Senin, 19 Juni 2023

Dik 20230619


Dik...

 

Tolong jujur saja, janganlah terus bersandiwara.

 

Berlagak takut kehilangan, padahal sudah punya cadangan.

 

Kau anggap apakah aku?

 

🥺

Senin, 29 Mei 2023

(Do'a of the Day) 09 Dzulqaidah 1444

يا الله إني أجاهد كي لاأتلوث وأحاول أن أكون في صفوف الصالحين فأعني.

 

Yaa gusti Allah... Aku berusaha agar tidak terjerumus dalam dosa, dan aku mencoba berada di barisan orang-orang sholeh.

 

Maka bantulah aku yaa Allah.

 

Al Faatihah...

Dik 20230529


Dik...

 

Terimakasih telah menjadi sembuh,

Untuk beberapa yang luka.

 

Lalu juga menjadi teduh,

Pada yang sedang berduka.

 

Walau berujung rapuh,

Namun tak apa, yang penting ia suka.

 

☕


Jumat, 12 Mei 2023

(Do'a of the Day) 22 Syawwal 1444H

Yaa Rabbi... Berikanlah keberkahan dalam hidup kami.

 

Yaa Jabbar... Kuatkanlah langkah kami agar selalu ada di jalan-Mu.

 

Yaa Rahman... Mudahkanlah urusan kami.

 

Yaa Lathiif... Lembutkanlah hati kami.

 

Al Faatihah...

Dik 20230512


Dik...

 

Aku masih di sini, di tempat dimana kita pertama kali bertemu.

 

Aku selalu menanti kedatanganmu, masih ingin memilikimu.

 

Sekali lagi.

 

☕

Kamis, 11 Mei 2023

(Do'a of the Day) 21 Syawwal 1444H

Yaa Tuhan...

 

Maafkan atas ibadahku yang begitu jauh dari kata sempurna.

 

Begitu mudahnya tergelincir ke jurang yang sama.

 

Meski berulang kali memohon ampunan, nyatanya niat belum juga terlaksana.

 

Terimalah taubatku, hamba yang penuh dosa.

 

Al Faatihah...

Nak 20230511


Nak...

 

Cinta seorang Ayah itu terkadang tak akan terlihat.

 

Karena memang ia tak pandai menunjukannya.

 

❤️

Kamis, 04 Mei 2023

(Do'a of the Day) 14 Syawwal 1444H

Yaa gusti Allah... Anugerahkanlah seseorang yang melihatku dengan, hatinya bukan dgn matanya. Dan mencintaiku dengan segala ketulusan yang ada di dalam hatinya, bukan dengan perkataannya.

 

Al Faatihah...

Malam 20230504


Duhai malam,

 

Pelan-pelan saja saat kamu mulai berpaling dariku.

 

Jika memang kamu ingin menjauhiku, maka perindahlah perpisahan itu.

 

🥺

Dik 20230504

Dik...

 

Jangan salahkan kopi yang telah dingin.

 

Dulu dia pernah panas dan hangat, namun selalu kau abaikan.

 

☕

Selasa, 04 April 2023

(Do'a of the Day) 13 Ramadlan 1444H

اَللّهُمَّ اجعَلنِي مِمَّن تَغَيّرتَ أَقدَارهِمْ لِلْأَحسَن فِي رَمَضَان.

 

Yaa gusti Allah... Jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang takdirnya berubah lebih baik, berkah di bulan Ramadhan ini.

 

Al Faatihah...

(Ngaji of the Day) Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah Menurut Prof Quraish Shihab

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus mewujudkan sifat-sifat Allah.

 

Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw memerintahkan, takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).


Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks.


Sedangkan Allah swt memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:


“Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101)


“Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).


Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan:


“Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).


Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 


Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.


Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya.


Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.


Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok.


Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.


Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.


Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak 99 sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.


Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.


Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."
[]

 

Sumber: NU Online

(Ngaji of the Day) Keutamaan Berbagi di Bulan Puasa

Pada saat Ramadhan umat Islam diwajibkan untuk berpuasa pada siang hari. Selain puasa, mereka dianjurkan untuk banyak berbuat kebaikan, terutama berbagi di bulan Ramadhan yang mulia. Banyak hadits menjelaskan keutamaan berbagi pada bulan Ramadhan.


Sebuah riwayat menyebutkan jawaban Rasulullah perihal keutamaan berbagi atau sedekah pada bulan Ramadhan. Sedekah pada bulan Ramadhan memiliki keistimewaan luar biasa sebagaimana riwayat sahabat Anas bin Malik RA:


عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ


Artinya, “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’ (HR At-Tirmidzi).


Para sahabat juga menyaksikan kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah pada bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Mereka menyaksikan Rasulullah lebih sering berbagi pada bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini:


كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ 


Artinya, “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim).


Dari sini kemudian para ulama menarik simpulan bahwa agama Islam memotivasi umatnya untuk berbagi terutama pada bulan Ramadhan dan khususnya 10 hari terakhir.


ويسن الإكثار من الصدقة في رمضان لا سيما في عشره الأواخر 


Artinya, “[Seseorang] dianjurkan untuk memperbanyak berbagi pada bulan Ramadhan, terlebih lagi pada 10 hari terakhirnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Syirkah Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 183).


Al-Baijuri menjelaskan keutamaan berbagi pada bulan Ramadhan. Ganjaran berbagi pada bulan Ramadhan dapat dilipatgandakan dibanding ganjaran berbagi pada bulan lainnya.


ومبادرته لإكثار الصدقة لأنه صلى الله عليه وسلم كان أجود ما يكون في رمضان، وبالجملة فيكثر فيه من أعمال الخير لأن العمل يضاعف فيه على العمل في غيره من بقية الشهور


Artinya, “(Orang berpuasa) dianjurkan segera memperbanyak sedekah karena Rasulullah SAW adalah orang paling murah hati di Bulan Ramadhan. Seseorang dapat melakukan kebaikan secara umum karena ganjaran amal kebaikan apapun bentuknya akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M/1420 H], cetakan kedua, juz I, halaman 562).


Demikian sejumlah hadits dan keterangan ulama seputar keutamaan berbagi pada bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.
[]

 

Sumber: NU Online