Rabu, 24 Agustus 2011

(Buku of the Day) Meraih Berkah Ramadhan

Mutiara Ramadhan: Menyingkap Tabir, Menuai Berkah






Judul Buku        : Meraih Berkah Ramadhan

Penulis             : HM. Madchan Anies

Penerbit            : Pustaka Pesantren (Kelompok LKiS Yogyakarta)

Cetakan I          : Agustus 2009

Tebal                : xviii + 430 Halaman

Peresensi          : Abdul Halim Fathani *)


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering (baca: senang) menjumpai hal-hal yang indah dan nikmat, yang rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja, akan merugi selamanya. Seperti, ada pabrik sebuah produk yang memasang beragam iklan/promosi menarik dengan harapan konsumen bisa terpikat. Seperti menawarkan beragam diskon dan bonus bagi setiap orang yang membeli produk tertentu di bulan tertentu. Itu sebabnya, biasanya banyak orang yang mau memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.


Bulan Ramadhan, bisa juga dibilang bulan yang penuh dengan diskon dan bonus. Pada bulan Ramadhan, Allah swt memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memanfaatkan nikmat dan indahnya Ramadhan. Maka, sayang sekali kalau berlalu begitu saja tanpa ada aktivitas amal shaleh yang kita lakukan. Sebab, saat Ramadhan Allah memberikan “bonus” yang besar dalam ibadah kita. Abu Hurayrah mengatakan, bahwa Rasulllah saw bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu.” (HR Bukhari Muslim). Sungguh aneh kalau ada kaum muslimin yang malas-malasan begitu datang Ramadhan. Sejatinya, dengan puasa bukan berarti kita tambah kurus dan menderita. Justru kita menjadi sehat dan dapat pahala berlipat ganda. Alhasil, Ramadhan tidak selayaknya dibiarkan begitu saja tanpa diisi dengan aktivitas amal shaleh.


Ramadhan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada suatu bulan yang penuh dengan segala rahasia kebaikan dan keutamaan. Bulan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih tertata, lebih perduli terhadap lingkungan, dan bahkan lebih perduli terhadap akidahnya sendiri. Sungguh ajaib, dimana setiap orang berlomba-lomba menjadi shalih, berlomba-lomba untuk beramal, mempelajari Islam lebih kaffah, berlomba-lomba bersedekah, bahkan yang pada mulanya tidak pernah shalat, menjadi sangat rajin pergi ke masjid untuk tarawih. Subhaanallah. Tak ada kata-kata indah yang sanggup mengungkapkan kenikmatan dan rahasia Ramadhan. Rahasia Allah yang diturunkan di bulan yang suci ini. Rahasia yang mampu mengubah segala lini kehidupan umat, seakan sebuah halte yang mengistirahatkan segala bentuk keburukan dan menjemput segala bentuk kebaikan yang ada di setiap jalan.


Di bulan yang suci itu, umat Islam melakukan kegiatan ibadah yang amat agung sebagai latihan diri dari segala perbuatan kemunkaran dan kemaksiatan. Karena itu, di bulan Ramadhan inilah, umat Islam harus menahan diri secara lahiriah dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan seksual di siang hari, sekaligus juga harus menahan diri dari segala kemaksiatan dan kemunkaran. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Maka bagi umat Islam, Ramadhan ialah pusat latihan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak (moral), dan berbagi dengan fakir miskin (sedekah dan zakat).


Sayang, Ramadhan tidak hanya dihiasi ajakan keagamaan yang substansial, tetapi juga dengan simbol-simbol yang tidak substansial. Lihat kesibukan umat Islam saat menyambut Ramadhan yang ditunjukkan dengan berbagai kegiatan. Dari sekadar menyiapkan keperluan buka puasa dan sahur dengan berbelanja kebutuhan pokok di supermarket, baju koko (baju Islam) dan peci, hingga menyiapkan diri membeli kaset-kaset religius. Bagi mereka, tak lengkap rasanya di bulan Ramadhan dengan melewatkan aktivitas simbolik ini. Maka, yang terjadi adalah konsumtivisme yang dijustifikasi agama. Padahal, Ramadhan tidak mengajak kita untuk berbelanja aneka kebutuhan yang simbolik, tetapi berbelanja berbagai kebutuhan substansial, seperti kualitas ibadah, perbaikan moral, dan kepedulian terhadap kemiskinan. Inilah yang membuat setiap kali Ramadhan datang, umat Islam kesulitan menangkap nilai-nilai substansial yang diajarkan. Peneguhan identitas sebagai Muslimlah lebih menonjol, sehingga bulan suci Ramadhan lebih diwarnai simbol-simbol keislaman.


Sudah saatnya untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak perubahan. Sudah saatnya menjadikan Ramadhan tidak hanya sekedar budaya semata, tetapi menjadikannya sebagai bahan bakar yang akan mempertahankan mesin kita untuk menghadapi perjalanan panjang usai Ramadhan. Momentum Ramadhan adalah awal bagi seorang revolusioner. Awal bagi setiap insan untuk membentuk tidak hanya keshalihan pribadi, tetapi juga sanggup menjadi agen peubah bagi keshalihan orang lain. Sudah saatnya kita berbuat tanpa banyak bicara. Bergeraklah menuju keutamaan ramadhan! Agar setiap diri dapat merasakan kenikmatan dan hakikat Ramadhan. Agar setiap diri menjadi tangguh dalam menghadapi segala ujian kehidupan, dan agar setiap diri mampu menjadi karakter-karakter yang berkepribadian Islam.


HM. Madchan Anies, penulis buku ini, memberikan perumpamaan yang sangat indah: “Bila di sebuah lapangan luas disebarkan emas dan mutu manikam, kemudian diumumkan kepada masyarakat ramai bahwa lapangan tersebut penuh dengan emas dan mutu manikam, dan semua yang berminat boleh mengambil sepuas-puasnya tetapi hanya dalam tempo lima menit, apa yang akan terjadi? Semua orang yang mengerti nilai emas dan mutu manikam pasti berlomba memungutinya. Dan tentu saja sangat besar pengharapan mereka agar waktunya diperpanjang sampai sore hari. Akan tetapi, orang-orang yang tidak mengerti nilai emas dan mutu manikam tentu hanya akan menonton orang banyak yang berduyun-duyun dan berebut emas itu. Begitulah tamsil kemuliaan bulan Ramadhan dan sikap umat Islam menghadapinya.” (hlm. vi).


Tentu saja, buku ini hadir pada saat yang tepat, di tengah kaum Mukminin sedang menjalankan ibadah Ramadhan. Buku yang dikemas dengan bahasa yang ringan ini dapat dibaca dan diselesaikan dalam sekali duduk. Buku ini berisi percik-percik ilmu yang dapat menuntun siapa saja menemukan berkah Ramadhan. Sebuah hadits akan dihadirkan, kemudian dikupas dengan ringkas dan ringan tanpa meninggalkan dalil dan hujjah yang diperlukan, baik dari al-Qur’an, hadits nabi yang lain, atsar sahabat, maupun dari kitab-kitab klasik (kitab kuning). Bagi para da’i, ustadz, santri, kaum mukminin, atau siapa saja yang ingin meraup “mutiara” Ramadhan, tentu tidak boleh melewatkan buku ini. Selamat membaca, Semoga menjadi berkah!


*) Alumnus Prodi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar