KHUTBAH IDUL FITRI
Merayakan Lebaran di Tengah Pandemi
Khutbah I
اَللهُ
أَكْبَرُ (×٩) لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَلله ُأكْبَرُ وَلِلّهِ
الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ مَا فَعَلَ الْمُسْلِمُوْنَ فِيْ نَهَارِ رَمَضَانَ
بِصِيَامٍ، وَفِيْ لَيْلِهِ بِقِيَامٍ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا ازْدَحَمَ
الْمُصَلُّوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ لِصَلَاةِ التَّرَاوِيْحِ بِخُشُوْعٍ
وَاهْتِمَامٍ. اَللهُ أَكْبَرُ ×٣. اللهُ أَكْبَرُ مَا سَبَقُوْا فِي الْمَسَاجِدِ
لِلسُّجُوْدِ وَالْقُعُوْدِ وَالْقِيَامِ. اَللهُ أَكْبَرُ مَا بَذَلَ
الْمُسْلِمُوْنَ إِلَى إِخْوَانِهِمْ بِإِعْطَاءٍ وَمَحَبَّةٍ وَاحْتِرَامٍ. اللهُ
أَكْبَرُ ×٣. اللهُ
أَكْبَرُ مَا تَكُفُّ الْأَكُفُّ إِلَى اللهِ فِيْ هَذَا الشَّهْرِ بِالدُّعَاءِ
وَالتَّضَرُّعِ لِكَشْفِ الضُّرِّ وَالْآلَمِ، اَللهُ أَكْبَرُ ×٣. وَللهِ
الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ
للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ
لَا أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ
وَالْبَشَرِ. اللّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى
اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإِحْسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ وَرَاقِبُوْا مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاهُ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ وَلَا يُعْطِيْ وَلَا يَمْنَعُ
سِوَاهُ.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى
اللَّهِ مَتَابًا (الفرقان:
٧١). أَمَّا بَعْدُ
Hadirin hafidhakumullah,
Kami mengajak pribadi kami sendiri juga
kepada hadirin sekalian, mari kita selalu meningkatkan iman dan takwa kita
kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan usaha kita yang sedemikian rupa ini,
semoga bisa menyebabkan turunnya rahmat Allah kepada kita semua, sehingga kelak
kita dikumpulkan bersama Nabi Muhammad ﷺ dan orang-orang
saleh, amin Allahumma amin.
اَللهُ
أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ayyuhal hâdlirûn hafidhakumullah,
Alhamdulillah, pada pagi hari yang penuh
kemuliaan ini, kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala bisa bersujud, bersimpuh mengumandangkan takbir, mengagungkan nama
Allah, bertahmid, mengucap syukur, berterima kasih kepada Allah, dan bertahlil,
mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala. Kita pun telah diberi anugerah oleh Allah
bisa menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Pada hakikatnya, ibadah
yang kita lakukan, bukan atas kuasa kita sendiri, namun semata-mata pemberian
dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Selain bersyukur, sebagai orang beriman, kita
semestinya bersedih hati karena Ramadhan tahun ini sudah meninggalkan kita.
Selama hidup kita, Ramadhan tahun ini tidak akan kembali lagi sampai kapan pun.
Seumpama kita dianugerahi oleh Allah bisa bertemu pada Ramadhan di tahun
mendatang, mestinya Ramadhan mendatang bukanlah Ramadhan tahun ini yang datang
kembali lagi.
Sahabart Ibnu Mas’ud pernah mendengar Baginda
Nabi Muhammad ﷺ bersabada:
لَوْ
يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ
السَّنَةَ كُلَّهَا
Artinya: “Seandainya para hamba mengetahui
hakikat apa yang ada di bulan Ramadhan, mestinya umatku berharap setahun penuh,
semuanya menjadi bulan Ramadhan” (HR Ibnu Khuzaimah)
اَللهُ
أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Idul Fitri merupakan hari raya khusus bagi
orang yang berpuasa. Id artinya hari raya. Fathara artinya berbuka puasa. Bagi
orang yang kemarin-kemarin menjalankan perintah Allah dengan berpuasa sebulan
penuh, hari ini adalah hari raya berupa diperbolehkannya makan dan minum.
