Kamis, 02 Maret 2023

(Ngaji of the Day) Doa-Doa Nabi Muhammad yang Termaktub dalam Al-Qur’an (1)

Doa merupakan aktivitas ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya, dan sebaik-baik doa adalah yang sesuai dengan redaksi yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad .

 

Redaksi doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah merupakan doa yang mengandung makna “jawami’ al-kalim” (komprehensif; ringkas, dan penuh makna). Menggunakan redaksi tersebut adalah bentuk mengikuti sunnah dan petunjuknya.

 

Dalam Al-Qur’an dapat dijumpai beberapa redaksi ayat/doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad , atas perintah Rabb-nya. Redaksi doa ini bernarasi perintah (قل) “bacalah” yang mengindikasikan bahwa redaksi doa yang tersebut merupakan wahyu Ilahi.

 

Berikut merupakan doa-doa Nabi Muhammad , yang berasal dari Al-Qur’an:

 

Pertama, tercantum dalam surat Ali Imran ayat 26-27:

 

اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

Artinya: “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (Ali Imran:27)

 

Redaksi doa ini, menurut Imam  Ath-Thabarani, menggunakan asma’ Allah yang agung. Jika digunakan untuk bermunajat maka keinginan orang yang berdoa akan terkabul (Tafsir Ibnu Katsir, II: 30).

 

Kedua, tercantum dalam surat Al-Isra' ayat 80:

 

رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا

 

Artinya: “Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)” (QS Al-Isra': 80).

 

Redaksi doa di atas merupakan perintah bermunajat kepada Allah saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Ibnu Abbas mengatakan bahwa saat Nabi berada di Makkah beliau diperintahkan untuk hijrah ke Madinah.

 

Imam al-Dhahhak mengatakan bahwa doa ini mengandung arti tentang hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah dan kembalinya ke Makkah dalam keadaan aman di hari Fathu Makkah. (Tafsir al-Qurthubi, X: 313).

 

Namun demikian, redaksi ayat ini dapat digunakan untuk bermunajat kepada Allah secara umum, baik ketika hendak melakukan sesuatu maupun ketika perjalanan yang diridhai oleh Allah .

 

Ketiga, tercantum dalam surat Al-Isra’ ayat 111:

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

 

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya” (QS Al-Isra': 111).

 

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa Nabi Muhammad , mengajarkan ayat ini kepada keluarganya, baik kepada anak kecil maupun yang dewasa. Bahkan, menurutnya, Nabi menamakan ayat ini dengan ayat al-Izz (ayat kemuliaan).

 

dinyatakan pula, bahwa sebagian atsar menyebutkan jika ayat ini dibaca pada malam hari di sebuah rumah, maka rumah tersebut tidak akan disatroni pencuri atau terjadi kecelakaan di dalamnya. (Tafsir Ibnu Katsir: 131).

 

Keempat, tercantum dalam surat Thaha ayat 114:

 

رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

 

Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku” (QS Thaha: 114)

 

Kelima, tercantum dalam surat Az-Zumar ayat 46:

 

اللّٰهُمَّ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ عٰلِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ اَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْ مَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

 

Artinya: “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan” (QS Az-Zumar: 46).

 

Syekh Sayyid al-Thanthawi, mantan grand Syekh al-Azhar, mengatakan dalam tafsirnya bahwa maksud dari ayat ini adalah menghibur Nabi Muhammad , dari apa yang dilakukan oleh kaum musyrik kepadanya, sebagai penjagaan dari tipu daya kaum musyrik, sebagai ajaran kepada hamba-hamba-Nya atas wajibnya berlindung kepada Allah Swt agar terhindar dari tipu daya musuh-musuh mereka. (al-Thanthawi, Tafsir al-Wasith: 232).

 

Ayat ini merupakan permohonan yang tidak ditolak oleh Allah . Sa’ad bin Jubair mengatakan: Sungguh aku mengetahui bahwa tidaklah seorang hamba membaca ayat ini, kemudian meminta kepada Allah (yang dia inginkan) kecuali Allah mengabulkannya”.

