Selasa, 25 Oktober 2011

(Do'a of the Day) 27 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummaghfir lii warhamnii wa alhiqnii birrafiiqil a'laa.



Ya Allah, ampunilah kesalahanku, limpahkan rahmat kepadaku, dan pertemukan aku bersama dengan teman-teman yang bermatabat tinggi (di sisi Allah).



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 14.

Senin, 24 Oktober 2011

Masih Adakah Kue Pancong di Sekitar Kita?

Kue Pancong yang hangat dengan taburan gula pasir secukupnya, dan dibungkus guntingan koran bekas, benar-benar sangat pas dinikmati di pagi hari sekitar jam 8 sampai 10-an. Karena jika sudah beranjak siang, kenikmatannya akan sedikit berkurang, kecuali jika hujan turun rintik-rintik. Dengan harga gopek dapat dua biji, saya coba beli Rp 1.000, dapat 4 biji. "nyam-nyam nyam..." ternyata mantab, tambah lagi Rp 2.000 dapat 8 biji.



Jika anda merasa kangen dengan kue pancong seperti ini, masih bisa ditemukan di sekitar Pasar Tegal Danas, Cikarang, Kab. Bekasi, dengan harga seperti yang saya sebutkan di atas.



(Ngaji of the Day) Hukum Perempuan Mengenakan Celana Ketat

Hukum Perempuan Mengenakan Celana Ketat



Busana menunjukkan budaya. Salah satu cara mengenal orang adalah dari busana yang dikenakannya. Kita bisa tahu dari mana seseorang berasal ketika kita melihat gaya busananya. Ada adat Jawa, adat Batak dan lain sebagainya. Busana juga menunjukkan jati diri seseorang. Karena busana merupakan tanda. Tanda selalu menunjukkan sesuatu yang ditandainya. Lampu Merah merupakan tanda untuk berhenti, hijau tandanya berjalan. Begitu juga dengan busana kerudung seharusnya menunjukkan kesalehan, begitu juga dengan peci.



Akan tetapi bersama berjalannya waktu dan derasnya arus teknologi informasi, seolah-olah penandaan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Ini dikarenakan kejamnya penjajahan industri busana dan mode terhadap busana tradisional. Maka muncullah berbagai macam model busana yang bertentangan dengan kaedah Islam. Misalnya celana ketat, atau juga rok pendek. Lantas bagaimanakah hukumnya bagi muslimah yang tidak bisa menghindari model busana seperti tersebut, entah karena tuntutan profesi (dalam bekerja) atau memang sebagai pilihan tersendiri?



Sebenarnya Islam telah menegaskan bahwa batasan aurat dalam sholat maupun di luar sholat adalah sama. Jika aurat laki-laki adalah pusar hingga dengkul, sedangkan aurat untuk perempuan semua anggota badan selain mata dan telapak tangan. Lalu bagaimanakah jika perempuan memakai celana ketat, bukankah itu telah menutup aurat?



Mengenai hal ini fiqih mempunyai dua pendapat; pertama tidak diperbolehkan bagi wanita memakai celana ketat sehingga menimbulkan syahwat bagi yang melihatnya apalagi sampai kelihatan warna kulitnya. Seperti yang terdapat dalam Mauhibah Dzil Fadlal juz II hal.326-327, dan dalam Minhajul Qawim juz I hal 234



وشرط الساتر فى الصلاة وخارجها ان يشمل المستور لبسا ونحوه مع ستر اللون فيكفى مايمنع ادراك لون البشرة



Hukum kedua adalah makruh seperti ditunjukkan dalam I’anatut Thalibin juz I, hal 134:



ويكفى مايحكى لحجم الاعضاء (اي ويكفي جرم يدرك الناس منه قدرالاعضاء كسراويل ضيقة) لكنه خلاف الأولى (اي للرجل واماالمرأة والخنثى فيكره لهما) (حاشية اعانة الطالبين ج 1 ص 134)





Sumber: NU Online

(Do'a of the Day) 26 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma a'innii 'alaa ghamaraatil mauti wa sakaaraatil mauti.



Ya Allah, tolonglah aku menghadapi kesengsaraan mati dan kesakitan pada saat mati.



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 14.

Jumat, 21 Oktober 2011

(Masjid of the Day) Ada Muqarrabin di Antara EJIP - Serang

Dari perempatan kawasan industri EJIP, jika anda bepergian ke arah Serang/ Cibarusah, Kab. Bekasi, cobalah tengok ke arah kanan setelah Perumahan Villa Mutiara Cikarang. Berdiri tepat di sisi jalan dengan warna kuning menyala, kokoh, dan indah dipandang mata.










Adakah Bunga Liar yang Cantik?

Bunga liar yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Tenyata bunganya cantik juga, ada yang ungu dan juga putih, beberapa foto di bawah ini diambil dengan segala keterbatasan kamera poket.

Ada yang tahu, apa nama tanaman dengan bunga yang cantik ini?



(Khotbah of the Day) Kesempurnaan Iman

Kesempurnaan Iman





الحمد لله, الحمد لله الذى خلق الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياأيهاالحاضرون اتقوالله, اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون



Hadirin jama’ah jum’ah yang berbahagia


Saya berwasiat kepada diri sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa betaqwa kepada Allah, dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Marilah kita beryukur kepada Allah atas segala rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada kita. Terutama ni’mat iman yang mampu mendorong kita semua beristiqomah mengabdi dan menjalankan jama’ah jum’ah yang penuh berkah ini. Mengapa demikian, karena iman harus menjadi landasan segala amal perbuatan dan perilaku kita. Allah tidak menerima segala bentuk amal perbuatan yang tidak didasari dengan keimanan



Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah


Iman dan ibadah ibarat benih dan buahnya. Benih yang bagus harus dapat menumbuhkan pohon dengan kwalitas buah yang terjamin. Dan begitu juga sebaliknya, buah yang berkwalitas akan mampu menjadi benih di masa mendatang. Daur ulang kedua inilah yang nantinya akan menaikkan kwalitas keduanya.


