Senin, 03 Oktober 2016

(Hikmah of the Day) Kala Sayyidina Ali Berdagang dengan Allah



Kala Sayyidina Ali Berdagang dengan Allah

Dalam keluarga kecil Sayyidina Ali karramallâhu wajhah terdapat 5 orang yang tinggal serumah: Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain dan Haris. Suatu kali satu keluarga ini sudah tiga hari tidak makan. Sedangkan Fatimah, istri Ali hanya mempunyai selembar kain sarung, namun ia rela memberikannya kepada sang suami untuk kemudian dijual. Setelah kain sarung terjual seharga 6 dirham, Ali menyedekahkan uang hasil penjualan kepada orang-orang fakir.

Dalam kitab An-Nawadir dikisahkan, setelah Ali menyedekahkan 6 dirham dari hasil penjualan, ia ditemui malaikat Jibril yang menjelma manusia. Jibril datang dengan membawa unta dari surga. Jibril berkata, "Hai ayahanda Hasan, tolong anda beli unta saya ini!"

Ali menyahut dengan segera "Wah, saya sedang tak punya apa-apa, aku tak kuat membelinya."

"Ya sudah, belilah dengan tempo saja."

"Lha engkau mau jual berapa?"

"Seratus dirham" kata Jibril yang masih dalam jelmaan manusia.

Benar, jual beli sudah pada kata sepakat. Ali menerima tali kendali sedangkan Jibril meniggalkan lokasi jual beli.

Tanpa berselang waktu lama, Malaikat Mikail datang menghampiri. Ia juga datang menjelma sebagai orang dari penduduk pedalaman (a'rabi) dan langsung bertanya. "Hai ayah Hasan, apakah engkau akan menjual unta ini?"

"Iya."

"Berapa besar biaya saat kau membelinya?"

"Seratus dirham," jelas Ali.

"Ya sudah, saya beli saja ya? Anda saya kasih untung 60 dirham," tawar orang desa tersebut.

Setelah keduanya sepakat dengan harga 160 dirham serta Ali sudah memegang uangnya, penjual pertama lalu (Jibril yang menjelma) datang kembali ke lokasi.

"Kau telah menjual unta tadi, Ali?" tanya Jibril.

"Iya."

"Kalau begitu, mana uang hakku?" tagih Jibril.

Seratus dirham diberikan sebagai biaya pembelian, sedangkan Ali sekarang masih mendapat sisa uang 60 dirham. Ali pun segera pulang. Dan ketika sampai di rumah, ia ditanya Fatimah. "Dari mana kau suamiku?"

"Aku habis jual beli dengan Allah sebesar 6 dirham kemudian Allah memberikan aku 60 dirham. Pada setiap 1 dirham dibalas 10 dirham."

Lalu Ali bin Abi Thalib datang sowan kepada Rasulullah. Ia menceritakan seluruh kronologi kejadian. Dan Baginda Nabi memberikan penjelasan, "Hai Ali, penjual itu adalah Jibril, pembelinya adalah Mikail. Unta tersebut adalah kendaraan Fatimah kelak saat hari kiamat."

Nabi melanjutkan, "Hai Ali, engkau diberi tiga hal yang tak pernah diberikan kepada siapa pun. Engkau punya istri yang akan menjadi pimpinan wanita ahli surga. Engkau mempunyai dua anak laki-laki yang akan menjadi pimpinan penduduk surge, serta engkau mempunnyai mertua yang menjadi pimpinan para utusan. Bersyukurlah kepada Allah, pujalah Dia atas segala nikmat yang diberikan kepadamu. []

(Mundzir)

Kang Sobary: Politik dalam Bahasa



Politik dalam Bahasa
Oleh: Mohamad Sobary

Dalam berbahasa sehari-hari, sesuatu yang bisa disebut 'biasa', terdapat unsur politik yang jelas. Struktur bahasa bisa ditentukan oleh apa yang disebut politik tadi. Tanpa lebih dahulu mendefinisikan makna politik yang kompleks dan boleh jadi berbelit-belit, kita bisa langsung menunjukkan contoh politik dalam struktur dan makna bahasa kita. Di sini bahasa lisan maupun tulisan tidak memerlukan pembedaan. Lisan maupun tulisan sama-sama ungkapan bahasa yang tak terbebas dari politik tadi.