Bahkan kita hari ini diharamkan menjalankan puasa. Inilah yang dinamakan
fathara. Sarapan (makan pagi) dalam bahasa Arab adalah فَطُوْر. Karena itu,
zakatul fithr sebenarnya adalah zakat untuk makan pada hari raya idul Fitri.
Dahulu, Nabi Muhammad ﷺ memberikan zakat
fithr (atau biasa disebut zakat fitrah) pada saat pagi hari raya, sebelum
menjalankan shalat id. Sehingga, hukum mengeluarkan zakat fithr paling afdhal
adalah antara setelah shalat subuh sampai sebelum shalat id dilaksanakan yang
berarti di pagi hari tanggal 1 Syawal. Harapannya, pada hari raya ini, semua
umat muslim yang mempunyai kelebihan makan sehari semalan hari raya ini, harus
berbagi bahan makanan pokok kepada orang miskin di sekitarnya, sehingga pada
hari raya ini, semua orang bisa merasakan nikmatnya makan. Hal ini merupakan
salah satu hikmah yang dapat kita petik dari idul fithr, hari raya makan-makan.
Setelah orang berpuasa dan membayarkan zakat
fithrahnya, hari raya merupakan kabar gembira atas diterimanya amal orang yang
sungguh-sungguh berpuasa, bertobat, shalat malam, shalat tarawih, i’tikaf,
sedekah, dan lain sebagainya. Allah akan menghapus semua keburukan mereka
kemudian diganti dengan kebaikan-kebaikan. Kabar gembira ini dapat kita baca:
إِلَّا
مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ
سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertobat,
beriman dan mengerjakan amal shalih; maka keburukan-keburukan mereka tersebut
diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” (QS Al-Furqan: 70).
وَمَنْ
تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Artinya: “Dan orang-orang yang bertobat dan
mengerjakan amal shalih, sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat
yang sebenar-benarnya” (QS Al-Furqan: 71).
Dalam hadits, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِن
الله تَعَالَى يبْسُطُ يدهُ بِاللَّيْلِ ليتُوب مُسِيْئُ النَّهَارِ، وَيبْسُطُ
يَدهُ بالنَّهَارِ ليَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن
مَغْرِبِها
Artinya: “Sesungguhnya Allah ta’ala menerima
tobat dengan selebar-lebarnya di waktu malam supaya orang yang menjalankan
keburukan di waktu siang bisa bertobat, dan Allah membuka pintu tobat
seluas-luasnya di waktu siang bagi orang yang melakukan kesalahan di malam hari
supaya bisa bertobat sampai matahari terbit dari barat (kiamat)” (HR Muslim).
Kabar gembira juga datang dari Sayyidina Ali
karramallahu wajhah
مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:“Barang siapa ibadah (tarawih) di
bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah
lampau.”
اَللهُ
أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Sebagaimana kita ketahui bersama, semua
penduduk bumi sedang diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa pandemi
covid-19. Namun apa pun kondisi muka bumi ini, bagi orang beriman tetap mempunyai
potensi pahala. Sabda Nabi Muhammad ﷺ:
عَجَباً
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ
Artinya: “Sangat menakjubkan urusan orang
beriman. Semua urusannya merupakan kebaikan.
وَلَيْسَ ذَلِكَ
لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِن:
Hal tersebut tidak dimiliki siapa pun kecuali
hanya dimiliki oleh orang beriman.
إِنْ
أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ،
Apabila orang beriman mendapatkan kenikmatan,
dia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya.
وَإِنْ
أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ
“Jika ia tertimpa musibah, dia bersabar. Dan
itu juga menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim: 7692).