Dengan peningkatan yang berkesinambungan antara iman dan ibadah ini secara bertahap akan mampu menaikkan derajat ketaqwaan kita kepada Allah sehingga, kita menjadi seorang mukmin yang sempurna. Iman semacam inilah yang kita harapkan mampu meredusir keinginan dan syahwat serta maksiat, sehingga ketaatan kita kepaa Allah semakin mantap. Ketika kita merasa yakin kepada Allah swt, maka kepasrahan kita kepada-Nya akan semakin total. Pada saat inilah kita mencapai pada satu tingkat yang disebut para sufi dengan ketakukan (khauf) dan harapan (raja’) seperti yang tergambarkan dalam surat al-Anfal ayat 2


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ



Sesungguhnya orang-orang yang beriman



ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.



Hadirin jama’ah jum’ah yang mulia


Dari keterangan ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa tawakkal merupakan syarat menjadi mukmin yang sempurna. Seorang mukmin yang dalam hatinya tidak tebersit kekhawatiran menghadapi dunia dan segala kekurangannya, sehingga yang tertinggal dalam hatinya adalah timbunan keikhlasan, dan kepasrahan. Modal inilah yang membuat seseorang rajin taat beribadah, sholat, zakat, puasa, bersedekah dan beribadah lainnya. Bentuk ibadah formal seperti ini merupakan cerminan tingkat ketaqwaan seseorang.


Model iman seperti inilah yang mampu menghantarkan kita selalu ingat kepada Allah swt (Dzikrullah). Sehingga semua amal perbuatan hanya kita sandarkan kepada Allah swt semata. Dzikir seperti inilah yang dijanjikan oleh Allah kepada manusia akan derajat yang mulia. Baik di mata manusia maupun di mata-Nya. Bisa saja derajat itu diberikan ketika masih hidup, ataupun kelak ketika janntun naim. Seperti yang termaktub dalam al-Qur’an



أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيم



Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (ni'mat) yang mulia.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah


Rasa-rasanya sudah banyak rahmat yang telah dilimpahka oleh Allah kepada kita. Pernah kita menghitung berapa kali nafas kita hembuskan? Berapa kali kita mendapat kebahagiaan? Berapa kali kita terselamatkan? Andaikan Allah menghendaki yang lain, masihkah kita dapat berkumpul disini? Andaikan Allah menghentikan kerja pernafasan kita beberapa menit, apa yang terjadi? Pernah kita berpeikir untuk berterimakasih kepadanya?


Nah, jika demikian bukankah sudah sewajarnya kita mengabdi kepada-Nya, kita menyembahnya setulus hati, bukankah hanya Allah yang mampu memberikan kebahagiaan yang selama ini kita nikmati? Anak, istri, keluarga, semuanya adalah dari-Nya. mengapa kita masih menuntut surga untuk mengabdi kepada-Nya. itulah kita manusia. Selalu merasa kurang dan lupa. Iman yang kuat akan melestariakn ingatan kita kepada-Nya. ingatan yang tidak terbatas dengan ruang dan waktu tertentu. Inilah zikrullah yang hakiki.


Jama’ah rohimakumullah


Ingatlah bahwa Allah telah memberikan begitu banyak rahmat kepada kita, mengapa kita masih sering merasa enggan mengabdi kepada-Nya? Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita semua. amin


بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم





Sumber: Majalah Nahdlatul Ulama Aula

(Do'a of the Day) 23 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummar zuqnii syahaadatan fii sabiilika, waj'al mautii fii baladi sayyidina rasuulika shallallaahu 'alaihi wasallama.



Ya Allah, berilah aku syahadah (syahid dalam kematian) karena membela agama-Mu, dan jadikan kematianku itu di negeri Rasul-Mu, SAW.



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 8.

Kamis, 20 Oktober 2011

(Masjid of the Day) Ada Taqwa di Tengah Keramaian Terminal dan Mal Blok M

Di terminal ramai? Ah, itu memang biasa dan seharusnya.

Di mana anda mencari sudut yang nyaman di tengah keramaian? Ah, di semua keramaian, tempat seperti itu pasti tersedia.

Untuk itu, silahkan menghampiri salah sudut yang nyaman di tengah keramaian terminal Blok M, Jakarta Selatan ini.









Pulas Terlelap, Lupa Hutang - (6)

Berdagang di penghujung ramadhan memang menghasilkan keuntungan berlipat ganda yang luar biasa. Tenaga yang dikeluarkan serasa tidak berasa, dan baru berasa saat para pembeli sudah berangsur sepi. Sehingga merebahkan badan dengan mimpi bergelimang keuntungan menjadikan penat hilang seketika.

(Ngaji of the Day) Walimatus Safar

Walimatus Safar
Kata walimatus safar terdiri atas kata walimah dan safar. Secara bahasa, walimah berarti berkumpul (al jam’u) dan safar artinya perjalanan. Kemudian, kata walimah dipakai untuk acara pesta yang dilakukan dengan cara mengundang banyak orang dan disiapkan untuk acara makan- makan. Akan tetapi, kata walimah lebih dikenal untuk acara pesta pernikahan, sedangkan walimatu al safar lebih dikenal dengan istilah ”selamatan haji”.
Sebenarnya, dalil syara’ tentang walimatus safar secara leterlek (harfiah) tidak ditemukan baik di dalam Al Quran maupun hadis Nabi SAW. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan walimatu al safar dilarang sebab dalil-dalil yang berkenaan dengan hukum pamitan bagi orang yang hendak bepergian dan pentingnya silaturahim sesama Muslim, berkumpul untuk membaca Al Quran dan berdoa, serta memberi sedekah kepada kerabat dan tetangga, sangat banyak sekali. Kesimpulannya, walimatu al safar adalah suatu metode yang baik, bukan bidah, karena dapat menjalin silaturahim, sedekah makanan, dan menjalin keakraban.
Yang secara harfiah ada tuntunannya anjuran melakukan shalat sunah safar dua rakaat sebelum keberangkatan. Dianjurkan setelah membaca surat Fatihah untuk membaca surat Kafirun di rakaat pertama dan surat al-Ikhlas di rakaat kedua.
Imam al Nawawi mengatakan dalam kitab al Majmu’: ”disunnahkan ’al naqi’ah’, yaitu memberikan ucapan doa selamat dan menyediakan makanan bagi orang yang baru datang dari perjalanan dan bagi orang yang menyambut kedatangannya” (al Majmu’, juz IV h 400). Orang yang bepergian atau keluarganya menyiapkan acara sebagai rasa syukur atas keselamatan orang yang bepergian dan menjalin silaturahim yang tidak mungkin datang kepadanya satu per satu.
Suatu riwayat dari Jabir bin Abdillah bahwa ”Rasulullah SAW ketika datang ke Madinah menyembelih unta atau sapi”. Hadis riwayat Bukhari ini menunjukkan bahwa disyariatkan menyediakan makanan dalam rangka menyambut dan mensyukuri kedatangan orang dari bepergian dengan selamat, terutama sekali bagi orang yang datang menunaikan ibadah haji.
Hukum menghadiri undangan walimatu al safar ada dua pendapat sebagaimana dikatakan oleh Imam al Nawawi. Pendapat pertama, hukumnya wajib seperti menghadiri undangan walimatu al ’urs. Pendapat kedua, hukumnya sunah, adapun walimatu al ’urs hukumnya wajib.
Acara ratiban dilakukan untuk membaca ayat-ayat suci Al Quran, membaca selawat, dan mendoakan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji agar diberi keselamatan dan mendapat haji mabrur. Acara seperti ini, baik dalam rangka pelaksanaan ibadah haji maupun lainnya, hukumnya sunah, jika dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan tidak berdosa. Rasulullah SAW bersabda: Umat Muslim yang berkumpul di suatu majelis membaca ayat-ayat suci Al Quran al Karim dan mengadakan majelis ilmu, maka Allah akan menurunkan rahmat kepada mereka” (HR Muslim).
Adapun gadis yang mukallaf dan telah mampu melaksanakan ibadah haji hukumnya wajib melaksanakannya dengan syarat harus disertai oleh muhrimnya, baik saudara atau orangtuanya. Jika melaksanakan ibadah haji sendirian tanpa disertai oleh muhrimnya, hukum ibadah hajinya sah, tetapi perjalanannya ma’siat. Diriwayatkan dalam sebuah hadis: ”Ketika Siti Aisyah RA suci dari haid setelah melaksanakan ibadah haji, lalu ia ditemani oleh saudaranya yang bernama Abdurrahman bin abi Bakar untuk mengambil miqat (tempat mulai melakukan ibadah) umrah dari Tan’im” (HR Bukhari).
KH. M. Cholil Nafis, Lc., MA

(Do'a of the Day) 22 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairal lii wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairallii.



Ya Allah, panjangkanlah hidupku selama hidupku membawa kebaikan bagiku, dan matikan saja aku apabila ternyata kematian itu lebih baik buatku.



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 7.

Rabu, 19 Oktober 2011

Pengakuan Prestasi

Berprestasi di luar bidang akademik dan kurikulum resmi, benar-benar sangat membanggakan. Pramuka atau praja muda karana, merupakan salah satu ajang bagi anak-anak kita untuk mengapresiasikan prestasinya di luar yang telah ditetapkan. Berkebun, berkemah, membaca, mencari jejak, P3K, dsb. Semua prestasi yang telah didapatkan, akan tertera dengan simbol-simbol yang ditempelkan di lengan baju pramuka sebelah kanan. Semua ini akan menumbuhkan semangat juang, patriotisme, dan nasionalisme yang luar biasa.

(Ngaji of the Day) Buah Kejujuran

Buah Kejujuran
Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Sebagai agama yang mengedepankan aspek moral, Islam mengajarkan sifat kejujuran dalam berperilaku baik secara pribadi maupun berinteraksi di tengah masyarakat. Efek dari kejujuran sangatlah luar biasa, seperti kesuksesan yang telah dicapai para ulama besar terdahulu. Salah satu aspek dibalik kesuksesan itu adalah sifat kejujuran.

Alkisah, dahulu di tanah Jailan, Bagdad, ada seorang santri kecil yang sangat jujur dalam bersikap. Dia bernama Abdul Qadir. Suatu ketika, ia ingin menuntut ilmu di negeri seberang. Karena ketika itu, alat transportasi masih sulit, ibunya menitipkan Abdul Qadir kepada sebuah kafilah (rombongan) yang ingin berdagang agar sampai kepada guru yang dituju.

Sebelum berangkat, Ibunya berpesan kepada Albul Qadir agar selalu jujur dalam perkataan. “Nak, jika kamu ditanya siapapun, jawablah dengan jujur!” kata Ibu Abdul Qadir menasehatinya. “Iya bu, nasehat ibu akan selalu aku pegang” jawab Abdul Qadir. Lalu, sang ibu menjahitkan uang saku untuk Abdul Qadir di bawah ketiak bajunya, untuk menjaga keamanan. Setelah itu, beragkatlah Abdul Qadir bersama kafilah itu.

Sampai di tengah perjalanan, kafilah yang membawa Abdul Qadir diboikot oleh segerombolan perampok. Semua barang dagangan, perhiasan termasuk uang dirampas. Setelah satu-persatu para anggota kafilah diperas harta bendanya, tinggallah Abdul Qadir. Lalu, Mendekatlah salah satu angota perampok kepada abdul Qadir dan mengintrogasinya.

“Mau kemana kamu anak kecil?” Tanya anggota perampok. “Saya mau menuntut ilmu di negeri seberang, pak” jawab Abdul Qadir. “Apa kamu membawa uang?” tanyanya lagi. “Iya, saya membawa uang yang dikasih ibu” jawab Abdul Qadir dengan polosnya. “ah, masa? Anak lusuh dan miskin seperti kamu punya uang? Lalu anggota perampok itu mengadukan perihal anak kecil lusuh yang mengaku memiliki uang itu kepada sang pimpinannya.

Karena tertarik perihal pengakuan anak kecil yang mengaku memiliki uang, datanglah ketua perampok itu kepada Abdul Kadir. “ Siapa namamu nak?” Tanya pimpinan perampok itu. “Abdul Qadir” jawab anak kecil itu. “Apa benar kamu membawa uang?” tanyanya lagi. “Iya, ibu menjahitkan uang saku di bawah ketiak baju saya” jawab Abdul Qadir. Lalu, pimpinan perampok itupun mengecek kebenaran perkataan Abdul Qadir. Ternyata benar, didapatinya sejumlah uang dibawah ketiak baju Abdul Qadir. Pimpinan perampok itupun tertegun keheranan.

“Kenapa kamu mau mengaku bahwa kamu punya uang?” Tanya pimpinan perampok dengan penuh tanda tanya. “Ibu yang menasehati, supaya saya harus selalu jujur jika ditanya” jawab Abdul Qadir. Mendengar ketulusan dan kejujuran jawaban Abdul Qadir, pimpinan perampok itupun menundukkan kepala dan menitikan air mata. Dia malu pada Abdul Qadir, yang begitu teguh memegang kejujuran, sedangkan dirinya merasa telah banyak berbuat kemaksiatan. Seketika itu juga, pimpinan perampok itu pun menyatakan bertaubat dan ingin menjadi murid Abdul Qadir yang masih belia, diikuti seluruh anak buahnya.

Lambat laun, Abdul Qadir pun menjadi orang dewasa yang cerdas, santun, ‘alim ‘alamah dan memiliki karomah. Kemudian beliau dikenal dengan nama Syaikh Abdul Qadir al-Jilan Radliallahu ‘Anhu yang diakui sebagai shultanul auliya’ atau pemimpin para wali. Ulama kelahiran 470 H/ 1077 M itu kini Muridnya tersebar di berbagai pelosok penjuru negeri, termasuk Indonesia. Metodologinya dalam memahami agama, terutama dalam tasawuf, melahirkan Thariqah (Jalan Pendekatan) bernama Qadiriyyah.Thariqah Qadiriyyah hingga kini semakin besar dan meluas. Nama besar Syekh Abdul Qadir pun tak luput dari penyebutan, tiap kali orang bertawasshul di berbagai ritual keagamaan, baik tasyakuran, tahlilan ataupun dalam berdoa.

Itulah sekelumit kisah tentang kejujuran seorang Shulthanul Auliya’. Dalam Islam, masih banyak lagi kisah yang bisa di ambil ibrah-nya dalam hal kejujuran. Salah satunya adalah kisah sukses metode dagang Nabi Muhammad SAW, sampai akhirnya beliau di beri gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya), juga dapat menjadi teladan bagi kita guna menjadi manusia yang saleh secara pribadi dan sosial. Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur’an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa’ (4): 69, Al Maidah (5): 119.

Sedangkan kejujuran dalam hadits, secara gamblang Rasulullah bersabda: “Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud)

* Santri Pon-Pes An-Nawawi Berjan, Ketua Ikatan Pelajar NU Kab. Purworejo

(Do'a of the Day) 21 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahil kabiiri, na 'uudzubil laahil 'adliimi min syarri 'irqi na 'aarin wa min syarri kharri naari.



Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Besar, aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dari sakitnya darah yang mengalir (luka) dan dari buruknya panas api.



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 5.

Selasa, 18 Oktober 2011

Yang Manakah Kencur?

Menjelang akhir ramadhan, saya muter-muter kompleks perumahan mencari tukang sayur yang masih buka. Oleh istri diminta tolong untuk membelikan kencur untuk membuat rawon, susah banget nyari kios sayur yg buka. Akhirnya dapet di salah satu sudut kompleks blok lain.



Sekalian ngaji alam sekitar, siang menjelang sore saat di tukang sayur itu, saya ajarin mas rizal belajar mengenal bumbu dapur. Ada 4 keranjang bumbu, yang manakah berisi kencur?







(Buku of the Day) Membuat Harta Anda Barakah

Agar Harta Menjadi Barakah
015.jpg
Judul Buku : Membuat Harta Anda Barakah
Penulis : Ainurrahim
Penerbit : Pustaka Pesantren
Cetakan : Pertama 2011
Tebal : xiv + 98 Halaman
Peresensi : Hodariyatus Sofia*)


Harta merupakan hal urgen yang dibutuhkan setiap manusia. Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali aktivitas yang dapat menghasilkan uang (harta) namun bukan berarti setiap pekerjaan dapat menghasilkan uang. Sehingga dibutuhkan keuletan diri mengaktualisasikan kegiatan kita, agar senantiasa dapat memberikan pemasukan keuangan. Apalagi sekarang ini pekerjaan begitu sulit, sarjana sekalipun banyak menganggur. Karena pendidikan tidak menjamin pekerjaan seseorang, kreativitaslah yang sebenarnya menentukan pekerjaan seseorang.


Islam menganjurkan umatnya bekerja semaksimal mungkin, tidak suka berpangku tangan kepada orang lain. Bahkan Nabi bersabda “Seseorang tidak akan memakan sesuatu pun kecuali ia akan lebih sempurna memakan makanan dari hasil karya tangannya. Sungguh Nabi utusan Allah, Daud a.s., memakan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari) hal 17-18. Penulis buku ini mempertegas dalam uraianya, bahwa optimalisasi kerja masing-masing individu merupakan asas dasar kemulian yang dijanjikan oleh Rasulullah.