 

Ayat ini juga bisa dibaca ketika mendengar pertikaian yang mengakibatkan kematian, seperti kasus Sayyidina Husain dengan Yazid bin Muawiyah. Diriwayatkan bahwa ketika berita terbunuhnya al-Husain bin Abi Thalib sampai kepada al-Rabi’ bin Khaitsam, beliau membaca doa tersebut. (Tafsir al-Qurthubi, VX: 265).

 

Keenam, tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 201:

 

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Artinya: “Ya Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kenaikan di akhirat, dan lindungilah kamu dari azab neraka” (QS al-Baqarah: 201).

 

Ulama sepakat bahwa doa ini mengandung “jawami’ al-kalim”. Di samping itu, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa doa ini paling sering dibaca oleh Nabi Muhammad .

 

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : "اللَّهُمَّ ربَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وقنا عذاب النار

 

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari sahabat Anas, dia berkata: doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi adalah doa di atas.

 

Selain itu, doa ini juga dapat digunakan sebagai terapi pengobatan bagi penyakit yang diderita seseorang. Suatu ketika, Nabi mengunjungi orang sakit., kemudian menanyakan kepadanya tentang doa yang dia minta kepada Allah. Laki-laki itu menjawab bahwa dia memohon kepada Allah, jikalau harus mendapatkan siksa di akhirat, maka dia berharap agar siksa tersebut disegerakan di dunia saja. Nabi pun menimpali dengan membaca tasbih seraya berkata: “Kamu tidak akan mampu (memikul derita di dunia), sebaiknya panjatkan saja doa ini:

 

ربَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وقنا عذاب النار

 

Maka laki-laki tersebut mengamalkan doa ini, dan dengan izin Allah penyakitnya dapat sembuh. (Tafsir Ibnu Katsir/1/ 559).

 

Ketujuh, tercantum dalam surat al-Mu’minun ayat 118:

 

رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ

 

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik” (QS al-Mu’minun: 118).

 

Kedelapan, tercantum dalam surat al-Mu’minun ayat 94:

 

رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِيْ فِى الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

 

Artinya: “Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku dalam golongan orang-orang dhalim” (QS al-Mukminun: 94).

 

Kesembilan, tercantum dalam surat surat al-Mu’minun ayat 97-98:

 

رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِۙ، وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ

 

Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan” (QS al-Mu’minun: 97-98).

 

Sayyid al-Thanthawi, dalam tafsir al-Wasith-nya berkomentar tentang doa-doa di atas (8-9) bahwa di dalam doa tersebut terdapat ajaran kepada orang-orang mukmin, petunjuk untuk selalu berlindung kepada Allah , agar terjaga dari bisikan-bisikan setan. (al-Thanthawi, Tafsir al-Wasith, 10:  62).

 

Demikian sebagian doa Nabi Muhammad , yang termaktub dalam Al-Qur’an. Selain itu, doa-doa Nabi Muhammad , juga termaktub dalam hadits-hadits beliau dan kitab-kitab Tafsir Al-Qur’an. Namun, dalam beberapa doa yang berasal dari Al-Qur’an, terdapat redaksi yang mengalami penambahan kata atau kalimat, sebagai bentuk penyucian dan pengagungan kepada Allah . []

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, Founder Al-Qur’an Khairu Jalis

(Ngaji of the Day) 11 Jenis Kitab Hadits yang Harus Diketahui, Lengkap dengan Definisi dan Contohnya

Bagi pengkaji ilmu hadits, mengetahui berbagai macam jenis kitab hadits adalah sebuah keharusan, hal ini sangat berguna dalam berbagai macam kinerja pengkajian hadits. Berbeda dengan ilmu lain, kitab hadits memiliki berbagai macam jenis, munculnya berbagai macam jenis kitab hadits ini berdasarkan pada isi dan pola penyusunannya. Penjelasan mengenai berbagai jenis ini biasanya ditemukan dalam kitab-kitab tentang ilmu takhrij dan dirasatul asanid. Berikut ini kami jelaskan 11 jenis kitab hadits yang lengkap dengan definisi dan contohnya. '

 

1. Jami’

 

Sebuah kitab hadits yang disusun per bab dan mengandung segala tema agama. Secara umum ada delapan tema besar, yaitu akidah, hukum, sirah, adab, tafsir, fitan, tanda-tanda kiamat, dan manaqib. Dari sekian banyak kitab berbentuk jami’, ada tiga yang paling populer:

a.        Al-Jami’ush Shahih karya Imam Al-Bukhari (Shahih Bukhari);

b.       Al-Jami’ush Shahih karya Imam Muslim (Shahih Muslim); dan

c.        Jami’ Imam At-Tirmidzi (Sunanut Tirmidzi). 


