Rabu, 07 Desember 2011

(Do'a of the Day) 11 Muharram 1433H

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma anbit lanaz zar'a wa adirra lanadh dhar'a wasqinaa min barakaatis samaa'I wa anbit lanaa min barakaatil ardhi.

Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman kami dan keluarkanlah air susu binatang, turunkan karunia-Mu dari langit dan tumbuhkanlah untuk kami segala berkah di bumi.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 5

Selasa, 06 Desember 2011

(Masjid of the Day) Nurul Yaqien yang Menyempil di Jalan Arjuna, Pasir Limus, Wangun Harja

Di tengah pemukiman padat yang berbatasan langsung dengan Kawasan Industri raksasa Jababeka, terdapat sejengkal kampung yang tersisa bernama Pasir Limus yang masih masuk di dalam wilayah Desa Wangun Harja, Kecamatan Cikarang Utara. Di sejengkal kampung yang penduduknya sangat ramah ini, terdapat sebuah bagunan tempat menampung segala kepenatan seluruh warganya, termasuk keceriaan anak-anak di dalamnya dalam melatunkan alif, ba', ta', tsa’, jim, dan seterusnya di sore hari yang cerah.

jalan kampung yang masih segar...



ada nurul yaqien yang menyempil di sana...



menyempil namun indah...



di dalamnya cukup lega...



dengan terasnya yang luas...



di samping nya tersedia tempat belajar alif, ba', ta' dan seterusnya...



tak lupa juga ada bedug sederhana sebagai ciri khas nusantara...


Menyempil memang terkadang terlihat sungguh indah.

Pulas Terlelap, Lupa Hutang - (8)

Pulas terlelap, walaupun benar-benar sangat membahayakan.

(Ngaji of the Day) HTI, Ancam Kedaulatan Negeri

HTI, Ancam Kedaulatan Negeri

Dewasa ini, di negeri kita, muncul gerakan transnasional yang menggulirkan wacana tegaknya khilafah. Wacana ini, didasari oleh paradigma mereka yang menilai sistem pemerintahan demokrasi yang dianut oleh negeri kita telah nyata-nyata gagal dalam menciptakan masayarakat makmur, sejahtera, aman, dan santosa seperti yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia.1) Bahkan, mereka menganggap, sistem inilah yang menyebabkan kemerosotan bangsa ini dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari moral, ekonomi, sampai politik.2) Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa satu-satunya sistem yang mampu mengatasi keterpurukan tersebut adalah sistem khilafah (versi Hizbut Tahrir) di bawah naungan daulah islamiyah.

Sekilas, pemikiran tersebut sangat menjanjikan. Namun, khilafah seperti apa yang ingin mereka tegakkan? Apakah konsep yang mereka usung benar-benar sesuai dengan manhaj nubuwah, atau justru bertolak arah? Dan dapatkah sistem itu direalisasikan di tengah-tengah masyarakat plural seperti Indonesia, tentunya harus tanpa diawali dengan pertumpahan darah?

Inilah di antara pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dihadapi oleh setiap penjaja konsep. Karena, bagaimanapun idealnya sebuah konsep, pada tataran selanjutnya ia tetap harus dihadapkan pada realita yang kompleks. Realita itulah yang selanjutnya yang akan menilai kelayakannya.

Pertahankan NKRI!

Upaya penegaan sistem pemerintahan khilafah ideal—seperti pada masa Khulafâ’ur-Rasyidîn—tidak lain hanyalah sebuah mimpi yang impossible untuk diwujudkan. Sebab, sistem pemerintahan khilafah ideal telah selesai pada tahun 40 Hijriyah atau tiga puluh tahun pasca wafatnya Rasulullah . Hal ini selaras dengan sabda beliau: “Khilafah setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun. Kemudian (pemerintahan) akan berubah menjadi kerajaan”.3)

Di sampingitu, wacana ini justru ditengarai akan menimbulkan konflik besar dan pertumpahan darah. Sejarah mencatat tragedi memilukan di Karbala berupa tewasnya Sayidina Husein dan para pengikutnya serta perselisihan yang terjadi antara Abdullah bin Zubair bin Awam versus Malik bin Marwan yang berakhir dengan pembunuhan Abdullah bin Zubair di kota Mekah. Demikian juga, peristiwa yang terjadi di Al-Jazair dan Sudan yang telah menimbulkan genangan darah dan perpecahan penduduknya. Peristiwa-peristiwa tersebut dipicu oleh sebuah wacana yang menuntut tegaknya sistem pemerintahan ideal seperti pada masa Nabi dan Khulafâ’ur-Rasyidîn.