Sebagai umat Islam pastinya kita perlu bekerja keras agar mendapat kesejahteraan berarti. Tanpa “optimalisasi kerja” dalam bahasa penulis buku ini, kita tidak mungkin akan medapatkan hasil maksimal. Jerih payah kita menentukan besarnya hasil yang akan didapat. Sehingga bekerja ekstra keras sangat diperlukan jika menginginkan hasil banyak.


Sekarang ini kebutuhan pokok serba mahal, apalagi mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga. Sudah pasti kebutuhan mereka lebih besar dengan yang hidup sendiri.


Optimalisasi kerja yang dimaksud tetap dalam koridor Islam. Artinya pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan halal. Karena sekarang ini banyak aktivitas pekerjaan yang menghasilkan uang banyak, tetapi itu dilarang oleh Islam, misalnya menjual obat-obat memabukkan. Jadi umat Islam harus bisa membentengi diri dari pekerjaan yang tidak dibenarkan oleh Islam.


Bias Harta


Harta tidak saja menjadi rahmat bagi manusia, tetapi juga bisa mejadi bencana manakala kita tidak bisa mengaturnya dengan baik. Berapa banyak orang kaya tetapi mereka disibukkan oleh hartanya, samapai-samapai kadang tidak bisa tidur karena memikirkan harta. Berapa banyak orang kaya, tetapi mereka kikir kepada sesamanya. Orang-orang disekelilingnya membutuhkan harta, tetapi mereka cuek, setidaknya jika tidak mau memberikan secara cuma-cuma mereka kasik pijaman. Juga berapa banyak orang kaya tetapi mereka tidak memenuhi kewajiban zakat dari harta yang dimilikinya. Berapa banyak pula orang kaya, tetapi hasilnya diperoleh dari pekerjaan yang dilarang oleh Allah Swt.


Sungguh bagi manusia gila harta, kekayaan yang dimiliki bukan menjadi rahmat, namun malah menjadi bencana. Sebagai umat beragama, kita perlu menata harta yang dimiliki dengan baik. Baik itu cara perolehaanya, penggunaanya, serta hak orang lain yang terdapat dalam harta tersebut. Sehingga harta yang kita miliki benar-benar bermakna bagi kehidupan diri sendiri dan orang lain.


Harta Barakah


Harta barakah adalah harta yang dapat memberikan manfaat dan kedamainnya bagi pemiliknya. Tidak membuatnya susah, cemas dan takut. Harta tersebut senantiasa memberikan manfaat baik bagi kehidupan pemiliknya. Untuk mendapatkan harta barakah dibutuhkan keluletan dalam perolehan, pengggunaan serta penyalurannya.


Salah satu upaya agar harta kita barakah, adalah harus diperoleh dari jalan yang halal. Harta yang didapat dari jalan tidak benar biasanya malah membuat bencana bagi kehidupan pemiliknya. Sehingga kehati-hatian kita dalam memperoleh harta harus menjadi perhatian penuh.


Setelah mendapatkan harta, penggunaannya juga harus dijalan yang dibenarkan oleh Islam. Tidak menggunakan hartanya untuk kemaksiatan. Tidak boros. Suka bersedekah. Dan memenuhi ketentuan zakat jika sudah memenuhi nisab kewajiban mengelurakan zakat.


Lebih jelasnya buku ini memberikan uraian cermat mengenai pengelolaan harta agar bisa menjadi barakah. Sehingga buku yang ditulis oleh Ainurrahim ini patut menjadi bacaan umat Islam. Empat puluh hadis dalam buku ini menabur mutiara hikmah yang dapat membangkitkan semangat umat Islam bekerja keras dan memperkaya diri dijalan yang benar. Agar harta menjadi barakah.


* Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Bangkalan Madura


(Ngaji of the Day) Adzan dan Iqamah Saat Bayi Lahir

Adzan dan Iqamah Saat Bayi Lahir



Anak adalah titipan Ilahi. Anak merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik. Dalam upaya itulah seringkali orang tua berusaha sedemikian rupa agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang shaleh/sholehah berguna bagi masyarakat dan agama. Dalam hal kesehatan jasmani, semenjak dalam kandungan oang tua telah berusaha menjaga kesehatannya dengan berbagai macam gizi yang dimakan oleh sang ibu. Begitu juga kesehatan mentalnya. Semenjak dalam kandungan orang tua selalu rajin berdoa dan melakukan bentuk ibadah tertentu dengan harapan amal ibadah tersebut mampu menjadi wasilah kesuksesan calon si bayi.



Oleh karena itu ketika dalam keadaan mengandung pasangan orang tua seringkali melakukan riyadhoh untuk sang bayi. Misalkan puasa senin-kamis atau membaca surat-surat tertentu seperti Surat Yusuf, Surat maryam, Waqiah, al-Muluk dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan dengan tujuan tabarrukan dan berdoa semoga si bayi menjadi seperti Nabi Yusuf bila lahir lelaki. Atau seperti Siti Maryam bila perempuan dengan rizki yang melimpah dan dihormati orang.


Begitu pula ketika sang bayi telah lahir di dunia, do’a sang Ibu/Bapak tidak pernah reda. Ketika bayi pertama kali terdengar tangisnya, saat itulah sang ayah akan membacakannya kalimat adzan di telinga sebelah kanan, dan kalimat iqamat pada telinga sebelah kiri. Tentunya semua dilakukan dengan tujuan tertentu.