Relasi antara bawahan dan atasan di dalam lingkungan birokrasi, swasta maupun pemerintah, merupakan bentuk relasi politik. Di dalamnya kekuasaan terpancar dengan jelas melalui struktur atasan maupun bawahan tadi. Relasi politik seperti ini terpancar pula di dalam cara kita berbahasa.

Misalnya bisa kita lihat dalam hubungan atasan bawahan dalam birokrasi. Kekuasaan, biarpun kecil, selalu dikapitalisasi di dalam birokrasi. Seorang kepala seksi, yang rendah dan sempit wilayah kekuasaannya, tak mudah bermurah hati begitu saja tanpa membuat ruwet bawahan, semata untuk menunjukkan setidaknya secara simbolis bahwa dia berkuasa. Makin panjang deretan staf yang antre dengan merengek agar permohonannya dikabulkan makin berbahagialah sang kepala seksi karena jelas terbukti ada begitu banyak orang yang merunduk-runduk memohon belas kasihannya.

Ketua koperasi kantor mungkin bisa menjadi contoh. Juga bagian keuangan. Di sini bukan hanya direktur keuangan yang agak tinggi statusnya, melainkan kasir yang rendahan pun gemar mengapitalisasi kekuasaannya untuk pamer: akulah yang berkuasa. Kalau bawahan agak mendesak, meskipun dengan bahasa seorang pemohon yang cemas dan sopan, bisa saja kepala seksi berkata: yang berkuasa di sini kau apa aku?

*** 
Inilah politik dalam 'kandungan' bahasa kita sehari-hari. Sepandai apa pun orang menyembunyikannya, politik itu tak akan pernah tersembunyi secara sempurna. Makna simbolik di balik bahasa itu sangat jelas menggambarkan politik kebahasaan kita.

Di dalam suatu alinea teks sejarah, artinya dalam bahasa, cerminan politik di dalamnya mudah kita temukan biarpun kata politik tak terdapat di dalam teks tersebut. "Baginda Raja akhirnya memutuskan memanggil pemuda pemberontak itu untuk meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi lagi tindakannya. Tetapi sang pemuda menolak kedua-duanya. Dia tak mau menghadap, dan dengan sendirinya tak pernah meminta maaf. Dia mengatakan: Aku tak bersalah. Mengapa harus meminta maaf."

Kita mengenal ada bahasa pemerintah, yang ungkapannya menunjukkan kekuasaan politiknya. Di dalamnya ada pula bahasa penjilat, yang langgam berbahasanya merunduk-runduk, selalu membenarkan atasan. Semua kata, ucapan-ucapan dan keputusan tak pernah salah. Apa saja yang keluar dari atasan serba sudah benar. Maka untuk mengejek sikap si penjilat itu, lalu muncul bahasa resistensi: "Bahkan sebelum atasan berkata, si penjilat sudah membungkuk dalam-dalam sambil berkata: bapak benar."

Penjilat ada di pemerintahan, di swasta, di dunia politik maupun di dunia bisnis. Bahkan ada pula di dalam birokrasi lembaga-lembaga rohani. Di dalam politik bahasa sehari-hari yang kompleks tadi, ada yang disebut bahasa perlawanan. Ini bisa disebut bahasa alternatif yang tak menyukai kekuasaan otoriter, maupun watak serba penuh penjilatan tadi. Semangat dan gaya ungkapannya menuntut, mendobrak, melawan segenap kecenderungan bahasa dan tingkah laku yang anti watak egaliter.

Perlawanan bisa diungkapkan dengan berbagai cara. Ada pihak yang lugas, terus terang, terbuka, dan blak-blakan. Ada bahkan yang segenap artikulasi kebahasaannya cenderung kasar, dengan makian yang tak terkontrol. Di sini perlawanan menjadi sejenis kebencian pribadi. Tapi ini semua merupakan ungkapan jujur seorang warga negara kepada pemimpinnya.

