Kamis, 07 Juli 2011

(Ngaji of the Day) Ambisi Gila Tahta

Ambisi Gila Tahta
Imam Al-Ghazali berkata, Allah swt. berfirman: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (Q.s. Al-Qashash: 83).
Rasulullah saw bersabda:
“Cinta harta dan tahta dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air dapat menumbuhkan sayur-mayur.”
Sabdanya yang lain, “Serigala yang buas yang dilepas di kandang kambing tidak lebih berbahaya daripada cinta harta dan tahta dalam kehidupan agama seseorang.”
Sabdanya, “Sesungguhnya penghuni surga itu adalah setiap orang yang berambut kusut dan hanya memiliki dua potong baju yang telah lusuh. Apabila mereka mau menemui penguasa, mereka ditolak, dan la meminang wanita, mereka tidak mampu menikahinya, dan bila berkata tidak dihiraukan orang. Kebutuhan salah seorang dari mereka “ adalah gemuruhnya dada, dan andaikata nurnya dibagi-bagikan kepada sesama manusia pada hari Kiamat, tentu akan memadai.”
Sulaiman bin Handzahalah berkata, “Suatu ketika kami berjalan di belakang Ubay bin Ka’ab. Tiba-tiba Umar bin Khaththab melihatnya, lalu memanggilnya seraya menawarkan susu kepadanya.
Ubay bin Ka’ab pun berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang anda lakukan?’ Umar berkata, ‘Ini (susu) adalah sumber kehinaan bagi yang mengikuti dan menjadi fitnah bagi yang diikuti’.”
‘Al-Hasan berkata, “Sebenarnya suara sandal di belakang seseorang tidak kurang darinya, menunjukkan hati orang-orang sombong.”
‘ Abu Ayub berkata, “Demi Allah, tidaklah seorang hamba itu dibenarkan Allah, kecuali hatinya, bahwa dirinya tidak mengerti kedudukannya.”
Sungguh, betapa tercelanya popularitas dan kedudukan itu, kecuali Allah mempopularitaskan hamba-Nya di bidang agama, tanpa dicari seperti halnya kemasyhuran yang diberikan kepada para Nabi, Khulafaur-Rasyidin, ulama dan wali.
Hakikat Tahta
Hakikat tahta dan kedudukan adalah penguasaan terhadap hati orang lain sehingga tunduk kepadanya karena tahtanya, dan memujinya dengan ucapan serta berusaha memenuhi segala keinginannya sesuai perintahnya. Seperti harta, maknanya adalah kepemilikan dirham demi mencapai tujuan-tujuannya.
Demikianlah, tahta merupakan penguasa hati. Hanya saja, tahta lebih dicintai dibanding harta, karena bisa mendatangkan harta kekayaan. Hal itu disebabkan beberapa faktor, antara lain:
Dengan tahta, orang akan lebih mudah untuk meraup harta kekayaan, tetapi belum tentu dengan kekayaan seseorang dapat meraih jabatan secara mudah.
Tahta lebih aman dan terpelihara dari pencurian, perampasan dan bencana lainnya, berbeda dengan harta kekayaan yang senantiasa menjadi incaran para pencuri clan perampok.
Tahta lebih mudah untuk berkembang dan cepat menanjak, tanpa melalui proses berbelit-belit. Berbeda dengan harta yang perkembangannya memerlukan pencurahan pikiran, tenaga clan waktu.
Tahta berarti ketinggian atau kemuliaan. Sifat ini secara teologis merupakan sifat Allah swt. Dan setiap manusia, secara naluriah pasti mencintai sifat-sifat Allah swt. Bahkan sifat tersebut telah menjadi instrumen untuk meraih segalanya. Karena pada sifat tersebut ada rahasia samar, keterkaitan antara ruh dengan persoalan-persoalan ketuhanan. Dalam hal ini Allah berfirman, “Katakanlah, bahwa ruh itu urusan Tuhanku.”(Q.s. Al-Isra’: 85).
Tahta adalah perkara ketuhanan, yang memberi pesona pada watak, sebagai wahana kediktatoran dan satu-satunya eksistensi wujud. Itulah hakikat ketuhanan, karena tiada wujud lagi di sisi Allah. Bahkan semua yang maujud ini, hanyalah sebagai bayangan dari cahaya kekuasaan (qudrat). Dan bayangan itu hanya bersifat mengikuti, bukan pada dataran menyertai. Karena itu, tiada wujud lain yang menyertai Allah swt.
Manusia memiliki ambisi seperti itu. Bahkan pada jiwanya muncul egoisme seperti ucapan, “Akulah tuhan kamu sekalian yang luhur!” Namun Fir’aun kemudian memperjelas, dan manusia lain menyamarkan.
Tetapi manakala terputus dari sikap“satu-satunya dalam wujud” (yang paling), la tetap berambisi meraih keluhuran dan tahta di atas segalanya di dunia, agar ia bisa meraih apa yang dikehendakinya. Dan sikap demikian berarti memasuki wahana ketuhanan.
Sayang, manusia tidak mampu menundukkan semua itu, terhadap wujud di langit, bintang-bintang, lautan clan bukit-bukit. Lantas manusia tetap berambisi menguasai semua itu melalui ilmu pengetahuan. Sebab ilmu merupakan ragam dari kekuasaan. Seperti seseorangyang tidak mampu meletakkan sesuatu yang ajaib, akhirnya tetap berambisi bagaimana cara meletakkannya. Lalu la berambisi mengenal keajaiban-keajaiban laut clan keajaiban di perut bukit. Dan itu terproyeksi ketika manusia menundukkan bumi, hewan dan tambang serta tumbuh-tumbuhan.
Manusia menjadi sangat ingin memiliki dan memindahkan, dengan suatu proyeksi bahwa manusia telah menundukkan itu semua, dan pada saat yang sama penguasaan itu terbayang lewat hatinya. Hatinya pun dikaitkan dengan nuansa keagungan yang dikokohkan melalui perilakunya yang penuh kebesaran clan keagungan, diikuti oleh keyakinan akan keparipurnaan kekuasaannya, menebarkan pengaruhnya, sampai menjangkau negeri-negeri yang belum pernah diinjaknya clan penduduknya belum dikenal.
Semua itu merupakan ambisinya untuk berkait dengan sifat-sifat ketuhanan. Kadang-kadang sifat demikian lebih dominan, sementara nafsu-nafsu hewaninya justru melemah.
Etika Bertahta
Anda mungkin bertanya, mengapa meraih keluhuran seperti itu tercela? Padahal ambisi tersebut lahir dari kristalisasi akal clan ruh yang secara khusus berkaitan dengan urusan ketuhanan?
Perlu Anda ketahui, menggapai keluhuran yang hakiki merupakan tindakan terpuji, tidak tercela, apabila motivasi secara keseluruhan adalah taqarrub kepada Allah swt. Sebab, itulah supremasi dan kesempurnaan sejati, yang tidak mengandung kehinaan, kekayaan yang tidak mengandung kefakiran, kekekalan yang tidak mengandung kehancuran, serta kenikmatan yang tidak mengandung penyesalan sama sekali. Sementara ambisi yang dicaci adalah upaya mencapai kesempurnaan semu, bukan kesempurnaan hakiki.
Setiap keparipurnaan hakiki selalu dikembalikan pada asas keilmuan, kemerdekaan dan kekuasaan. Yaitu, nuansa yang bebas tidak terikat oleh makhluk lain. Sedangkan hamba, tidak memiliki kompetensi kekuasaan secara hakiki. Kekuasaannya terletak pada harta clan tahta. Dan kekuasaan demikian bersifat semu. Karena keduanya merupakan sesuatu yang tidak langgeng.
Bagi yang tidak abadi, pasti tidak mengandung kebajikan. Bahkan dikatakan penyair:
Kegelisahan yang dahsyat bagiku, jika kesukacitaan yang diyakini akan hilang
