Rabu, 02 November 2022

(Hikmah of the Day) Imam al-Ghazali soal Orang yang Gemar Menuduh Kafir

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi asy-Syafi’i atau yang biasa disapa Imam al-Ghazali tentu bukan nama yang asing di kalangan umat Islam. Ulama kelahiran Thus tahun 450 H, wafat 14 Jumadil Akhir 505 H, ini merupakan seorang filsuf dan teolog Muslim yang andal.


Gelar "hajjatul islam" beliau dapatkan sebab kegigihannya dalam melawan keyakinan-keyakinan syubhat dalam masalah aqidah, dan sikap telatennya dalam membantah kerancuan cara berpikir filsuf. Semua itu tidak diraih dengan gampang. Bersama saudaranya, al-Ghazali yang yatim sejak kecil memang memiliki semangat dan ketekunan yang luar biasa dalam mencari ilmu.


Di antara kitab Imam al-Ghazali yang sering dijadikan referensi oleh umat Islam, utamanya warga NU adalah Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah. Dalam kitab tersebut al-Ghazali menjelaskan secara panjang lebar terkait kesalahan-kesalahan dalam tuduhan kafir terhadap suatu golongan. Kitab ini dikarang setelah karya monumentalnya, Ihya Ulumiddin, dan sebelum menulis kitab ragam cara berpikir tentang aqidah, yaitu al-Munqid minadl Dlalal.


Lahirnya kitab Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah bermula ketika teman al-Ghazali melapor bahwa lawan al-Ghazali dalam diskusi ilmu kalam telah mengeluarkan vonis kafir dan sesat terhadap sang hujjatul islam.


Imam al-Ghazali merespons dengan rasa prihatin, serta merasa bertanggung jawab untuk meluruskan kesalahan-kesalahan dalam gampangnya vonis kafir kepada orang lain yang tidak sepaham dengannya. Oleh sebab itulah, Imam al-Ghazali menulis kitab kitab Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah.

 

Fenomena Tuduhan Kafir


Imam Al-Ghazali (1058 M– 1111 M) dalam pengantar kitab Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah mengungkap keresahannya perihal tuduhan kafir pada umat Islam. Cendikiawan Muslim saat itu salah dalam mengategorikan mana masalah pokok keyakinan (aqidah), dan mana cabang dari keyakinan.


Menurutnya, betapa banyak perdebatan antara tokoh Muslim namun minim dalam memberikan kontribusi untuk meyakinkan umat Islam pada kebenaran. Sedangkan umat Islam dilanda berbagai fitnah tentang aqidah. Dan banyaknya para pendakwah yang menganggap dirinya ada pada kebenaran, namun nyatanya ada dalam kesalahan, bahkan orang-orang yang mengajak terhadap persatuan dalam bingkai keislaman acap kali diacuhkan dan dijauhkan. Umat Islam menjadi bingung tanpa tahu kebenaran. Semua nasihat para ulama diabaikan, bahkan tidak dianggap kebenarannya. Padahal, pemicu terjadinya masalah tersebut disebabkan masalah kecil yang dibesar-besarkan.


Yang cukup mengherankan, menurut al-Ghazali, mereka yang mengeluarkan fatwa “paling benar” dan “paling Islam”, melarang umat Islam untuk mengikuti fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh ulama selain kelompok dari golongannya yang mangaku paling benar. Bahkan jika ada yang mengajak pada kebenaran tapi bukan dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai “paling Islam” harus ditinggalkan, tidak boleh diikuti.

 

Kritik untuk Kelompok yang Sering Mengeluarkan Tuduhan Kafir


Imam Al-Ghazali mengajak pada para pendakwah untuk bisa menebarkan sikap tasamuh dalam berdakwah, serta mengedepankan persatuan. Melalui kitab kitab Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zindiqah beliau menyampaikan, menjadi tokoh Islam itu berarti menjadi penunjuk umat dalam meraih hidayah, baik di suatu desa ataupun kota. Ia mesti menyampaikan dengan kata yang lemah-lembut penuh hikmah, merapatkan barisan, serta berpegang teguh pada agama Allah yang kokoh.