Lantas bagaimanakah sebenarnya Islam memandang hal-hal seperti ini? Bagaimanakah hukum mengumandangkan adzan dan iqamah pada telinga bayi yang baru lahir? berdasarkan sebuah hadits dalam sunan Abu Dawud (444) ulama bersepakatn menghukumi hal tersebut dengan sunnah :



عن عبيد الله بن أبى رافع عن أبيه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن فى أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة (سنن أبي داود رقم 444)



Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ r.a Dari ayahnya, ia berkata: aku melihat Rasulullah saw mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali ketika Siti Fatimah melahirkannya (yakni) dengan adzan shalat. (Sunan Abu Dawud: 444)



Begitu pula keterangan yang terdapat dalam Majmu’ fatawi wa Rasail halaman 112. Di sana diterangkan bahwa: “yang pertama mengumandangkan adzan di telinga kanan anak yang baru lahir, lalu membacakan iqamah di telinga kiri. Ulama telah menetapkan bahwa perbuatan ini tergolong sunnah. Mereka telah mengamalkan hal tersebut tanpa seorangpun mengingkarinya. Perbiatan ini ada relevansi, untuk mengusir syaithan dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syaitan akan lari terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan sebagaimana ada keterangan di dalam hadits.



Sumber: Fiqih Galak Gampil 2010

(Do'a of the Day) 20 Dzulqa'dah 1432H

Bismillah irRahman irRaheem



In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Yaa fulan, syafal laahu saqmaka wa ghafara dzanbaka wa aafaaka fii diinika wa jismika ilaa muddati ajalika.



Wahai fulan, semoga Allah menyembuhkan sakitmu, mengampuni dosamu, dan menyelamatkan kamu dalam beragama serta selamat dirimu sampai hari wafatmu.



Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 3.

Sabtu, 15 Oktober 2011

(Masjid of the Day) Yang Pertama di Cikarang Baru Raya

Perumahan Cikarang Baru, yang dulu terkenal dengan sebutan Kota Hijau Cikarang Baru, kemudian berubah menjadi Kota Jababeka, dan entah nanti berubah menjadi apalagi, merupakan sebuah kompleks perumahan yang di dalamnya sudah terhuni ribuan KK. Dari ribuan KK yang ada dan puluhan ribu jiwa penghuninya, kebutuhan akan tempat "berteduh" menjadi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri.



Dari sekian banyak tempat "berrteduh" yang kini ada di hampir seluruh pelosok susdut perumahan, tempat ini diyakini menjadi yang pertama berdiri. Minimal informasi ini yang saya ketahui, bisa dirubah jika ada data lain yang mendukungnya. Ya... Masjid Nurul Islam, yang lebih terkenal dengan sebutan Masjid Pasimal, karena terletak persis di samping pasar pasimal lama ini merupakan tempat yang sangat teduh berkat perawatan pengurusnya yang luar biasa.













Jumat, 14 Oktober 2011

Ketika Sedang Mekar

Suatu saat jika sudah tumbuh membesar, engkau teramat sangat sungguh nikmat untuk dirujak. Siapakah sesungguhnya engkau?

(Khotbah of the Day) Mendidik Anak Secara Islami

Mendidik Anak Secara Islami

Oleh: KH. Suwendi




اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةًوَّسُرُوْرًا. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعََبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَفَْضلِ اْلاَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَـٰفاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً


Hadirin jama’ah jum’ah yang berbahagia


Pada ayat di atas Allah menegaskan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara fisik disebabkan kurang gizi dan kurang perawatan kesehatan, lemah mental berupa kurang pendidikan agama, lemah keterampilan sehingga kurang dapat memberdayakan dirinya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonominya, maupun kelemahan lainnya.


Sebagaimana dimaklumi pendidikan anak agar potensi baiknya tumbuh dan berkembang merupakan sesuatu yang penting. Syekh Nawawi Banten dalam Tanqih Al-Qaul menjelaskan tentang keutamaan pendidikan anak dalam bab ke-31. Dalam kitab ini disebutkan beberapa keutamaan mendidik anak. Pertama, pendidikan akhlak bagi anak sehingga anak tersebut memiliki akhlak yang mulia merupakan pemberian orang tua yang paling utama. Mendidik anak dengan memperhatikan, menegur, mengancam, dan memukulnya bila diperlukan agar anak berakhlak baik merupakan sesuatu yang utama dan dipandang sebagai pemberian orang tua yang paling utama dibandingkan dengan pemberian yang lainnya. Karena akhlak mulia dapat mengantarkan seorang hamba menjadi raja.


Barangkali kita bertanya-tanya, sedemikian pentingnyakah akhlak dalam kehidupan seseorang? Seorang penyair menyatakan bahwa keberadaan suatu bangsa adalah bila akhlaknya tegak. Bila akhlaknya rusak, maka bangsa tersebut akan binasa. Jepang maju dalam bidang teknologi dan ekonomi adalah karena akhlak mereka yang mengagumkan. Mereka sabar dan disiplin dalam menggali dan mengembangkan ilmu. Dimana-mana orang Jepang berusaha menambah ilmu dan informasi dengan membaca.


Sekarang mari kita pikirkan dapatkah suatu bangsa meraih kejayaannya jika orang-orang di dalamnya memiliki akhlak yang rusak? Dapatkan suatu bangsa akan maju bila anak-anak yang ada di dalamnya tidak menghormati orang tua dan gurunya? Sebaliknya bagaimana bila orang tua dan guru pun tidak menyayangi dan memperhatikan anak kandung dan anak didiknya? Dapatkah suatu bangsa akan maju, bila anggota masyarakatnya tidak memiliki akhlak berupa syukur kepada Allah dengan ibadah dan ketaatan? Apa yang akan terjadi bila orang-orang mempunyai sifat malas dan tidak mau ber-mujahadah (berjuang keras) untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar dan negaranya?



