rongga itu semua bisa
kaumasukkan ke dalam perutmu

Lewat rongga itu semua bisa kautumpahkan
Lewat rongga itu airliurmu bisa
meluncur sendiri

Dari rongga itu
Orang bisa mencium bau apa saja
Dari wangi anggur hingga tai kuda

Dari rongga itu
Mutiara atau sampah bisa masuk bisa keluar
Membuat langit cerah atau terbakar

Dari rongga itu
mataair jernih bisa kaualirkan
Membawa kesejukan kemana-mana

Dari rongga itu
Kau bisa menjulurkan lidah api
Membakar apa saja

Dari rongga itu
Bisa kauperdengarkan merdu burung berkicau
Bisa kauperdengarkan suara bebek meracau

Dari rongga itu
Madu lebah bisa mengucur
Bisa ular bisa menyembur

Dari rongga itu
Laknat bisa kau tembakkan
pujian bisa kau hamburkan

Dari rongga itu
Perang bisa kau canangkan
Perdamaian bisa kau ciptakan

Dari rongga itu
Orang bisa sangat jelas melihat dirimu

Rongga itu milikmu
Terserah
kau.

8 Juli 2009


[]

A Mustofa Bisri | Budayawan, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.