Kamis, 02 Oktober 2014

Dahlan: Semoga Waras Listrik di Kegilaan BBM



Semoga Waras Listrik di Kegilaan BBM
Senin, 15 September 2014

“Kabar gembira, Pak Dahlan, STNK mobil listrik kami sudah keluar. Inilah STNK mobil listrik pertama di Indonesia,” tulis Martin Soekotjo dalam SMS-nya kepada saya.

Malam itu juga saya SMS kepada Bapak Presiden SBY. “Bapak Presiden Yth, lapor kabar gembira: STNK mobil listrik sudah keluar untuk pertama kalinya. Mobilnya produksi pabrik yang di Surabaya itu. Terima kasih, Bapak Presiden. Akhirnya jadi kenyataan di era kepresidenan Bapak. Alhamdulillah.”

Waktu itu, Jumat sore lalu, saya lagi di Bitung. Meninjau galangan kapal IKI cabang Bitung yang pada pukul 17.00 senja itu masih ramai dengan orang bekerja. Banyak kapal antre untuk diperbaiki. Bisnis berjalan lancar. Padahal, PT IKI (Industri Kapal Indonesia yang berpusat di Makassar) tiga tahun lalu masih mati.

Saya juga meninjau Pelabuhan Bitung di bawah PT Pelindo IV. Tahun ini Pelabuhan Bitung mulai mengoperasikan dermaga baru yang dalamnya 15 meter. Memenuhi standar kedalaman tol laut.

Tidak lama lagi PT Pelayaran Meratus dan Tempuran Emas mulai melayari jalur Belawan-Bitung. “Pertama dalam sejarah Pelabuhan Bitung dijadikan tujuan rute dari Medan,” ujar GM Pelindo Bitung Heru Bhakti Fireno.

Saya juga meninjau pabrik pengolahan ikan PT Perikanan Nusantara Cabang Bitung yang amat membanggakan: sebuah pabrik yang amat ramai dan sibuk. Padahal, empat tahun lalu masih berupa “kuburan”.

“Saya sempat tidak digaji tiga tahun. Kompleks pabrik ini jadi semak belukar,” ujar Direktur Perinus Max Najoan yang dulunya nelayan beneran. Kini Max adalah direktur produksi PT Perinus.

“Seumur hidup tidak pernah membayangkan Bapak mengangkat saya jadi direktur,” ujar tamatan SPMA Perikanan Manado itu.

Dari Bitung saya melakukan komunikasi ke Surabaya, berbicara dengan petugas yang mengurus STNK mobil listrik itu. “Yang dapat STNK memang baru satu, Pak. Tapi, berikutnya sudah akan lancar,” ujar Sukotjo, staf PT Grain, saat saya telepon dari Bitung.

“Kalau begitu, saya akan mampir ke Surabaya. Melihat mobilnya dan STNK-nya,” kata saya. “Saya bisa menyisihkan waktu empat jam di Surabaya,” tambah saya.

Empat jam itu sekalian akan saya gunakan untuk jadwal menjalani stemcell di Stemcell Center RSUD dr Soetomo, memasang crown gigi belakang di dokter gigi langganan saya, dan mencoba mobil listrik yang sudah ber-STNK itu.

Agar hemat waktu, saya minta mobil tersebut dibawa ke rumah dokter gigi di Jalan Sedap Malam, Surabaya. Juga mobil listrik jenis sedan kecil yang STNK-nya sedang diurus.

Lalu, dengan mengemudikan mobil itu saya menuju Bandara Juanda untuk kembali ke Jakarta. Ketika mencoba mengemudikan mobil listrik ber-STNK tersebut saya merasakan getaran halus mobil dan getaran bangga di hati saya.

Sebenarnya saya sudah mencoba minivan itu dua tahun lalu. Tepatnya November 2012. Kini terasa sudah sempurna: power steering, gasnya, remnya, AC-nya, dan segala macamnya. “Perjuangan dua tahun akhirnya ada hasilnya,” ujar Sukotjo, staf PT Grain yang menjadi produsen mobil tersebut.

Kendaraan itu memang masih berbasis mobil listrik dari Tiongkok yang dirakit dan disempurnakan di Surabaya. Tapi, komponen terbesarnya, baterai, akan sepenuhnya produksi Indonesia. “Kami sudah bicara dengan Nipress,” ujar Martin. “Yang lain-lain secara bertahap juga akan diproduksi di Surabaya,” tambahnya.