Kekuasaan seperti itu bagaimanapun akan habis karena kematian, serta tidak bisa dijamin kesuciannya. Siapa pun yang menyangka sebagai kekuasaan sempurna pasti akan tersungkur. Namun keparipurnaan itu ada pada tingkah laku kesalehan yang menuju taqarrub kepada Allah swt, yang tidak bisa musnah karena kematian, bahkan semakin berlipat ganda tanpa batas. Itulah ma’rifat yang hakiki terhadap Dzat Allah swt, Sifat clan Af’al-Nya, yaitu mengetahui totalitas wujud, bahwa tiada yang wujud melainkan Allah dengan segenap Af’al-Nya.; Tetapi, kadang-kadang ada orangyang memandangnya bukan dari sisi Af’al Allah swt. Seperti orang yang sedang melakukan operasi, bedah untuk kepentingan medis, atau memandang cuaca alam untuk kepentingan hukum astronomi, tentu la tidak bisa dikatakan punya kekuasaan.
Di antara proyeksi keparipurnaan hakiki adalah kebebasan. Yaitu, bebas dari segala bentuk ketergantungan seluruh instrumen duniawi. Sebab semua itu akan bertemu dengan ajal kematian. Kemudian lebih konsentrasi pada disiplin yang dituju, yaitu Allah swt. Sebagaimana firman-Nya kepada Daud as, “Wahai Daud, Aku-lah tujuanmu yang sebenarnya, dan tetaplah pada tujuanmu.”
Ilmu dan kebebasan merupakan perilaku kesalehan yang paripurna dan hakiki. Sementara harta dan anak anak hanyalah perhiasan dunia, yang kesempurnaannya hanyalah semu.
Orang-orang yang hatinya terbalik, adalah mereka yang membalik kebenaran hakiki, dan berpaling dari upaya mencapainya. Mereka hanya sibuk mencari kesempurnaan semu belaka. Mereka kelak akan dibakar oleh api penyesalan sesudah mati, karena mereka menyaksikan kerugian dunia dan akhirat. Mereka mencari sebab-sebabnya, namun tidak pernah sukses mencapai ma’rifat dan kebebasan. Sedang dunia, hanyalah titipan dan berbalik memusuhinya, sementara mereka mewarisi musuh-musuh itu.
Anda jangan menyangka kalau iman dan ilmu itu berpisah dari Anda karena kematian. Kematian tidak bisa merobohkan tempat ilmu, apalagi kematian bukanlah ketiadaan hingga Anda menduga ketika Anda tiada, sifat-sifat Anda juga hilang. Makna kematian hanyalah pisahnya badan dan ruh. Apabila ruh menyendiri dari badan, la akan tetap ada dengan ilmu dan kebodohannya. Pemahamannya perlu uraian yang luas, karena adanya rahasia yang tidak bisa termuat dalam buku ini.
Tetapi, kalau Anda mengenal esensi materi tahta, sebagai kesempurnaan semu, maka Anda telah mengenal pula terapinya yang ada dalam relung cintanya di hati.
ManakalaAnda tahu, seandainya penghuni bumi ini sujud kepada Anda, pasti tidak akan lama - kecuali sejenak waktu - serta tidak ada lagi orang yang bersujud dan disembah.
Waktu dunia akan menekan Anda, dari kekuasaan apalagi dari kampung halaman atau negara Anda. Lalu, bagaimana Anda bisa rela, meninggalkan kerajaan abadi dan tahta yang panjang di sisi Allah dan malaikat-Nya, dengan menempatkan tahta Anda yang hina, penuh sesak orang-orang sombong, sama sekali mereka tidak memberi manfaat dan membahayakan Anda, mereka tidak bisa memberi kekuasaan, kematian, kehidupan, keleluasaan, rezeki clan kepastian? Memang, penguasa atau raja hati, seperti raja manusia pada umumnya. Anda butuh kekuasaan sedikit untuk menjaga diri Anda dari kezaliman clan permusuhan, menjaga Anda dari hat-hal yang mengganggu Anda, keselamatan clan kebahagiaan Anda yang kelak; berpengaruh pada kehidupan agama Anda.
Upaya seperti itu diperbolehkan, dengan syarat Anda punya sikap qanaah menurut kadar kebutuhan, sebagaimana dalam soal harta. Syarat lain, Anda tidak menggunakan untuk kepentingan riya’, dan tentunya tindakan demikian haram hukumnya. Anda tidak boleh mengaplikasikan kekuasaan untuk kepentingan, persekongkolan; misalnya Anda menampakkan din Anda, namun sebenarnya tidak demikian adanya. Tentunya, tidak ada bedanya antara orang yang; memiliki kekuasaan hati dan orang yang menguasai harta.
Apabila Anda memperoleh tahta disertai jalan yang benar, dengan membatasi diri sekadar menjaga dari ancaman musuh, Anda akan selamat dari bahaya tahta. Hanya saja di depan Anda ada bahaya besar, lebih dari bahaya kekuasaan harta. Karena tahta yang kecil mendorongnya untuk meraih harta yang banyak. Sebab, tahta lebih nikmat daripada harta. Karenanya, Anda telah menyerahkan agama secara cuma-cuma kepada orang yang tidak dikenal identitasnya. Padahal Anda toh memahami banyak hadits.
Motivasi Tahta
Motivasi meraih tahta adalah kesenangan terhadap pujian. Manusia menikmati pujian tersebut dalam tiga hal:
Pertama, yang dipuji merasa memiliki supremasi kesempurnaan, dan merasakan supremasi tersebut sebagai sesuatu yang nikmat. Sebab kesempurnaan adalah sifat-sifat Ilahiah.
Kedua, ia merasa menguasai hati orang yang memuji, dan bisa menegakkan kharisma kepada orang tersebut, karena telah tunduk kepadanya.
Ketiga, ia merasakan bahwa pemujinya benar-benar serius dengan ‘ pujiannya, sehingga kekuasaannya semakin menebar. Apalagi jika pujian itu merambah khalayak umum, ia semakin menikmati pujian tersebut.
Pada kenikmatan pujian yang pertama di atas, akan sirna rasa nikmatnya, apabila pujian muncul dari orang yang tidak memiliki pandangan jiwa, karenanya, pujian itu tidak menambah kualitas kesempurnaannya. Sedangkan kenikmatan pujian kedua, juga tidak membekas bila muncul dari orang rendah yang tidak memiliki akses kekuasaan. Sebab dominasi terhadap wahana hati orang rendahan tersebut tidak diperhitungkan. Dan kenikmatan ketiga juga sirna apabila pujian dilontarkan di tempat yang sunyi, tidak di tengah khalayak. Karena kenikmatan pujian di sini justru muncul di tengah khalayak.
Cercaan, termasuk hal yang dibenci oleh orang yang berambisi pada tahta, karena akan merusak faktor-faktor kenikmatan tahtanya. Manusia banyakyang hancur karena senang dipuji, clan benci dicerca. Bahkan sikap tersebut ditonjolkan lewat pamer dan kemaksiatan.
Terapi penyakit hati tersebut adalah, seseorang harus memikirkan kenikmatan pada sisi pertama di atas. Bahwa pujian karena harta dan tahta, hanyalah kesempurnaan semu. Bahkan menjadi penyebab musnahnya kesempurnaan hakiki, karena la merasa gelisah lantaran kesemuan tersebut, dan sama sekali tiada kegembiraan.
Bila seseorang dipuji karena ilmu clan wara’nya, seyogyanya kebahagiaannya sekadar pada predikat tersebut clan harus bersyukur kepada Allah, bukan kepada si pemuji. Tetapi apabila predikat ilmu dan wara’ itu tidak terdapat dalam dirinya, kebahagiaannya justru merupakan kesombongannya. Seperti kebahagiaan orangyang dipuji dengan kata-kata, “Betapa harum nafasmu!” padahal la tahu nafasnya berbau. Begitu juga dalam pujian dengan predikat berilmu, wara’ dan zuhud, padahal la sendiri tahu, bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki predikat tersebut. Sedangkan terapi terhadap rasa menikmati pujian yang kedua clan ketiga, bisa kita telaah dalam terapi cinta tahta di atas. []
KH. Muhammad Luqman Hakim

(Do'a of the Day) 05 Sya'ban 1432H

Bismillah irRahman irRaheem
In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Alhamdulillaahil ladzii ath'amanaa wa saqaanaa wa kafaanaa wa aawaanaa, fa kam mimman la kaafiya lahuu laa mu'wiya lahuu.
Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan makanan kepada kami, yang telah memberi minuman kepada kami, yang telah mencukupkan keperluan kami, dan memberi tempat kepada kami, karena berapa banyak orang tidak cukup keperluannya dan tiada pelindung baginya.
Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 60.

Rabu, 06 Juli 2011

(Ngaji of the Day) Indahnya Silaturrahmi

Indahnya Silaturrahmi
Dalam Islam, hubungan persaudaraan dinilai begitu penting, sehingga silaturahmi hukumnya wajib. Pandangan terhadap ikatan kekeluargaan yang demikian istimewa ini, tidak akan di ditemukan pada sistem kekeluargaan di luar Islam, dan tidak akan didapatkan padanannya dalam hukum adat yang berkembang di daerah manapun. Sebab hukum yang dicetuskan manusia akan selalu berhenti pada ketidak-sempurnaan.
Islam memandang, bahwa setiap komponen dalam anggota masyarakat dianggap saling terkait, dan berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan yang harmonis. Karena itu banyak sekali Hadis-Hadis yang disabdakan Rasulullah dalam memotivasi umatnya untuk merapatkan barisan, mempererat hubungan, dan melarang bercerai berai. Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib, sedangkan memutuskannya merupakan dosa besar. Nabi Sallallâhu ’alaihi wasallam bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan (Hadis Muttafaq ‘Alaih).
Dari sini dapat dipahami, bahwa Islam menganggap penting hubungan kekeluargaan yang kuat, karena bangunan masyarakat manapun akan menjadi kuat jika dimulai dengan kuatnya pondasi kebersamaan yang harmonis dalam keluarga. Jadi jika komponen masyarakat dalam keluarga telah terjalin erat, maka akan ada jaminan jika masyarakat Islam secara umum juga akan kuat.
Kerena itu, tentu saja perintah Rasul Sallallâhu ’alaihi wasallamini tidak dimaksudkan mendahulukan kepentingan keluarga daripada kepentingan bersama. Justru Rasul Sallallâhu ’alaihi wasallam menginginkan adanya sinergi antara eratnya hubungan kekeluargaan dengan ikatan persaudaraan sesama muslim. Ibarat bangunan, maka ikatan keluarga adalah tiang-tiang penyanggah, untuk menjaga keutuhan bangunan persaudaraan dalam satu agama.
Mempererat hubungan kekeluargaan, tanpa memperhatikan ikatan persaudaraan sesama muslim, tidak akan tercipta ketenteraman dalam masyarakat, karena setiap orang akan berjalan sesuai ego masing-masing, dan pasti akan memunculkan fanatisme golongan, nepotisme, dan hal-hal negatif serupa yang merugikan kepentingan umum. Tentu, ini tidak sesuai dengan visi Islam yang universal.
Sebaliknya, bila hanya pandai menjaga hubungan dengan masyarakat secara umum, tetapi melupakan hubungan keluarga sendiri, maka juga akan terjadi ketidak seimbangan dalam kehidupan. Karena itu Rasul Sallallâhu ’alaihi wasallam bersabda, Belumlah dianggap baik orang yang menampakkan perbuatan baik pada orang lain, apabila ia tidak bisa berbuat baik pada keluarganya.
Nah, untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan yang sempurna, tentunya harus menjaga silaturrahim dengan keluarga, dan membina keutuhan persatuan sesama muslim sekaligus, dengan pemaknaan“silaturrahim” yang luas, sesuai paradigma Islami yang universal.
Dewasa ini, silaturrahim semakin tersingkirkan dari hati umat Islam, sebab silaturrahim hanya diartikan sebagai acara seremonial temporer yang sempit. Lemahnya silaturrahim dan keretakan dalam keluarga bisa jadi dilatarbelakangi beberapa faktor, di antaranya adalah sikap individualis yang tinggi, egoisme , rasa tidak butuh pada orang lain, merebaknya gaya hidup hedonis, dll.
Suara-suara sumbang dari sebagian golongan yang dibungkus dengan wacana-wacana kebebasan, telah memporak-porandakan konsep keharmonisan dalam keluarga, dan mengakibatkan krisis nilai-nilai kekeluargaan. Sikap materialisme dan kerakusan, juga telah melumat habis nilai-nilai agama yang diajarkan untuk membina hubungan kekeluargaan, baik dalam lingkup satu darah mupun satu agama.
Di samping itu, sikap-sikap hina di dalam hati juga berpotensi besar dalam merusak ikatan persaudaraan dan silaturrahmi. Sikap iri dan dengki adalah dua senjata pemusnah yang sangat ampuh untuk membunuh benih-benih kasih saya dalam jiwa, yang sebetulnya bisa menjadi pohon yang kokoh, tinggi menjulang, guna menunjang bangunan persaudaraan.
Islam mengajarkan, jika kita menjaga ikatan persaudaraan melalui silaturrahim, maka akan banyak manfaat yang akan dituai darinya. Silaturrahim dapat mendatangkan keluasan rizki, panjang umur, melemahkan amarah, membunuh rasa benci, iri hati, permusuhan dan sifat-sifat zalim lainnya. Dengan silaturrahim, semua sifat yang hina dalam jiwa akan sirna, berganti rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Selain itu, silaturrahim juga berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, membangun relasi bisnis, membuka jalan dakwah dalam amar ma’ruf nahi munkar. Artinya, di sini silaturrahim juga menjadi sarana ibadah dan dakwah, yang tentu saja pahalanya akan berlipat-lipat, sebagaimana telah banyak dijelaskan dalam Hadits Nabi Sallallâhu ’alaihi wasallam.
Dari itu, marilah kita rekatkan kembali hubungan-hubungan yang retak, kita rapatkan barisan yang renggang, agar kita dapat meraih kesuksesan bersama. Bukankah akan terasa sangat indah bila setiap saat kita bisa saling bertegur sapa, mengisi hari dengan senyuman dan semangat kebersamaan, dalam menyongsong kebahagiaan, dari alam fana hingga alam baka? Subhânallâh, betapa indahnya. []
Buletin Pesantren Sidogiri

(Do'a of the Day) 04 Sya'ban 1432H

Bismillah irRahman irRaheem
In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal 'arsyil adliim. Rabbanaa wa rabba kulli syai'in, faalikal habbi wan nawaa, munzilat tauraati wal injiili wal qur'aan. A'uudzubika min syarri kulli dzii syarrin anta aakhidzun bi naashiyatihaa. Antal awwalu fa laisa qablaka syai'un wa antal aakhiru fa laisa ba'daka syai'un, wa antadl dlaahiru fa laisa fauqaka syai'un, wa antal baathinu fa laisa duunaka syai'. Iqdhi 'annad daina wa aghninaa minal faqri.
Ya Allah, Tuhan Pemelihara kerajaan langit. Tuhan Pemelihara bumi dan Tuhan Pemelihara arsy yang agung. Tuhan kami, Tuhan Pemelihara segala sesuatu. Tuhan yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Tuhan yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Aku berlindung kepada-Mu dari tiap-tiap kejahatan orang yang jahat. Engkau juga yang memegang ubun-ubunnya. Engkau Yang Maha Awal, maka tiada sesuatu yang mendahului-Mu. Engkau Yang Maha Akhir, maka tiada ada sesuatu yang kekal di belakang-Mu. Engkau Yang Maha Zhahir, maka tiada sesuatu yang nampak di atas-Mu. Dan Engkau Yang Maha Batin, maka tiada sesuatu yang lebih lembut dan halus daripada-Mu. Maka tunaikanlah hutang dan kewajiban kami dan kayakanlah kami dari kefakiran jiwa.
Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 60.

Selasa, 05 Juli 2011

Menemani Kejenuhan

Pedagang beras dan bahan pokok lainnya di salah satu pasar tegal di kab. bekasi, belakangan ini harus berpikir puluhan kali untuk menetapkan harga yang cocok dijual kepada para pelanggannya. Jika menjual terlalu murah, maka uang yang didapat tidak bisa digunakan untuk membeli barang dagangan kembali, karena harga yang tidak menentu. Atau sebaliknya, jika menjual terlalu mahal, tidak tega dengan kondisi perekonomian pelanggannya yang rata-rata pekerja informal.


Untuk menemani waktu senggang dan menghilangkan kejenuhan, mereka mengisinya dengan bermain catur. Skak..!!!





(Ngaji of the Day) Hilal Ramadhan

Hilal Ramadhan
KONSEKUENSI ISTIKMAL RAJAB 1432H
“Laporan dari daerah-daerah menyatakan bahwa ru’yah jum’at petang 1 Juli 2011 tidak berhasil melihat hilal. Maka atas dasar istikmal, awal sya’ban 1432H jatuh pada ahad 3 Juli 2011. Trmksh atas partisipasi Nahdliyyin sekalian." (LFPBNU)
ISTIKMAL RAJAB DAN RUKYAT AWAL SYA’BAN 1432H
Informasi di atas merupakan sebuah pesan singkat dari KH. Ghozalie Masrurie selaku ketua Lajnah Falakiyyah PBNU (LFPBNU) yang mengabarkan hasil pelaksanaan rukyat yang dilaksanakan oleh warga Nadhliyyin diberbagai pelosok Indonesia yang tidak dapat menyaksikan kemunculan hilal. Sehingga, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, rajab digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari dan 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Ahad, 3 Juli 2011. Pelaksanaan Rukyat Awal Sya’ban memiliki posisi penting karena bulan setelah Sya’ban adalah Bulan Suci Ramadhan dimana umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Pada dasarnya, Istikmal pada akhir Rajab 1432H sudah dapat diperkirakan dengan pasti melalui perhitungan (Hisab) posisi bulan pada tanggal 29 Rajab 1432H (bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2011). Pada tanggal 1 Juli 2011 Ijtima’ diperkirakan terjadi pada jam 15:54 LT dan matahari tenggelam pada jam 14:54 LT. Hal ini berarti Ijtima’ terjadi setelah matahari tenggelam sehingga hilal dikatakan belum wujud sehingga dapat dipastikan hilal tidak dapat dirukyat. Oleh karenanya, berdasar ketentuan NU maupun Muhammadiyah, bulan Rajab digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Jika hilal belum wujud pada tanggal 1 Juli 2011, maka hilal Sya’ban 1432H baru akan bisa dilihat untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Juli 2011. Dari data hisab posisi hilal diperoleh ketinggian hilal pada saat matahari tenggelam pada tanggal 2 Juli 2011 sebesar +12°:41':07". Dengan Ketinggian tersebut, Hilal sering dikatakan pasti dan mudah terlihat, JIKA tidak tertutup awan. Karena jika tertutup awan, Bulan Purnama dan Mataharipun tidak akan dapat dilihat. Namun apakah hilal dengan posisi tersebut memang mudah terlihat?
Dengan kondisi cuaca berawan, Tim rukyat PBNU dan PWNU DKI Jakarta telah melakukan pengujian data hisab dan perangkat rukyat yang ada di NUMO (Nahdlotul Ulama’ Mobile Observatory) . Hal ini ditujukan untuk lebih memantapkan jatuhnya awal Sya’ban 1432H meskipun hasil yang diperoleh tidak mempunyai implikasi hukum pada penetapan awal bulan Sya’ban. Dari pelaksanaan rukyat tersebut diperoleh kesaksian 4 perukyat dapat mengenali keberadaan hilal melalui teleskop tersebut. Meskipun menggunakan sistem teleskop yang memiliki kemampuan robotic yang dapat mengarah dan mengikuti gerak bulan secara otomastis tersebut hilal dapat dikenali untuk pertama kalinya pada jam 18:02 WIB pada ketinggian sekitar 8 derajat. Hal ini berarti hilal baru dapat dilihat sekitar 12 menit setelah matahari tenggelam atau turun sekitar 4 derajat dari ketinggian semula. Dan tidak satupun dari perukyat yang hadir dapat mengenali hilal tersebut secara langsung dengan mata telanjang. Sehingga hilal dengan ketinggian diatas 10 derajat meskipun dapat dipastikan dapat dilihat ternyata hilal tidak mudah untuk dirukyat. Sayang seklai karena kendala masalah teknis di lapangan penampakan hilal tersebut tidak dapat didokumentasikan melalui kamera yang ada.
KONSEKUENSI AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL 1432H
Baik dari hasil istikmal ataupun hasil rukyat yang telah dilaksanakan dapat dipastikan dengan haqul yakin, 1 Sya’ban 1432H bertepatan dengan tanggal 3 Juli 2011. Hal ini akan menjadikan tanggal 31 Juli 2011 bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1432H. Sehingga kewajiban melaksanakan rukyat Syar’i juga dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2011 tersebut.
Tabel 1 menunjukkan data hisab posisi bulan pada tanggal 31 Juli 2011 yang dihitung untuk markaz Jakarta. Dari table tersebut dapat dilihat bahwa posisi hilal pada tanggal 31 Juli 2011 memenuhi kriteria penanggalan yang digunakan oleh MABIMS. Sehingga berdasar kriteria tersebut hilal pada posisi MEMUNGKINKAN untuk dapat dilihat . Terlebih jika posisi hilal tersebut dibandingkan dengan posisi ‘rekor hilal’ yang dapat terekam oleh penulis ketika melakukan pengamatan hilal bersama TIM SIHIRU DPEKOMINFO-ITB maka posisi hilal pada tanggal 31 Juli 2011 mempunyai peluang untuk dapat diamati, tentunya jika hilal tidak tertutup awan. Meskipun demikian, dari pengalaman merukyat hilal pada tanggal 2 Juli 2011 tentunya hilal penentu awal ramadhan 1432H akan lebih sulit untuk dikenali dengan teleskop terlebih jika menggunakan mata telanjang.
Dengan kondisi cuaca yang tidak dapat dipastikan tersebut masih memberikan kemungkinan hilal akan tertutup oleh awan. JIkalau hal ini yang terjadi, apakah ketetapan Istikmal yang akan diikbarkan? Berdasar kriteria MABIMS, kemungkinan besar Pemerintah melalui kemenag akan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus 2011. Tentunya kita berharap, hilal dapat dirukyat pada akhir rajab 1432H sehinga pelaksanaan puasa Ramadhan 1432H dapat dilaksanakan secara serentak di Indonesia.
Hal yang lebih rentan akan perbedaan justru dimungkinkan terjadi pada pelaksanaan rukyat hilal akhir Ramadhan 1432H. Berdasar data hisab yang terdapat pada tabel1 dapat dilihat posisi hilal untuk markaz Jakarta tidak semuanya memenuhi kriteria MABIMS. Bahkan dalam penanggalan NU, ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat. Hal ini dapat berimplikasi kesaksian yang ada akan ditolak oleh Lajnah Falakiyyah PBNU sebagaimana kasus Bangkalan dikarenakan awal bulan MABIMS merupakan kriteria minimal untuk dapat menerima kesaksian hilal. Jika hal ini yang terjadi maka dimungkinkan bulan Ramadhan 1432H akan diistikmalkan menjadi 30 hari dan Iedul Fitri 1432H akan bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.
Pada dasarnya ketinggian 2 derajat masih merupakan posisi yang sangat sulit (kalau boleh dibilang mustahil) untuk dapat dirukyat. Terlebih mengingat pengalaman hilal awal sya’ban 1432 yang baru dapat dikenali 10 menit setelah matahari tenggelam dengan menggunakan alat bantu Teleskop. JIka dilakukan asumsi yang sama, dimana hilal baru dapat dikenaliu 10 menit setelah matahari tenggelam maka Hilal awal syawal akan tenggelam terlebih dahulu sebelum menampakkan wujudnya pada mata para perukyat. Terlebih jika rukyat tersebut dilaksanakan di Jakarta yang kondisi usuknya sering kali tidak dapat dilihat karena pengaruh polusi smog.
Pada dasarnya kemungkinan terjadinya perbedaan dalam mengawali bulan-bulan hijriyyah senantiasa terbuka lebar jika ketinggian hilal positif, berapapun ketinggiannya karena kriteria yang digunakan saat ini dapat dikategorikan sebagai kriteria minimal untuk menerima sebuah kesaksian hilal. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dalam Lajnah Falakiyyah PBNU yang oleh ketua Lajnah Falakiyyah PBNU, KH. Ghozalie Masrurie, disebut telah berlari cepat. Pada mulanya NU hanya menggunakan rukyat, kemudian juga menggunakan hisab untuk memandu rukyat, dan mulai menggunakan kriteria imkan rukyat sebagai nilai minimal diterimanya kesaksian rukyat. LFPBNU juga meningkatkan kemampuan rukyatnya melalui berbagai pelatihan dan perlengkapan rukyat yang baik hal ini bisa dilihat dengan adanya NUMO (Nahdlotul Ulama Mobile Ulama’).
Beragam langkah kemajuan tersebut menunjukkan LFPBNU dinamis untuk mencari yang paling baik sebagaimana kaidah yang dipegang“al-Mukhafadhotul ‘alal Qodimis Sholih wal Akhdu bil jaded al-Aslah”.
Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk menjumpai Bulan penuh berkah, Bulan Suci Ramadhan 1432H.
Tabel1. Data posisi Hilal pada tangal 2 Juli 2011, 31 Juli 2011 dan 29 Agustus 2011 yang diperkirakan bertepatan dengan tanggal 30 Rajab 1432H, 29 Sya’ban 1432H dan 29 Ramadhan 1432H.
Posisi Hilal
Rekor Hilal
2 Juli 2011
31 Juli 2011
29 Agustus 2011
Kriteria MABIMS
Irtifa’
+06°:11':41"
+11°:44':19"
+06°:18':37"
+01°:05':37"
+02°
Usia Bulan
+15H 37M
+24H 05M
+16H 50M
+08H 44M
+08H
Elongasi
+08°:36':29"
+12°:52':44"
+09°:06':36"
+06°:18':47"
+03°
Iluminasi
00.57 %
01.26 %
00.63 %
00.30 %
-
Hendro Setyanto
- LitBang LFPBNU
- Areng Observatory Wangunsari –Lembang