Memang dalam Islam, sejarah tidak menjadi sumber hukum. Tetapi, sejarah dapat menjadi pijakan dan tolok ukur dalam menentukan dan mengambil keputusan yang lebih bermanfaat dan berupaya menampik segala keburukan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang telah dirumuskan ulama “Kemudaratan sedapat mungkain ditolak’’ (baik sebelum terjadinya maupun sesudahnya).4)

Karenanya, sistem pemerintahan Indonesia saat ini, sedapat mungkin terus dipertahankan untuk mencegah terjadinya perpecahan seperti peristiwa di atas. Bukankah dalam kaidah fikih telah diungkapkan menampik sesuatu keburukan lebih diutamakan daripada meraih kemaslahatan?

Di samping itu, mempertahankan persatuan dan kedaulatan NKRI merupakan tuntutan negara terhadap warganya sebagai wujud rasa cinta dan pengabdiannya pada negara. Mencintai negara adalah cermin dari seorang yang beriman sesuai dengan sesuai dengan Hadis Nabi : “Mencitai negara merupakan sebagian dari iman”.5)

NKRI Harga Mati

Ulama Indonesia sepakat bahwa persatuan dan kedaulatan NKRI wajib dipelihara dan dipertahankan. NKRI merupakan bangunan yang didirikan atas dasar kebersamaan melalui perjuangan dan pengorbanan yang tak terhingga. Lebih lanjut, mereka juga menegaskan bahwa NKRI adalah pemerintah Islam yang sah dan wajib dijunjung tinggi martabatnya serta wajib untuk ditaati.6)

Kesepakatan ini merujuk pada pendapat Imam al-Ghazali—seorang tokoh dan pemikir Islam abad ke-V Hijriyah—yang mengatakan: keberadan khilafah yang memenuhi syarat secara lengkap sangatlah sulit pada masa kita saat ini. Dengan demikian, maka boleh melaksanakan semua keputusan yang telah ditetapkan oleh penguasa walaupun ia bodoh atau fasik. Hal ini diupayakan supaya kepentingan umat Islam tidak tersia-sia begitu saja. Menurut Imam ar-Rafi’i pandangan al-Ghazali tersebut merupakan yang paling baik dari kesekian pendapat politik Islam.7)

NKRI sebagai bentuk negara tercinta kita merupakan pandangan final. Dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Maksud dari negara kesatuan adalah suatu negara yang terbentuk bukan karena adanya gabungan dari beberapa negara, serta kedaulatannya tidak terbagi.

Terbentuknya NKRI dengan sistem seperti sekarang, bukan berarti menghapus status NKRI sebagai negara Islam. Islam tidak terikat dengan simbol-simbol tertentu dalam mengatur sistem perpolitikannya. Sistem perpolitikan Islam tidak mengharuskan sebutan khilafah, imamah serta daulah sebagai satu-satunya simbol identitas negara. Sebab Islam telah meletakkan prinsip-prinsip yang dapat menjadikan status negara disebut negara Islam.

Ada beberapa prinsip yang dapat menjadikan sebuah negara dapat menyandang predikat sebagai negara Islam.

Pertama, apabila esensi tatanan sistem pemerintahan dalam prinsipnya mengadopsi hukum yang bermuara dari al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber kebijakannya. Dengan demikian, negara bisa disebut dengan negara Islam, ketika konstitusinya menggunakan konsep Islam dan ideologinya berlandaskan Islam.