Dua tahun lalu saya mengunjungi pabriknya yang dibangun di luar Kota Surabaya itu. Sekarang pabrik tersebut sudah jadi dan beroperasi. Mampu merakit 10.000 mobil listrik setahun.

Mobil listrik dari Surabaya itu bersimbol petir, mirip logo PLN. Sebab, ia memang salah satu di antara lima putra petir yang kita unggulkan.

Pabrik itu satu kompleks dengan pabrik baja yang amat besar, dengan pemilik yang sama. Kerangka baja bandara-bandara baru seperti Bali, Medan, Sepinggan, dan Juanda dibuat di sana. Juga Terminal 3 Soekarno-Hatta yang raksasa itu.

Pabrik tersebut sekarang juga memproduksi baja untuk gedung bertingkat yang berbasis baja. Dengan modul ciptaannya, sebuah gedung enam lantai bisa dibangun hanya dalam waktu enam bulan. “Desain kami bisa sampai 18 lantai lebih,” ujar Martin.

Mobil listrik pertama ber-STNK itu dibeli oleh anak perusahaan PLN, PT PJB Cabang Gresik. “Sekarang ke mana-mana kami gunakan minivan ini,” ujar Sugiyanto, GM PJB Gresik.

“Hemat sekali. Bandingannya, dengan mobil bensin sehari habis Rp 60.000, dengan mobil listrik ini hanya Rp 10.000,” tutur Sugiyanto.

Memang charging-nya masih empat jam. Tapi, di malam hari, saat pemilik mobil tidur, sangat cukup waktu untuk charging sampai penuh. “Untuk kepentingan sehari-hari, kami hanya perlu charging dua hari sekali. Tidak tiap hari,” papar Sugiyanto.

Rabu lusa, saat ada acara di RRI Jogja, saya juga akan menyerahkan becak listrik kepada dua tukang becak Solo yang selama ini menjadi jamaah salawat Habib Syekh.

Becak listrik itu benar-benar becak biasa: masih harus dikayuh. Tapi ringan sekali. Saat becak menanjak pun, kayuhannya tetap sangat ringan.

Habib Syekh-lah pemilik ide awalnya. Saat mendengar salah satu Syekher-nya, saya, memelopori mobil listrik, beliau minta dibuatkan becak listrik. Beliau melihat betapa rekoso-nya tukang becak yang sudah tua tapi tetap mengayuh becaknya untuk mempertahankan hidup.

Saya sendiri sedang mengubah mobil Jaguar saya yang lama untuk menjadi mobil listrik. Bulan depan sudah jadi.

Di tengah gonjang-ganjing harga BBM, siapa tahu orang menjadi waras: menoleh ke mobil listrik! (*)

Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Sumber:


--

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

(Hikmah of the Day) Peristiwa Ajaib Pertobatan Sang Pemabuk



Peristiwa Ajaib Pertobatan Sang Pemabuk

Jika ada kemauan pasti ada jalan. Entah kapan awal mula pepatah masyhur ini muncul. Tetapi, kebenarannya teruji berkali-kali di hampir setiap zaman. Karena “mau”, seorang pemuda pemabuk pada masa Umar bin Khathab, tak hanya mendapat “jalan” tapi juga keajaiban.

Kisah tersebut bermula ketika Umar bin Khathab berjalan-jalan di lorong Kota Madinah. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda. Amirul Mu’minin tahu, ada sesuatu di balik bajunya.

Umar bin Khathab yang penasaran pun menanyakan kepada sang pemuda perihal benda yang disembunyikan tersebut. Karena malu, pemuda ini tak lantas menjawab pertanyaan umar. Siapa tak gugup, ketika kepergok membawa minuman keras (khamr) di hadapan “Singa Padang Pasir”?

“Tuhanku, jangan Engkau membuka rahasiaku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khathab. Tutuplah semua itu. Dan aku berjanji, tidak akan minum minuman keras lagi untuk selama-lamanya,” gumam pemuda itu dalam hati.

Kehadiran Umar ternyata sanggup menggerakkan komitmen pemuda itu untuk mengakhiri perbuatan terlarangnya. Tekadnya untuk bertobat betul-betul sudah bulat. Tapi, sang pemuda tak bisa menghindar dari pertanyaan Umar bin Khathab.

