Senin, 03 Agustus 2015

(Buku of the Day) Kearifan dalam Bingkai Aswaja; Tazkirah Gurutta KH Muh Harisah, AS Pejuang dan Benteng Aswaja di Sulawesi Selatan



KH Muh Harisah Benteng Aswaja di Sulawesi Selatan


Judul buku        : Kearifan dalam Bingkai Aswaja; Tazkirah Gurutta KH Muh Harisah, AS Pejuang dan Benteng Aswaja di Sulawesi Selatan
Penulis             : Dr KH Afifuddin Harisah (Pimpinan Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar)
Editor               : Khairunnisa
Penerbit            : Lembaga Ladang Kata, Yogyakarta
Cetakan            : 2015
Tebal                : xii + 168 Halaman
ISBN                 : 978-602-1093-15-3
Peresensi          : Andy Muhammad Idris, Mahasiswa pasca sarjana (S2) Universitas Islam Makassar

KH Afifuddin Harisah, pimpinan pesantren An-Nahdlah Makassar dalam bukunya yang bertajuk “Kearifan dalam Bingkai Aswaja; Tazkirah Gurutta KH Muh Harisah, AS Pejuang dan Benteng Aswaja di Sulawesi Selatan” mencoba memotret kepribadian Gurutta Harisah lewat ulasan-ulasan, anekdot-anekdot dan kajian filosofis tentang pikiran, nasehat serta sikap beliau yang menutur Penulis sebagai bentuk “kearifan” yang mulai terkikis saat ini. 

Menurut penulisnya, buku ini berangkat dari “permintaan” dari Gurutta Harisah ketika membaca buku yang sangat tebal dan berisi materi yang sangat berat, Gurutta berkata kepada penulis, “Bikin ko buku yang bisa nanti nabaca (dibaca) anak-anak alumni dan santri. Bisa menjadi pegangan keaswajaan mereka selepas dari pesantren. Jangan terlalu tebal. Jadi kalau mulai dibaca di lounge bandara, dibaca lagi di pesawat, pas tiba nanti di Jakarta, tamat juga buku itu. Jangan juga bikin mappuru enninge (dahi berkerut) membacanya, bikin pening kepala.” (halaman v-vi)

Dalam buku ini, penulisnya mencoba memotret kepribadian Gurutta Harisah, dimana dalam kesehariannya selalu memberi contoh untuk hidup jujur dan konsistensi (istiqamah) dalam bersikap, bahkan kejujuran pada persoalan kecil pun Gurutta selalu mencontohkan. Ketika mengajarkan satu bab tentang pentingnya menjaga lisan, dalam Kitab Maraqi al-Ubudiyah, beliau menekankan, “Jangan sekali-kali kamu berbohong dan ketahuan orang berbohong, karena kapan kamu ketahuan berbohong, orang tidak akan pernah percaya kepadamu, bahkan saat kamu jujur sekalipun”. (halaman 3-4)

Kaitannya dengan jujur, Gurutta Harisah memiliki falsafah hidup sebagai orang Bugis Bone, yaitu: Taro ada taro gau, sisebbu ada seddi gau, gaue mappannessa artinya satukan kata dan perbuatan, walau seribu kata-kata namun satu perbuatan, maka perbuatan itulah yang menentukan kebenaran.

Kemudian, dalam buku ini diungkapkan tentang pola hidup sederhana Gurutta Harisah, dimana ketika terbentur pada pilihan yang dilematis, Gurutta sering berkata: “Pakkonitu, aga we musappa, pada muwa, syukkuruno nasaba engka mua” artinya sudah begitu saja, apa yang kamu cari, intinya sama saja, syukurlah karena ada walaupun tidak seperti yang dibayangkan. Demikian kalimat ini menggambarkan kesederhanaan Gurutta, karena Gurutta itu simple, nggak neko-neko kata orang Jawa. (halaman 13-14)

