Selasa, 02 Juli 2019

(Ngaji of the Day) Anjuran Bersabar bagi yang Sakit


Anjuran Bersabar bagi yang Sakit

Pernah sakit? Seringan dan separah apa sakit yang pernah Anda derita? Apa pun itu sakit yang menimpa Anda, apa yang Anda lakukan; segera berobat dan berdoa memohon lekas diberi kesembuhan, atau tetap bersabar menikmati sakit yang Allah berikan?

Islam—melalui lisan mulia Baginda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para ulama penerusnya—mengajarkan umatnya untuk mau bersabar ketika diberi cobaan oleh Allah berupa sakit atau lainnya. Ada banyak keutamaan yang ditawarkan bagi siapa saja yang mau bersabar menghadapi penyakitnya dan rela menerima keputusan Allah bagi dirinya. Meski di sisi lain Islam juga tidak melarang untuk berobat sebagai langkah ikhtiar menjaga kesehatan badan.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmû’ menuturkan, para sahabatnya dan yang lainnya mengatakan bahwa orang yang sedang sakit disunahkan untuk bersabar. Ada banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menuturkan tentang keutamaan bersabar.

Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman di dalam Surat Az-Zumar ayat 10:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan dipenuhi pahala mereka tanpa hitungan.”

Sebuah hadits riwayat Imam Muslim menuturkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Artinya: “Tidaklah seorang muslim terkena suatu penyakit dan lainnya kecuali karenanya Allah menggugurkan kejelekan-kejelekannya sebagaimana sebuah pihon menggugurkan daunnya.”

Imam Nawawi memberikan penjelasan bahwa di dalam hadits tersebut ada pelajaran bahwa kesalahan-kesalahan akan dilebur dengan berbagai penyakit di dunia meskipun hanya sedikit kesusahannya. 

Imam Muslim juga meriwayatkan dari ‘Atho bin Abi Robah yang mengatakan:

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي، قَالَ: إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ قَالَتْ: أَصْبِرُ، قَالَتْ: فَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا

Artinya: “Ibnu Abas berkata kepadaku, ‘Maukah kau kuperlihatkan seorang perempuan ahli surga?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ia berkata, “Perempuan hitam ini telah datang kepada Nabi dan berkata, ‘Sesungguhnya aku mengidap penyakit ayan dan auratku sering tersingkap karenanya. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.” Nabi bersabda, “Kalau kau mau bersabar bagimu surga. Dan bila kau mau aku mau mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.” Perempuan itu berkata, “Aku mau bersabar saja.” Ia berkata lagi, “Auratku sering terungkap, maka mohonlah kepada Allah agar auratku tak terungkap lagi.” Maka Nabi mendoakannya.”

Dari hadits di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa kesabaran yang dilakukan seseorang atas penyakit yang sedang diderita bisa menjadi jalan baginya untuk mendapatkan surga. Hadits tersebut juga menunjukkan dibolehkannya tidak berobat dengan bersabar atas cobaan yang diterima dan ridha terhadap ketentuan Allah. Masih menurut hadits tersebut, tetap bersabar menghadapi satu penyakit itu lebih utama daripada kesembuhan bagi sebagian orang, dan meskipun berobat itu disunahkan namun tidak berobat itu lebih utama. Demikian dijelaskan oleh Syekh Abdullah Al-Mubarakfuri di dalam kitab Mir’âtul Mafâtih Syarh Misykâtil Mashâbih.

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Kâsyifatus Sajâ mengisahkan, sahabat Imron—salah seorang tokoh di kalangan para sahabat Rasul—bahwa dulunya malaikat mengucapkan salam kepadanya secara jelas. Namun ketika ia sembuh dari penyakitnya karena doa Rasulullah suara salam malaikat tak lagi terdengar dengan jelas. Maka sahabat Imron mengadu kepada Rasulullah perihal itu. Kepadanya Rasulullah bersabda, “Tidak terdengarnya ucapan salam para malaikat itu karena kesembuhanmu.” Maka kemudian sahabat Imron meminta Rasul memohon kepada Allah agar penyakitnya dikembalikan lagi. Ketika sahabat Imron kembali sakit, kembali pula para malaikat terdengar suara salamnya. Sebagai bentuk kemuliaan baginya maka doa yang dipanjatkan ketika disebut namanya akan dikabulkan.