Kedua, tegaknya penerapan hukum dan syiar Islam selain yang berkaitan dengan masalah ibadah. Seperti, hukum rajam, had zina, dan lain-lainnya.8)

Ketiga, apabila suatu negara dapat konsis dengan syariat Islam namun wadah kenegaraannya tidak lagi menggunakan istilah khilafah, imamah serta daulah Islamiyah, bahkan menyesuaikan dengan tuntutan alam modern, maka negara tersebut tetap berstatus Negara Islam. Secara faktual juga dapat disebut dengan istilah khilafah, imamah dan daulah Islamiyah. Konsis ini bukan berarti negara tersebut telah merealisasikan seluruh perundang-undangan agama Islam. Karena, untuk mencapai sektor tersebut masih butuh proses panjang dalam meniti langkah ke depan.9)

Keempat, apabila negara tersebut mayoritas berpenduduk Islam, maka secara otomatis negara tesebut berstatus Negara Islam.10)

Dari wacana di atas dapat disimpulkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang berstatus sebagai Negara Islam. Dengan demikian, wajib bagi seluruh warga Indonesia menjaga dan memelihara kedaulatan persatuan dan kesatuan NKRI dari kelompok radikalis yang mengusung wacana tegaknya khilafah di bumi pertiwi tercinta ini. Sebab wacana mengusung tegaknya khilafah di bumi Indonesia dikhawatirkan justru akan menyebabkan keretakan persatuan dan kesatuan NKRI, bahkan akan menimbulkan pertumpahan darah sesama warga Indonesia. Hal ini mengingat masyarakat negara ini dikenal dengan masyarakat plural dan berjuta warna. Wallahu a’lam.[]

1)     Al-Wa’ie, no. 42 tahun IV, 1-29 Pebruari 2004
2)     Ibid.
3)     Tim Kajian Ilmiah Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo Kediri, Simboisis Negara dan Agama, hal 148
4)     M. Quraisy Syihab, Logika Agama, hal 61
5)     Istinbat, edisi 182 tahun X, Jumadil Ula 1429 H
6)     Solusi Problamatika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muknamar, Munas, dan Kombes Nahdhatul Ulama, hal 269
7)     Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husainiyi al-Hashani ad-Dimsyiqi as-Syafi’i, Kifâyatul-Akhyâr, hal 258
8)     Tim Kodifikasi Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo Kediri, Manhaj Solusi Umat, hal 270
9)     Buletin SIDOGIRI, edisi 32 tahun IV Syaban 1429 H
10)  Tim Kodifikasi Abituren 2007 Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo Kediri, Manhaj Solusi Umat, hal 270

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Sidogiri – Pasuruan.

(Do'a of the Day) 10 Muharram 1433H

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahummas qinal ghaitsa wa laa taj 'alnaa minal qaanithiina.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hujan yang deras dan janganlah kami dijadikan sebagai orang-orang yang berputus asa.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 5

Senin, 05 Desember 2011

Demi Sebongkah Berlian

(Buku of the Day) KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925

Syaikhona Kholil Gurunya Para Kiai
022.jpg
Judul : KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925
Penulis : Muhammad Rifa’i
Editor : Meita Sandra
Penerbit : Garasi Yogyakarta
Cetakan : 2010
Tebal : 148 hlm.
Peresensi : Moh. Riwann Rifa’I, S. Pdi


KH Mustafa Bisri (Gus Mus) menyebutnya, kekeramatan atau karamah yang memancar pada diri Kiai Kholil Bangkalan bukan datang secara tiba-tiba, namun lahir dari proses penempaan diri yang sangat panjang. Semenjak remaja, beliau terbiasa menjalani pola hidup yang sederhana dan memprihatinkan, pahit manis, suka dan duka dalam perjalanan hidupnya ia pernah jalani. Maka tidak berlebihan jika banyak orang memuji Kiai Kholil. Zamakhsyari Dhofier dalam penelitiannya tentang jaringan intelektual Islam Indonesia, Syaikhona Kholil Bangkalan adalah termasuk salah satu tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Selain itu, Syaikhona Kholil termasuk salah satu gurunya para Kiai se Jawa dan Madura bahkan seluruh Indonesia. Adapan diantara murid-muridnya yang pernah berguru adalah, KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (organisasi terbesar di Indonesia), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo). Bahkan Ir. Soekarno Presiden RI pertama, menurut penuturan Kiai Asa’ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya (hal.51-53).