Dewasa ini masyarakat digandrungi budaya mengoleksi batu mulia, namun tidak banyak yang tahu bahwa Gurutta adalah pencinta dan kolektor batu mulia. Tidak tanggung-tanggung, batu mulia yang dikoleksi beliau merupakan jenis yang boleh dibilang high level, bukan pasaran. Mulai dari akik, safir, ruby, fairuz, giok, dan sebagainya beliau miliki. Meski demikian, Gurutta sama sekali tidak meyakini tuah atau khasiat tertentu pada batu mulia yang mengarah pada kepercayaan mistis. Bagi beliau, batu mulia adalah batu mulia, tidak lebih dari sekedar perhiasan. Tidak hanya itu Gurutta juga memiliki hobi mattompang badik, mattompang adalah salah satu cara perawatan badik, senjata tradisional Bugis Makassar dengan menggunakan jeruk nipis. (halaman 106-107)

Di sisi lain dari buku ini, penulisnya mengulas tentang janggut, suatu ketika Gurutta Harisah didatangi sekelompok orang dari ormas Islam di Makassar dengan berpenampilan majjanggo (berjanggut), dan berpakaian ala Pakistan. Dia berkata kepada Gurutta “Pak Kiai kami kenal Bapak sebagai ulama, Bapak pengasuh pesantren yang cukup dikenal masyarakat di kota Makassar ini. Tentunya Bapak tahu betul dalil-dalil yang mengharuskan kita laki-laki Muslim untuk memanjangkan janggut sebagai sunnah nabi, trus kenapa Pak Kiai tidak mengamalkan sunnah ini? Kenapa Bapak tidak memelihara janggut, padahal Bapak lumayan gagah lho kalau berjanggut? Saya bisa tunjukkan dalil-dalilnya Pak Kiai!”

Gurutta Harisah menjawab: “Ustadz, tidak ada yang mengingkari ajaran janggut ini. Kalau dibuka semua kitab hadis yang mu’tabar pasti banyak menyebutkan adanya perintah nabi untuk memanjangkan janggut dan memang nabi juga berjanggut, sangat jelas itu adalah sunnah. Tapi kenapa saya pribadi tidak berjanggut? Begini, yang namanya sunnah adalah pilihan? Bukan wajib, bukan fardhu ‘ain yang disepakati ijma ulama. Mau berjanggut atau tidak bukanlah paksaan dalam agama. Itu satu hal.”

Hal yang kedua, saya pernah minta izin kepada istri saya untuk memelihara janggut. Istri saya protes dan menolak permintaan saya. Dia sama sekali tidak suka kalau saya berjanggut. Pastinya dia akan marah besar kalau ada janggut menjulur di wajah saya. Tentunya ini adalah hak istri atas suaminya. Bagi saya, dan ini adalah nilai agama yang sifatnya prinsip, bahwa mempertahankan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga adalah wajib. Membahagiakan istri adalah kewajiban suami, demikian pula sebaliknya. Nah, salah satu syarat kebahagiaan rumah tangga adalah tidak memperbuat hal-hal yang menyakiti atau mengecewakan pasangan kita. Saya tanya kepada Ustadz, mana lebih penting atau lebih diutamakan, “wajib”nya membahagiakan istri atau “sunnah”nya berjanggut? Pertanyaan itu ternyata membuat si ustadz terdiam, kemudian Gurutta mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib yang artinya “Janganlah kalian diperdaya oleh janggut, karena sesungguhnya kambing pun memiliki janggut”. (halaman 117-120).

Dan akhirnya, masih banyak kisah inspiratif dari Gurutta Harisah yang dituangkan dalam buku ini, kisah keseharian sampai pada masalah-masalah kenegaraan dan sikap beliau tentang pentingnya hidup wara’, karena Gurutta selalu mengingatkan semua santri dan jamaah pesantren An Nahdlah untuk berhati-hati dalam menghadapi godaan duniawi. Sikap beliau sangat jelas dan tegas, menolak segala yang syubhat, yang meragu-ragukan, terlebih yang haram. Nasihatnya, “Aniniko, nasaba iyyamitu salama to maninie” maksudnya hendaklah anda bersikap hati-hati dan menghindari yang haram, karena hanya orang-orang yang bersikap demikianlah yang akan selamat. Wallahu a’lam. []

Kang Komar: Indahnya Mudik Lebaran



Indahnya Mudik Lebaran
Oleh: Komaruddin Hidayat

MUDIK Lebaran itu mengasyikkan. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk ber-Lebaran di kampung. Di antaranya ialah untuk berkumpul keluarga di hari yang istimewa itu. Terlebih bagi mereka yang masih punya orangtua, kerinduan untuk bertemu mereka menjadi dorongan utamanya.

