KHUTBAH JUMAT
Rajab, NU, dan Aswaja
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ السَّلَامِ الْمُؤْمِنِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَبِيْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ مُؤْمِنٍ،
وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَقِيٍّ مُؤْمِنٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ
الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة: ١١٩)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita
semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala
dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang
diharamkan.
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Menjelang hari lahir Nahdlatul Ulama yang
ke-98, yang jatuh pada hari ahad, 16 Rajab 1442 H atau 28 Februari 2021 yang
akan datang, dalam kesempatan yang mulia ini, khatib akan menyampaikan khutbah
dengan tema: “Rajab, NU, dan Aswaja”.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Seperti kita ketahui bersama bahwa Nahdlatul
Ulama atau NU adalah organisasi sosial keagamaan Islam yang didirikan oleh para
ulama pondok pesantren di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan
dengan tanggal 31 Januari 1926. NU bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan
dan sosial. NU berpedoman kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Dalam AD
& ART-nya, secara tegas dinyatakan bahwa NU berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah
(Aswaja), dalam bidang aqidah mengikuti mazhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan
Imam Abu Manshur al-Maturidi; dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari
mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf
mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali. Dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, NU berasas kepada Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945.
Sedangkan tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama
adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah
untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan,
kesejahteraan umat, dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Latar belakang didirikannya NU bermula ketika
Makkah dan Madinah pada saat itu dikuasai oleh orang-orang Wahhabi. Mereka
ingin mengebiri kemerdekaan bermazhab dengan menerapkan asas tunggal mazhab
Wahhabi di wilayah Hijaz (Arab Saudi). Apalagi disusul kabar rencana
pemberangusan situs-situs warisan peradaban Islam, termasuk makam Rasulullah.
Mendengar informasi itu, para ulama Ahlussunnah
wal Jama’ah dari berbagai belahan dunia melancarkan protes keras. Termasuk para
ulama Ahlussunnah dari Indonesia. Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari
berbagai pondok pesantren di Indonesia berkumpul di Surabaya untuk membahas
perubahan ajaran di dua kota suci tersebut. Dari pertemuan itu lahirlah panita
Komite Hijaz yang diberi mandat untuk menghadap raja Ibnu Sa’ud guna
menyampaikan masukan dari ulama-ulama Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia.
Akan tetapi karena belum ada organisasi induk
yang menaungi delegasi Komite Hijaz, maka pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31
Januari 1926, ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Indonesia kembali berkumpul
dan membentuk organisasi Induk yang menaungi Komite Hijaz. Organisasi ini
kemudian diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) yang disingkat
NU, dengan Rais Akbar Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Materi pokok yang hendak disampaikan langsung
oleh Komite Hijaz ke hadapan raja Ibnu Sa’ud, di antaranya adalah meminta
kepada raja Ibnu Sa’ud untuk memberlakukan kebebasan mengikuti salah satu dari
mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Menjelang Harlah NU, khatib mengajak kepada
kita semua untuk meneguhkan kembali ke-NU-an dan keaswajaan kita. Mari kita
simak kredo perjuangan yang pernah disampaikan oleh KH Abdul Wahhab Chasbullah.
Beliau menegaskan:
“Banyak pemimpin NU di daerah-daerah maupun di
pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU. Mereka lebih menyakini kekuatan
golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang mengembuskan
propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan NU itu
ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati
mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam
tetapi hanya gelugu alias batang pohon kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin
NU yang tolol itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara
membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatannya sendiri.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di era yang penuh pertentangan dan perpecahan
ini, sangat penting bagi kita untuk merenungkan kembali seruan yang disampaikan
Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang termaktub dalam Mukaddimah Qanun
Asasi yang merupakan Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama. Beliau menulis:
“Perpecahan adalah penyebab kelemahan,
kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan
kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan
kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan
makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking
perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan setan pun
melakukan perannya, mereka kocar-kacir tak keruan. Dan rumah-rumah mereka runtuh
berantakan.”
Beliau melanjutkan:
“Sahabat Ali karramallahu wajhah berkata dengan
fasihnya: ‘Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan,
dan kebatilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan.
Pendek
kata, siapa yang melihat pada cermin sejarah, membuka lembaran yang tidak
sedikit dari ihwal bangsa-bangsa dan pasang surut zaman serta apa saja yang
terjadi pada mereka hingga pada saat-saat kepunahannya, akan mengetahui bahwa
kekayaan yang pernah menggelimang mereka, kebangggaan yang pernah mereka
sandang, dan kemuliaan yang pernah menjadi perhiasan mereka tidak lain adalah
karena berkat apa yang secara kukuh mereka pegang, yaitu mereka bersatu dalam
cita-cita, seia sekata, searah setujuan dan pikiran-pikiran mereka seiring.
Maka inilah faktor paling kuat yang mengangkat martabat dan kedaulatan mereka,
dan benteng paling kokoh bagi menjaga kekuatan dan keselamatan ajaran mereka.
Musuh-musuh mereka tak dapat berbuat apa-apa
terhadap mereka, malahan menundukkan kepala, menghormati mereka karena wibawa
mereka. Dan mereka pun mencapai tujuan-tujuan mereka dengan gemilang.
Itulah bangsa yang mentarinya dijadikan Allah
tak pernah terbenam senantiasa memancar gemilang. Dan
musuh-musuh mereka tak dapat mencapai sinarnya.
Wahai
ulama dan para pemimpin yang bertaqwa di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan
keluarga mazhab imam empat. Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang
sebelum anda, orang-orang sebelum anda menimba dari orang-orang sebelum mereka,
dengan jalan sanad yang bersambung sampai kepada anda sekalian, dan anda
sekalian selalu meneliti dari siapa anda menimba ilmu agama anda itu.
Maka dengan demikian, anda sekalian adalah
penjaga-penjaga ilmu dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Rumah-rumah tidak dimasuki
kecuali dari pintu-pintu. Siapa yang memasukinya tidak melalui pintunya,
disebut pencuri.
Sementara itu segolongan orang yang terjun ke
dalam lautan fitnah, memilih bid’ah dan bukan sunnah-sunnah Rasul dan
kebanyakan orang Mukmin yang benar hanya terpaku. Maka para ahli bid’ah itu
seenaknya memutar balikkan kebenaran, memunkarkan makruf dan memakrufkan
kemunkaran.”
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah,
Apa yang dinasihatkan Mbah Hasyim di atas
sejalan dengan sabda Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
عَلَيْكُمْ
بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ
وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، فَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ
فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ)
Maknanya: “Ikutilah mayoritas umat dan jauhilah
perpecahan, karena sesungguhnya setan bersama satu orang dan dari dua orang dia
lebih menjauh. Barangsiapa yang menginginkan tempat lapang di surga, maka
hendaklah dia mengikuti mayoritas umat” (HR at-Tirmidzi dan lainnya)
Mayoritas umat yang dimaksud oleh hadits di
atas adalah orang-orang yang konsisten dalam mengikuti Nabi dan para sahabat
dalam pokok-pokok aqidah Islam. Dan dari dulu sampai sekarang, mayoritas umat
adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu golongan yang secara aqidah mengikuti
mazhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi dan dalam
bidang fiqih mengikuti salah satu dari mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i
dan Hanbali).
Hadirin rahimakumullah,
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang
penuh keberkahan ini. Semoga semakin meneguhkan keaswajaan, ke-NU-an dan
keindonesiaan kita.
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى،
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ
الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ
وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا
هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ
Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja
NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Bidang Peribadatan & Hukum, Pengurus
Daerah Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto