Dik...
Jika
aku berkata bahwa aku baik-baik saja tanpamu, maka hampir pasti aku telah
berdusta.
❤🩹
Malam
ini, sengaja kuseduh kopi hitam yang paling pahit.
Lantas
kusesap perlahan, hanya sekedar untuk mengingatmu diam-diam.
☕
Sungguh
aku masih ingat.
Bagaimana
cepatnya jantungku berdetak ketika pertama kali berbicara denganmu.
Bagaimana
derasnya peluhku ketika pertama kali menatap matamu.
☕
Suatu
saat, jika engkau melihat aku bahagia bersama orang lain.
Percayalah
bahwa beribu malam penuh tangis telah kulewati untuk belajar melupakan.
Sungguh
sangat berat melupakan genit kerling matamu dan juga desah lembut nafasmu.
☕
Tolong
jujur saja, janganlah terus bersandiwara.
Berlagak
takut kehilangan, padahal sudah punya cadangan.
Kau
anggap apakah aku?
🥺
Terimakasih
telah menjadi sembuh,
Untuk
beberapa yang luka.
Lalu
juga menjadi teduh,
Pada
yang sedang berduka.
Walau
berujung rapuh,
Namun
tak apa, yang penting ia suka.
☕
Aku
masih di sini, di tempat dimana kita pertama kali bertemu.
Aku
selalu menanti kedatanganmu, masih ingin memilikimu.
Sekali
lagi.
☕
Cinta
seorang Ayah itu terkadang tak akan terlihat.
Karena
memang ia tak pandai menunjukannya.
❤️
Pelan-pelan
saja saat kamu mulai berpaling dariku.
Jika
memang kamu ingin menjauhiku, maka perindahlah perpisahan itu.
🥺
Dik...
Jangan
salahkan kopi yang telah dingin.
Dulu
dia pernah panas dan hangat, namun selalu kau abaikan.
☕
Dik...
Kita bertemu dengan aku yang datang, kemudian berpisah dengan kamu yang pergi.
Siapakah yang mengajarimu meninggalkanku?
Sebab yang kutahu, cinta tak sejahat itu.
☕
Dik...
Rindu ini masih sama seperti yang dulu.
Namun kali ini rindu berdiam diri tak beranjak pergi.
Sebab dia tahu, hatimu tak mengharap kedatangan rinduku.
☕
اشوفك في كاسي عندما اشرب للافطار...
Dik...
Aku melihatmu di cangkir kopiku, ketika aku minum untuk berbuka puasa.
☕