*** 
Di radio, di televisi, di seminar-seminar atau di berbagai forum pertemuan terbuka, banyak kita jumpai politik bahasa yang menggambarkan keterbukaan dan sikap terus terang seperti itu. Dalam arti tertentu, politik bahasa diungkapkan bukan hanya dengan cara kurang sopan, tetapi juga merupakan ungkapan kebencian pribadi tadi.

Di media elektronik maupun di dalam media cetak, dan dalam berbagai modus komunikasi sosial, ada kemalasan dan kedangkalan berbahasa. Wartawan yang menelepon untuk meminta waktu melakukan wawancara, dengan mudahnya berkata: terkait isu politik mutakhir bagaimana bapak melihatnya? Terkait. Belum mengatakan apa pun sudah mulai "terkait" yang membosankan itu.

Mengapa tak mengatakan: dalam hubungan dengan, atau ada hubungannya dengan, atau ada kaitannya dengan... bagaimana penilaian anda? Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa. Bahkan bisa jadi ini cermin kedangkalan pemikiran kita karena kita sudah puas dengan terkait, yang tak selalu mencerminkan makna yang dikehendaki. Tetapi semua orang media, bahkan orang birokrasi maupun akademisi secara beramai-ramai menggunakan kata itu tanpa proses koreksi yang cermat untuk mengungkapkan artikulasi kebahasaan yang juga cermat.

Sebelumnya, dan saat ini masih berlangsung, ada kata 'suci' yang digunakan secara semena-mena oleh banyak kalangan, terutama media elektronik. Mulanya kata itu dipakai di kalangan orang politik: Ya tentunya sebagai orang partai saya...Tentunya? Kata ini mencakup makna tentu saja, dengan sendirinya, sudah barang tentu, tak diragukan lagi. Banyak makna lebih bagus, lebih akurat, lebih mencerminkan keadaan, yang harus digunakan dengan cermat, api hanya 'tentunya' yang dipakai dengan cara malas dan dangkal.

Di media elektronik, di kalangan presenter muda, bahkan diubah menjadi pastinya, yang tak menggambarkan kepastian apa pun selain sekali lagi, kemalasan berpikir dan kedangkalan cara berbahasa. Sayang, orang media tak bisa dikoreksi. Kecenderungan mau mencari mudahnya, dengan cara serampangan seperti ini tidak memperkaya bahasa. Hanya satu yang mereka dicapai: mendangkalkan dan membikin kita dungu.

Orang media sebagai kelompok strategis memang bukan penjaga taman kata-kata, tetapi mereka, dengan kemalasan tadi, bisa memengaruhi kelompok yang sangat luas di dalam masyarakat. Haruskah kita berkata: berbahasalah dengan baik? Atas dasar apa kita berbuat begitu.

Ada lagi politik bahasa yang bersikap menutup mata, tanpa berpikir mengenai lawan bicara. Ini datang dari dunia bisnis, yang seharusnya berbicara manis, diplomatis dan 'tepat' karena budi bahasa mereka merupakan iklan dan usaha menarik simpati masyarakat. Ini datang dari Telkomsel. Kita menelepon seseorang yang kita kenal dengan baik nomor HP-nya, tapi dia menjawab: nomor yang kamu tuju salah.

Sangat sembarangan mengatakan salah terhadap nomor yang kita tahu tidak salah. Kalau ini rekaman, ini harus diubah. Cari kata lain yang tak menggambarkan kebohongan. Kita tahu nomor yang kita putar tidak salah, mengapa dikatakan salah? Malas berpikir tepat dan akurat? Orang teknologi komunikasi kok membiarkan komunikasinya salah?

Lebih menjengkelkan lagi ini: Nomor yang kamu tuju tidak menjawab. Kamu? Apa dikira yang menelepon hanya anak muda yang sebaya dengan orang Telkomsel atau Telkom pada umumnya? Dikamu-kamukan dalam suasana sedang ruwet karena yang ditelepon tak menjawab, kita kecewa, dan jengkel. Dunia bisnis kok sembarangan dalam berkomunikasi.

Kita yang tahu bahasa yang kita telepon tak menjawab. Tahu persis, Tapi mengapa dengan agak 'pekok' dia memberi tahu: Nomor yang kamu tuju tidak mau menjawab. Komunikasi bisnis macam apa ini? Politik bahasa apa pula yang dipakai orang di dunia bisnis ini? Mengapa tak ada koreksi internal?

