Menyingkap Berkah Ka'bah
Judul
: Sejarah Ka'bah
Penulis
: Prof Dr. Ali Husni al-Kharbuthli
Penerbit
: Turos Pustaka
Terbitan
: Ketiga, September 2013
Tebal
: 364 halaman
ISBN
: 978-602-99414-9-4
Peresensi
: M. Kamil Akhyari, Guru SMPI Nurul Ishlah dan SMK Nurul Huda, Kecamatan Bluto
Sumenep, Alumni Fakultas Ushuluddin, Instika.
Orang yang mengetahui sejarah Ka'bah tak akan
membantah bahwa dari sembilan keajaiban dunia, Baitullah (rumah Allah)
adalah tempat yang paling ajaib. Bangunan berukuran 12,84 meter (sisi timur
laut), 12,11 meter (sisi barat daya), 11, 28 meter (sisi barat laut), dan 11,53
meter (sisi tenggara) itu, menyedot perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah
negara-negara Muslim mencurahkan perhatian khusus, dan sudah berlangsung dari
masa ke masa.
Lembah tandus, sempit --tidak lebih dari 700 langkah pada awalnya-- dengan
dikelilingi gunung cadas dan tidak ditumbuhi pepohonan, sebelum kedatangan Nabi
Ibrahim dan Ismail jauh dari hiruk pikuk manusia. Tak ada aktivitas manusia,
bahkan burung-burung pun enggan hinggap di lembah tersebut karena memang untuk
mendapatkan air saja sangat sulit.
Saat ini, tanah tandus itu gemerlap. Menyaksikan kemegahan Mekah sekarang sulit
membayangkan kesulitan Siti Hajar saat mondar-mandir mencari air untuk sekadar
diminum, setelah bekal untuk Ismail habis. Kini, lembah tersebut menjadi kota
padat, setiap harinya didatangi banyak umat manusia dari berbagai belahan
dunia.
Kota Mekah setiap tahunnya didatangi sekitar 7-8 juta orang (hlm. 117). Jumlah
kunjungan tiap tahunnya terus mengalami tren peningkatan, sehingga harus
dibatasi. Rasanya belum ada satu pun kota di dunia yang menyamai Mekah dan
Madinah dalam kunjungan orang asing tiap tahunnya.
Kementerian Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat, pada tahun 2012, jumlah jemaah
haji saja yang mendatangi dua kota tersebut sekitar 2,9 juta orang. Rilis
tersebut meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Jemaah umrah lebih
tinggi lagi. Selama bulan Ramadhan 1433 H saja mencapai 4,8 juta (hal. 117).
Banyaknya pengunjung dari berbagai belahan dunia memberikan berkah ekonomis
pada pemerintah dan warga yang tinggal di Mekah, Madinah dan sekitarnya seperti
Jeddah. Dalam kurun waktu 2004-2005 saja, Kepala Komisi Transportasi, Kamar dan
Industri Arab Saudi menyebutkan angka sekitar 30,6 miliar Riyal (Rp. 76,5
triliun) devisa yang diperoleh dalam kurun waktu 2004-2005. Dalam setiap
tahunnya, devisa yang masuk terus meningkat (hal. 118).
Hal ini tentu tidak lepas dari doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim saat melepas
istri dan putranya, Siti Hajar dan Ismail, di tanah yang tidak memiliki
tanam-tanaman itu. Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al Qur'an Surah
Ibrahim (14): 37.
Untuk meningkatkan pelayanan jemaah haji dan umrah yang terus membludak
dibutuhkan banyak investasi. Guru besar ekonomi Saudi Fahd al-Andeejani
menyatakan, investasi di bidang jasa akan lebih banyak lagi menyerap tenaga
kerja. Saat ini yang sudah berjalan layanan penyediaan air Zamzam (hal. 119).
Arab News
mencatat, sektor jasa penyediaan air Zamzam menyerap ribuan tenaga kerja. Belum
lagi sektor jasa lainnya seperti menginapan dan katering yang menghasilkan
keuntungan hingga 3 miliar riyal atau sekitar Rp7,5 trilian. Sementara sektor
transportasi diperkirakan meraup keuntungan hingga 5 miliar Riyal atau Rp. 12,5
triliun. Belum lagi suvenir seperti sajadah, karpet, parfum dan perhiasan (hal.
119-120).
Peluang besar ini tampaknya terendus hingga ke Indonesia. Hingga saat ini,
masyarakat yang kesulitan mengakses pekerjaan di negeri ini menjadikan Arab
Saudi sebagai negara tujuan utama mencari nafkah, sekalipun ada banyak TKW yang
mengalami perlakuan tidak manusiawi. Pemilihan negeri para nabi sebagai tempat
TKI terbanyak selain Malaysia bukan semata karena upah.
Selain karena upah yang lumayan besar, tenaga kerja lebih memilih Arab Saudi
sebagai tempat mencari nafkah karena keuntungan yang diperoleh tidak semata
berorientasi dunia. TKI tidak hanya memperoleh uang tapi sekaligus bisa
menyempurnakan rukun Islam yang kelima, menunaikan umrah atau haji, yang tidak ditemukan
di negara lain.
Buku
Sejarah Ka'bah yang ditulis Guru Besar Sejarah Islam Universitas
'Ain Shams, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, menjawab 1001
pertanyaan seluk beluk bangunan Ka'bah, dari masa ke masa.
Dengan bahasa bertutur yang cukup baik, tidak seperti literatur sejarah pada
umumnya yang cenderung menoton dan membosankan, dalam buku setebal 361 itu
dikupas aspek agama, politik, ekonomi dan sosial yang mengiringi bangunan
Ka'bah yang tetap berdiri kokoh tak lapuk dimakan zaman.
Penerbit Turos Pustaka menyisipkan hasil kajian ilmiah tentang Ka’bah. Juga
dilengkapi panduan haji dan umrah. Wallahu a’lam. []