Senin, 03 Februari 2020

(Ngaji of the Day) Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?


Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?

Semua orang Islam sepakat bahwa Nabi adalah manusia mulia, tidak ada keraguan untuk hal ini. Namun yang masih ditemukan kekeliruan adalah tentang bagaimana memahami kemuliaan Nabi secara utuh, utamanya berkaitan dengan kedua orang tua beliau. Karena hidup pada masa pra-risalah Nabi Muhammad, sebagian kalangan beranggapan bahwa ayah dan ibunda Nabi adalah penyembah berhala. Menurut mereka, kedua orang tua Nabi kelak berada di neraka bersama orang-orang yang celaka. Benarkah anggapan tersebut?

Ada beberapa dalil yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi adalah pribadi yang beriman, meyakini agama tauhid yang dibawa nenek moyangnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm.

Di antaranya firman Allah dalam menceritakan doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS Ibrahim: 40)

Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim meminta beliau dan anak cucunya rajin mendirikan shalat. Sebagaimana maklum diketahui bahwa tidak ada yang menjalankan shalat kecuali orang yang beriman.

Doa Nabi Ibrahim tersebut diijabah oleh Allah, menurut riwayat Shahih dari Ibnu al-Mundzir bahwa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat kelompok manusia yang senantiasa menyembah-Nya.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد أخرج ابن المنذر في « تفسيره » بسند صحيح عن ابن جرير في قوله تعالى حكاية عن إبراهيم عليه السلام رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  قال : لا يزال من ذرية إبراهيم عليه السلام ناسٌ على الفطرة يعبدون الله

“Dan Ibnu al-Mundzir meriwayatkan di dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Jarir tentang dalam firman Allah yang menceritakan doanya Nabi Ibrahim, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’, Ibnu Jarir berkata dari keturunan Nabi Ibrahim senantiasa terdapat kelompok manusia yang menetapi kesucian, mereka menyembah Allah.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 6)

Lebih dari itu, al-Imam al-Suyuthi menegaskan bahwa yang paling layak masuk dalam doa Nabi Ibrahim adalah nenek moyang garis keturunan Nabi Muhammad yang diberi keistimewaan membawa “Nur Muhammad” dari satu keturunan menuju keturunan berikutnya.

Salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’i tersebut mengatakan:

فعرف أن كل ما ذكر عن ذرية إبراهيم، فإن أولى الناس به سلسلة الأجداد الشريفة الذين خصوا بالاصطفاء، وانتقل إليهم نور النبوة واحدا بعد واحد، فهم أولى بأن يكونوا هم البعض المشار إليهم في قوله  رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  

“Maka diketahui bahwa apa yang telah dijelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim, yang lebih layak masuk dari golongan mereka adalah silsilah nenek moyang Nabi Muhammad yang suci, mereka yang diberi kekhususan dengan dipilih, cahaya kenabian berpindah dari mereka dari satu orang menuju yang lain. Maka mereka lebih utama untuk masuk dalam sebagian keturunan Nabi Ibrahim yang diisyaratkan dalam firman Allah, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’.”

وأخرج ابن أبي حاتم عن سفيان بن عيينة أنه سئل: هل عبد أحد من ولد إسماعيل الأصنام، قال: لا، ألم تسمع قوله وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ 

“Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sufyan bin Uyaynah bahwa beliau ditanya, apakah salah seorang dari anak turunnya Nabi Isma’il menyembah berhala? Sufyan menjawab, tidak. Bukankah engkau tidak mendengar firman Allah, “Dan jauhkanlah aku dan anaku dari menyembah berhala-berhala?” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 262)

Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’. Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Al-Zukhruf: 26-28).

Ayat ini oleh al-Imam al-Suyuthi dinilai sebagai dalil yang paling jelas akan keimanan nenek moyang Nabi. Selanjutnya di dalam kitab “al-Hawi li al-Fatawi” al-Suyuthi mengutip banyak riwayat tentang interpretasi dari ayat di atas. Dari sekian tafsir tersebut menyimpulkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim senantiasa mengikrarkan kalimat syahadat (beriman).

