Politik
dalam Bahasa
Oleh:
Mohamad Sobary
Dalam
berbahasa sehari-hari, sesuatu yang bisa disebut 'biasa', terdapat unsur
politik yang jelas. Struktur bahasa bisa ditentukan oleh apa yang disebut
politik tadi. Tanpa lebih dahulu mendefinisikan makna politik yang kompleks dan
boleh jadi berbelit-belit, kita bisa langsung menunjukkan contoh politik dalam
struktur dan makna bahasa kita. Di sini bahasa lisan maupun tulisan tidak
memerlukan pembedaan. Lisan maupun tulisan sama-sama ungkapan bahasa yang tak
terbebas dari politik tadi.
Relasi antara bawahan dan atasan di dalam lingkungan
birokrasi, swasta maupun pemerintah, merupakan bentuk relasi politik. Di
dalamnya kekuasaan terpancar dengan jelas melalui struktur atasan maupun
bawahan tadi. Relasi politik seperti ini terpancar pula di dalam cara kita
berbahasa.
Misalnya bisa kita lihat dalam hubungan atasan
bawahan dalam birokrasi. Kekuasaan, biarpun kecil, selalu dikapitalisasi di
dalam birokrasi. Seorang kepala seksi, yang rendah dan sempit wilayah
kekuasaannya, tak mudah bermurah hati begitu saja tanpa membuat ruwet bawahan,
semata untuk menunjukkan setidaknya secara simbolis bahwa dia berkuasa. Makin
panjang deretan staf yang antre dengan merengek agar permohonannya dikabulkan
makin berbahagialah sang kepala seksi karena jelas terbukti ada begitu banyak
orang yang merunduk-runduk memohon belas kasihannya.
Ketua koperasi kantor mungkin bisa menjadi contoh.
Juga bagian keuangan. Di sini bukan hanya direktur keuangan yang agak tinggi
statusnya, melainkan kasir yang rendahan pun gemar mengapitalisasi kekuasaannya
untuk pamer: akulah yang berkuasa. Kalau bawahan agak mendesak, meskipun dengan
bahasa seorang pemohon yang cemas dan sopan, bisa saja kepala seksi berkata:
yang berkuasa di sini kau apa aku?
***
Inilah
politik dalam 'kandungan' bahasa kita sehari-hari. Sepandai apa pun orang
menyembunyikannya, politik itu tak akan pernah tersembunyi secara sempurna.
Makna simbolik di balik bahasa itu sangat jelas menggambarkan politik
kebahasaan kita.
Di dalam suatu alinea teks sejarah, artinya dalam
bahasa, cerminan politik di dalamnya mudah kita temukan biarpun kata politik
tak terdapat di dalam teks tersebut. "Baginda Raja akhirnya memutuskan
memanggil pemuda pemberontak itu untuk meminta maaf dan berjanji tak akan
mengulangi lagi tindakannya. Tetapi sang pemuda menolak kedua-duanya. Dia tak
mau menghadap, dan dengan sendirinya tak pernah meminta maaf. Dia mengatakan:
Aku tak bersalah. Mengapa harus meminta maaf."
Kita
mengenal ada bahasa pemerintah, yang ungkapannya menunjukkan kekuasaan
politiknya. Di dalamnya ada pula bahasa penjilat, yang langgam berbahasanya
merunduk-runduk, selalu membenarkan atasan. Semua kata, ucapan-ucapan dan
keputusan tak pernah salah. Apa saja yang keluar dari atasan serba sudah benar.
Maka untuk mengejek sikap si penjilat itu, lalu muncul bahasa resistensi:
"Bahkan sebelum atasan berkata, si penjilat sudah membungkuk dalam-dalam
sambil berkata: bapak benar."
Penjilat ada di pemerintahan, di swasta, di dunia
politik maupun di dunia bisnis. Bahkan ada pula di dalam birokrasi
lembaga-lembaga rohani. Di dalam politik bahasa sehari-hari yang kompleks tadi,
ada yang disebut bahasa perlawanan. Ini bisa disebut bahasa alternatif yang tak
menyukai kekuasaan otoriter, maupun watak serba penuh penjilatan tadi. Semangat
dan gaya ungkapannya menuntut, mendobrak, melawan segenap kecenderungan bahasa
dan tingkah laku yang anti watak egaliter.
Perlawanan bisa diungkapkan dengan berbagai cara. Ada
pihak yang lugas, terus terang, terbuka, dan blak-blakan. Ada bahkan yang
segenap artikulasi kebahasaannya cenderung kasar, dengan makian yang tak
terkontrol. Di sini perlawanan menjadi sejenis kebencian pribadi. Tapi ini
semua merupakan ungkapan jujur seorang warga negara kepada pemimpinnya.