Dalam kitab tersebut ia juga memberikan standar agar tidak mudah menjustifikasi orang lain keluar dari Islam. Karena bagaimanapun, orang-orang yang masih iman terhadap kenabian Rasulullah
, dan mengakui setiap kepastian dalam agama yang sudah menjadi aturan Islam secara pasti, tetap dihukumi sebagai orang Islam yang wajib dijaga darahnya, jiwanya, dan hartanya. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadits:


مَنْ صَلَّى صَلاتَنَا، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ


Artinya, “Barang siapa shalat sebagaimana shalat kita, menghadap arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang Muslim, ia mempunyai perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kamu mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya” (HR Anas bin Malik).


Yang terpenting dalam masalah aqidah adalah tetap menyampaikan pokok dan cabang dalam aqidah sebagaimana pokok dan cabang perihal ibadah, agar umat Islam tahu perbedaannya secara pasti antara orang yang tersesat dan orang yang diangap bid’ah; serta bisa membedakan antara orang yang kekal dalam neraka dan yang sekadar melintasinya. Karena, tidak sepantasnya umat Islam menganggap kafir suatu kelompok hanya karena pemahaman dalam aqidah tidak sama dengannya.


Dari sini bisa kita simpulkan bahwa problem tuduhan kafir pada umat Islam yang berbeda paham bukanlah sesuatu yang baru terjadi. Bahkan Imam al-Ghazali menjadi sasaran tuduhan itu sebagai konsekuensi dari kegigihan beliau dalam menjawab dan membantah edukasi syubhat kepada orang-orang yang menganggap dirinya sebagai kelompok “paling Islam”.


Imam al-Ghazali juga menyampaikan bahwa munculnya tuduhan kafir terhadap suatu golongan disebabkan mereka tidak paham koridor dan standar takfir (menuduh kafir) secara khusus. Beliau juga menyampaikan bahwa perbedaan amaliah dalam masalah ibadah tidak sampai berujung pada kekafiran.


Menariknya, dalam kitab yang yang berjumlah 127 halaman itu Imam al-Ghazali membahas masalah penting bagi umat Islam dengan sangat rinci, mulai dari pokok-pokok aqidah, sampai cabang-cabangnya, meski secara eksplisit pembahasan itu sudah disinggung dalam kitab Ihya’ Ulumiddin pada pembahasan tauhid, dan dalam kitab al-Munqid minadl Dlalal.
[]

 

Sunnatullah, santri Pondok Pesantren Al Hikmah Bangkalan

(Ngaji od the Day) ‘Kujual Barang Ini padamu jika Kau Jual Barang Itu padaku’

Di dalam hadits telah tsubut bahwa Rasulullah SAW telah melarang dua akad jual beli di dalam satu akad jual beli (بيعتين في بيعة). Akad ini sering disebut juga dengan istilah akad di dalam akad. Para ulama mengklasifikasinya sebagai bagian dari multiakad atau hybrid contract. Kali ini kita akan lebih mendalaminya mengenai keberadaan akad tersebut.

 

Berbicara soal jual beli, maka kita tidak bisa lepas dari akad pertukaran, mengingat jual beli sendiri merupakan pertukaran barang dengan barang, atau barang dengan harga. Namun inti kajian kita kali ini berfokus pada akad pertukaran dengan syarat pertukaran. Misalnya: "Aku jual handphone ini padamu dengan syarat kamu mau menjual sepedamu padaku." Apakah melakukan transaksi seperti ini diperbolehkan dalam syariat?

 

Ada tiga pandangan para ulama dalam hal ini. Pertama, pendapat kalangan Hanafiyah Syafiiyah dan Hanabilah yang menyatakan tidak boleh mensyaratkan akad pertukaran dalam akad pertukaran yang lain.