Berikut ini penjelasan lengkap al-Imam al-Suyuthi:

الأمر الثاني مما ينتصر به لهذا المسلك، آيات وآثار وردت في ذرية إبراهيم وعقبه، الآية الأولى - وهي أصرحها - قوله تعالى وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Perkara yang kedua, di antara yang mendukung argumentasi ini terdapat beberapa ayat dan atsar (perkataan sahabat Nabi) yang menjelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim. Ayat yang pertama dan ini adalah dalil yang paling jelas adalah firman Allah, Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.”

 أخرج عبد بن حميد في تفسيره بسنده عن ابن عباس في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ قال: لا إله إلا الله، باقية في عقب إبراهيم 

“Abd bin Humaid meriwayatkan dalam tafsirnya dengan sanad dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ‘Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya’, Ibnu Abbas berkata, itu adalah kalimat Lâ Ilâha Illa-Llâh, kalimat yang kekal untuk keturunan Nabi Ibrahim.”

وقال عبد بن حميد: حدثنا يونس عن شيبان عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال شهادة أن لا إله إلا الله والتوحيد، لا يزال في ذريته من يقولها من بعده

“Abd bin Humaid berkata, kami mendapat berita dari Yunus dari Syayban dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, kalimat tersebut adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kalimat tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengucapkannya.”

وقال عبد الرزاق في تفسيره عن معمر عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال: الإخلاص والتوحيد، لا يزال في ذريته من يوحد الله ويعبده، أخرجه ابن المنذر 

“Abdur Razzaq berkata dalam tafsirnya, diriwayatkan dari Ma’mar dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, itu adalah kalimat ikhlas dan tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengesakan Allah dan menyembahNya. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 261)

Di samping ayat Al-Qur’an, terdapat beberapa hadits Nabi yang menjadi argumentasi tentang masalah ini.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى بُعِثْتُ مِنَ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ» ـ

“Dari Abu Hurairah beliau berkata, Nabi bersabda, aku diutus dari sebaik-baiknya masa anak Adam, dari satu masa ke masa berikutnya, hingga aku diutus dari masa yang aku berada di dalamnya.” (HR. al-Bukhari).

Imam Muslim dan al-Tirmidzi meriwayatkan hadits shahih berikut ini:

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ» .

“Dari Watsilah bin Asqa’ beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya Allah memilih Isma’il dari anak Ibrahim, dan dari anak Isma’il memilih Bani Kinanah, dan dari Bani Kinanah memilih Quraisy, dan dari Quraisy memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim memilihku.” (HR. Muslim dan al-Tirmidzi).

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab Dalail al-Nubuwwah dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَأَخْرَجَ أبو نعيم فِي " دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ " مِنْ طُرُقٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يَزَلِ اللهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الطَّيِّبَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ مُصَفًّى مُهَذَّبًا، لَا تَنْشَعِبُ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيْرِهِمَا» ـ

"Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, Allah senantiasa memindahku dari tulang rusuk yang suci kepada rahim-rahim yang suci, seraya dijerbihkan dan dibersihkan. Tidaklah bercabang dua cabang (garis keturunan) kecuali aku berada di (keturunan) yang terbaik". (HR Abu Nu'aim)

Dalam hadits yang diriwayatkan dan diberi predikat hadits Hasan oleh al-Tirmidzi disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حِينَ خَلَقَنِي جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِ خَلْقِهِ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْقَبَائِلَ جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِهِمْ قَبِيلَةً، وَحِينَ خَلَقَ الْأَنْفُسَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ أَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْبُيُوتَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ بُيُوتِهِمْ، فَأَنَا خَيْرُهُمْ بَيْتًا وَخَيْرُهُمْ نَفْسًا» ـ

“Dari Ibnu Abbas bin Abdil Muthallib beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya ketika Allah menciptakanku, Ia jadikan aku dari makhluknya yang terbaik, saat Allah menciptakan kabilah-kabilah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya kabilah, ketika Allah menciptakan jiwa-jiwa, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya jiwa, ketika Allah menciptakan rumah-rumah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya rumah mereka. Maka aku adalah sebaik-baiknya mereka, rumah dan jiwanya.” (HR al-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

Beberapa hadits di atas menegaskan bahwa nenek moyang Nabi adalah garis keturunan yang dipilih oleh Allah. Mereka diberi keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Sangat tidak rasional bila kebaikan, kemuliaan, dan keutamaan dianugerahkan oleh Allah untuk rahim dan darah daging yang musyrik.