Dalam mendidik santri-santrinya, Kiai Kholil sangatlah luar biasa dalam mengemban sebuah amanah dan tanggung jawab sebagai seorang guru. Dari beberapa santri di atas, mayoritas semua menjadi tokoh publik dan bisa dipertanggung jawabkan intergritas keilmuannya sebagai seorang santri. Juga mayoritas santri Kiai Kholil menjadi orang yang sukses, menjadi seorang Kiai, dan pengasuh pesantren. Dalam mendidik santrinya, Kiai Kholil yang terkenal menekankan sikap zuhud dan ikhlas dalam menuntut ilmu, beliau juga memiliki metode tersendiri dalam menggembleng para santrinya. Sebagai seorang pendidik, beliau tidak mau hanya mengajar biasa saja, yaitu membacakan kitab kuning, menyuruh santri mendengarkan dan menulis pelajaran, kemudian mempelajarinya, ataupun menghafalnya.

Pengabdian dan perjuangan Kiai Kholil sangatlah luar biasa, beliau salah satu Kiai yang ikut membantu membidani berdirinya Jam’iyah Nadlatul Ulama (NU). Walaupun Kiai Kholil tidak pernah masuk dalam struktural NU, tetapi semua tokoh NU mengetahui terhadap sumbangsih Kiai Kholil atas berdirinya organisasi terbesar di Indonesia (NU). Jadi posisi Kiai Kholil dalam sejarah proses berdirinya Nahdlatul Ulama adalah inspirator. Karena latar belakang sejarah berdirinya NU tidaklah mudah. Untuk mendirikannya, para ulama meminta izin terlebih dahulu kepada Allah SWT. Adapun permohonan pertama diprakarsai oleh Kiai Hasyim Asy’ari yakni melalui salat istikharah. Namun petunjuk itu tidak langsung melalui Mbah Hasyim, melainkan melalui Kiai Kholil Bangkalan.

Buku biografi singkat Kiai Kholil Bangkalan ini, juga menjelaskan beberapa karamah-karamah yang beliau miliki. Di antara karamah yang beliau miliki, ke Makkah Naik Kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air). Suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Kiai Kholil ditemani oleh Kiai Syamsul Arifin ayahanda dari Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah pulau Jawa dan Madura. Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa, saking asyik dan enaknya berdiskusi, matahari hampir terbenam. Padahal Kiai Kholil dan Kiai Syamsul Arifin belum melaksanakan kewajiban shalat asar, sementara waktunya hampir habis. Kata Kiai Kholil, tidak mungkin kita melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk. Akhirnya Kiai Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil “kerocok”, untuk kita pakai perjalanan ke Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Kiai Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepatnya menuju ke arah Makkah. Sesampainya di Makkah, adzan shalat asar baru saja dukumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Kiai Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram (hal.105).

Dalam buku ini, juga dijelaskan tentang pemikiran kerakyatan Kiai Kholil. Sebagai seorang Kiai dan seorang pemimpin yang dihormati di daerah Bangkalan, Madura bahkan di Jawa, Kiai Kholil menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang memikirkan rakyatnya. Oleh karena itu, beliau tidak menjadi seorang pemimpin dan tidak menjadi seorang intelektual yang hanya berada dalam pesantrennya saja. Beliau terjun langsung untuk mengetahui seperti apa keberadaan rakyatnya dan sedang menghadapi kesulitan seperti apa masyarakatnya. Sosok Kiai Kholil inilah, justru mampu menampilkan sebagai pemimpin yang merakyat, dan mengayomi semua kalangan.

Sejarah biografi Syaikhona Kholil Bangkalan telah banyak orang yang menulisnya, seperti yang ditulis Oleh KH. A. Aziz Masyhuri (99 Kiai Pondok Pesantren Nusantara), Muhammad Hasyim (Khazanah Khatulistiwa, Potret Kehidupan dan Pemikiran Kiai-Kiai Nusantara). Dan penulis buku ini, kebanyakan data-datanya mengambil dari buku-buku yang telah terbit sebelumnya. Namun buku ini tetaplah menarik untuk dibaca oleh semua kalangan khususnya para santri pondok pesantren. Dengan harapan bisa mentauladani dan mengambil hikmah apa yang pernah dilakukan, diperjuangkan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan. Wallahu a’lam

Staf Pengajar Nasy’Atul Mutallimin Candi Dungkek Sumenep Madura

(Ngaji of the Day) Bubur Suro: Membaca Kembali Sejarah Islam

Bubur Suro: Membaca Kembali Sejarah Islam

Bagi sebagian masyarakat Islam di Nusantara bulan Muharram adalah bulan istimewa. Sebagai bulan pertama tahun hijriyah, Muharram menjadi ruang ruang muhasabah (intropeksi diri) akan amal masa lalu guna menjadi pedoman langkah masa depan. Muharram menjadi serambi sebuah rumah yang berisikan sebelas bulan lainnya. Oleh karena itu Muharram dipercaya memantulkan nuansa peribadatan seseorang dalam satu tahun ke depan. Seperti halnya serambi yang bagus biasaya dimiliki sebuah rumah yang mewah. Begitu pula bulan Muharram, amal yang shalih di bulan ini mencitrakan sebelas bulan lainnya.

Dengan demikian Muharram mempunyai kedudukan yang istimewa dibandingkan bulan lainnya. Wajar saja jika umat muslim berbondong-bondong melakukan kebaikan dan sedekah pada bulan ini.Secara historis, bulan Muharram juga memiliki keistimewaan. Pada bulan inilah Nabi Muhammad saw. memutuskan berpindah dari Makkah menuju Madinah demi kesuksesan dakwah Islam. Bulan ini merupakan waktu yang berharga yang di dalamnya Rasulullah saw menemukan kunci keberhasilan dakwah Islam yaitu hijrah. Hijrah yang berarti ‘pindah’ tidak semata-mata mencari ruang yang sesuai untuk berdakwah, ruang yang lebih minim bahaya, ruang yang lebih kondusif. Tidak. Karena Rasulullah saw sendiri tidak pernah takut dengan berbagai ancaman kafir Makkah. Namun hijrah memiliki makna lain yaitu berpindah, merubah dan me-upgrade- semangat pada tataran yang lebih tinggi. Secara psikologis, suasana yang baru, kawan baru, tantangan baru akan menjadikan semangat diri dan jiwa seseorang lebih dinamis. Mengenai semangat hijrah ini Rasulullah saw sendiri dalam sebuah haditsnya pernah bersabda.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كان هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَن كان هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Artinya: Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ε bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan (amal) tergantun niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Dalam asbabul wurud diceritakan ada seorang sahabat yang melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah dengan niatan mengawini seorang perempuan bernama Ummu Qais. Karena niatnya itulah maka ia tidak mendapatkan keutamaan hijrah. Bahkan proses hijrah sahabat tersebut dijuluki dengan Hijratu Ummu Qais. Ini menunjukkan bahwa niat seseorang sangatlah penting. Niat bukanlah sekedar motifasi belaka, karena di dalam niat itu Allah titipkan sebuah pahala yang secara otomatis akan me-cover segala yang kita lakukan dalam sisi-Nya. Inilah yang membedakan bulan Muharram dengan lainnya. Muharram menjadi berbeda karena di dalamnya ada kejadian yang sangat berharga bagi Agama Islam yaitu Hijrah Rasulullah saw.

Selain itu Muharram menjadi berbeda karena hari ke-sepuluh dalam bulan ini dipadati dengan nilai yang sarat dengan sejarah, yang lebih dikenal dengan hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat).

Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.

Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun yang terjadi pada hari ’asyuro juga. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Bagi kelompok syi’ah hari kesepuluh bulan Muharram sangatlah penting. Karena pada hari inilah tepatnya tahun 61 H Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib sang Cucu Rasulullah saw terbunuh oleh Yazid bin Muawiyah. Pembunuhan ini lebih tepat bila disebut dengan pembantaian karena tidak seimbangnya dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Pembantaian ini terjadi di padang Karbala ketika dalam perjalanan menuju Irak.

Tentunya berbagai kejadian sejarah tersebut mulai dari sejarah transcendental yang berhubungan langsung proses penciptaan hujan oleh Allah swt hingga hijrah Rasulullah saw dan terbunuhnya Husain cucu Rasulullah saw. tidak boleh terhapus dari memori kolektif maupun individu generasi Muslim. Kejadian-kejadian dalam sejarah ini harus selalu dipupuk dengan subur sebagai salah satu media pendidikan kepahlawanan dalam Islam.