Bernostalgia tapak tilas masa-masa remaja di desa itu serasa rekreasi emosional menembus waktu ke masa silam yang begitu terasa indah melankolis setelah lama berlalu. Begitu besarnya arus dan gelombang mudik, sampai-sampai pemerintah menaruh perhatian istimewa untuk memfasilitasi acara pesta budaya ini.

Sejak dari perbaikan jalan darat, laut, dan udara, semuanya disiapkan sebaik mungkin. Tidak ketinggalan polisi dikerahkan untuk turut menciptakan keamanan dan kenyamanan perjalanan mudik. Tentu saja yang paling heboh ialah penduduk Pulau Jawa, yakni mudik ini telah mentradisi kuat, yang sekarang tradisi ini menular sampai ke luar Jawa.

Ada ungkapan klasik, manusia itu Homo festivus, yakni makhluk yang senang festival. Begitu banyak ragam festival, termasuk festival yang bernuansa keagamaan. Ramai-ramai merayakan Lebaran Idul Fitri bisa juga tergolong festival. Pada setiap festival ada pola yang ajeg, yang dilakukan berulang-ulang secara masif pada momen-momen tertentu, beramai-ramai dalam suasana kegembiraan. Ada lagi yang mengatakan, manusia itu makhluk peziarah. Wanderer or traveler being, yakni senang melakukan perjalanan atau jalan-jalan. Setiap datang hari libur, agenda utamanya jalan-jalan, rekreasi.

Tanpa dirancang sebelumnya, secara serempak dan akumulatif masyarakat ramai-ramai merayakan Lebaran menjadi sebuah festival dengan beragam dimensinya. Secara religius pada malam sebelum Lebaran, suara takbir bergemuruh memenuhi langit Indonesia, terpancar dari masjid, jalan-jalan, televisi, dan radio. Menjelang Lebaran, prosesi kendaraan memenuhi jalan raya bagaikan semut, masing-masing punya tujuan berbeda. Namun, pada umumnya menuju kampung halaman masing-masing. Setelah ber-Lebaran di kampung, kembali lagi konvoi kendaraan memadati jalan menuju kota-kota besar untuk kembali bekerja. Itu sebuah peristiwa budaya yang dilakukan rakyat secara spontan, masif, bukan ciptaan negara.

Bagi para wakil rakyat dan pejabat tinggi negara, bertemu warga desa tentu sangat berarti kalau saja dijadikan sarana dengar pendapat, bicara dari hati ke hati. Tentu saja, warga desa tidak mau merusak suasana Lebaran dengan menyampaikan keluh kesah hidup mereka. Namun, politisi yang memiliki kapasitas sebagai pengamat dan peneliti sosial, kalau saja mau tentu akan sangat mudah membaca dan mengamati kondisi sosial rakyat. Sejak dari kondisi jalan, bangunan sekolah, pertanian, pertumbuhan penduduk, pusat-pusat ekonomi, pengangguran, dan berbagai aspek lain akan mudah ditelusuri datanya. Namun, lagi-lagi, kalau mereka memang memiliki kepekaan dan kepedulian rakyat.

Keselamatan sosial

Suasana psikologis setelah berpuasa sebulan dan saling memaafkan mendatangkan rasa lega. Berbagai ganjalan di hati terasa hilang atau berkurang. Paling tidak untuk sesaat. Namun, perlu diingat bahwa hubungan dengan Tuhan dan kekeluargaan serta perkawanan sifatnya lebih pribadi, tidak berarti menyelesaikan persoalan yang menyangkut utang atau urusan perdata serta pidana. Terlebih lagi, jika seseorang terlibat korupsi, tindakan dosa dan pidana di hadapan publik dan negara, tidak akan selesai urusannya dengan jalan saling memaafkan. Semoga saja dengan sebulan berpuasa hati dan pikirannya menjadi bersih jernih sehingga kalau dirinya merasa punya utang pada negara atau rakyat, tergerak untuk segera membayarnya. Kalau ada uang hasil korupsi segera dikembalikan pada kas negara agar puasanya sempurna dan diampuni dosa-dosanya.