Politik berbahasa kita sehari-hari terasa genit, dan sok akrab, tapi ini bukan politik bahasa yang baik. Apalagi dalam dunia bisnis. []

Koran SINDO, 1 Oktober 2016
Mohamad Sobary | Budayawan

Kang Komar: Refleksi 1 Muharam Momentum Hijriah



Refleksi 1 Muharam Momentum Hijriah
Oleh: Komaruddin Hidayat

SECARA tegas dan jelas Alquran menyatakan kehadiran Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW itu merupakan misi kerahmatan bagi semesta. Islam dalam arti generiknya sesungguhnya mencakup semua agama yang dibawa seluruh rasul Allah sejak Nabi Adam dan setelahnya. Jadi, pada dasarnya semua agama yang berasal dari Allah itu adalah sama dan identik pesannya, sebagai wujud kasih-Nya untuk memimbing manusia ke jalan yang benar, baik, dan membahagiakan.

Setiap agama umumnya memiliki kalender masing-masing untuk menandai hari-hari dan peristiwa besar yang kemudian dirayakan dengan upacara kenegaraan ataupun keagamaan. Peristiwa keagamaan ini pada urutannya melebur ke dalam ranah budaya sehingga upacara keagamaan dan keagamaan saling mengisi. Termasuk juga penetapan kalender agama dan bangsa saling memperkaya. Misalnya, sebagai bangsa besar Tiongkok memiliki kalender sendiri untuk menentukan hari-hari besar mereka. Dalam dunia akademis dan perdagangan, tampaknya yang dominan ialah kalender Masehi, yaitu dimulai dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus.

Umat Islam sesungguhnya memiliki kalender tersendiri meskipun mereka juga menggunakan kalender Masehi. Bertepatan pada Ahad, 2 Oktober 2016 ini jatuh 1 Muharam 1438 Hijriah, sebagai awal tahun baru yang diciptakan dunia Islam. Disebut kalender Hijriah karena momentumnya memang bukan diambil dari hari kelahiran Nabi Muhammad, melainkan peristiwa perjuangannya yang dipandang sangat strategis dan historis dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Secara historis peristiwa hijrah ini merupakan mata rantai yang sangat menentukan kemenangan dan perkembangan penyebaran Islam. Umat Islam begitu berat menghadapi tekanan musuh sewaktu di Mekah, lalu atas izin Allah berpindah dan melakukan konsolidasi di Madinah. Di kota ini umat Islam semakin besar jumlahnya, fondasi ajaran Islam semakin mapan, dan pada gilirannya Rasulullah dan umatnya kembali lagi ke Mekah dan menaklukkannya dengan cara damai.

Sebuah konvensi

Kota Mekah dan Madinah ialah dua kota yang menjadi basis dan saksi masa-masa awal pembentukan ajaran dan umat Islam yang hidup sezaman dengan Rasulullah. Masa inilah yang selalu menjadi rujukan dan sumber inspirasi bagi pembinaan umat Islam setelahnya dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, setiap tiba tahun baru Hijriah, umat Islam sedunia selalu mengadakan upacara peringatan untuk mengenang kembali dan meneladani Rasulullah dan para sahabatnya bagaimana membangun komunitas muslim yang beradab, tercerahkan, yang berhasil gemilang mengganti kehidupan tidak beradab (jahiliah) menjadi sangat beradab (civilized).

Pada awalnya kalender itu memang sebuah konvensi sebagai tanda perjalanan waktu, dengan mandasarkan hitungan putaran bumi, matahari, dan bulan yang kemudian melahirkan tonggak-tonggak waktu sejak dari menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan abad. Akan tetapi, untuk selanjutnya kalender selalu muncul dalam kesadaran batin kita bagaikan sebuah rumah yang berjalan (moving house) yang di dalamnya menyimpan seribu satu kenangan dan catatan peristiwa yang berjalan menyertai kita. Bahkan, seluruh aktivitas kita pun selalu dibayangi dan dibatasi waktu.
Jam tangan dan kalender tak pernah luput dari kesadaran kita sehari-hari. Di mana pun kita memasuki dunia kerja, di situ akan selalu bertemu dengan informasi tanggal, hari, bulan, dan tahun.