Berbagai metode peawatan sejarah ini terejawantahkan dalam berbagai tradisi kolaitas. Di Jawa misalnya kita mengenal bubur abang dan bubur putih yang dibagikan dan disajikan pada hari ‘asyura tidak lain untuk merawat ingatan sejarah tersebut secara perlambang. Bubur putih bermakna rasa syukur akan panjngnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Seperti rasa syukunya Nabi Nuh setelah berlayar dari banjir bandang, seperti syukurnya Nabi Musa setelah mengalahkan Fir’aun. Disamping itu Bubur Putih merupakan lambing kebenaran dan kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang. Meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan, seperti Sayyidina Husain sebagai kelompok putihan yang ditumpas oleh Yazid bin Muawiyyah sang penguasa laknat.

Sedangkan Bubur Abang (bubur merah) adalah pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan. Semoga semua hal-hal buruk itu senantiasa dijauhkan oleh Allah dari kita amien. Jadi bubur suro ini yang berwarna merah dan putih merupakan representasi dari rasa syukur yang mendalam. Atas segala karunia Allah swt. Dan yang lebih penting dari itu semua, Bubur Suro merupakan wahana untuk merawat ingatan akan adanya sejarah besar dalam Islam. []

Sumber: NU Online

(Do'a of the Day) 09 Muharram 1433H

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma innaa mastaghfiruka innaka kunta ghaffaran fa arsilis sama'a 'alainaa midraraa.

Ya Allah, kami memohon ampunan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, maka turunkanlah hujan yang lebat kepada kami dari langit.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 5

Jumat, 02 Desember 2011

(Masjid of the Day) Kesyahduan Panglejar yang Mampu Membuat Hati Bergetar

Lokasi di bebukitan dan ketinggian yang pasti sejuk, dingin, adem, segar, dan entah kata apalagi yang pantas disematkan kepada wilayah ini. Dikelilingi dengan perkebunan teh, kakao, dan banyak lagi pepohonan yang terawat dengan baik. berada di tepi jalan propinsi dari Purwakarta menuju Kab. Bandung yang segar dan dengan pepohonan yang mampu menyerap seluruh emisi kendaraan bermotor yang berlalu lalang, berdiri sebuah bangunan sejak 1925 yang tetap masih gagah, Masjid Panglejar.

ada di sana sejak 1925...



gagah di tengah kesegaran...



namun sederhana...



selalu ada tempat untuk membasuh muka...



teras yang adem...



marmer yang mampu membuat telapak kaki penginjaknya merasa segar...



syahdu meratap kalbu...



Panglejar memang benar mampu membuat hati bergetar...

Memulai Aktifitas

"Ya gusti Allah, sesungguhnya masa pagi ini adalah masa pagi-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kuasa ini adalah kekuasaan-Mu, kenyamanan ini adalah kenyamanan-Mu... seandainya rizki saya masih tersembunyi di dalam bumi maka keluarkanlah, jika masih di langit turunkanlah, jika haram bersihkanlah, berkat kesejatian masa pagi-Mu, keindahan-Mu, dan kekuasaan-Mu, ya Allah...."

(Khotbah of the Day) Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa

Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa


الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah, sudahkah semua it kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya?Jama’ah Jum'ah yang berbahagia

Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw berhasil akhirnya sampai pula di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Ke Asia menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan Alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepad-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.

Jama’ah yang dimulikan Allah

Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik.. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:

طوبى لمن طال عمره وحسن عمله (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر)

Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)

Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Diantara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.

Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama. Jika demikian logikanya, maka bubur itu bisa diganti dengan parcel berisi buah-buahan, atau serantang maknan, atau beberapa tusuk sate maupun iga bakar. Karena subtansinya adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama. Bukan bersilaturrahmi melalui pesan singkat yang dikirim dengan menebus pulsa. Bukan itu…!

Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini…amien


جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Sumber: NU Online

(Do'a of the Day) 06 Muharram 1433H

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma 'aladhdhiraabi wa manaabitisy syajari wa buthuunil audiyahi.

Ya Allah, turunkanlah hujan di tempat-tempat yang berkerikil, di tempat-tempat tumbuhnya pepohonan, dan di perut-perut lembah.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 5

Kamis, 01 Desember 2011

Bagaimana Rasa Beton Godog?