Ramadhan ini, bukanlah Ramadhan kelabu. Hari
raya ini bukan hari raya yang buruk. Wabah Covid-19 yang menyebabkan sebagian
daerah tidak bisa menyelenggarakan jamaah tarawih dan tadarus di masjid, sama
sekali tak mengurangi keagungan Ramadhan. Semuanya tetaplah mutiara yang
bernilai tinggi bagi orang beriman. Kecuali bagi orang yang tidak bisa
menghormati Ramadhan dengan mengisi amal-amal yang baik, tentu Ramadhan dan
hari raya ini tidak merupakan hari raya mereka. Bagi mereka, hari raya ini
adalah hari raya kelabu, penuh kemurungan.
Selain puasa, pada bulan Ramadhan, terdapat
pula momen yang agung, yaitu memberikan zakat fitrah. Bagi orang mampu, zakat
dan sedekah akan meringankan beban sesama, dan menghasilkan pahala yang sangat
besar. Begitu pula untuk orang yang tidak mampu secara ekonomi, menerima
pemberian orang kaya merupakan jasa yang sangat besar. Orang miskin berjasa
menjadi pembersih hartanya orang kaya. Ini adalah soal hak dan kewajiban. Bukan
soal mana yang tinggi dan mana yang lebih rendah. Orang kaya memiliki kewajiban
mengeluarkan hartanya, sementara orang miskin mempunyai hak untuk menerima itu
atas ketidakmampuannya.
Orang kaya tak seharusnya merasa berjasa atas
‘pengorbanan’ harta yang memang wajib ia keluarkan. Kata Imam al-Ghazali,
termasuk kategori mengungkit pemberian adalah ketika orang kaya merasa menolong
orang yang miskin. Perasaan ini tidak tepat dimiliki oleh siapa saja. Justru
orang kaya harus berterima kasih kepada orang miskin. Atas jasa merekalah harta
orang kaya menjadi bersih, tidak kotor. Jadi, orang kaya tidak boleh merasa
mempunyai jasa berderma di hadapan orang miskin. Demikian disampaikan oleh Imam
al-Ghazali dalam al-Arbain fi Ushulid Din.
Kita sedang saling menguatkan antara satu
dengan lainnya. Semua menjadi ladang ibadah. Yang kaya berzakat itu ibadah,
orang miskin menerima zakat, dia ikut andil membersihkan hartanya yang kaya,
ini juga ibadah. Sekali lagi, bagi orang beriman, apa pun posisi dan
keadaannya, bernilai kebaikan.
Hadirin…
Di tengah pandemi ini, kita harus optimis
bahwa kita bisa beradaptasi dengan keadaan secepat-cepatnya. Kita berharap, ke
depan, keadaan menjadi semakin membaik: pintu-pintu masjid kembali terbuka
sebagaimana sedia kala, kita bisa berkumpul bersama, mengaji bersama,
menjalankan sistem kontrol sosial bersama-sama melalui pintu-pintu masjid di
sekitar kita.
Selain itu, di hari raya ini, meskipun
sebagian di antara kita terhalang oleh keadaan, jangan sampai kita lewatkan
permohonan maaf kepada kedua orang tua walaupun sebagian di antara kita tidak
bisa bertatap muka. Silakan saling memaafkan antarsaudara, tetangga, teman, dan
lain sebagainya dengan menggunakan fasilitas yang ada, jika pertemuan fisik
tidak memungkinkan. Kita fungsikan media sosial yang kita punya sebagai sarana
untuk merekatkan antarkeluarga, sesama muslim sehingga media sosial kita
menjadi wasilah kita menuju ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan,
taufiq, hidayah serta inayah-Nya supaya kita dan keluarga kita selalu menjadi
orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada puncaknya, kelak saat kita
akan menghadap Allah sang Pencipta, kita akan meninggalkan dunia ini dengan
husnul khatimah, amin.
جَعَلَنَا
اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ
عَامٍ وَأَنْتُمْ بَخَيْرٍ. آمين بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوْا إِلَى
مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.
وَقُلْ
رَّبِّ اغْفِرْ وارْحَمء وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah II
اَللهُ
أَكْبَرُ ×٧، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ
اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ "إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا". اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ
يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا
مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ,
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ.
رَبَّنَا
افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ.
رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ
وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Ahmad Mundzir, Pengajar di Pesantren
Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Kota Semarang