Syekh Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan:

ومن المعلوم أن الخيرية والاصطفاء والاختيار من الله، والأفضلية عنده لا تكون مع الشرك

“Dan termasuk yang diketahui adalah kebaikan, penyaringan dan pemilihan dari Allah serta keutamaan di sisiNya tidak terjadi besertaan dengan kesyirikan.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وهل يعقل أن يقرَّ الله الرّوح الطّاهر الطيّب بأصلاب المشركين وأرحام المشركات ويجعلها أصله في التّكوين والتّصوير وهو القائل  إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ  والقائل أيضًا الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ 

“Dan apakah bisa dinalar Allah menitipkan ruh yang suci kepada tulang rusuk orang-orang musyrik dan rahimnya wanita-wanita musyrik? Dan Allah jadikan ruh itu dasar dari sebuah perwujudan alam semesta, padahal Allah berfirman, ‘Orang-orang musyrik adalah kotor’, ‘Wanita-wanita yang hina untuk laki-laki yang hina. Laki-laki yang hina untuk perempuan yang hina’.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 11).

Masih banyak lagi hadits yang senada selain yang telah disebutkan di atas, hingga al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa tanda-tanda kesahihan sangat tampak di dalam matan hadits yang menjelaskan kemuliaan nasab Nabi. 

Ibnu Hajar al-Asqalani sebagaimana dikutip al-Suyuthi menegaskan:

قال الحافظ ابن حجر في أماليه لوائح الصحة ظاهرة على صفحات هذا المتن

“Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Amalinya, isyarat-isyarat kesahihan tampat pada lembaran-lembaran matan hadits ini.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Dari banyak hadits Nabi, al-Imam al-Suyuthi menyimpulkan bahwa nenek moyang Nabi sampai Adam dan Hawa disucikan dari kesyirikan dan kekufuran.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

قال السّيوطي اعلم أنّ الأحاديث يصرح أكثرها لفظًا وكلها معنًى أن آباء النبي - صلى الله عليه وسلم - وأمهاته آدم وحواء مطهّرون من دنس الشِّرك والكفر، ليس فيهم كافر؛ لأنه لا يقال في حق الكافر أنّه مختار ولا طاهر ولا مصفًى، بل يقال نجس. قال تعالى إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ.

“Al-Imam al-Suyuthi berkata, ketahuilah sesungguhnya mayoritas redaksi hadits dan keseluruhan maknanya menjelaskan bahwa nenek moyang Nabi hingga Adam dan Hawa disucikan dari kotoran syirik dan kekufuran, tidak ada dari mereka orang kafir, sebab tidak bisa diucapkan untuk orang kafir ia adalah pilihan, suci dan bersih, bahkan diucapkan untuknya kotor. Allah berfirman, orang-orang musyrik adalah kotor.”

فوجب أن لا يكون في أجداده مشرك، فما زال منقولاً من الأصلاب الطّاهرة إلى الأرحام الطّاهرة، وما زال ينتقل نوره من ساجد إلى ساجد.

“Maka wajib di antara nenek moyang Nabi tidak ada satupun orang musyrik. Nabi senantiasa dipindah dari tulang rusuk yang suci menuju Rahim-rahim yang suci. Cahaya Nabi senantiasa berpindah dari orang yang bersujud kepada orang yang bersujud.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 21).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami, anggapan bahwa orang tua Nabi adalah penyembah berhala adalah sebuah kesalahan. Anggapan tersebut tidak hanya keliru, namun sangat fatal dan berbahaya. Sebab sudah mencederai kemuliaan Nabi. Menurut Syekh Ibnu al-Arabi, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi kelak akan masuk neraka. 