Beton godog? Saya yakin tidak banyak orang yang pernah menyantap makanan kampung ini. Beton adalah nama biji dari buah nangka, buah khas yg dagingnya berwarna kuning dan beraroma sangat harum, bukan beton dalam istilah ngecor gedung bertingkat (betonisasi)... :)

Beberapa waktu lalu, istri saya membeli setengah potong buah nangka (klo sebuah full kebanyakan), sebagai salah satu bahan membuat es buah. Isi nangka yang biasanya dibuang, saya bilang agar dipisahkan. Setelah dibersihkan, dicuci, dan direbus sampai kulitnya mlethek, dengan ditambah garam secukupnya, beton sudah siap dihidangkan bersama dengan kopisi susu abc sachet.



Silahkan dicoba makanan kampung ini, karena rasanya mirip Bread Talk yg dijual di mal2 terkenal.


(Ngaji of the Day) Meluruskan Makna Jihad

Meluruskan Makna Jihad
Oleh: Misbahul Ulum*

Sampai saat ini benih-benih terorisme belum sepenuhnya hilang. Justru, menunjukkan angka kenaikan yang semakin tajam. Sekarang ini, terorisme kian membabi buta. Targetnya tidak lagi perorangan, melainkan sudah merambah ke tempat-tempat peribadatan yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi pemeluk agama untuk beribadah kepada tuhannya.

Aksi bom bunuh diri yang meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton pada hari Ahad (25/09/11), adalah salah satu bukti bahwa pemeluk agama lain dan tempat peribadatan juga terancam oleh aski terorisme.

Setiap terjadi tindakan terorisme baik berupa bom atau yang laiannya, bisa dipastikan kecurigaan umum akan mengarah pada agama Islam. Kecurigaan ini cukup berasalan karena sebagian besar pelaku bom bunuh diri itu adalah orang-orang Islam. Akhirnya muncul anggapan bahwa Islam adalah agama teroris.

Umumnya, para pelaku bom bunuh diri itu menggunakan legitimasi agama dan semangat “jihad” untuk menyerang orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Namun, apakah benar yang mereka lakukan itu adalah wujud “Jihad”?

Jihad merupakan ajaran vital dalam Islam. Bahkan, Rasulullah memposisikan jihad sebagai salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah setelah amalan solat dan berbakti kepada orang tua. Jihad adalah wujud tanggungjawab seorang muslim terhadap agamanya.

Beberapa tahun terakhir, terminologi jihad seringkali dikonotasikan dengan tindakan-tindakan terorisme, anarkisme, dan merusak. Sebenarnya, ini adalah anggapan yang keliru dan perlu segera diluruskan. Jihad bukanlah aksi teror, jihad bukanlah meledakkan bom. Akan tetapi jihad adalah upaya untuk menciptakan tatanan kehidupan seperti yang digariskan oleh Tuhan.

Hakekat Jihad

Kata “Jihad” berasal dari bahasa arab “Jaahada” yang bermakna bersungguh-sungguh. Kemudian secara Istilah, Jihad memiliki makna berjuang dengan sunggug-sungguh di jalan Allah seseuai dengan syari’at Islam. Tujuan utama jihad adalah untuk menegakkan dan menjaga agama Allah dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan Rasul dan Al-Quran.

Dari pengertian diatas, sesungguhnya jihad dapat diterjemahan dalam hal yang sangat luas. Jihad tidak hanya terbatas pada pengertian perang angkat senjata saja. Akan tetapi, jihad adalah wujud penghambaan seseorang terhadap Yang Maha Kuasa sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Pemahaman yang menganggap bahwa jihad haruslah perang adalah pemahaman yang sangat sempit. jihad memiliki varian yang sangat banyak. Jihad meliputi segala sendi kehidupan manusia. Dimana ada peluang untuk menegakkan ajaran Tuhan, disitulah kewajiban jihad ada.

Pemahaman Parsial

Para pelaku bom bunuh diri umumnya beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan akan dibalas dengan surga. Mereka cenderung memiliki semangat beragama yang tinggi. Namun, pemahaman keagamaannya sangat dangkal. Islam hanya difahami dari satu sisi saja tanpa melihat varian-varian pemikiran Islam yang lain serta mengabaikan kondisi sosio-kultural masyarakat yang semakin kompleks.