(Do'a of the Day) 02 Sya'ban 1432H

Bismillah irRahman irRaheem
In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma qinii 'adzabaka yauma tab'atsu 'ibaadaka.
Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu, pada hari di mana hamba-hamba-Mu dibangkitkan nanti.
Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 60.

Senin, 04 Juli 2011

(Ngaji of the Day) Kesepakatan Ulama: Talfiq Tidak Dibenarkan

Kesepakatan Ulama: Talfiq Tidak Dibenarkan
Secara bahasa talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud dengan talfiq secara syar’i adalah mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut.

Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan:
(الخامس) عدم التلفيق بأن لايلفق في قضية واحدة ابتداء ولادوامابين قولين يتولدمنهماحقيقة لايقول بهاصاحبهما (تنويرالقلوب , 397)
“(Syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur antara dua pendapat dalam satu qadliyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh orang bberpendapat.” (Tanwir al-Qulub, 397)
Jelasnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. Contohnya sebagai berikut:

a. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi’I dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (bukan mahram-nya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita ajnabiyyah tidak membatalkan wudlu. Perbuatan ini disebut talfiq, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi’I dan Hanafi dalam masalah wudlu. Yang pada akhirnya, kedua Imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Sebab, Imam Syafi’I membatalkan wudlu seseorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Hanafi tidak mengesahkan wudlu seseorang yang hanya mengusap sebgaian kepala.
b. Seseorang berwudlu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok anggota wudlu karena ikut madzhab imam Syafi’i. lalu dia menyentuh anjing, karena ikut madzhab Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing adalah suci. Ketika dia shalat, maka kedua imam tersebut tentu sama-sama akan membatalkannya. Sebab, menurut Imam Malik wudlu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan menggosok anggota wudlu. Wudlu ala Imam Syafi’I, menurut Imam Malik adalah tidak sah. Demikian juga anjing menurut Imam Syafi’i termasuk najis mughallazhah (najis yang berat). Maka ketika menyentuh anjing lalu shalat, shalatnya tidak sah. Sebab kedua imam itu tidak menganggap sah shalat yang dilakukan itu.
Talfiq semacam itu dilarang agama. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