 

ومما تجدر الإشارة إليه أن عرض الخلاف السابق هو في مسألة اشتراط عقد في عقد والخلاف فيها يختلف عن مسألة أخرى قد تبدو داخلة فيها مسألة البيع مع شرط نفع في المبيع سواء كان للبائع أو المشتري مثل ما لو اشترى حطبا واشترط المشتري منفعة البائع في حمله أو تكسيره فهي في الحقيقة عقد بيع اشترط فيه إجارة وهذا الشرط لايجوز عند الحنفية وكذا في الأصح عزد الشافعية ولهم تفصيل للنهي عن بيع وشرط والمذهب عند الحنابلة الجواز إذا كان شرطا واحدا والتحريم إذا كانا شرطين للنهي عن شرطين في بيع

 

Artinya: "Sebagian dari keterangan yang mengisyaratkan pendapat ketidakbolehan mensyaratkan akad pertukaran dalam suatu akad pertukaran adalah telah nyata ditunjukkan oleh perbedaan berkaitan dengan masalah disyaratkannya akad satu di dalam akad yang lain. Perbedaan ini semakin jelas dalam kasus lain yang kadang muncul sebagai konsekuensi atasnya. Misalnya masalah jual beli dengan syarat manfaat terhadap barang yang dijual, baik ini berlaku atas penjual maupun pembeli. Contoh gampangnya seseorang membeli kayu, dengan ditetapkan syarat bagi pembeli bahwa penjual harus menerima order dari pembeli untuk jasa pengangkutannya atau pemecahannya. Akad seperti ini hakikatnya adalah akad jual beli dengan syarat ijarah (sewa jasa). Kalangan Hanafiyah secara tegas menyatakan ketidakbolehannya. Demikian juga dengan kalangan ulama Madzhab Syafi'i dalam qaul ashah-nya (pendapat yang paling shahih), meskipun pada dasarnya kalangan ulama terakhir masih ada perincian dengan mempertimbangkan kedudukan larangan jual beli disertai syarat.

 

Adapun pendapat kalangan Hanabilah menyatakan pendapat kebolehannya asalkan syarat yang digariskan hanya satu. Jika ada dua syarat yang turut disertakan, maka akad pertukaran dengan disertai dua syarat pertukaran hukumnya adalah haram mengingat larangan jual beli dengan dua syarat untuk satu akad jual beli." (Al-'Imrâny, Al-'Uqûdu al-Mâliyah al-Murakkabah, Riyadl: Dâr Kunûz Isybiliya Li al-Nasyr wa al-Tawzî', 2010: 97)

 

Kedua, pendapat yang masyhur dari kalangan Mâlikiyah. Ulama Madzhab Maliki menyatakan ketidak bolehan disyaratkannya akad ju'âlah (sayembara), sharf (tukar menukar barang ribawi), musâqah (bagi hasil tanaman), syirkah (kemitraan) dan qiradl (permodalan) di dalam akad jual beli. Demikian juga, para ulama ini juga menyatakan ketidakbolehan disyaratkannya akad-akad yang sudah disebutkan di atas antara satu sama lain. Akan tetapi, kalangan ini membolehkan penggabungan antara akad jual beli dengan ijârah (sewa jasa). Kita ambil salah satu pernyataan dari kalangan kedua ini, misalnya al-Dardîri, ia menegaskan:

 

ولايجوز صرف مع بيع أي اجتماعهما في عقد واحد كأن يشتري ثوبا بدينار على أن يدفع فيه دينارين ويأخذ صرف دينار دراهم … وكذا لايجوز اجتماع البيع أو الصرف مع جعل أو مساقة أو شركة أو نكاح أو قراض ولااجتماع اثنين منها في عقد

 

Artinya: "Tidak boleh mengumpulkan akad sharf dengan jual beli, yakni mengumpulkannya dalam satu akad. Contoh: membeli baju seharga satu dinar dengan syarat membayar dua dinar lalu mendapatkan ganti berupa dirham….. Demikian pula tidak boleh mengumpulkan akad jual beli, atau sharf dengan ju'alah, atau musâqah atau syirkah atau nikah dan atau qiradl. Tidak boleh juga mengumpulkan dua di antara akad tersebut dengan satu akad lainnya dalam satu akad." (Al-Dardîri, al-Syarhu al-Shaghìr li al-Dardiri, Riyadl: Dâr Kunûz Isybiliya Li al-Nasyr wa al-Tawzî', tt.: 2/17).

