Senin, 01 Juli 2019

Nadirsyah Hosen: Riwayat Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah Tidak Dibahas dalam Kitab Utama Bidang Aqidah, Tafsir, Hadits, Tarikh dan Fiqih


Riwayat Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah Tidak Dibahas dalam Kitab Utama Bidang Aqidah, Tafsir,
Oleh: Nadirsyah Hosen

Hizbut Tahrir masih saja koar-koar soal akan datangnya kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah berdasarkan riwayat yang tercantum dalam kitab Musnad Ahmad.

Saya sudah pernah bahas problematika riwayat tersebut dari sudut sanad dan matan, sekarang kita lihat apakah riwayat ini dianggap penting atau setidaknya dibahas dalam al-kutub al-mu’tabarah (kitab yang dijadikan rujukan utama)?

I. Aqidah

HTI mengklaim bahwa masalah khilafah ini termasuk ushuluddin (pokok atau inti ajaran Islam):

والدليل على فرضية العمل لإقامة الدولة الإسلامية هو دليل قطعي في ثبوته ودلالته. ولذلك فإن منكره كافر

(dalil kewajiban melakukan penegakkan daulah islamiyah itu dalil qath’i. Siapa yang menentangnya kafir). Ini dari majalah resmi mereka https://www.al-waie.org/archives/article/2949

Padahal kita tahu tidak ada penegakkan khilafah itu dalam rukun Iman dan rukun Islam. Apakah kitab-kitab bidang Aqidah dalam ahlus sunnah wal jama’ah membahas hadits riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah?

Mari kita cek

1. Al-Fiqh al-Akbar: Imam Abu Hanifah
2. Al-Jami’ li ‘Ulum: Imam Ahmad bin Hanbal
3. Syarh Sunnah: Imam al-Muzani
4. Matan At-Thohawiyah: at-Thahawi
5. Al-Ibanah: Abul Hasan al-Asy’ari
6. Risalah ila Ahl ats-Tsaghr: Abul Hasan al-Asy’ari
7. At-Tauhid: al-Maturidi
8. Al-I’tiqad: al-Qadiri
9. Al-Iqtishad fil I’tiqad: Imam al-Ghazali
10. Qawa’id al-Aqaid: Imam al-Ghazali
11. Al-I’tiqad: Ibn Abi Ya’la
12. Al-Milal wan Nihal: Syahrastani
13. Ma’alim Ushul al-Din: Fakhruddin ar-Razi
14. Ghayatul Maram fi ‘Ilmil Kalam: al-Amidi

Kesimpulan: kitab-kitab soal aqidah di atas TIDAK menyebutkan apalagi membahas riwayat Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah

II. Kitab Tafsir

1. Tafsir at-Thabari
2. Tafsir Muqatil
3. Tafsir Qurthubi
4. Tafsir as Samarqandi
5. Tafsir al-Maturidi
6. Tafsir al-Baghawi
7. Tafsir Zamakhsyari
8. Tafsir ar-Razi
9. Tafsir Baidhawi
10. Tafsir al-Khazin
11. Tafsir al-Biqai
12. Fathul Qadir Syawkani
13. Tafsir al-Qasimi
14. Tafsir al-Maraghi
15. Tafsir Sayid Qutb
16. Tafsir Sya’rawi
17. Tafsir al-Munir
18. Tafsir Ibn Katsir

Kesimpulan: TIDAK ADA yang membahas riwayat Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah

III. Kitab Hadits

Ada 6 kitab hadits utama (kutubus
Sittah) yang dijadikan pegangan ulama:

1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abi Dawud
4. Sunan at-Tirmidzi
5. Sunan Nasa’i
6. Sunan Ibn Majah

Kesimpulan: riwayat hadits Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah TIDAK ADA dalam keenam kitab hadits utama di atas.

IV. Tarikh

Saya cek ke kitab utama ini:

1. Tarikh at-Thabari
2. Tarikh al-Khulafa: Suyuthi
3. Tuhfatul umara: Ibn Maskawaih
4. Al-Muntazham: Ibnul Jawzi
5. Al-Kamil fit tarikh: ibn al-Atsir
6. Tarikh al-Manshuriy
7. Tarikh al-Islam: imam Dzahabi
8. Tarikh Ibn Khaldun
9. Siyar A’lam an-Nubala: Imam Dzahabi
10. Al-Bidayah wan Nihayah: Ibn Katsir

Kesimpulan: dari kitab di atas TIDAK ADA yang menyebutkan riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, kecuali Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah jilid 6 halaman 627.