***
Di radio,
di televisi, di seminar-seminar atau di berbagai forum pertemuan terbuka,
banyak kita jumpai politik bahasa yang menggambarkan keterbukaan dan sikap
terus terang seperti itu. Dalam arti tertentu, politik bahasa diungkapkan bukan
hanya dengan cara kurang sopan, tetapi juga merupakan ungkapan kebencian
pribadi tadi.
Di media elektronik maupun di dalam media cetak, dan
dalam berbagai modus komunikasi sosial, ada kemalasan dan kedangkalan
berbahasa. Wartawan yang menelepon untuk meminta waktu melakukan wawancara,
dengan mudahnya berkata: terkait isu politik mutakhir bagaimana bapak
melihatnya? Terkait. Belum mengatakan apa pun sudah mulai "terkait"
yang membosankan itu.
Mengapa tak mengatakan: dalam hubungan dengan, atau
ada hubungannya dengan, atau ada kaitannya dengan... bagaimana penilaian anda?
Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa. Bahkan bisa jadi ini
cermin kedangkalan pemikiran kita karena kita sudah puas dengan terkait, yang
tak selalu mencerminkan makna yang dikehendaki. Tetapi semua orang media,
bahkan orang birokrasi maupun akademisi secara beramai-ramai menggunakan kata
itu tanpa proses koreksi yang cermat untuk mengungkapkan artikulasi kebahasaan
yang juga cermat.
Sebelumnya, dan saat ini masih berlangsung, ada kata
'suci' yang digunakan secara semena-mena oleh banyak kalangan, terutama media
elektronik. Mulanya kata itu dipakai di kalangan orang politik: Ya tentunya
sebagai orang partai saya...Tentunya? Kata ini mencakup makna tentu saja,
dengan sendirinya, sudah barang tentu, tak diragukan lagi. Banyak makna lebih
bagus, lebih akurat, lebih mencerminkan keadaan, yang harus digunakan dengan
cermat, api hanya 'tentunya' yang dipakai dengan cara malas dan dangkal.
Di media
elektronik, di kalangan presenter muda, bahkan diubah menjadi pastinya, yang
tak menggambarkan kepastian apa pun selain sekali lagi, kemalasan berpikir dan
kedangkalan cara berbahasa. Sayang, orang media tak bisa dikoreksi.
Kecenderungan mau mencari mudahnya, dengan cara serampangan seperti ini tidak
memperkaya bahasa. Hanya satu yang mereka dicapai: mendangkalkan dan membikin
kita dungu.
Orang media sebagai kelompok strategis memang bukan
penjaga taman kata-kata, tetapi mereka, dengan kemalasan tadi, bisa memengaruhi
kelompok yang sangat luas di dalam masyarakat. Haruskah kita berkata:
berbahasalah dengan baik? Atas dasar apa kita berbuat begitu.
Ada lagi politik bahasa yang bersikap menutup mata,
tanpa berpikir mengenai lawan bicara. Ini datang dari dunia bisnis, yang
seharusnya berbicara manis, diplomatis dan 'tepat' karena budi bahasa mereka
merupakan iklan dan usaha menarik simpati masyarakat. Ini datang dari
Telkomsel. Kita menelepon seseorang yang kita kenal dengan baik nomor HP-nya,
tapi dia menjawab: nomor yang kamu tuju salah.
Sangat sembarangan mengatakan salah terhadap nomor
yang kita tahu tidak salah. Kalau ini rekaman, ini harus diubah. Cari kata lain
yang tak menggambarkan kebohongan. Kita tahu nomor yang kita putar tidak salah,
mengapa dikatakan salah? Malas berpikir tepat dan akurat? Orang teknologi
komunikasi kok membiarkan komunikasinya salah?
Lebih menjengkelkan lagi ini: Nomor yang kamu tuju
tidak menjawab. Kamu? Apa dikira yang menelepon hanya anak muda yang sebaya
dengan orang Telkomsel atau Telkom pada umumnya? Dikamu-kamukan dalam suasana
sedang ruwet karena yang ditelepon tak menjawab, kita kecewa, dan jengkel.
Dunia bisnis kok sembarangan dalam berkomunikasi.
Kita yang tahu bahasa yang kita telepon tak menjawab.
Tahu persis, Tapi mengapa dengan agak 'pekok' dia memberi tahu: Nomor yang kamu
tuju tidak mau menjawab. Komunikasi bisnis macam apa ini? Politik bahasa apa
pula yang dipakai orang di dunia bisnis ini? Mengapa tak ada koreksi internal?
Politik berbahasa kita sehari-hari terasa genit, dan
sok akrab, tapi ini bukan politik bahasa yang baik. Apalagi dalam dunia bisnis.
[]
Koran
SINDO, 1 Oktober 2016
Mohamad Sobary | Budayawan