Hanya saja satu hal yang semestinya—makruh hukumnya—tidak dilakukan oleh orang yang sedang sakit atau mengalami kesusahan dunia adalah mengharap kematian. Namun tidak makruh bila ada kekhawatiran akan terjadinya fitnah bagi agamanya. Rasulullah dalam sebuah hadits bersabda:

لا يتمنين أحدكم الموت لضر نزل به فان كان لابد متمنيا فليقل اللهم أحينى ما دامت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لى

Artinya: “Jangan sampai seorang di antara kalian berharap kematian karena sebuah kesusahan yang menimpanya. Bila tidak bisa tidak ia harus berharap kematian maka berdoalah, “Ya Allah, hidupkan akau selagi kehidupan lebih baik bagiku dan matikan aku bila kematian lebih baik bagiku.” Demikian Abu Ishaq As-Syairazi di dalam kitabnya al-Muhdzdzab. Wallahu a’lam. []

Sumber: NU Online

(Tokoh of the Day) Kiai Abd. Chayyi, Kencong, Jember - Jawa Timur


Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi


Dalam buku lawas berjudul--kalau tak salah ingat--"Pekan Raja Buku 1954" terbitan Gunung Agung tahun 1954, yang saya baca sekilas di kiosnya Erwin Dian Rosyidi alias Erwin BukuKuno beberapa tahun lalu, tercatat nama-nama penerbit serta toko buku di Indonesia. Nama, sekilas riwayat hidup dan foto aktivis perbukuan juga dicantumkan. Beberapa toko buku di berbagai daerah juga disebutkan berikut nama pemilik dan alamatnya. 
Sebagai orang Jember, saya langsung mengecek entri Djember. Benar, di tahun 1954 itu, di Jember telah berdiri beberapa toko buku. Di antara yang tertera adalah toko buku di Kentjong Djember yang dikelola oleh Abd Chayyi.

Nama terakhir ini saat itu--saya kira--telah merintis diri menjadi aktivis Nahdlatul Ulama. Alumni Pesantren Tebuireng ini di kemudian hari juga menjadi anggota DPRD Jember  dan juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cabang Kencong mendampingi KH Djauhari Zawawi, Pengasuh Pesantren Assunniyah Kencong. Kiai Chayyi wafat kurang lebih 40 hari setelah wafatnya Kiai Djauhari, 1994. Duet pejuang hingga akhir hayat.

Kita bisa melihat, di kota kecamatan seperti Kencong, di era 1950-an, Kiai Chayyi yang beberapa tahun sebelumnya lulus dari Tebuireng sudah punya keinginan mendirikan toko buku. Jelas ini bukan usaha mudah, sebab selain akses transportasi dan telekomunikasi yang masih terbatas, minat baca dan gairah beli buku zaman itu masih minim. Tapi kendala ini tak menyurutkan langkahnya, terbukti, Toko Buku miliknya masuk katalog buku terbitan Gunung Agung ini. Sebuah upaya membumikan literasi di sebuah kota kecamatan di Jember.

Kiai Chayyi ini aktivis tulen. Puluhan tahun mengabdi di NU Kencong, sejak NU menjadi parpol hingga balik lagi menjadi Ormas. Dirinya adalah dokumentator dan organisator ulung. Meskipun, sayang sekali, banyak dokumentasi-arsip PCNU Kencong yang hilang dan rusak. Selain buku tipis "Sejarah Berdirinya NU Cabang Kencong" yang ditulis, ada beberapa notulensi rapat PCNU yang terselamatkan. Catatan ini ditulisnya dalam buku tulis tebal. Di antara yang masih bisa dibaca adalah hasil rapat penyusunan pengurus NU Cabang Kencong tahun 1969, notulensi rapat sebagai anggota DPRD Jember, poin-poin sambutan dan pengarahan, serta catatan rapat PCNU Kencong di kediaman KH Djauhari Zawawi, sekaligus pembentukan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (tanggal rapat, 19 Januari 1984). Tulisan latin Kiai Chayyi sangat rapi. Halus, miring ke kanan,  dan klasik. Tulisan Arabnya juga tapi. Pakai khat gaya Riq'ah. Serapi tulisan latinnya. Sahabat saya, Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember, memperoleh buku catatan ini dari keluarga Kiai Chayyi.

Polarisasi Jagat Perbukuan
Di Hari Buku ini, bukan hanya sekilas profil Kiai Chayyi yang hendak saya tulis, melainkan polarisasi jagat perbukuan yang terjadi satu dasawarsa usai kemerdekaan. Di antaranya, penerbit dan toko buku dikuasai oleh orang Jawa, Arab, dan Tionghoa. Hal ini terlihat dari nama-nama yang termuat dalam entri pemilik penerbitan dan toko buku. Selain itu ada juga beberapa nama khas beraroma bule yang nangkring sebagai nama ‘pemilik’.