 

Adapun pendapat kalangan Mâlikiyah yang menyatakan bolehnya menggabung akad ijarah dengan akad jual beli, misalnya adalah al-Qâdli 'Abd al-Wahâb. Ia menyatakan:

 

ويجوز عندنا مقارنة البيع والإجارة في عقد واحد مثل أن يشتري زرعا ويشترط على البائع حصاده

 

Artinya: "Menurut kami, boleh membarengkan akad jual beli dengan ijarah dalam satu akad. Misalnya: Seseorang hendak membeli suatu hasil tanaman, namun mensyaratkan kepada penjual agar memetiknya terlebih dahulu." (Al-Qâdli Abd al-Wahâb, 'Uyûn al-Majalis li al-Qadli Abd al-Wahâb, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 3/1494).

 

Ketiga, masih pendapat Imam Malik sendiri dan kalangan Mâlikiyah serta beberapa ulama dari kalangan Hanâbilah. Mereka menyatakan bahwa boleh mensyaratkan aqad pertukaran di dalam aqad pertukaran yang lain. Alasan yang mereka pergunakan adalah sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Qudâmah:

 

فهذا كله لايصح قال ابن مسعود: الصفقتان في صفقة ربا. وهذا قول أبي حنيفة والشافعي وجمهور العلماء وجوزه مالك وقال: لا ألتفت إلى اللفظ الفاسد إذا كان معلوما حلالا فكأنه باع السلعة بالدراهم التي ذكر أنه يأخذ بالدنانير

 

Artinya: "Semua bentuk pertukaran ini ini hukumnya adalah tidak sah. Ibnu Mas'ud berkata: 'Dua transaksi dalam satu akad adalah riba.' Hujjah ini merupakan pegangan Abû Hanîfah, Imam Al-Syâfi'i dan pendapat jumhur. Akan tetapi Imam Malik berbeda dengan menyatakan boleh. Ia berpendapat: 'Saya tidak mau terjebak pada rusaknya lafadh. Selagi barang yang dipertukarkan adalah diketahui dan halal, maka bagaimanapun juga menjual barang dagangan yang ditukar dengan dirham yang diketahui besarannya, lalu diambil harganya berupa dinar, hukumnya adalah sah." (Ibn Qudâmah, al-Mughny li Ibn Qudâmah, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt.: 6/333).

 

Dengan memperhatikan ketiga pendapat di atas, maka bentuk akad pertukaran semacam transaksi menjual handphone dengan syarat sepeda pembeli harus dijual kepada penjual handphone itu, menurut qaul yang paling kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama (jumhur), adalah tidak boleh. Illat ketidakbolehan adalah karena penggabungan dua akad yang dilarang yaitu akad jual beli yang terikat dengan akad jual beli yang lain.

 

Meskipun begitu, ada pendapat yang membolehkan dalam hal ini, yaitu pendapatan kalangan ulama Madzhab Maliki, bahkan disampaikan dalam qaul dhahir dari Imam Malik sendiri. Illat yang disampaikan adalah selagi harganya maklum lagi halal (barang yang hendak dipertukarkan) dan ada kemaslahatan bagi kedua pihak yang bertransaksi, meskipun lafadh akad transakainya fasid, hal itu tetap dihukumi sah.

 

Garis besar kesepakatan ulama terkait akad jual beli dan pertukaran adalah bahwa semua bentuk muamalah jual beli adalah sah, manakala tidak dijumpai di dalamnya unsur merugikan pihak lain, menipu, judi, mengelabui, menyembunyikan cacat, kesemuanya adalah boleh dilakukan. Rupanya Imam Malik menitik tekankan pendapatnya pada maqashid dari jual beli ini sehingga ia dan pwngikut madzhabnya nampak yang bersifat terbuka terhadap akad murakkab dari akad pertukaran ini. Wallâhu a'lam bish shawâb. []

 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean.

Selasa, 01 November 2022

(Do'a of the Day) 07 Rabiul Akhir 1444H

اللهم اجعل في يومنا هذا, الصلاح والفلاح والنجاح.

 

Yaa gusti Allah... Jadikanlah hari-hari kami ini hari yang penuh dengan kebaikan, kemakmuran, dan kesuksesan.

 

Al Faatihah...