Maling, Copet, Garong, dan Begal
Oleh: Mohamad Sobary
Di dalam kebudayaan kita dikenal suatu jenis profesi
yang disebut maling, copet, garong, dan begal. Maling juga sering disebut
”kecu” dalam bahasa Jawa dan kita tahu, dalam bahasa Indonesia, keduanya
berarti pencuri.
Maling, kecu, dan pencuri memiliki dua jenis
pengertian. Pertama, makna ketiganya sama dengan isi kandungan ketiga kata itu.
Jadi maling ya maling, kecu ya kecu , dan pencuri ya pencuri. Kita tak
memerlukan sebuah kamus untuk memahami ketiganya.
Tapi maling, kecu, dan pencuri bila diucapkan dengan
tekanan yang mengandung kemarahan atau kejengkelan, maka ketiga kata itu
berubah dari dirinya sebagai kata benda, yang bersifat kategoris, menjadi kata
makian yang penuh mengandung nilai.
Di sini kelihatannya jelas ada pergeseran makna.
Copet agak berbeda. Konotasinya, secara umum, juga maling. Tapi wilayah dan
waktu ”beroperasinya” lain. Pada umumnya pencopetan dilakukan pada siang hari,
di suatu tempat yang penuh kerumunan orang-orang, yang berdesak- desakan.
Si pencopet– mungkin di atas bus atau di dalam
deretan orang-orang yang antre membeli karcis untuk menonton sepak
bola–beroperasi dengan cara mengamati kelengahan atau ketidaksadaran korbannya.
Maling, dengan contoh kecilkecilan seperti maling jemuran, pada prinsipnya
sama: si maling melakukan pekerjaannya di saat korbannya lengah. Misalnya lupa
”mengamankan” jemurannya.
Bisa juga dilakukan pada malam hari ketika korbannya
sedang tidur. Di sini copet dan maling memiliki kesamaan dalam ”etika”
kerjanya—jika cara kerja tukang copet dan maling bisa dianggap mengandung
etika— yaitu bahwa kedua-duanya bekerja dari ”belakang”, diamdiam, di saat
korbannya tidak sadar sepenuhnya.
Mungkin ada sedikit perbedaan antara keduanya:
maling, terutama yang sangat profesional dan beroperasi dalam skala besar-besaran,
biasanya bukan hanya menunggu korbannya lengah, tetapi sengaja membuat mereka
lengah dengan menggunakan ilmu sirep . Ilmu ini dilontarkan dengan sengaja
untuk membuat korbannya dan seluruh anggota keluarga mereka tertidur pulas.
Dengan begitu si maling bebas beroperasi tanpa
terburu-buru. Kemampuan maling melontarkan ilmu sirep yang membikin korbannya
terlelap sering diikuti tindakan menjengkelkan: si maling sempat makan dulu di
dapur, dengantenangnya, baru kemudian mengumpulkan benda-benda yang
diinginkannya, kemudian ”minggat”.
Kita tahu, maling itu masuk rumah korbannya dengan,
antara lain, mbabah, yaitu melubangi tembok bagian belakang rumah sang korban.
Jadi, sekali lagi, maling dan copet bekerja dari ”belakang”, relatif diam-diam,
di saat si korban tak sepenuhnya sadar. Garong memiliki modus yang berbeda.
Prinsipnya garong juga pencuri, tetapi si garong melakukannya dengan
blak-blakan. Jika tuan rumah sudah tidur, si garong membangunkannya, minta
dibukakan pintu. Dengan todongan senjata tajam atau senjata api yang lebih
berbahaya lagi, tuan rumah diminta secara paksa menunjukkan di mana
barang-barang berharga miliknya disimpan.
Jika terjadi perlawanan, tuan rumah bisa dilukai dengan
penuh kekerasan atau bahkan dibunuh dengan kejam. Kekerasan dan kekejaman
terbuka menyertai proses penggarongan tadi. Adapun mengapa si garong berani
melakukan itu, karena, pertama, si garong memang orang berilmu, kebal segala
jenis senjata, atau ada unsur sedikit nekat, semata karena dia bersenjata.
Garong itu pencuri disertai, kadang-kadang,
pembunuhan. Ada orang yang menggarong tetangga sendiri dengan menyamarkan
dirinya. Wajahnya ditutup hingga tak dikenali tuan rumah. Tapi ”drama” ini
sering bersifat kecil-kecilan, tidak profesional, dan mudah ditelusuri jejaknya
sebelum pada akhirnya ditangkap hampir tanpa kesukaran. Tapi garong profesional
tidak takut ditangkap. Kantor polisi atau penjara mungkin merupakan ”rumah”
keduanya.