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد زلّت قدم بعض الناس فنسب أبويه إلى الشرك. والحذَر الحذَر من ذكرهما بنقص فإنَّ ذلك يؤذيه - صلى الله عليه وسلم - لحديث الطبراني  لا تؤذوا الأحياء بسب الأموات 

“Dan telah terpeleset sebagian manusia. Ia menisbatkan kedua orang tua Nabi kepada kesyirikan. Jauhi dan jauhilah betul menyebutkan kedua orang tua Nabi dengan sifat kurang, sebab hal tersebut dapat menyakiti Nabi, karena haditsnya Imam al-Thabrani, janganlah menyakiti orang hidup dengan mencela orang mati.”

قال القاضي ابن العربي المالكي ولا أذى أعظم له - صلى الله عليه وسلم - من أن يقال أن أبويه في النار. والله سبحانه وتعالى يقول إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ 

“Al-Qadli Ibnu al-‘Arabi al-Maliki berkata, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada menyebut kedua orang tua Nabi berada di neraka. Sedangkan Allah berfirman, sesungguhnya mereka yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 20).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga kita terhindar dari ucapan, keyakinan atau perbuatan yang dapat mencederai derajat keagungan Nabi Muhammad Saw dan nenek moyangnya. []

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat

Nasaruddin Umar: Meluruskan Makna Jihad (15): Mengevaluasi Ego Keumatan Kita


Meluruskan Makna Jihad (15)
Mengevaluasi Ego Keumatan Kita
Oleh: Nasaruddin Umar

Egoisme keumatan perlu sesekali direnungkan kembali. Betulkah kita sudah perfect sebagai ummah sehingga dapat digunakan rujukan untuk menilai orang dan masyarakat lain? Motivasi dan referensi apa yang paling dominan di dalam diri kita untuk melakukan jihad? Jangan sampai kriteria yang kita gunakan untuk menyasar orang lain justru lebih menonjol subjektivitas kita yang berbeda dengan orang atau kelompok yang disasar.

Jangan sampai kita termasuk pihak yang disindir oleh pepatah: Semut mati di seberang laut kelihatan, gajah mati di pelupuk mata tidak kelihatan. Selama namanya manusia, pasti subjektivitasnya pernah mendominasi dirinya. Dalam keadaan seperti ini manusia cenderung bukan hanya meng-aku-kan dirinya sendiri, tapi juga berharap meng-aku-kan orang lain. Dengan kata lain, ia ingin melihat orang lain seperti keakuan dirinya, bukan sesuai dengan esensi universal yang menjadi inti ajaran agama.

Sering kita menjumpai orang menghendaki persepsi atau keakuan dirinya diimplementasikan oleh orang lain di luar dirinya. Ia kecewa bahkan marah kalau keinginan dirinya berjarak dengan kenyataan. Celakanya, terkadang seseorang menggunakan bahasa agama untuk melegitimasi dan menjustifikasi keakuan diri tersebut, sehingga siapapun yang berbeda dengan dirinya maka salah menurut agama. Atas nama "kebenaran" itu, maka seseorang bisa menghalalkan yang haram, termasuk mengalirkan darah saudaranya sendiri.

Kondisi sedemikian di atas bukanlah sesuatu yang ideal dan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang ideal. Kini sudah saatnya kita melakukan interiorisasi ajaran agama. Jika nilai-nilai ajaran agama menjadi bagian yang integral, internal, dan inheren di dalam diri setiap individu, maka akan tercipta universalitas nilai-nilai ajaran agama di dalam lingkungan pacu kehidupan kita. Interiorisasi nilai-nilai luhur ajaran agama ke dalam pribadi akan melahirkan kesadaran kolektif dan universal. Betapa tidak, karena diri kita sudah melihat substansi diri kita sendiri di dalam diri orang lain, bahkan pada seluruh alam raya.