Ternyata Ibn Katsir membahasnya dalam sub bab Isyarat Kenabian akan pemerintahan Umar bin Abdul Azis. Kenapa demikian? Seperi pernah saya bahas sebelumnya, para ulama memang memahami riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah itu maksudnya Umar bin Abdul Azis, bukan untuk periode khilafah masa sekarang.

Makanya khalifah Umar bin Abdul Azis dianggap sebagai khalifah kelima dalam al-khulafa ar-rasyidun. Jadi, Ibn Katsir tidak membahas riwayat ini seperti cara HTI membahasnya. Beda jauh!

V. Fiqih

Kitab fiqh dari berbagai mazhab saya telaah:

Mazhab Hanafi

1. Al-Ashl al-Ma’ruf: Syaybani
2. Al-Mabsuth: as-Sarkhasiy
3. An-Nukat: as-Sarkhasiy
4. Badai’ as-Shanai’: al-Kasani
5. Al-Hidayah: al-Marghinani
6. Hasyiyah Ibn Abidin

Mazhab Maliki

1. Al-Mudawwanah: Imam Malik
2. Syarh Ar-Risalah: al-Qadhi Abdul Wahab
3. Al-Muqadimat: Ibn Rusyd al-Jad
4. Bidayatul Mujtahid: Ibn Rusyd al-hafid
5. Jami’ al-Umahat: Ibn al-Hajib
6. As-Syamil fi fiqh al-Imam Malik

Mazhab Syafi’i

1. Al-Umm: Imam Syafi’i
2. Mukhtashar al-Muzani
3. Al-Hawi al-Kabir: al-Mawardi
4. Al-Majmu’ syarh muhazzab: Imam Nawawi
5. Raudhatut Thalibin: Imam Nawawi
6. Minhajut Thalibin: imam Nawawi
7. Fathul Wahab: Zakaria al-Anshori
8. Fathur Rahman: Imam ar-Ramli
9. Nihayatul Muhtaj: Imam ar-Ramli

Mazhab Hanbali

1. Al-Jami’ li Ulum: Imam Ahmad
2. Al-Irsyad: al-Hasyimiy
3. Al-Hidayah ‘ala Mazhab Imam Ahmad
4. Umdatul hazim
5. Al-Kafi fi fiqh al-Imam Ahmad
6. Al-Mughni: Ibn Qudamah

Fiqh Umum

1. Ikhtilaful fuqaha: al-Marwazi
2. Al-Fiqhul Islami wa adillatuhu: Wahbah Az-Zuhaili
3. Al-Fiqh ‘ala mazahibil arba’ah
4. Mausu’ah fiqh kuwait

Siyasah

1. As-Siyasah: Ibn Sina
2. Al-Ahkam as-Sulthaniyah: al-Mawardi
3. Tashil Nazhar: al-Mawardi
4. Siyar al-Muluk: Nizamul Muluk
5. At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk: imam al-Ghazali
6. Sirajul Muluk: at-Thurthusyi
7. Al-Manhaj al-Masluk fi siyasat al-muluk: Syairazi
8. At-Thuruqul Hukmiyah: Ibn Qayyim
9. Al-Khilafah: Syekh Rasyid Ridha
10. As-Siyasah as-Syar’iyah: Abdul Wahab Khallaf

Kesimpulan: TIDAK satupun kitab fiqih di atas baik dari berbagai mazhab, kitab fiqh umum maupun khusus masalah siyasah, baik klasik maupun modern, yang mencantumkan hadits riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah apalagi membahas bahwa kelak akan datang lagi khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian.

KESIMPULAN:

Jadi hadits riwayat khilafah ‘ala minhajin nubuwwah tidak dianggap penting untuk dibahas dalam referensi utama yang otoritatif dalam tradisi keilmuan Islam.