Tak bisa dimungkiri banyak nilai dan sikap yang mulia berkat berpuasa dan ber-Lebaran. Namun, tujuan puasa ialah untuk meraih keselamatan pribadi, lalu merambah ke ranah keselamatan sosial. Keselamatan pribadi agar terhindar dosa dan siksa neraka. Adapun keselamatan sosial ialah dengan mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian. Keselamatan sosial inilah yang mesti menjadi agenda semua orang beriman yang juga menjadi tugas serta tanggung jawab negara untuk mewujudkannya. Meski kita ramai-ramai berpuasa dan ber-Lebaran, kalau tidak sanggup mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian, masyarakat akan tetap resah gelisah dan kacau. Itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak doa dan ritual.

Kita semua berharap bahwa perilaku santun, damai, dan mampu menahan diri dari berbagai godaan duniawi bukan sekadar interval sesaat, melainkan merupakan jati diri dan komitmen bersama sebagai modal tekad dan kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersih. Sudah dapat diduga, setelah Lebaran, suasana akan kembali seperti sedia kala.

Wacana politik jelang pilkada serentak akan mengemuka. Berita korupsi belum juga lenyap meski rakyat sudah merasa bosan dan lelah. Namun, apa boleh dikata, kita jangan sampai lelah dan putus asa untuk mendukung setiap upaya untuk memberantas korupsi yang kian berani dan melebar ke mana-mana. Apa yang akan kita banggakan sebagai warisan pada anak cucu kalau ternyata mereka justru akan mendapatkan kondisi bangsa yang amburadul akibat korupsi yang dilakukan orangtuanya?

Sebuah imbauan, media publik jangan terlalu didominasi pemberitaan sensasional yang membuat emosi rakyat letih tanpa diimbangi penalaran kritis yang memberikan harapan dan bangkit ikut melawan korupsi serta memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Diharapkan jajaran intelektual juga ikut bicara menyampaikan kritik serta saran agar muncul optimisme yang beralasan melihat hari esok. Jangan biarkan politisi hanya sibuk mempersiapkan diri menghadapi pilkada yang akan datang sehingga lupa melaksanakan janji dan sumpahnya untuk memajukan bangsa, melayani rakyat.

Keselamatan akhirat

Ramadan dan Lebaran bukanlah momen untuk menghibur diri karena merasa dosanya sudah terputihkan. Salah satu pesan dan tujuan puasa ialah untuk memutihkan dosa pribadi dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan yang berdampak pada penguatan komitmen untuk membangun kefitrian sosial, yaitu kehidupan yang selalu berorientasi pada kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian. Puasa Ramadan menjadi cara serta latihan untuk mengukur seberapa besar pengendalian emosi, intelektual, dan spiritual manusia ketika memasuki kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang semakin plural dan bergerak cepat. Agama sangat menekankan pada pemeluknya untuk menciptakan keseimbangan hidup, kebaikan dunia, dan keselamatan akhirat fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah. Kebaikan dunia antara lain berupa kehidupan yang damai, adil, sejahtera, dan produktif, serta bermakna bagi masyarakat luas. Selanjutnya, keselamatan akhirat merupakan buah dari amal salehnya selama hidup di dunia.

Acara ber-Lebaran dan halalbihalal di kantor-kantor tentu bagus untuk menjaga hubungan sosial yang hangat dan saling memaafkan. Namun, itu sama sekali bukan pemutihan dosa-dosa pejabat terhadap negara dan rakyatnya. Korupsi tak akan menjadi putih dan tutup buku dengan pulang mudik Lebaran serta halalbihalal.

Dalam ucapan Idul Fitri terkandung pesan moral, mari kita rayakan kemenangan kembali ke fitrah kita. Fitrah manusia itu selalu merindukan kebaikan, kebenaran, keindahan, kedamaian, dan kemerdekaan jiwa. Kelima nilai itu selalu kita dambakan, kita akan sedih dan nurani akan berontak ketika kelimanya terampas dari hidup kita. []

MEDIA INDONESIA, 13 Juli 2015
Komaruddin Hidayat | Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yudi Latif: Lebaran di Ambang Krisis



Lebaran di Ambang Krisis
Oleh: Yudi Latif

Menjelang Idul Fitri, cuaca kebatinan yang terbit di relung jiwa bangsa ini semestinya memancarkan optimisme kemenangan. Namun, berbagai tanda kelesuan perekonomian dan kerentanan politik yang tak cepat tuntas membuat langit kejiwaan bangsa ini diselimuti mendung pesimisme.