Bahkan juga jam. Jam tangan yang awal mulanya diciptakan manusia untuk mengetahui informasi waktu, sekarang posisinya menjadi berbalik. Bagi kalangan eksekutif yang serbasibuk, bahkan selalu merasa dikejar-kejar jam dan waktu. Sampai-sampai muncul ungkapan, kalau bisa seminggu itu menjadi sepuluh hari karena merasa sempit waktu yang tersedia untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Setiap orang memiliki jatah waktu 24 jam sehari semalam untuk melakukan aktivitas. Meski jatah waktunya sama, hasilnya ternyata berbeda-beda. Setiap orang juga berbeda dalam memaknai dan merasakan jalannya jarum jam dari menit ke menit. Ada yang merasa waktu berlalu dengan cepat, ada yang merasa lambat. Dengan demikian, rentang waktu ternyata bukan sekadar jumlah dan akumulasi hitungan menit, melainkan sangat berkaitan dengan suasana kejiwaan seseorang. Inilah yang saya maksudkan psikologi waktu.

Waktu metafisik

Ketika kita menghitung waktu secara empiris, dengan mendasarkan jumlah edar bumi mengelilingi matahari, di sana sesungguhnya ada kategori waktu yang bersifat metafisik (metaphysical time). Bahwa kita semua mengada mesti mengasumsikan dan meniscayakan berada dalam ruang dan waktu. Ketika kita berpikir tentang waktu, kita sudah berada dalam waktu. Makanya selalu muncul pertanyaan baku terhadap keberadaan seseorang; di mana dan kapan? Di mana menunjukkan ruang, kapan menunjukkan waktu. Bahkan, terhadap orang yang sudah meninggal pun berlaku pertanyaan; di mana dia sekarang? Berapa lama dia tinggal di alam kubur? Apakah langsung pindah ke surga atau neraka? Neraka itu ada batasnya atau tidak? Kalau kekal, apakah sama dengan kekalnya Tuhan? Demikianlah, ini termasuk kategori waktu metafisik. Sedangkan Tuhan yang mahaabsolut diyakini berada di luar ruang dan waktu yang digambarkan dan dialami manusia. Namun, di atas semuanya itu, ada sebuah pertanyaan yang sangat fundamental. Apakah hidup ini sekadar kita jalani bagaikan sebuah mesin atau hewan tanpa makna? Apakah ketika usia semakin tua tak ubahnya mesin tua yang kekuatan dan harganya juga kian merosot dan diobral murah? Menarik direnungkan, ketika orang mengadakan peringatan hari ulang tahun, yang diucapkan bukannya panjang usianya, melainkan panjang umurnya. Dalam bahasa Arab, istilah umur masih seakar dengan kata makmur.

Artinya, orang dikatakan panjang umurnya jika hidupnya produktif, mendatangkan kemakmuran bagi lingkungannya. Orang yang panjang usianya, tapi defisit amal kebajikannya dan tidak produktif bagi lingkungannya, disebut bangkrut hidupnya. Lafii khusrin, kata Alquran. Sungguh hidup yang merugi.
Adalah iman dan banyaknya amal kebajikan yang membuat panjang umur seseorang. Bahkan, meski seseorang telah dikatakan mati, sesungguhnya umurnya tetap berjalan selama warisan kebajikannya masih dirasakan orang banyak, yang dalam Islam disebut amal jariah, atau amal kebaikan yang sustainable. Yang berkelanjutan melebihi usia seseorang. Oleh karenanya, sungguh tepat nasihat orang bijak; waktu itu ibarat pedang yang sangat tajam. Jika engkau tidak mampu menjinakkan dan menggunakannya dengan benar, engkau sendiri yang akan tertebas oleh pedang itu. Hidup adalah pilihan, dan pilihan menentukan nasib. Kalau hidup hanya memuja ketampanan fisik dan kekayaan harta, satu-satu akan menjauhi dan meninggalkan kita. Peringatan tahun baru Hijriah dalam konteks berbangsa adalah jangan pernah kita lengah memanfaatkan momentum, terlena oleh aspek prosedural dan seremonial dalam berdemokrasi, tetapi melupakan substansi. Bahwa kita semua wajib mengawal semua proses politik untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. []