Betapa baiknya orang tua yang dapat memfasilitasi anaknya dengan hand phone, uang yang cukup, kendaraan, rumah dan sebagainya. Namun, seandainya orang tua tidak mendidik akhlaknya, maka pemberian tersebut menjadi tidak ada nilainya. Seorang anak yang rusak akhlaknya itu menghabiskan biaya yang sangat mahal. Seorang anak yang berakhlak buruk dapat mengambil harta orang tuanya tanpa ijin, menjual TV, radio, dan apa saja yang ada di rumah dan bahkan dapat memaksa orang tua untuk memenuhi keinginannya. Betapa hancur hati orang tua yang diancam dengan dikalungi clurit oleh anak kandungnya sendiri.


Anak yang bermasalah akan menjadi beban bagi orang tuanya. Seorang anak yang berakhlak buruk dapat membuat orang tuanya yang kaya jatuh menjadi miskin, sakit-sakitan dan menderita secara fisik dan mental. Anak yang bermasalah bahkan dapat mengganggu kenyamanan lingkungan sekitarnya, membuat keonaran dan menjadi biang masalah yang ada. Na’udzu billahi min dzalik. Beruntunglah orang tua yang diberi rezki berupa anak, lalu dididik akhlak dan ilmu pengetahuan, sehingga anak tersebut akan memberikan syafa’at kepada orang tuanya. Sebaliknya, sungguh rugi orang tua yang menelantarkan anaknya bodoh dan berakhlak buruk, karena segala dosa yang dilakukan anak tersebut akan ditimpakan juga kepada orang tuanya yang masa bodoh pada pendidikan anaknya. Sekolah-sekolah berasrama kini berlomba menawarkan character building (pembangunan karakter atau akhlak mulia dan unggul) kepada masyarakat, di samping mutu pendidikan, mengingat betapa pentingnya masalah akhlak.


Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah


Kedua, mendidik anak pahalanya lebih besar daripada pahala sedekah satu sha’ (sekitar satu liter) setiap hari. Syekh Nawawi mengutip perkataan Imam Al-Manawi yang menyebutkan, bila anak dididik, maka akhlaknya yang mulia dan ibadahnya yang benar akan menjadi sedekah jariyah bagi orang tuanya, sedangkan sedekah satu sha’ pahalanya terputus bila tidak lagi dilakukan. Sedekah jariyah adalah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya, bahkan sekalipun pelakunya sudah meninggal dunia. Orang tua yang bekerja keras mendidik anaknya, sehingga anaknya menjadi anak yang shalih, maka anak tersebut kedudukannya seperti sedekah jariyah bagi orang tuanya. Doa anak shalih terus mengalir kebaikannya untuk orang tuanya, sekalipun orang tuanya tersebut sudah terbujur di dalam kubur.


Mendidik anak bukan hanya menambahkan pengetahuan kepada anak, namun juga mengarahkannya agar memiliki akhlak yang baik. Adab, menurut Al-‘Alqimi, sebagaimana dikutip oleh penyusun kitab Tanqihul Qaul ialah berkata dan berbuat yang terpuji. Pendapat lain menyatakan akhlak ialah menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Menghormati orang yang lebih banyak ilmunya dan mengasihi orang yang kurang ilmunya.


Ketiga, menyayangi anak dapat mengantarkan seseorang untuk masuk ke dalam Dar Al-Farh (tempat kebahagiaan) yang berada di dalam surga. Tidak semua penghuni surga dapat masuk ke dalam Dar Al-Farh. Tempat tersebut khusus untuk orang tua yang membahagiakan anaknya, baik anak lelaki maupun perempuan.


Berbagilah kebahagiaan dengan anak-anak. Bermain, tersenyum dan tertawalah bersama anak-anak. Saat pergi jauh, baik karena pekerjaan maupun silaturahim, maka bawalah oleh-oleh yang dapat membahagiakan hati anak-anak kita. Bawalah buah-buahan, makanan, pakaian, atau mainan yang disukai yang dapat membuatnya bersuka cita. Syukuri karunia anak. Syekh Nawawi menulis bahwa memandang anak-anak dengan syukur seperti memandang wajah Nabi.


Apakah karena sayang, maka kita tidak boleh memarahi dan memukul anak? Ada kasus seorang ibu kebingungan dan marah besar, karena anaknya yang masih kelas 3 SD belum pulang ke rumah padahal sudah pukul 10 malam. Anaknya tidak memberi tahu kemana akan pergi. Begitu pulang ibu tersebut menangis dan memukuli anaknya dengan sapu lidi. Setelah ditanya, anaknya menjawab dari tempat internet bersama teman-temannya. Hukuman tidak berhenti pada pukulan saja. Anaknya juga dikurung, dimasukkan ke dalam kamar dan dikunci dari luar. Apakah ibu tersebut telah menggunakan cara yang benar dan tepat dalam mendidik anaknya?



Dalam mendidik anak perlu keseimbangan antara sikap lemah lembut dan tegas agar anak dapat diarahkan menjadi anak yang berakhlak dan berbakti. Memukul anak memang termasuk bagian dari mendidik anak. Syekh Nawawi juga menuliskan bahwa usia 6 tahun anak dididik tata krama, usia 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya, dan usia 13 tahun dipukul bila tidak mengerjakan shalat fardu. Akan tetapi, kalaupun memukul terpaksa dilakukan kepada anak hendaknya dengan cara yang benar. Misalkan jangan memukul anak di depan umum, karena akan menjatuhkan harga dirinya. Jangan memukul anak pada wajah, karena merupakan anggota tubuh yang paling mulia bagi manusia. Wajahlah yang paling mudah dikenali dari seseorang. Cedera pada wajah merupakan aib besar. Juga jangan memukul yang menyakiti atau melukai. Pukullah dalam rangka mendidik dan dilakukan tanpa disertai kemarahan, namun betul-betul karena sayang. Bila memungkinkan, lebih baik hindarilah menghukum dengan pukulan.