Saat gema takbir berkumandang, kehidupan seperti roller coaster yang berjumpalitan antara optimisme dan pesimisme. Antara fajar fitrah yang meneguhkan sikap hidup yang positif dan kegelapan bumi yang menebar bayangan hidup yang negatif.

Dengan adanya prediksi akan kemungkinan kembalinya megakrisis, yang kita perlukan untuk menyongsong langit harapan bukanlah suatu optimisme yang buta, melainkan suatu optimisme dengan mata terbuka (optimisme realistis).

Di satu sisi, kita harus tetap menjaga sikap hidup yang positif karena pemikiran negatif tak akan membawa kebaikan. Psikolog David D Burn mengingatkan bahwa depresi kejiwaan merupakan hasil pemikiran yang salah. Ketika seseorang atau suatu bangsa depresi oleh belenggu pesimisme, daya hidup dilumpuhkan oleh jeratan 4D-defeated (rasa pecundang), defective (rasa cacat), deserted (rasa ditinggalkan), dan deprived (rasa tercerabut)-yang dihayati sebagai kebenaran dan kenyataan sejati.

Lebaran menghadirkan optimisme yang lebar bahwa setiap krisis mengandung peluang pembelajaran dan penyelesaian. Penyair Arab mengatakan, "Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah kepahitan dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka kepada Pemilik Arasy akan memetik manisnya buah yang dipetik dari pohon berduri."

Di sisi lain, optimisme tersebut haruslah bersifat realistis bahwa kegembiraan tidaklah datang dengan sendirinya tanpa dijemput, tanpa diusahakan dengan pengorbanan. Dalam gundukan sampah persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, diperlukan persenyawaan jutaan titik embun untuk bisa menjadi gelombang kesucian yang bisa menyucikan najis kekotoran yang melumuri jiwa kenegaraan.
Dalam situasi demikian, kesucian Idul Fitri bukanlah sesuatu yang harus diterima secara taken for granted. Kita tidak cukup menjadi suci (secara pribadi), tetapi yang lebih penting bagaimana kesucian itu bisa dipakai untuk menyucikan (negara). Seperti kata Aristoteles, "Manusia baik belum tentu menjadi warga negara yang baik." Manusia baik hanya bisa menjadi warga negara baik bilamana negaranya juga baik. Sebab, di dalam negara yang buruk, manusia yang baik bisa saja menjadi warga negara yang buruk.

Ibadah puasa dan bulan Ramadhan mestinya menjadi momen mawas diri untuk bertobat (kembali) ke jalan fitrah (kemurnian asal kita sebagai manusia dan bangsa). Gema takbir (pengagungan Tuhan) mengajak kita keluar dari kesempitan ke kelapangan jiwa. Dalam kebesaran Tuhan, setiap insan merupakan wujud ciptaannya yang paling sempurna dengan kondisi awal yang sama-sama suci. Keyakinan akan keaslian yang suci mengandaikan setiap orang memiliki sifat ketuhanan dengan lentera hanifnya yang menuntun ke jalan benar.

Sebagai citra Tuhan, manusia seyogianya memandang hidup secara positif dan optimistis. Setiap pribadi tidak tercipta sia-sia, tetapi orang-orang istimewa dengan misi kepahlawanannya sendiri-sendiri. Pertama-tama kita harus berprasangka baik dengan desain penciptaan Tuhan karena Tuhan akan bereaksi sesuai prasangka itu. Dalam hadis Qudsi disebutkan, "Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku."

Prasangka baik pada Tuhan akan mengembangkan sikap positif pada hidup dan sesama. Bahwa pemikiran dan tindakan baik tak akan berbuah keburukan, begitu juga pemikiran dan tindakan buruk tak akan berbuah kebajikan. Dalam ungkapan James Allen, "Pemikiran mulia akan melahirkan pribadi mulia, pemikiran negatif akan melahirkan kemalangan."

Lebaran diharapkan membawa optimisme yang lebar setelah manusia berhasil melewati ujian berpuasa. Bahwa hidup bukanlah tanpa kesulitan dan ujian dan bahwa kemenangan hidup terletak pada keberhasilan mengarungi ujian. Dalam sebuah hadis dikatakan, "Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan jalan keluar itu akan selalu beriringan dengan cobaan."