Hal ini mengindikasikan jaringan penerbit dan toko buku hanya berporos di kota besar. Etnis Jawa, Arab dan Tionghoa memiliki akses khusus di bidang penerbitan sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang. Karena itu ketika kemerdekaan berkumandang, secara infrastruktur mereka telah siap. Hal ini berbeda dengan suku lainnya yang harus pontang-panting mendirikan penerbitan, apalagi di kota kecil.

Selain itu, hal ihwal penerbitan di Komunitas Arab dan Tionghoa harap dimaklumi, karena selain memiliki previlis di Kampung Arab dan Pecinan, mereka juga menjaga adat, tradisi dan hubungan dengan negara leluhurnya melalui pasokan buku-buku impor yang telah berlangsung sejak berpuluh tahun sebelumnya. Sampai saat inipun, orang Arab masih menjadi bos beberapa penerbitan di kawasan Kampung Arab daerah Ampel, Surabaya. Yang paling kondang tentu Pak Haidar Bagir, bos Mizan, itu. Bagaimana dengan orang Tionghoa? Ini yang unik. Entah karena dikepras geraknya oleh Orde Baru atau karena faktor lain, orang Tionghoa jarang yang berkiprah di dunia penerbitan dan toko buku, kecuali banyak dari mereka yang menjadi bos percetakan buku (harap dibedakan: penerbitan dan percetakan).

Kalau orang Jawa masih banyak yang berkecimpung di jagat penerbitan dan jaringan toko buku. Urang Sunda punya kiprah penerbitan selama puluhan tahun melalui Penerbit Remaja RosdaKarya, misalnya. Madura beberapa saja (inipun ada di Yogyakarta. Edi Mulyono, bos Diva, itu di antaranya). Sedangkan orang Padang mengalami kebangkitan sejak medio 90-an dalam industri perbukuan melalui jejaring penerbit RajaGrafindo Persada.

Bila perputaran industri perbukuan semakin dinamis, kelak, persaingan di jagat penerbitan semakin ketat dengan kompetitor yang variatif: bukan hanya soal etnis, melainkan pada konteks corak keberagamaan di Indonesia. Wallahu A'lam. []

Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.

(Ngaji of the Day) Rasulullah Jelaskan Shalat Lima Waktu kepada Sekelompok Yahudi


Rasulullah Jelaskan Shalat Lima Waktu kepada Sekelompok Yahudi

Sayyidina Ali RA bercerita bahwa ketika berkumpul dengan beberapa orang muhajirin, Rasulullah SAW didatangi sekelompok orang Yahudi. Mereka datang untuk menguji kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengawali percakapannya sebagai berikut:

فقالوا يا محمد جئنا نسئلك عن أشياء لا يعلمها إلا نبي مرسل أو ملك مقرب

Artinya, “Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, kami datang menemuimu untuk menanyakan sejumlah masalah yang hanya diketahui oleh nabi utusan Allah atau malaikat muqarrabin.’”

Mereka meminta penjelasan kepada Rasulullah SAW terkait lima shalat yang diwajibkan Allah kepada umat Islam sehari semalam pada lima waktu berbeda.

Rasulullah SAW kemudian menjawab dengan yakin bahwa terkait zuhur, Allah memiliki lingkaran di langit dunia di mana matahari gelincir bersamanya. Ketika matahari gelincir, semua malaikat bertasbih. Di saat itu Allah memerintahkan shalat, yakni di saat pintu langit dibuka dan takkan ditutup sampai shalat zuhur dilaksanakan. Saat itu doa manusia diterima.

Sementara ashar, Rasulullah SAW, adalah waktu Iblis membisikkan Nabi Adam AS untuk memakan buah yang dilarang. Allah memerintahkanku dan umatku untuk shalat saat ashar itu.

Maghrib adalah waktu Allah menerima pertobatan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam menerima pelajaran berupa kalimat pertobatan, Allah kemudian menerima pertobatannya. Allah juga memerintahkanku dan umatku untuk shalat ketika maghrib sebagai bentuk pertobatan atas dosa mereka, kata Rasulullah SAW.

“Isya adalah shalat para rasul sebelumku,” kata Nabi Muhammad SAW.

Adapun subuh, matahari terbit di antara dua tanduk setan. Orang kafir saat itu menyembah apapun selain Allah. Oleh karena itu Allah memerintahkanku dan umatku untuk shalat dua rekaat sebelum orang-orang kafir itu menyembah apapun bentuk berhala mereka.