Setiap kali kita melihat orang lain atau apapun yang kita lihat, seolah-olah substansi diri kita juga ada di sana. Seolah-olah kata I, you, dan he/she/hey menjadi tidak relevan lagi. Seolah-olah kata I, you, dan he/she/they larut menjadi we. Tidak lagi ada kamus "orang lain" di luar diri kita. Kamus aku adalah kamus engkau dan kamus mereka juga. Dengan demikian, lingkungan sosial tercipta sebuah keindahan.

Perbedaan yang ada bukan lagi sesuatu yang menyedot energi, tetapi bagaikan ornamen lukisan warna-warni yang menyejukkan hati dan pikiran. Alam ini ini memang adalah sebuah lukisan; lukisan Tuhan (The Painting of God). Siapa yang menentang realitas pluralis berarti tidak takjub melihat lukisan Tuhan. Orang yang demikian boleh jadi itulah yang dicap dengan fi qulubihim maradl (dalam hatinya ada yang tidak beres). Jika hal ini berlanjut maka dikhawatirkan berada dalam posisi khatamallah 'ala qulubihim (Allah mengunci mati hatinya). Na'udzu billah.

Sesungguhnya yang ideal ialah proporsional, yakni interiorisasi yang diiringi dengan eksteriorisasi. Kita harus terlebih dahulu menginternalisasikan nilai-nilai ideal itu pada diri sendiri sebelum menyerukannya kepada orang lain. Nabi Muhammad bukan hanya mengatakan: Ibda' bi nafsik (mulailah pada diri sendiri). Allah juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagaimana terangkum di dalam Al-Quran diawali dengan proses internalisasi nilai-nilai substantif (aqidah) yang turun di Mekah, yang biasa disebut ayat-ayat Makkiyyah, lalu disusul dengan ayat-ayat legal-formalistis untuk kehidupan bermasyarakat di Madinah yang dikenal dengan ayat-ayat Madaniyyah.

Sistematisasi penurunan ayat (at-tanzil) berdasarkan kondisi objektif masyarakat menarik untuk diperhatikan. Sebaiknya kita tidak rancu di dalam memperkenalkan ajaran agama. Ada kaedah-kaedah dan metodologi di dalam menyampaikan ajaran agama, seperti diserukan sendiri dalam Al-Quran: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl/16:125). []

DETIK, 22 Januari 2020
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(Ngaji of the Day) Sikap terhadap Pemimpin Menurut Ajaran Islam


Sikap terhadap Pemimpin Menurut Ajaran Islam

Setelah usai dari perhelatan pesta demokrasi untuk memilih presiden, ada hal-hal yang perlu bahkan wajib kita perhatikan mengenai bagaimana pandangan syariat Islam dan sikap yang harus kita jalani terhadap pemimpin yang terpilih secara sah dan demokratis di negara kita tercinta, Indonesia. Di antaranya adalah:

Kewajiban Menaati Pemimpin dalam Kebajikan

Ketaatan kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat banyak sekali. Dalil di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An Nisa' [4]: 59)

Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah "taatilah" karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tâbi') dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka

Dalil-dalil ketaatan kepada pemimpin meskipun mereka zalim di dalam hadits:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلَ سَلَمَةُ بْنُ يَزِيدَ الْجُعْفِيُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَسْأَلُونَا حَقَّهُمْ وَيَمْنَعُونَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَجَذَبَهُ الْأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ وَقَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

"Abu Hunaidah (wail) bin Hudjur RA berkata: Salamah binti Yazid Al Ju'fi bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah, bagaimana jika terangkat di atas kami kepala-kepala yang hanya pandai menuntut haknya dan menahan hak kami, maka bagaimanakah anda memerintahkan pada kami ? Pada mulanya beliau mengabaikan pertanyaan itu, hingga beliau ditanya yang kedua kalinya atau ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menarik Al Asy'ats bin Qois dan bersabda: Dengarlah dan taatlah kamu sekalian (pada mereka), maka sesungguhnya di atas mereka ada tanggung jawab/kewajiban atas mereka sendiri dan bagimu ada tanggung jawab tersendiri." (HR Muslim)