Prasangka baik akan melahirkan optimisme. Dalam sikap optimistis, setiap momen adalah istimewa dan setiap hari adalah lebaran. Timbullah hasrat untuk merebut hari ini, memberi makna bagi hidup dan berbagai kebahagiaan dengan sesama.

Hanya dengan jiwa optimistis manusia bisa mengemban misi kekhalifahan di muka bumi sebagai pemimpin yang harus bertanggung jawab. Seperti sabda Nabi Muhammad, "Setiap kamu pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." Tanggung jawab kepemimpinan ini pada gilirannya tidak hanya menuntut perhatian keluar, terlebih dahulu juga harus menengok ke dalam, melakukan koreksi dan asah diri.

Orang yang sadar dirinya akan memaha- mi Tuhannya. Orang yang memahami Tuhannya akan menyadari kerendahhatian dan cinta kasih-Nya bahwa semakin besar bukan menjadi bahaya bagi yang lain, malahan memberi ruang hidup bagi keragaman yang lain. Seperti keluasan langit yang mampu memberi ruang bagi matahari, bulan, bintang, dan semua yang terkait dengannya.

Orang yang memahami Tuhannya juga akan menyadari keterbatasan dirinya. Adapun orang yang memahami keterbatasannya akan giat belajar dan menghargai kehadiran orang lain dalam rangka menggosok batu permata dirinya. Bahwa manusia senantiasa dalam proses menjadi dengan memandang setiap momen sebagai kebaruan yang harus diisi dengan belajar dan bekerja untuk menyempurnakan dirinya.

Dengan hati suci yang bertaut dengan gelombang pertobatan kolektif, kita hadapi hadangan krisis dengan kerja keras penuh tanggung jawab dan optimisme mata terbuka. []

KOMPAS, 14 Juli 2015
Yudi Latif | Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

(Ngaji of the Day) Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?



Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?

Jum'at 17 Juli 2015 bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1436 H. Tentu ada dua shalat berjema'ah besar atau kita sebut dua lebaran (iadan). Yaitu shalat Idul Fitri dan Shalat Jum'at. Islam menyebut Jum'at juga Id (lebaran) sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha. Apakah kita wajib shalat raya dua kali dalam satu hari?

Semua ulama sepakat bahwa antara kedua shalat Id dan Zhuhur tidak saling menggugurkan. Namun bagi yang telah melakukan Shalat Idul Fitri tidak wajib shalat Jum'at. Ia boleh memilih, apakah shalat Zhuhur atau shalat Jum'at.

Namun bagi Imam atau khatib Jum'at sebaiknya tetap melaksanakan shalat Jum'at untuk mengukur, siapa dan berapa orang yg akan hadir Jum'atan. Jika ternyata yang hadir Jum'at kurang dari 40 orang (menurut Imam Syafi'i) maka laksanakan saja shalat Zhuhur berjama'ah.

Ulama melakukan analagi (qiyas), bahwa dengan shalat maka seruan utk melakukan pertemuan antar masyarakat sudah terlaksana tanpa diadakannya shalat Jum'at.  Jika sudah terjadi salah satunya dari maksud yang sama di antara shalat Id dan Jum'at maka sudah dianggap cukup, seperti mandi besar (junub) sudah dianggap cukup untuk berwudhu'.

Hadits dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah saw bersabda: "Telah terjadi secara bersamaan dua lebaran (Id dan Jum'at) dalam satu hari ini. Barang siapa yang telah melaksanakan shalat Id maka silahkan siapa yang hendak hadir Shalat Jum'at dipersilahkan atau hendak shalat Zhuhur dipersilahkan (untuk memilih antara keduanya)". 

Sebenarnya masih ada ulama lain yg mewajibkan shalat meskipun sdh melaksanakan shalat Id, karena perintah shalat Jum'at berdasarkan dalil. Ada juga Ulama yg berpendapat bahwa, Shalat Jum'at tidak wajib karena telah melaksanakan shalat Id hanya bagi tokoh-tokoh agama yang Shalih sebagaimana  Sayyidina Utsman terapkan pada zamannya.

Kami memilih pendapat, bahwa orang yang telah melakukan shalat Id tidak wajib melakukan shalat Jum'at,  namun yg lebih utama, besok ini adalah melakukan shalat Id juga melakukan shalat Jum'at. []

M. Cholil Nafis, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.