فقالوا صدقت يا محمد نحن نشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله

Artinya, “Mereka berkata, ‘Kau benar wahai Muhammad, kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’”

Cerita ini disarikan dari Kitab Al-Majalisus Saniyah, Syarah Arbain Nawawiyyah karya Syekh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani, (Semarang, Maktabah Al-Munawwir: tanpa catatan tahun), halaman 61-62). Wallahu a‘lam. []

Sumber: NU Online

Nadirsyah Hosen: Meluruskan Hadits Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah


Meluruskan Hadits Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah
Oleh: Nadirsyah Hosen

Beberapa tahun lalu saya mengkritisi Hadits yang sering digunakan Hizbut Tahrir Indonesia (organisasi yang resmi dibubarkan Pemerintah RI pada 19 Juli 2017) untuk memprediksi bahwa akan datang kembali sistem pemerintahan khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian (khilafah 'ala minhajin nubuwwah).

Saya sebutkan bahwa riwayat Thabrani soal itu majhul (tidak diketahui) dan riwayat Imam Ahmad bermasalah khususnya pada perawi yang bernama Habib bin Salim.

Kritikan saya itu juga diikuti oleh sahabat saya Agus Maftuh Abegebriel (Dubes RI untuk Saudi Arabia). Akibat kritikan kami tsb, DPP HTI kemudian berusaha keras mendukung riwayat yang kami persoalkan itu. Mereka menganggap Hadits soal khilafah ‘ala minhajin nubuwwah kalau tidak shahih ya minimal hasan. Mereka tidak mau bilang dha’if meski mereka mengakui kutipan saya bahwa Imam Bukhari tidak mau meriwayatkan dari Habib bin Salim. Fihi nazhar (ia perlu diteliti), kata Imam Bukhari.

Ini menunjukkan bahwa Habib bin Salim itu perlu ditinggalkan dan tidak dianggap kredibel. DPP HTI mati-matian hendak menunjukkan bahwa kalimat fihi nazhar dari imam Bukhari bukan berarti Hadisnya menjadi lemah. Siapa pun yang belajar jarh wa ta’dil tentu tahu bahwa jarh harus didahulukan ketimbang ta’dil.

Maka kalau Imam Bukhari sudah men-jarh Habib bin Salim, maka diskusi sudah selesai sebenarnya. Tidak perlu berpanjang kalam. Memang kita siapa dibanding Imam Bukhari. Apa lagi dari 9 kitab hadis utama (kutubut tis’ah) hanya Musnad Ahmad yang meriwayatkan hadits khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Jadi, kelemahan hadis ini tidak bisa tertolong.

Semakin saya pelajari dan kaji lebih jauh semakin yakin saya dengan kritikan saya beberapa tahun yang lalu itu. Ini saya coba ringkaskan:

1. Kritik Sanad

Pertama, Habib bin Salim ini tidak banyak meriwayatkan Hadis, dan beberapa diantaranya juga bermasalah. Kitab al-Muwatha dan Tuhfatul Ahwazi mendhaifkan riwayat lain dari Habib. Kitab Faidul Qadir mengatakan riwayat Habib dari Huzaifah itu mursal dan Hadis soal khilafah ala minhajin nubuwwah ini diriwayatkan Habib bin Salim dari Huzaifah. Tarikhul islam li dzahabi mengatakan hadis-hadis riwayat Habib bin Salim dari Abi Basyir itu dhaif.

Kedua, kitab al-Du’afa al-kabir lil Uqayli juga mendhaifkan riwayat Habib bin Salim. Kata Ibn Adi, sanad dia sering tertukar. Al-Suyuti mengatakan dia lemah. Jadi, jelas selain Imam Bukhari banyak juga ulama lain yang men-jarh-kan Habib bin Salim ini. Sekali lagi, kita harus mendahulukan jarh dibanding ta’dil.

Ketiga, perawi berikutnya Dawud ibn Ibrahim al-Washitiy ternyata juga bermasalah. Musnad Ahmad hanya sekali meriwayatkan dari dia, yaitu Hadis ini saja. Begitu kita lacak ke kitab hadis utama lainnya nama ini juga tidak muncul.

Dalam Silsilah Dha’ifah disebutkan oleh Syekh al-Albani bahwa Dawud ini bermasalah (fihi layyin) dan cacat (fahuwa al-‘illat). Ibn Hibban mengatakan dawud ini tsiqah tetapi ibn Hibban sendiri tidak pernah meriwayatkan Hadis darinya. Jadi, kita patut skeptis dengan perawi ini.

Keempat, riwayat lain, seperti sudah saya sebutkan, berasal dari Mu’jam Thabrani (Hadis No 368), dan majhul karena salah sau perawinya bernama Habib bin Abi Tsabit dikomentari Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah sebagai mudallis. Bahkan dalam jalur riwayat ini Habib bin Abi Tsabit meriwayatkan dari seorang lelaki suku Quraisy. Tidak jelas siapa orangnya. Maka sanad dari jalur ini jelas bermasalah.