DR. Nashir Umar bercerita di dalam bukunya Silsilatu Al-Buyut Al-Muthmainnah (diterjemahkan oleh penerbit: Mendung Di Langit Rumah): ”Beberapa hari yang lalu, saya berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang salih. Saya bertanya kepadanya tentang bagaimana cara orang tuanya mendidiknya. Pemuda itu begitu bangga terhadap ayahnya. Ayahnya belum pernah memukulinya, kecuali pukulan yang sangat tidak layak disebut pukulan.” Gunakan kasih sayang dalam mendidik anak. Perhatikan ucapan Nabi Nuh kepada anaknya yang durhaka:


يَٰبُنَىَّ ٱرْكَبَ مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ ٱلْكَـٰفِرِينَ


Artinya: ”Hai Anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud: 42).


Perhatikan sekali lagi! Nuh berkata kepada anaknya yang kafir: ”Wahai Anakku.” Ia menggunakan kata-kata yang lembut penuh kasih sayang. Nuh tidak menggunakan kata-kata kasar seperti: ”Hai Anak nakal! Anak durhaka! atau anak kafir.”


Hal yang tidak kalah penting dalam mendidik anak ialah keteladanan. Berhasilkah orang tua yang melarang anaknya merokok, padahal dirinya merokok? Berhasilkah orang tua menyuruh anaknya shalat berjama’ah, padahal dirinya selalu shalat di rumah? Berhasilkah orang tua yang menyuruh anaknya rajin belajar, padahal dirinya tidak pernah membaca buku di hadapan anak-anaknya? Berhasilkah orang tua yang menginginkan anak-anaknya menghormatinya sementara ia sendiri tidak menghormati ayah dan ibunya? Ibda binafsika (mulai dari dirimu sendiri). Pepatah Arab mengatakan:



لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ



Artinya: “Contoh perbuatan lebih efektif (lebih berpengaruh) daripada perkataan”.


Kalau ingin anak belajar shalat shubuh berjama’ah, maka bangun dan ajaklah ia ke masjid atau mushala. Buktikan bahwa kita sebagai orang tua bukan hanya mampu menyuruh, namun juga memberikan teladan. Kalau ingin anak rajin membaca Al-Qur’an, maka berikanlah contoh kepadanya bahwa kita rajin membaca Al-Qur’an dan ajaklah ia agar juga rajin membacanya. Untuk mengajarkan pentingnya silaturahim, maka ajaklah anak-anak bersilaturahim kepada orang tua, saudara, guru, murid, teman, maupun lainnya.


Syekh Nawawi Banten dalam menjelaskan bab mendidik anak ini masih kurang lengkap. Beliau belum mengungkapkan kiat-kiat mendidik anak secara rinci. Akan tetapi, apa yang dipaparkannya tentu saja sangat berharga, karena memberikan prinsip dan motivasi yang bersifat umum agar kita mendidik anak dengan benar. Perkembangan jaman sebenarnya menuntut para kyai maupun ustadz untuk memberikan karya baru di bidang pendidikan anak, atau memberikan syarah baru yang lebih memadai terhadap bab ini berdasarkan permasalahan yang berkembang pada saat sekarang.


Kitab yang berjudul Kaifa Nurabbi Abna`aka Hadza Al-Zaman (Bagaimana Kita Mendidik Anak-anak Pada Masa Sekarang) yang diterjemahkan bebas oleh Penerbit Pustaka Rahmat Bandung menjadi Ibu, Bimbing Aku Menjadi Anak Sholeh termasuk buku yang menarik. Karena buku tersebut merupakan pengalaman penulisnya sendiri dalam mendidik anak selama 20 tahun dan di dalamnya juga dilengkapi dengan pengalaman pendidik dan orang lain.



Di buku tersebut misalkan dijelaskan hubungan antara perilaku orang tua dan jiwa anak sebagai berikut:

a.     Orang tua yang over protektif, selalu ikut campur menyebabkan pribadi anak menjadi lemah, karena semuanya dikendalikan oleh orang tua. Anak tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.

b.    Orang tua yang memanjakan dan selalu menuruti keinginan anak, maka dapat membuat anak menjadi lepas kontrol. Anak biasa dimanja sehingga tanpa batas dan semau sendiri.

c.     Kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan orang tua membuat anak menjadi pribadi yang penakut dan ragu. Di antara bentuk kekerasan fisik ialah pukulan, tendangan, dan siksaan fisik lainnya. Adapun kekerasan psikis (kejiwaan) seperti orang tua yang berteriak-teriak marah kepada anaknya. Disebutkan, terdapat bukti-bukti kuat ada hubungan kepribadian antara anak yang suka membuat onar dengan ibunya yang sering berteriak ketika marah.

d.    Orang tua yang mempunyai banyak anak dan bersifat pilih kasih kepada anak-anaknya, maka menumbuhkan rasa cemburu, benci dan dendam bagi sebagian anak.


Hadirin yang berbahagia

Mengingat betapa pentingnya pendidikan anak, maka kita hendaknya serius dalam mendidik anak-anak. Janganlah menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada lembaga pendidikan semata. Peran orang tua tetap dibutuhkan untuk melahirkan anak-anak shalih yang otaknya cerdas, hatinya lurus, dan mempunyai keterampilan yang memadai. Para kyai dan ustadz di pesantren juga diharapkan dapat memikirkan untuk melahirkan karya baru berupa kitab kuning tentang pendidikan anak (tarbiyat al-aulad), yang dapat dijadikan rujukan oleh para santri di berbagai pesantren. Departemen Agama diharapkan menambah satu lomba keagamaan, yaitu lomba menulis kitab kuning dengan tema yang dibutuhkan. Karya yang memenangkan lomba tersebut dievaluasi, diperbaiki seperlunya, dicetak, dan disebarluaskan ke seluruh pesantren yang ada di nusantara.


Demikian uraian khutbah ini, semoga bermanfaat. Amin..


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ





Sumber: NU Online