Kitab karya At-Tirmidzi ini lebih populer dengan sebutan Sunan sebab keseriusan dan perhatian (i’tina’) penulisnya terhadap hadits-hadits yang menjelaskan hukum. (Nuruddin ‘Itr, Manhajun Naqdi fi ‘Ulumil Hadits, [Beirut: Darul Fikr, 2017], halaman 176).


2. Sunan

 

Sebuah kitab hadits masuk kategori sunan apabila berisi hadits-hadits marfu’ yang menjelaskan tentang hukum dan urutan babnya disusun seperti urutan bab dalam ilmu fiqih. Ada empat kitab sunan yang paling populer: Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 176).


3. Musnad

 

Musnad adalah kitab hadits yang disusun dengan mengelompokkan hadits-hadits berdasarkan riwayat masing-masing dari para Sahabat. Misalnya, Bab I: Hadits-hadits riwayat Abu Bakr ra. Bab II: Hadits-hadits riwayat Umar ra, dan seterusnya. Urutan nama Sahabat pada setiap kitab musnad berbeda-beda. Ada yang berdasarkan huruf, ada yang berdasarkan siapa yang lebih dahulu masuk Islam, ada yang berdasarkan suku (qabilah), dan ​​​​​​lainnya. Namun menurut Syekh Hatim Al-Auni, jika urutannya berdasarkan huruf awal nama Sahabat, kitab tersebut masuk kategori mu’jam, bukan musnad. (Hatim Al-Auni, Muqarrarut Takhrij wa Manhajul Hukmi ‘alal Hadits, [Beirut: Markazun Nama’, 2018], halaman 39).

 

Syekh Muhammad bin Ja’far Al-Kattani dalam Ar-Risalatul Mustathrafah menyebutkan lebih dari 80 kitab musnad, dan beliau mengatakan masih banyak kitab musnad selain yang telah beliau sebutkan. Dari sekian banyak kitab musnad, beberapa yang paling populer adalah Musnad Imam Ahmad, Musnad Abi Ya’la, dan Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi. (Mahmud Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij wa Dirasatul Asanid, [Riyadh: Al-Ma’arif, 2010], halaman 40).


4. Mu’jam

 

Sebuah kitab hadits di mana hadits-hadits di dalamnya dikelompokkan berdasarkan nama guru penulis, Sahabat, atau daerah (buldan). Ada tiga kitab mu’jam yang paling populer: Al-Mu’jamul Kabir, Al-Mu’jamul Ausath, dan Al-Mu’jamush Shaghir. Ketiganya adalah karya Imam Ath-Thabrani. (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 45).


5. Mushannaf

 

Kriteria kitab mushannaf hampir sama dengan kitab sunan, yaitu mengelompokkan hadits dan menyusunnya seperti bab dalam ilmu fiqih. Perbedaannya adalah kitab mushannaf tidak hanya berisi hadits marfu’, namun juga hadits mauquf dan hadits maqthu’. Dari sekian banyak mushannaf, beberapa yang paling masyhur adalah Mushannaf ‘Abdurrazzaq dan Mushannaf Abi Bakr ibn Syaibah. (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 118; dan ‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 177).