Juga tidak dianggap sebagai dalil untuk penegakkan khilafah, dan tidak dianggap sebagai janji Allah dan Rasul-Nya bahwa khilafah akan kembali datang. Tuntas sudah! []

NU ONLINE, 25 Juni 2019
Nadirsyah Hosen | Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

(Hikmah of the Day) Renovasi Fondasi Ka’bah dan Kebesaran Nabi Menjaga Perasaan Non-Muslim


Renovasi Fondasi Ka’bah dan Kebesaran Nabi Menjaga Perasaan Non-Muslim

Suatu hari, ketika sedang bersanding dengan Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha, Nabi Muhammad berujar:

“Tidakkah kamu tahu wahai Aisyah, dulu kaummu itu (kaum kafir Quraisy) ketika membangun Ka’bah, mereka mengurangi luas bangunannya dan menggeser fondasinya dari yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim?” 

Demikian Nabi Muhammad bertanya. Tentu saja Aisyah heran, mestinya bukan perkara susah bagi Nabi untuk melakukan sesuatu atas bangunan Ka’bah. Beliau Nabi, pemimpin masyarakat, serta disegani orang-orang Quraisy di Makkah, dan kala itu Islam sudah menyebar pesat, mengapa perlu pertimbangan soal renovasi Ka’bah itu?

“Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menggesernya saja ke posisi semula?” Demikianlah Aisyah akhirnya bertanya balik.

Nabi menjawab, “Ya, seandainya tidak memerhatikan keadaan masyarakatmu yang masih dibayangi ajaran-ajarannya sebelum masuk Islam (hidtsaanu qawmik bil kufri), juga adanya kaum kafir Quraisy yang sudah lama di sana, tentu telah kugeser fondasi itu.”

Kisah di atas diriwayatkan dalam Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim dalam pembahasan perihal renovasi Ka’bah. Islam datang membawa banyak tatanan baru untuk masyarakat. Namun nilai yang sudah ada tentu bukan perkara mudah, termasuk juga merombak infrastruktur yang telah melekat dengan identitas suatu kaum.

Melalui kisah percakapan Nabi dan Aisyah di atas, bisa saja Rasulullah menggunakan pengaruh dan kekuasaan beliau untuk memugar Ka’bah sebagaimana asal mulanya dibangun Nabi Ibrahim. Meskipun memahami pentingnya pengubahan itu, beliau tidak serta merta melakukannya. Konon Ka’bah pada masa Nabi itu dikurangi luasnya oleh masyarakat Quraisy sebelum datangnya Islam, karena kurangnya perhatian soal itu dan masih kuatnya budaya pagan.

Bagaimanapun, Nabi Muhammad adalah sosok welas asih. Imam an Nawawi menerangkan mengapa Rasulullah memilih untuk menahan ego beliau atas kebenaran sejarah, dengan mendahulukan kepentingan masyarakat secara luas.

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوَاعِدَ مِنَ الْأَحْكَامِ مِنْهَا إِذَا تَعَارَضَتِ الْمَصَالِحُ أَوْ تَعَارَضَتْ مَصْلَحَةٌ وَمَفْسَدَةٌ وَتَعَذَّرَ الْجَمْعُ بَيْنَ فِعْلِ الْمَصْلَحَةِ وَتَرْكِ الْمَفْسَدَةِ بُدِئَ بِالْأَهَمِّ

Artinya: “Dalam hadits ini ada dalil kaidah hukum, di antaranya adalah ketika terdapat dua kebaikan yang bertentangan, atau ada pertentangan antara maslahat dan dampak buruk – namun susah untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan secara bersamaan, maka hal yang lebih penting mesti didahulukan.

(Imam an Nawawi. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al Hajjaj. Beirut: Dar Ihya at Turats al ‘Arabi, juz 9 hal 90)

Rasulullah tahu bahwa mengembalikan fondasi bangunan Ka’bah sebagaimana didirikan Nabi Ibrahim adalah suatu kebaikan. Namun, ia akan mendatangkan masalah yang lebih besar, yaitu masyarakat Makkah yang baru saja masuk Islam akan merasa bahwa mengusik bangunan Kabah, yang sudah ada sejak dulu, adalah masalah besar. Nabi memahami persoalan ini.