MEDIA INDONESIA, 1 October 2016
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

(Ngaji of the Day) Hukum Lupa atau Ragu Baca Tasbih dalam Shalat Tasbih



Hukum Lupa atau Ragu Baca Tasbih dalam Shalat Tasbih

Pertanyaan:

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redakasi Bahtsul Masail NU Online yang terhormat. Saya mau Tanya. Kalau sembahyang tasbih itu kita diharuskan untuk membaca beberapa tasbih di waktu-waktu tertentu. Saya beberapa kali mengamalkan sembahyang tasbih ini meskipun agak jarang-jarang. Sekali waktu saya lupa membaca tasbih itu. Bagaimana kalau tasbih itu terlewat? Mohon keterangannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Mamat – Jakarta

Jawaban:

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan berkat-Nya kepada kita semua. Sembahyang tasbih memang dianjurkan sekali minimal sekali seumur hidup. Di dalam sembahyang tasbih ada tempat-tempat di mana kita diharuskan untuk membaca tasbih dengan jumlah tertentu. Seperti kita diharuskan untuk membaca tasbih pada saat sebelum ruku’, di waktu ruku’, saat itidal, di saat sujud dan seterusnya.

Hanya saja terkadang kita lupa membaca tasbih itu di tempat-tempat yang ditentukan. Atau bisa jadi kita juga lupa atau ragu dengan jumlah tasbih yang telah kita baca.

Penanya yang budiman, lupa itu sangat manusiawi. Demikian halnya dengan ragu. Karena keduanya kadang hinggap begitu saja di luar dugaan dan datangnya tak dikehendaki. Dalam konteks sembahyang tasbih, ulama memberikan arahan secara teknis bagi mereka yang lupa atau ragu dalam membaca tasbih.

Keterangan teknis in bisa kita temukan dalam Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib atau Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib karya Syekh Sulaiman Al-Bujairimi. Keterangannya kami kutip sebagai berikut.

وإذا شك في عدد مرات التسبيح أخذ باليقين ، ويقدم ذكر كل ركن على تسبيحه ق ل . وقوله لم يسبح في السجود أي في السجود السهو أي تسبيح صلاة التسبيح . وقوله : لم يتداركه فيه نظر لأنه تقدم تداركه فيما بعده رحماني ، والذي تقدم هو قوله ولو ترك عشرة الركوع امتنع العود لها وفعلها في الاعتدال ، بل في السجود ثم قال أيضاً ومن نسي تسبيح ركن امتنع العود له وتداركه فيما بعده فتسبيح الركوع يتدارك بعضه في الاعتدال وبعضه في السجود . وعبارة خ ض : ولو تذكر في الاعتدال ترك تسبيحات الركوع حرم عليه عوده لها وقضاؤها في الاعتدال ، لأنه ركن قصير فلا يطول على ما ورد ويقضيها في السجود لاستحباب تطويله انتهت

Artinya, “Kalau seseorang ragu perihal bilangan tasbih, maka tetapkanlah angka pasti yang diyakininya. Seseorang juga harus mendahulukan bacaan zikir yang disunahkan di rukun yang telah ditetapkan ketimbang baca tasbih. Sekian penjelasan Qaliyubi. ‘Ia tidak membaca tasbih (shalat tasbih) di sujud (sahwi)’. ‘Ia tidak perlu menyusulnya’ mesti dianalisa dulu karena sebagaimana penjelasan yang sudah lewat bahwa ia mesti menggenapkan kekurangan tasbihnya pada rukun selanjutnya. Sekian penjelasan Ar-Rahmani. Yang dimaksud penjelasan telah lalu adalah, kalau seseorang meninggalkan sepuluh bacaan tasbih saat ruku’, maka ia saat itidal tidak boleh kembali ruku untuk membaca tasbih, dan tidak boleh membaca qadha tasbih itu saat itidal, tetapi ia mengqadhanya di saat sujud. Menurutnya, orang yang membaca tasbih di suatu rukun, tidak boleh kembali lagi ke rukun tersebut dan tidak boleh mengqadha rukun itu di rukun selanjutnya. Tasbih di waktu ruku dapat diqadha sebagian di waktu itidal, sebagian di waktu sujud. Kalau di waktu itidal seseorang ingat bahwa ia meninggalkan tasbih di waktu ruku, haram baginya kembali ruku hanya untuk bertasbih, dan haram mengqadha tasbih di waktu itidal. Pasalnya itidal adalah rukun pendek dalam shalat sehingga tidak boleh memanjangkanyya melebihi bacaan yang semestinya. Ia boleh mengqadha tasbih yang dtinggalkannya itu di waktu sujud karena sujud memang rukun yang dianjurkan untuk diperlama sedikit,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib, Beirut, Darul Fikr, tahun 1428 H/2007 M, Juz I, Halaman 427).