ويمتنع التلفيق في مسئلة كأن قلدمالكا في طهارة الكلب والشافعي في بعض الرأس في صلاة واحدة (اعانة الطالبين , ج 1 ص 17)

“talfiq dalam satu masalah itu dilarang, seperti ikut pada Imam Malik dalam sucinya anjing dan ikut Imam Syafi’I dalam bolehnya mengusap sebagian kepala untuk mengerjakan shalat.” (I’anah al-Thalibin, juz 1, hal 17)
Sedangkan tujuan pelarangan itu adalah agar tidak terjadi tatabbu’ al-rukhash (mencari yang mudah), tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil yang ringan-ringan. Sehingga tidak akan timbul tala’ub (main-main) di dalam hukum agama. Atas dasar ini maka sebenarnya talfiq yang dimunculkan bukan untuk mengekang kebebasan umat Islam untuk memilih madzhab. Bukan pula untuk melestarikan sikap pembelaan dan fanatisme terhadap madzhab tertentu. Sebab talfiq ini dimunculkan dalam rangka menjaga kebebasan bermadzhab agar tidak disalahpahami oleh sebagian orang.
Untuk menghindari adanya talfiq yang dilarang ini, maka diperlukan adanya suatu penetapan hukum dengan memilih salah satu madzhab dari madzahib al-arba’ah yang relevan dengan kondisi dan situasi Indonesia. Misalnya, dalam persoalan shalat (mulai dari syarat, rukun dan batalnya) ikut madzhab Syafi’i. untuk persoalan sosial kemasyarakatan mengikuti madzhab Hanafi. Sebab, diakui atau tidak bahwa kondisi Indonesia mempunyai cirri khas tersendiri. Tuntutan kemashlahatan yang ada berbeda dari satu tempat dengan tempat lain.
Sumber:
Muhyiddin Abdusshomad, Fiqih Tradisionalis, Malang:Pustaka Bayan, 2004.

(Do'a of the Day) 02 Sya'ban 1432H

Bismillah irRahman irRaheem


In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa fawwadhtu amrii ilaika, wa alja'tu dlahrii ilaika rahbatan wa waghbatan ilaika. Laa malja'a wa laa manja'a minka illaa ilaika. Aamantu bi kitaabikal ladzii andlalta wa nabiyyikal ladzii arsalta.


Ya Allah, kuserahkan diriku kepada-Mu, kuserahkan urusanku kepada-Mu, kusandarkan kepada-Mu dengan penuh harap dan cemas. Tiada tempat bersandar dan tiada tempat berlindung dari murka-Mu kecuali kepada-Mu. Kuimani kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi yang Engkau utus.


Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 60.

Jumat, 01 Juli 2011

(Masjid of the Day) Pelepas Lelah di Antara Jalan Utama Cibitung - Cikarang

Panas terik, kering, berdebu, dan ganas, sepertinya bisa dijadikan perwakilan kata untuk menggambarkan bagaimana kondisi jalan antara cibitung dan cikarang yang merupakan salah satu ruas jalan negara yang sangat utama. Hampir seluruh jenis kendaraan melalui jalur ini, sepeda, becak, motor, mobil pribadi, truk, hingga kontainer 40" berlalu lalang tanpa henti.
Anda bisa membayangkan bagaimana suasana jalanan seperti di atas jika tanpa ada sekedar sejengkal saja tempat untuk melepas lelah, membasuh muka, dan merebahkan raga. Masjid Besar Al Hidayah yang terletak di sebelah kiri, kurang lebih 100 meter sebelum polsek cibitung, jalan menuju ke arah cikarang ini sangat tepat untuk dijadikan pilihan.




Menara yang tinggi menjulang, kelak sepertinya akan terlihat sangat gagah.



Tempat membersihkan diri disertai dengan kolam ikan yang bergemericik.

Teras lapang yang juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bergembira.

Dan masuk ke dalam ruangan yang damai.

Mampirlah ke sini jika kebetulan anda melintas di jalur ini.

Menatap ke Bawah

Janganlah terlalu lama mendongak ke atas, sesekali tataplah ke bawah agar tidak tersandung.


Kang Said: Jujur Itu Amanah

Jujur Itu Amanah
Oleh: KH. Said Aqiel Siroj
Kejujuran ternyata masih sesuatu yang mahal di negeri kita. Orang yang jujur faktanya akan tertimpa banyak petaka, seperti cibiran dan bahkan pula pengusiran oleh warga. Berani bicara jujur serta berani berbicara apa adanya dianggap sebagai aib dan tidak menggunakan hati nurani, seperti kasus Ibu Siami yang mengungkap kecurangan Ujian Nasional di SDN Gadel 2 Surabaya.

Kasus ini rasanya makin menguak "borok-borok" di masyarakat kita. Kita sudah sumpek dengan berbagai aksi ketidakjujuran seperti korupsi dan penyalahgunaan wewenang di tingkat elite yang terus menghiasi wajah negeri ini. Nyatanya pula, masyarakat sudah terkena "virus" ketidakjujuran. Masyarakat akan gampang "marah" bila kepentingan "massal"-nya terkoyak, termasuk akibat aksi kejujuran.

Bila ada maling motor tertangkap, masyarakat akan tersulut untuk main hakim dengan cara membuat bonyok maling atau bahkan membakarnya hidup-hidup. Bila warga suatu kampung dicelakai oleh warga kampung lainnya, maka akan mudah terjadi tawuran massal. Ya, terjadilah semacam "ritual kekerasan" dan beruntunnya fakta ini makin pula membongkar adanya "ritual ketidakjujuran". Lalu, ada yang bilang bahwa kita hidup dalam masyarakat yang hipokrit.