“Ya Amiral-Mu’minin, aku membawa cukak,” aku sang pemuda berusaha menutupi aibnya.

“Bukalah hingga aku mengetahui apa sebenarnya yang berada di balik bajumu.”

Pemuda itu lalu mengeluarkan benda yang ada di balik bajunya. Ajaib, minuman keras itu tiba-tiba sudah berubah menjadi cukak segar yang bisa dinikmati. Cerita ini bisa kita simak di kitab Al-Minahus Saniyah karya Abdul Wahhab Asy-Sya’rani terjemahan Zaid Husein Al-Hamid.

Hikayat di atas merupakan secuil bukti bahwa kejahatan seseorang sesungguhnya sudah menemukan jalan terang sejak niat memperbaiki diri menghujam di dada. Namun demikian, sebagai niat, ia tetaplah pada level permulaan. 

Abdul Wahhab Asy-Sya’rani mengurai lagi tahapan-tahapan tobat untuk mencapai pada puncak kesucian diri. Pertama adalah bertobat dari dosa-dosa besar, kemudian dari dosa-dosa kecil, dari perkaran yang dibenci (makruh), lalu dari perkara yang menyalahi keutamaan.

Selanjutnya, bertobat dari prasangka baik terhadap diri sendiri, dari prasangka bahwa dirinya adalah kekasih Allah, dari prasangka bahwa dirinya sudah benar-benar bertobat, dan akhirnya bertobat dari kehendak hati yang tidak diridlai oleh Allah. Puncaknya adalah bertobat setiap kali alpa dari mengingat Allah, meskipun hanya sekejap. []

(Mahbib)

(Ngaji of the Day) Mengelola “Kehebatan” Anak



Mengelola “Kehebatan” Anak
Oleh: Badrul Munir

--Kita sering dibuat kagum dengan penampilan anak yang masih di bawah umur tetapi mahir dalam memainkan sesuatu, seperti memainkan alat musik biola atau piano dengan sangat memukau dengan nada-nada yang sulit. Atau menyanyikan lagu dengan oktaf tinggi dan bersuara merdu seperti dalam kontes pencarian bakat di beberapa stasiun televisi.

Atau kita terheran-heran saat menyaksikan anak usia 6-8 tahun tetapi sangat ahli memainkan sirkus dengan kesulitan yang cukup tinggi dan membahayakan, tetapi si anak dengan santai dan cekatan memainkannya tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.

Bahkan banyak diantara  kita yang dibuat menetes airmata saat menyaksikan  anak-anak yang baru berumur 7-9 tahun tetapi sudah mampu menghafal beberapa Juz dalam Al- Qur’an dengan bacaan yang sempurna baik makhroj atau tajwidnya. Padahal kita yang sudah berumur jauh di atasnya jangankan menghafal, membaca saja kadang masih  salah dan kurang sempurna.

“Kehebatan”anak-anak tersebut bila ditinjau dari ilmu neurosains cukup beralasan, para ahli neurosains dalam beberapa tahun terakhir mengungkap penemuan medis yang menerangkan hai tersebut. Perlu kita ketahui bahwa di dalam otak anak yang baru lahir terdapat sekita 100 milyar sel otak (neuron) , dan antar sel otak satu dengan sel otak lain dihubungankan dengan hubungan yang sangat istimewa yang  bernama sinaps.. disini akan terjadi komunikasi baik secara listrik, kimia, maupun yang lainnya.

 Saat bayi baru lahir sinaps belum terbentuk atau otak masih polos, neuron yang masih polos terletak di bagian otak di permukaan Bagian otak tersebut dalam bahasa kedokterannya diberi nama korteks, (lapisan luar otak). Korteks ini pada awalnya berwarna putih karena masih belum terpapar oleh stimulus dari luar, dan apabila sudah dewasa maka korteks ini akan berupa menjadi warna keabuan (grey matter) akibat paparan yang didapat selama hidupnya.

Pada saat lahir, bayi dan anak anak  maka apapun paparan yang masuk ke dalam otak baik yang melalui panca indra (penglihatan, indra penciuman, pendengaran, perabaan dan indra perasa lidah) maupun non panca indra akan mengubah struktur neuron dan sinaps di dalam korteks menjadi sesuatu yang sesuai dengan stimulus didapat.