6. Zawa’id

 

Kitab zawa’id adalah kitab yang berisi hadits-hadits yang terdapat di beberapa kitab tertentu, dan hadits-hadits tersebut tidak ditemukan dalam beberap kitab hadits lain. Seperti kitab Mishbahuz Zujajah fi Zawa’idi Ibn Majah Karya Abil ‘Abbas Al-Bushiri, Kitab ini berisi hadits-hadits yang terkandung dalam Sunan Ibn Majah dan tidak ditemukan dalam lima kitab induk lain, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi. Juga kitab Majma’uz Zawaid karya Al-Hafizh Al-Haitsami, kitab ini menghimpun hadits-hadits yang terdapat pada Musnad Ahmad, Musnad Abi Ya’la, Musnadul Bazzar, dan tiga kitab Mu’jam Ath-Thabrani, yang mana hadits-hadits tersebut tidak ada di enam kitab induk (Al-Kutubus Sittah). (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 104; dan ‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 182).


7. Masyyakhah

 

Sebuah kitab yang berisi nama-nama guru dari seorang ulama, dan riwayat-riwayat baik berupa hadits atau sanad kitab yang ia dapatkan dari para guru tersebut. Ada kitab masyyakhah yang ditulis oleh ulama itu sendiri seperti Mu’jam Ausath-nya Ath-Thabrani, dalam kitab tersebut beliau mengumpulkan hadits-hadits yang beliau dapat dari para gurunya. Ada pula kitab masyyakhah yang ditulis oleh orang lain, seperti Tasyniful Asma’ karya Syekh Mahmud Sa’id Mamduh, salah satu murid Syekh Yasin Padang. Beliau mencatat nama-nama guru Syekh Yasin beserta biografi dan kitab apa saja yang dipelajari Syekh Yasin dari masing-masing guru tersebut. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 182; dan Al-Auni, Muqarrarut Takhrij, halaman 71).


8. Mustadrak

 

Mustadrak adalah sebuah kitab yang menghimpun hadits-hadits yang tidak dicantumkan dalam sebuah kitab tertentu, padahal hadits-hadits itu memenuhi syarat dan kriteria penulis kitab tersebut. Seperti Al-Mustadrak ‘ala Shahihain karya Imam Al-Hakim. Dalam kitab tersebut beliau mengumpulkan hadits-hadits yang tidak dicantumkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh para rawi yang memenuhi kriteria atau standar dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 102).

 

9. Athraf

 

Kitab hadits di mana hadits-hadits di dalamnya tidak disebutkan lengkap, hanya potongan kalimatnya saja, lalu menyebutkan berbagai jalur sanad dari hadits tersebut. Terkadang sepotong kalimat yang disebutkan bukan berasal dari redaksi hadits tersebut, namun hadits tadi masyhur dengan nama itu, seperti Hadits Jibril, maksudnya adalah hadits yang menjelaskan tanya-jawab Jibril as dengan Rasulullah saw. Salah satu kitab athraf yang paling populer adalah Tuhfatul Asyraf karya Al-Hafizh Al-Mizzi. Beliau menyebutkan potongan-potangan hadits beserta sanadnya yang terdapat pada Al-Kutubus Sittah, Muqaddimah Shahih Muslim, Al-Marasil karya Abu Dawud As-Sijistani, Al-‘Ilalush Shaghir dan Asy-Syamail karya At-Tirmidzi, serta ‘Amalul Yaum wal Lailah karya An-Nasa’i. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 178).

 

10. ‘Ilal

 

Kitab ‘ilal adalah kitab yang berisi hadits-hadits yang memiliki ‘illat dan menjelaskan bentuk ‘illat dari setiap hadits tersebut. Seperti dua kitab Al-‘Ilal karya At-Tirmidzi dan Ad-Daruquthni. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 185).
  

11. Mustakhraj 

 

Sebuah kitab yang berisi hadits-hadits yang terdapat pada kitab lain namun dengan jalur sanad yang berbeda. Seperti Mustakhraj karya Al-Isma’ili (wafat 371 H). Beliau menyebutkan hadits-hadits yang terdapat pada Shahih Bukhari, namun tidak melalui jalur Imam Al-Bukhari (wafat 256 H). (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 100).


Inilah 11 jenis kitab hadits yang harus diketahui oleh pengkaji hadits, lengkap dengan definisi dan contohnya. Semoga bermanfaat. 
[]


Ustadz Rif'an Haqiqi, Pengajar di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah Berjan Purworejo