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: { سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

"Sepeninggalku nanti ada pemimpin-pemimpin yang akan memimpin kalian, pemimpin yang baik akan memimpin dengan kebaikannya dan pemimpin yang fajir akan memimpin kalian dengan kefajirannya. Maka dengarlah dan taatilah mereka pada perkara-perkara yang sesuai dengan kebenaran saja. Apabila mereka berbuat baik maka kebaikannya adalah bagimu dan untuk mereka, jika mereka berbuat buruk maka bagimu (untuk tetap berbuat baik) dan bagi mereka (keburukan mereka)." (HR Bukhari Muslim)

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. (قَالَ حُذَيْفَةُ): كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ

"Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku, tidak menjalani sunnahku, dan akan berada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia." (Hudzaifah berkata), "Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?" Beliau menjawab, "Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil." (HR. Muslim)

Padahal sudah maklum kita ketahui, bahwa menyiksa atau memukul punggung seseorang dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syari'at–tanpa ragu lagi—termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpinnya tersebut, "Saya tidak akan taat kepadamu sampai engkau menaati Rabb-mu." Perkataan semacam ini adalah suatu yang terlarang. Bahkan seseorang wajib menaati mereka (pemimpin) walaupun mereka durhaka kepada Rabb-nya.

Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan menaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah Ta'ala oleh karena itu wajib taat kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

"Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (bukan maksiat)." (HR. Bukhari no. 7257)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

"Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat." (HR. Bukhari no. 7144)

Menghindari Fitnah dan Pertumpahan Darah

Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

"Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim." (HR. Tirmidzi)

Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban.

Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar ma'ruf nahi munkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari'at yang mulia ini.

Sahabat 'Amr bin 'Ash berkata kepada putranya, Abdullah:

عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أنه قال لابنه عبد الله: يا بني! سلطان عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان غشوم ظلوم خير من فتنة تدوم

“Wahai anakku, pemimpin yang aqdil itu lebih baik dibandingkan dengan hujan yang deras, macan yang buas lebih baik daripada pemimpin yang zalim sedangkan pemimpin yang sangat zalim itu masih lebih baik dibandingkan dengan fitnah yang permanen (dikarenakan tidak ada pemimpin sama sekali).”

Syekh 'Ali Jum'ah, mantan mufti Mesir menyitir maqalah Imam Malik:

حاكم ظلوم غشوم ولا فتنة تدوم

“(Tetaplah menaati) pemimpin yang zalim dan jangan sampai terjadi fitnah yang berkepanjangan tanpa akhir.

Lalu beliau berkomentar:

فوجدنا من يخرج علينا هذه الأيام ويقول أخطأ مالك بل الفتنة أفضل من الحاكم الظالم .
نقول لهذا الشخص أنك من الخوارج .لأنه يريد الفساد فى الأرض

"Pada masa ini kita mendapati seseorang yang menyempal dari kita seraya berkata: "Pemimpin sudah berbuat kesalahan bahkan fitnah (kekacauan denga tidak mengakui adanya pemimpin yang sah untuk ditaati) itu lebih baik dibandingkan dengan pemerintah yang zalim."

Komentar kami (Syekh Ali Jum'ah) untuk orang ini: "Anda termasuk golongan Khowarij, karena yang dikehendaki adalah kerusakan di muka bumi."

Amar Ma'ruf Nahi munkar kepada Pemimpin

Berikut ini adalah dalil kebolehan amar ma'ruf, nahi munkar dengan cara mengkritik pemimpin/pemerintah:

وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim. (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Namun demikian, amar ma'ruf nahi munkar harus dengan lemah lembut dan pelakunya harus mempunyai ilmu yang cukup agar bisa bertindak dengan benar.