Hal ini sudah dinyatakan oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَة هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Dari Abu Hurairah berkata: Nabi SAW bersabda: setiap anak dilahiran dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?

Analisis hadist di atas menurut ilmu neurosains menunjukan hal yang sangat menakjubkan. Kita diingatkan untuk menjaga kefitrahan anak kita yang baru lahir, menjaga mereka dari pengaruh Yahudi dan Nasrani. Menjaga disini berarti berilah stimulus yang islami kepada anak anak kita sedini mungkin, bilamana tidak maka akan terstimulus negatif yakti stimulus dari agama (pemikiran)  Yahudi dan Nasrani.

Stimulus yang terpapar sejak lahir sampai dewasa dapat berupa apa yang dilihat, didengar dan dirasa bahkan apa yang dimakan sehari hari dan ini sangat berperan dalam perilaku hidup sehari-hari. Maka langkah terbaik adalah memberi stimulus positif terhadap anak kita sejak dini. Dengan kata lain membiasakan diri dengan memberi pendidikan anak sedini mungkin sangat diperlukan untuk membentuk korteks otak agar dibentuk  pola struktur otak yang islami.

Bilamana sejak dari bayi kita membiasakan diri mendengarkan ayat suci Al-Qur’an dan bayi melihat sendiri orang tuanya membaca Al Qur,an setiap hari maka akan terbentuk memori permanen di otak bayi tentang Al-Qur’an secara otomatis, sehingga dia akan lebih cepat akrab dengan ayat al-Qur’an dan bila anak diberi pelajaran yang baik tentang membaca dan menghafal Al-Qur,an maka dia akan dengan mudah menjadi penghafal (Hafid) seperti yang kita saksikan anak umur 7 tahun sudah hafal 30 Juz Al-Qur’an.

Begitu juga bilamana setiap hari bayi dan anak dibiasakan shalat berjamaah baik di rumah dan di majid maka di dalam sistem memori akan terbentuk sinap (hubungan antar neuron satu dengan neuron lain) yang bersifat “shalat”. Bila paparan tersebut berlangsung terus menerus maka kelak saat tumbuh remaja dan dewasa dia akan secara rutin mengerjakan shalat dan sangat takut meninggalkan shalat walaupun tanpa pengawasan orang tua. Hal ini bisa diterangkan dengan ilmu perilaku (neurobehavior) dimana paparan tersebut akan mengubah struktur anatomi dan neurotransmiter (zat kimia otak) di daerah otak yang mengatur gerakan dan bacaan shalat.

Begitu juga sebaliknya bila anak kita terpapar dengan lagu lagu “jelek” atau lagu cintayang tidak sesuai dengan umurnya baik didapat dari media eletronik maupun dalam pergaulan sehari-hari maka dia akan dengan mudah menghafal lagu tersebut dan menjadi memori permanen juga.

Pendek kata apapun “kehebatan” anak sangat tergantung dari paparan yang diterima mulai dia lahir sampai dewasa. Sehingga sering kita lihat bilamana anak seorang pedagang maka saat dewasa dia cenderung menjadi pedagang, anak musisi menjadi musisi, akan anak seorang dokter menjadi dokter, guru menjadi guru dan lain sebagainya.

Maka dari itu berilah paparan yang baik pada anak dengan membiasakan diri menjalankan kebaikan dan mengajak anak aktif dalam kebaikan tersebut.

Contoh lain  bilamana kita sering bersedekah maka ajarilah anak kita bersedekah, biarkan mata mereka melihat kita bersedekah, kemudian saat mereka sudah bisa diajak komunikasi (umur 7 9 tahun) beri tahu manfaat sedekah dan fadhilah orang bersedah. Maka bilamana kegiatan tersebut berjalan rutin maka otomatis kelak anak tersebut menjadi ahli sedekah.

Dan ternyata ilmu neurosains membuktikan bahwa memberi contoh secara langsung (rule models) jauh lebih membekas dalam memori anak dari pada menyuruh. Artinya sebelum mengharap anak kita melakukan sesuatu sesuai harapan kita maka kita sebagai orang tua harus terbiasa melakukan kebaikan secara terus menerus dan menampakan ke anak kita.