Selain itu, dikhawatirkan akibat perombakan Ka’bah tadi, kelak masyarakat kafir Quraisy Makkah yang merasa terusik akan mengganggu kewajiban syariat kaum muslimin, seperti shalat, zakat dan haji. Bangunan Ka’bah yang sudah mereka rawat sejak lama di Makkah tentu memiliki makna tersendiri bagi mereka, dan itu tidak bisa ditawar.

Imam al Qasthalani menyebutkan dalam Irsyadus Sari li Syarh Shahih al Bukhari (Cet. Mesir, Mathba’ah Kubro Al Amiriyah, Juz 3 hal 146) bahwa kisah di atas menunjukkan agar seorang muslim mampu menimbang dampak buruk dari dua atau lebih permasalahan yang menimpanya, lantas dapat memprioritaskan pencegahan akan keburukan yang lebih besar. 

Dalam kasus kisah membangun Ka’bah di atas, Rasul menilai membangun Ka’bah bisa ditunda lebih dulu. Beliau lebih mengutamakan keimanan dan keamanan kalangan umat muslim baru, serta merawat kohesi sosial dengan kaum kafir Quraisy yang sudah memugar dan merawat Ka’bah sebelumnya. Dua alasan tersebut, demi kaum muallaf dan non-muslim, membuat Nabi memilih menahan diri dari perombakan Ka’bah, lantas mendahulukan kerukunan dan menghargai simbol masyarakat yang sudah ada sebelumnya.

Barangkali kisah ini relevan dengan kondisi masyarakat kita. Bukan semata karena memiliki kuasa, atau merasa memiliki argumen yang lebih benar, lantas mengabaikan kerukunan dan kedamaian yang ada. Bahkan termasuk dengan kalangan kaum non-Muslim. Kerukunan, tenggang rasa, dan kemanusiaan lebih penting dari mutlak-mutlakan membela kebenaran secara arogan. Wallahu a’lam. []

(Muhammad Iqbal Syauqi)

(Ngaji of the Day) Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan


Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sejak dulu tersiar kabar bahwa darah ular berkhasiat untuk pelbagai macam penyakit berat. Oleh karena itu, darah ular kemudian diperjualbelikan di masyarakat. Bagaimana kita menyikapi masalah ini? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Deni – Surabaya

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Al-Qur’an menyebutkan darah sebagai salah satu benda yang dilarang untuk dikonsumsi. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِ

Artinya, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…,” (Surat Al-Maidah ayat 3).

Selain termasuk kategori haram, darah juga termasuk benda najis yang mengharuskan kita untuk menyucikan anggota tubuh biasanya untuk kepentingan shalat atau benda-benda yang diperlukan darinya.

Lalu bagaimana dengan berobat dengan menggunakan darah ular?

Benda najis tentu juga haram dapat digunakan untuk kepentingan darurat pengobatan. Hal ini dimungkinkan karena manusia adalah makhluk mulia sehingga penyakit yang dideritanya harus dihilangkan sekali pun dengan benda najis sebagaimana riwayat perihal masyarakat Uraniyin di masa Rasulullah SAW.

أما حديث العرنيين وأمره عليه السلام لهم بشرب أبوال الإبل، فكان للتداوي، والتداوي بالنجس جائز عند فقد الطاهر الذي يقوم مقامه

Artinya, “Adapun hadits tentang masyarakat Uraniyin dan perintah Nabi Muhammad SAW terhadap mereka untuk meminum air kencing unta berkaitan dengan kepentingan pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis diperbolehkan ketika tidak ada benda suci yang dapat menggantikannya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405, juz I, halaman 161).

Dari sini, kita dapat menarik simpulan bahwa pengobatan dengan darah ular bersifat jalan terakhir sebagai darurat karena tidak ada lagi obat alternatif selain darah ular tersebut. Darah ular dapat dijadikan obat bila terbukti dan teruji secara klinis mutakhir sebagai obat atas penyakit tersebut. Artinya, pertimbangan ilmu pengetahuan medis perlu menjadi pertimbangan utama dalam hal ini, bukan karena konon atau katanya.

Kalau hanya katanya, kami menyarankan agar sebaiknya menghindari darah ular sebagai obat karena keharamannya sudah jelas, sementara manfaatnya masih bersifat spekulasi. Dalam hal ini, kami sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada dunia medis.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.

Alhafiz Kurniawan
Tim Bahtsul Masail NU