Jihad itu melahirkan mujahidin (orang yang melakukan jihad). Sedangkan terorisme melahirkan teroris (orang yang melakukan teror). Sesungguhnya antara jihad dan terorisme adalah dua hal yang berbeda. Jihad diorientasikan untuk mengakkan ajaran Tuhan yang memberi keselamatan bagi seluruh alam. Sedangkan terorisme diarahkan untuk merusak tananan masyarakat serta membuat suasana menjadi tidak stabil.

Pada zaman Nabi sekalipun, jihad (waktu itu) yang kemudian terwujudkan dalam bentuk perang, tidak pernah dilakukan secara sembarangan. Nabi tidak pernah bertindak arogan. Terdapat aturan-aturan bahwa dalam peperangan tidak boleh memerangi wanita, orang tua, serta merusak tempat peribadatan.

Jihad pada zaman Nabi dan jihad pada masa kini jelas sekali berbeda. Jihad masa kini bukan lagi jihad secara fisik, karena era fisik sudah lewat dan sekarang eranya adalah era kompetisi keilmuan (jihadul fikri). Jika jihad hanya dimakanai sebagai perang angkat senjata saja, maka nilai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin tidak akan pernah terwujud, Islam akan menjadi agama yang tertutup. Sehingga semakin menguatkan anggapan orang-orang barat bahwa Islam adalah agama Pedang.

Menyeru pada Islam

Tujuan utama jihad adalah untuk menjaga dan menegakkan ajaran Tuhan dengan cara-cara Tuhan. Yaitu sesuai dengan nilai-nilai yang diajarakan oleh Rasul dan juga nilai yang tertulis dalam al-Qur’an. Bukan justru bertentangan.

Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin. Konsekuensinya, bagi siapapun yang mengaku Islam terapat tanggungjawab untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang seimbang. Jangan sampai tindakan keagamaan yang ia lakukan justru menciderai tatanan masyarakat.

Jika orang yang mengaku islam ternyata tidak melakukan tindakan yang bernafaskan islam dan memberi efek positif bagi alam, maka sebetulnya ia belum memahami Islam dengan baik. Dan jika pemahaman ini dibiarkan terus menerus, maka akan merusak citra Islam.

Oleh karena itu, mulai sekarang harus dipahami bahwa jihad tidak hanya sebatas perang dengan pedang. Akan tetapi, jihad memiliki makna yang sangat luas. Setiap orang bisa berjihad sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.

Tugas kita sekarang adalah memperkuat pamahaman keagamaan agar tidak mudah terprovokasi oleh paradigma sempit yang kemudian menjadikan agama sebagai legitimasi aksi penyerangan terhadap pemeluk agama lain. Wallahu ‘alam bi al-shawab (Tulisan ini dimuat di koran wawasan, 24 Oktober 2011)

* Penulis adalah Kader Muda NU, Ketua Kajian Ilmu Dakwah IAIN Walisongo Semarang

(Do'a of the Day) 05 Muharram 1433H

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahummas qinaa ghaitsan mughiitsan hanii'am marii'am ghadaqam mujallilan sahhan 'amman thabaqan daa'imaanan.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, menyenangkan, baik akibatnya, lebat, menyuburkan, meresap di bumi, merata, sesuai keperluan lagi selalu ada.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 5

Rabu, 30 November 2011

Antara Tegal Gede dan Pasir Limus

Setiap pagi, Bu Maryati yang tinggal di daerah Tegal Gede, Cikarang ini menunggu angkutan K-61, jurusan Tegal Danas-Pool Sinar Jaya. Dengan membawa botol-botol berisi jamu hasil racikan sendiri, yang ditempatkan di dalam bakul anyaman bambu, beliau menumpang angkot dari perempatan kalimalang Tegal Gede menuju dusun Pasir Limus, yang ada di sekitar wilayah Cikarang.

Setiba di Pasir Limus, setelah membayar ongkos Rp 2.000, beliau langsung menjajakan jamunya dari pintu ke pintu di dusun tersebut untuk membantu hidup keluarganya.


Semoga Gusti Allah selalu memberi kesehatan untuk beliau.