2. Kritik Matan

Dari segi matan mari kita simak menurut riwayat jalur Musnad Ahmad (Hadits No 18.406) periode khilafah itu:

a. Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah: ini disepakati ulama sebagai periode khulafa al-rasyidin. Yang dalam riwayat lain disebutkan hanya 30 tahun.
b. Kemudian memasuki masa Kerajaan yang Menggigit/zhalim (Mulkan ‘Adhan)
c. Setelah itu periode Kerajaan yang diktator (Mulkan Jabariyah)
d. Setelah itu akan datang masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah

Sudah saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya bahwa indikasi dari riwayat Musnad Ahmad ini Habib bin Salim tegas merujuk kepada khalifah Umar Bin Abdul Azis sebagai periode keempat (d) yaitu khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Jadi, sudah selesai periodisasi di atas.

Begitu juga pendapat para ulama seperti al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Baihaqi, Ibn Rajab al-Hanbali, al-Suyuthi, bahkan Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (kakek Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir) juga berpendapat Umar Bin Abdul Azis lah yang dimaksud dalam periode keempat.

HTI menganggap periode keempat itu akan muncul nanti makanya mereka getol sekali mau kembali ke sistem khilafah. Kalau periode keempat itu baru muncul belakangan apa mereka tega mau bilang Umar Bin Abdul azis termasuk yang Mulkan ‘Adhan atau Mulkan Jabariyah?

Lagipula sekarang ini kita tidak berada pada periode Mulkan Jabariyah (ketiga) karena kita berada pada zaman negara bangsa (ad-Duwal al-Islamiyah al-Qaumiyah) yang tidak disebut dalam riwayat yang bermasalah itu. Jadi, riwayat di atas sudah selesai periodisasinya dan sudah tidak cocok lagi mau dipakai terus oleh HTI.

Kalau kita periksa riwayat Thabrani justru periodisasinya berbeda: Kenabian, Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah terus Mulkan Jabariyah. Berarti menurut riwayat ini tidak ada nanti khilafah lagi.

Kitab Majma’ Zawaid mencantumkan riwayat dari Muadz bin Jabbal bahwa urutannya adalah kenabian, khilafah, mulkan adhan dan mulkan jabariyah. Tidak disebut periode akhirnya adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Begtu juga tiga riwayat yang tercantum dalam Kanzul Umal (Hadis No 15111, 15112, dan 15113) tidak menyebutkan ujungnya adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Habib bin Salim ini budak yang dimerdekakan oleh Gubernur Nu’man, dan diangkat sebagai sekretaris. Anaknya Nu’man yang bernama Yazid kawan dari khalifah Umar bin Abdul Azis. Maka untuk mendukung anak bossnya, Habib bin Salim menulis surat kepada Khalifah Umar bin Abdul azis bahwa yang dimaksud sebagai khalifah ‘ala minhajin nbuwwah itu adalah Umar bin Abdul Azis, dan Khalifah merasa gembira dengan kabar dari Habib bin Salim ini. Jelas kita harus berhati-hati menerima riwayat ‘politis’ dan cukup ‘berbau menjilat’ kepada penguasa ini.

Kesimpulan:

Ini semua menguatkan kajian saya beberapa tahun silam bahwa term khilafah a’la minhajin nubuwwah yang disebutkan dalam riwayat Habib bin Salim itu hanyalah, pertama, tambahan belaka. Kedua, ditujukan untuk khalifah Umar bin Abdul Azis bukan untuk akhir zaman. Ketiga, sanad dan matan riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah ini sangat bermasalah. Karena itu gugur seketika semua propaganda HTI untuk kembali ke jaman khilafah. Dalil sudah runtuh dan diskusi sudah selesai.

Gerakan apapun, mau komunis ala PKI, NII dengan negara Islam atau khilafah model HTI adalah gerakan makar yang hendak menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan darah dan air mata para pejuang dan ulama untuk menegakkan dan mempertahankan NKRI ini dinistakan oleh seorang dai HTI yang beredar videonya di youtube yang mengatakan semuanya telah mati dalam keadaan kafir karena tidak mendukung berdirinya khilafah. Dalil mereka saja sangat bermasalah kok seenaknya mengkafirkan-kafirkan para pejuang dan pendiri Republik Indonesia. Na’udzubillah.

NU ONLINE, 27 Juni 2019
Nadirsyah Hosen | Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School