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: 

لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال: رفيق بما يأمر، رفيق بما ينهى، عدل بما يأمر، عدل بما ينهى، عالم بما يأمر، عالم بما ينهى

"Seseorang tidak boleh melakukan amar ma'ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya." (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami'ul Ulum wal Hikam)

Dikisahkan ada seseorang yang akan beramar ma'ruf dan nahi munkar, lalu dia meminta pendapat kepada seorang ulama agar diizinkan dengan cara yang keras karena pelakunya itu sudah dianggap keterlaluan, namun sang ulama menjawab bahwa kamu tidak lebih baik dari Nabi Musa as dan orang yang akan kamu nasihati tidak lebih jahat dari Fir'aun, tapi Allah di dalam Al-Qur’an tetap memerintahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as) untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Fir'aun:

 اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ، فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (QS. Thaha 43-44)

Kemudian kita tidak boleh membenarkan kebohongan dan mendukung kezaliman mereka. Dari Ka'ab bin Ujroh radhiyallahu 'anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar mendekati kami, lalu bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

"Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat)." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

Larangan Memberontak dan Menyibukkan Diri Mencelanya

Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan di antara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah:

ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة

"Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan." (Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi Al-Hanafi, dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma'. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata: "Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/7)

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawy Al Haddad dalam kitabnya 'Adda'wah Attammah menjelaskan tentang sikap yang harus dilaksanakan kepada pemimpin: 

ومهما كان الولي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة
كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له و الثناء عليه بالخير

"Jika seorang pemimpin membawa kemaslahatan untuk rakyat, bersungguh-sungguh dalam memberi perhatian kepada mereka, dan mempunyai kinerja yang bagus maka rakyat harus membantunya dengan berdoa untuknya serta memujinya atas kinerjanya yang bagus".

ومهما كان مفسدا مخلطا كان عليهم ان يدعوا له بالصلاح والتوفيق و الاستقامة وألا يشغلوا ألسنتهم بذمه والدعاء عليه فإن ذلك يزيد في فساده واعوجاجه ويعود وبال ذلك عليهم

Jika ia membawa kerusakan, mencampur aduk antara kebenaran dan kebatilan, maka kewajiban kita—sebagai rakyat—adalah mendoakan, semoga Allah segera memperbaiki keadaan pemimpin kita itu, memberi ia petunjuk kepada jalan yang benar, dan memberinya sifat istiqamah dalam hal-hal yang diridhai Allah—dalam kepemimpinannya. Dan janganlah kita sibuk mencela dan berdoa buruk atas dirinya, karena itu semua malah akan menambah kerusakan dan kezalimannya dan kita sendiri yang akan merasakan dampak-dampak buruknya.

قال الفضيل رحمه الله لو كانت لي دعوة مستجابة لم اجعلها إلا للامام. لأن الله إذا اصلح الامام أمن العباد و البلاد. وفي بعض الآثار عن الله تعالى أنه قال انا الملك قلوب الملوك بيدي فمن أطاعني جعلتهم عليه نعمة و من عصاني جعلتهم عليه نقمة فلا تشغلوا أنفسكم بسب الملوك و سلوني أعطف قلوبهم عليكم 

Berkata Al-Imam Fudhail Bin Iyadh rahimahullah

"Andai saja aku mempunyai satu doa yang pasti dikabulkan Allah, maka aku akan menjadikannya (untuk berdoa yang baik) untuk pemimpinku, karena jika Pemimpin kita baik, maka negara akan aman dan masyarakat tentram. Allah berfirman dalam sebagian hadits qudsi:

"Aku adalah Maha Raja. Hati para raja ada di genggamanku. Maka barang siapa yang taat padaku, akan aku jadikan mereka (para raja/pemimpin) nikmat baginya, dan barang siapa yang melanggar perintah-Ku akan aku jadikan mereka sebagai musibah atas dirinya. Maka janganlah kalian sibuk mencela dan mencaci maki pemimpin-pemimpin kalian, akan tetapi memintalah padaku, maka akan aku lembutkan hati mereka untuk kalian".

Semoga Allah menguasakan kepada kita pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Nya, mau mengasihi kita dan menjadikan Indonesia sebagai baldah thayyibah wa rabbun ghafuur.... Amiin.

Wallahu a'lam... []

Ustadz Dodi el Hasyimi, Aswaja NU Center Bojonegoro, Jawa Timur