Keterangan serupa juga bisa kita temukan dalam Hasyiyah I‘anatut Thalibin karya Sayid Bakri bin Sayid  Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. Ia dengan jelas menyatakan bahwa tasbih yang tertinggal sebelum ruku’ atau saat ruku’ tidak perlu diqadha ketika itidal.

Sayid Bakri bahkan mengulas lebih jauh status sembahyang tasbih tanpa membaca tasbih sama sekali atau hanya membaca sebagiannya. Berikut ini kami kutipkan keterangannya.

قوله لم يجز العود إليه ) أي إلى الركوع ليأتي بتسبيحاته ( قوله ولا فعلها في الاعتدال ) أي ولم يجز فعل التسبيحات المتروكة في الاعتدال ( قوله لأنه ) أي الاعتدال وهو علة لعدم جواز فعلها في الاعتدال ( وقوله ركن قصير ) أي وهو لا يجوز الزيادة فيه على ما ورد ( قوله بل يأتي بها ) أي بتسبيحات الركوع المتروكة والاضراب انتقالي قال ع ش وبقي ما لو ترك التسبيح كله أو بعضه ولم يتداركه هل تبطل به صلاته أو لا وإذا لم تبطل فهل يثاب عليها ثواب صلاة التسبيح أو النفل المطلق فيه نظر والأقرب أنه إن ترك بعض التسبيح حصل له أصل سنتها وإن ترك الكل وقعت له نفلا مطلقا اه

Artinya, “(Tidak boleh kembali lagi) kembali ruku’ [ketika sudah i’tidal] demi membaca sepuluh kali tasbih, (tidak juga membacanya saat i‘tidal) tidak boleh dalam i’tidal membaca sepuluh tasbih yang terlewat [pada ruku atau sebelumnya], (karena dia) i’tidal maksudnya, ini menjadi illat tidak bolehnya mengqadha tasbih saat itidal (rukun singkat) sehingga tidak boleh menambahkan bacaan melebihi dari bacaan yang sudah ditentukan, (tetapi ia membacanya) membaca tasbih ruku yang terlewat [saat sujud]. Ali Syibramalisi mengatakan, masalah tersisa adalah kalau seseorang meninggalkan sebagian atau seluruh bacaan tasbih dan tidak menyempurnakan kekurangannya. Apakah shalat tasbihnya batal? Kalau tidak batal, apakah ia menerima pahala shalat tasbih atau shalat sunah biasa? Masalah ini mesti dilihat dulu. Kalau ia hanya meninggalkan sebagian tasbih, maka ia telah menjalankan shalat sunah tasbih. Tetapi jika ia meninggalkan bacaan tasbih sama sekali, ia hanya mendapat pahala shalat sunah biasa,” (Lihat Sayid Bakri bin Sayid  Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hayisyah I‘anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, tahun 1426 H/2005 M,  Juz I, Halaman 301).

Menurut kami, keterangan dua ulama ini cukup menjawab pertanyaan saudara Mamat. Kalau lupa membaca tasbih ketika berdiri, sebaiknya ia menyempurnakan kekurangan tasbihnya pada saat sujud saja. Yakinlah sembahyang tasbih saudara diterima Allah SWT. Kalau pun lupa membaca tasbih, ia tidak perlu membatalkan sembahyang tasbihnya, karena sembahyangnya tetap sah.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb

Alhafiz Kurniawan
Tim Bahtsul Masail NU