Pelatihan Kognisi

“Suruhlah anak-anak kalian untuk bershalat bila mereka telah berumur 7 tahun. Pukulah mereka karena tidak shalat bila telah berumur 10 tahun.  Pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian” (Hadist)

Umur 7-10 tahun atau pada saat anak mulai sekolah dasar, maka sel otak sudah mulai matang, terutama lobus frontalis (otak bagian depan, pelipis), hal ini kemudian fungsi berfikir (kognisi) sudah mulai berkembang. Ajaran nabi untuk menganjurkan umat muslim agar “menyuruh” anaknya mengerjakan shalat dapat dimaknai memberi pembelajaran kognisi dalam syariat islam.

Anak diberikan pemahaman tentang perintah dan larangan agama, bukan hanya diberi contoh tetapi diberi tahu dasar dan alasan mengapa syariat ini harus dilakukan.

Dan pada saat usia 10 tahun atau kelas 5-6 SD, adalah masa akil baliq telah datang, maka mereka sudah diberi kewajiban dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kalimat “pukullah” kita artikan betapa kewajiban orang tua semakin  keras pendidikan demi terbentuk perilaku yang mulia dalam hal ini syariat shalat.

Perintah memukul bukan diartikan kekerasan terhadap anak, tetapi lebih dimaksudkan pertanggungjawaban orang tua terhadap anaknya.tentunya memukul disini bukan dalam rangka melepaskan amarah tetapi lebih ke arah membuat anak jera bila tidak melaukan shalat Dan perintah memukul didahului oleh perintah memberi contoh dan mengajak berdiskusi (kognisi) sejak lahir sampai 10 tahun kehidupannya. Artinya proses belajar kebaikan sudah berjalan 10 tahun baru proses reward and punishment.

Pelatihan Kebaikan Masa Remaja Dewasa

Di dalam Ilmu neurosains yang menarik dikaji adalah neuroplastisiti, (suatu kemampuan otak memperbaiki diri setelah mendapatkan paparan postif), saat remaja dan dewasa kita masih bisa memberi stimulus positif artinya membiasakan diri dengan mengerjakan kebaikan akan tetap terekam kuat dalam otak manusia, bilamana kita terbiasa shalat berjamaah ke masjid dalam setiap shalat fardhu maka otak akan selalu memerintahkan tubuh untuk segera datang ke masjid manakala terdengar suara adzan, dan tanpa diperintah kaki terus melangkah memenuhi panggilan tersebut karena sudah ada memori  shalat berjamaah di otak kita.

Begitu juga sebaliknya bilamana saat dewasa kita sering berbuat maksiat maka setiap ada kesempatan maka secara otomatis akan berbuat maksyiat, hal ini  bisa dijelaskan sebagai berikut. Ada sekresi  neurotransmiter di bagian otak tertentu bilamana kita melakukan pekerjaan yang berulang. Sehingga stimulus tersebut secara otomatis  dan berkala.Maka salah satu cara adalah memaksakan diri untuk membiasakan kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari secara istiqomah untuk membentuk sirkuit positif di otak kita yang mengatur perilaku (akhlaq).

Bulan puasa yang sudah kita lakukan beberapa bulan yang lalu pada hakekatnya melatih kita untuk senantiasa berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya biasakanlah diri kita dalam berbuat kebaikan baik saat bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan masa tua dan berilah lingkungan yang baik agar otak menjadi terbiasa dan memberi stimulus kepada anggota tubuh kita untuk senantiasa berbuat kebaikan secara  istiqomah  sampai maut menjemput kita dan kita berharap dalam keadaan khusnul khotimah...

اليوم نختم على أفواههم وتكلمنا أيديهم وتشهد أرجلهم بماكانوأ يكسبون

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin : 65). []

Badrul Munir, dokter spesialis saraf RSSA Malang

(Do'a of the Day) 05 Dzulhijjah 1435H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma lakal hamdu hamdan yuwaafii ni'amaka, wa yukaafi'u maziidaka, ahmaduka bi jamii'I mahaamidika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam 'alaa jamii'I ni'amika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam, wa 'alaa kulli haalin.

Ya Allah, bagimu segala puja dan puji, puji yang yang bertaut dengan nikmat dan puji yang menambah nikmat karena bersyukur. Aku persembahkan pujian kepada-Mu dengan seluruh jenis pujian yang baik yang aku ketahui dan yang tidak kuketahui atas nikmat-Mu, baik yang aku ketahui dan yang tidak kuketahui atas segala keadaan.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Kelima.