Garong yang hebat bisa lolos dari kejaran polisi dan
massa yang marah. Bahkan, ada yang bisa lolos dari penjara melalui jalan yang
kita tak bisa memahaminya karena dia memiliki ilmu-ilmu yang hebat. Selain itu,
garong bekerja dengan rapi, didahului intelijen atau matamata, yang bekerja
dengan baik.
Penggarongan yang sukses ditentukan beberapa hari
sebelum hari terjadinya peristiwa itu. Intelijen memainkan peran sangat
penting. Dalam tingkat tertentu, maling juga memiliki intelijen yang bekerja
secara cermat beberapa hari sebelum pemalingan dilakukan. Bagi maling, ada hari
tertentu di mana dia tak boleh melakukan tindakan ”maling” atau mencuri.
Ada hari nahas yang harus dijauhi. Jika dia melanggar
pantangan ini, dia bakal celaka. Tapi garong dan copet tak mengenal sama sekali
perhitungan waktu seperti itu. Fenomena begal lebih unik. Ada unsur copet, ada
pula unsur garong. Di dalamnya sikap nekat dan wujud kekerasan hadir secara
mencolok.
Begal beroperasi di tempat-tempat kegelapan dan jauh
dari wilayah hunian penduduk. Dengan kata lain, begal memilih wilayah operasi
di daerah-daerah sepi dan seram serta menakutkan. Para begal juga membawa
senjata. Korban yang melawan dilukai tanpa ragu-ragu atau dibunuh sekalian
untuk menghilangkan jejak.
Dengan gagah berani begal selalu bertanya kepada
korbannya: harta atau nyawa? Maksudnya, kalau sayang nyawa, serahkan harta yang
dibawanya dengan penuh damai dan tanpa kekerasan. Tapi, jika sayang harta,
tanpa pertimbangan lebih lanjut, senjata yang berbicara.
Orang biasa pada umumnya dengan sukarela menyerah. Yang
penting selamat dan ini menggembirakan si begal. Dia atau dia dan rombongannya,
bekerja cepat, efisien, tanpa mengeluarkan keringat. Tapi jika korbannya orang
hebat dan berani melawan, kawanan begal itu harus bekerja keras dan lebih lama.
Tak jarang si begal lari ngacir.
Ada begal yang belum profesional dan cara menggertak
korbannya pun keliru. Seharusnya dia bertanya: harta atau nyawa. Tapi begal
yang masih ”plonco” ini bertanya, dalam bahasa Jawa: banda (harta) atau yatra
(uang), yang juga harta. Jadi dia bertanya: harta apa harta. Garong satu ini
hanya menjadi lelucon. Ketika digertak oleh korbannya, dialah yang ketakutan.
Tanpa bermaksud menghina, melecehkan, atau menurunkan
derajat mereka yang luhur dan mulia, orang-orang kantor yang penampilannya
gemerlap itu sebenarnya, maaf beribu maaf, tidak lebih dari begal. Dana untuk
rakyat dibegal di tengah jalan. Beras buat rakyat dibegal sebelum sampai ke
tangan rakyat. Mereka begal agung, begal mulia, begal berpangkat tapi tak tahu
malu.
Mereka orang partai yang miskin berubah mendadak jadi
kaya, orang pemerintahan yang merasa negeri ini peninggalan nenek moyang
mereka, maka dengan seenaknya membegal segala macam yang bisa dibegal. Selain
itu, mereka juga maling, kecu, copet, garong, dan sejenisnya.
Rumah mereka berisi barang colongan, copetan,
garongan. Kekayaan mereka hasil nyolong, maling, membegal, merampok, dan
sejenisnya. Kalau tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mereka punya
pembela. Ada lawyer khusus yang membela mereka. Lawyer macam itu juga makan
duit-duit garongan, copetan, begalan, dan malingan.
Mereka lebih berbahaya. Maling, copet, garong, begal
yang diburu-buru polisi itu tak seberapa. Maling, copet, garong, dan begal di
kantoran lebih menakutkan karena bisa bikin rakyat jatuh miskin dan negara
bangkrut. []
Koran SINDO, 30 Maret 2015
Mohamad Sobary, Esais, Anggota Pengurus Masyarakat
Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih
dan Cengkih, buat Kesehatan.