Ini yang kemudian melontarkan kegelisahan, ada apa yang salah di negeri kita? Bukankah pengajaran dan pendidikan keagamaan telah diberlakukan selama ini di sekolah-sekolah? Soal budi pekerti pun rasanya sudah sedemikian "membumi" sehingga secara jargonis kerap digemborkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang santun, mudah bersahabat, dan terbuka. Namun, di sebelah lain, kita pun tiba-tiba jadi tergagap-gagap oleh katakanlah situasi "absurditas" tersebut.

Muncullah gagasan untuk lebih mengedepankan pendidikan budi pekerti. Bahkan pula, seperti di Blora, Jateng, muncul ide Bupati Blora untuk memasukkan kurikulum ajaran Samin di sekolah-sekolah. Hal ini dilandasi oleh pandangan bahwa komunitas Samin yang dibangun oleh Samin Surosentiko dan masih banyak hidup di wilayah Blora dikenal sebagai komunitas yang memiliki keteguhan martabat, sikap kritis, dan kejujuran.

Dalam ranah hukum, seperti ungkapan pakar hukum Prof Satjipto Rahardjo, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar "penegakan hukum", tetapi juga "kejujuran hukum". Semua ini wajar karena dilandasi oleh kegelisahan dan kepedulian untuk menata kembali mentalitas, karakter, dan akhlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pedoman Islam
Seringkali muncul gumam-gumam dalam masyarakat bahwa mencari orang pinter di negeri ini sungguh banyak, tetapi mencari orang yang jujur dan lurus menjadi hal yang teramat langka dan sulit. Sekali lagi, ini menunjukkan ada yang tak beres di negeri kita atau juga ada sesuatu yang paradoks atau kontradiktif dengan bangsa kita yang konon dikabarkan sebagai bangsa yang agamis.

Dalam Islam, sifat jujur dan adil merupakan inti ajaran Islam. Kejujuran menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, sebab ia merupakan penopang atau penyangga jalan kebaikan bagi manusia. Menurut Imam al-Qusyairi, kejujuran menempati kedudukan setingkat di bawah kenabian, sebagaimana firman Allah SWT, "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dan orang-orang yang menetapi kebenaran.'' (QS an-Nisa: 69).

Alquran memuji orang-orang yang jujur lebih dari 50 kali. Salah satunya yang termaktub dalam surah al-Ahzab ayat 24, "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka."

Salah satu ciri kejujuran dalam ajaran Islam adalah jika batin seseorang serasi dengan perbuatan lahirnya. Umar bin Khattab pernah melarang umat Islam menilai dan melihat puasa atau shalat seseorang, tetapi hendaknya melihat kejujuran ucapan seseorang jika ia berbicara, amanahnya jika ia diberi tanggung jawab dan kemampuannya meninggalkan apa pun yang meragukan jika mendapat kenikmatan dunia.

Inti kejujuran adalah jika seseorang berkata benar dalam situasi-situasi di mana hanya dusta yang bisa menyelamatkannya. Pernyataan senada juga diutarakan Imam Thabari dengan menekankan pentingnya seseorang berkata dan berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kejujuran itu akan membunuh atau membinasakannya.

Dalam Tafsir al-Tabarani, diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas, "Bahwa salah seorang dari golongan Ansor yang berperang bersama Rasulullah SAW kehilangan baju besi. Seorang laki-laki dari Ansor tertuduh mencuri baju besi tersebut. Pemilik baju besi itu menghadap Rasulullah dan mengatakan bahwa Tu'mah bin Ubairik yang mencuri baju besi itu dan meletakkannya di rumah seorang laki-laki Yahudi yang tidak bersalah.

Kemudian, kerabat Tu'mah pergi dan menghadap Rasulullah pada suatu malam dan berkata kepada Beliau, "Sesungguhnya, saudara kami Tu'mah bersih dari tuduhan itu, sesungguhnya pencuri baju besi itu si Fulan, dan kami benar-benar mengetahui tentang itu, maka bebaskanlah sudara kami dari segala tuduhan di hadapan khalayak dan belalah dia."

Berdirilah Rasulullah membersihkan Tu'mah dari segala tuduhan dan mengumumkan hal itu di hadapan khalayak ramai. Maka, turunlah ayat 113 surat an-Nisa, "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi, mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu."

Negeri berperadaban
Seorang filsuf Muslim al-Farabi pernah mengandai-andai lahirnya sebuah negara sejahtera nan damai yang disebutnya "al-Madinatul Fadlilah". Dalam khayalannya, di negeri antah-berantah itu semua orang hidup bahagia. Tidak ada kecurangan, kejahatan, kekerasan, kesewenang-wenangan, dan penderitaan. Semua orang berkecukupan, damai, jujur, optimistis, dan sentosa.

Islam adalah manhajul hayah (jalan hidup nyata), bukan din al-maut (agama kematian). Dalam nomenkaltur fikih disebut al-mashalih al-'ammah (kemaslahatan bersama). Artinya, dalam merespons dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan-kemasyarakatan, Islam selalu berpijak pada pendasaran hukum. Sifat manusia yang berpotensi merusak (ifsad fi al-ardhi wa safku-d-dima') perlu dikendalikan. Di sini, Islam sudah tegas memberikan petunjuk secara jelas (dilalah al-nash).

Di sinilah pentingnya mengedepankan penataan mentalitas melalui penguatan sikap kejujuran anak bangsa. Ini merupakan upaya preventif (ihtiyath) lewat pembangunan spiritual dan mentalitas, di samping pembangunan material di negara kita. Sudah seharusnya pembangunan mental sekukuh hasrat dalam pembangunan material. Tanpa itu, tidak akan mungkin terwujud pembangunan manusia seutuhnya.

Keprihatinan kita atas kondisi ketidakjujuran dan juga kekerasan sesungguhnya kepedulian kita terhadap kondisi bangsa ini. Tak ada jalan lain, kecuali kita semestinya menguatkan mentalitas bangsa kita. Dan perlu diingat bahwa pembentukan mentalitas dengan memperkukuh rasa kebersamaan, persaudaraan, dan kejujuran, perlu ditopang melalui penegakan hukum secara tegas. Ketidakjujuran dalam bentuk apa pun, harus segera dihentikan. Langkah ini demi membangun negeri kita yang lebih berperadaban.

Akhirnya, kita juga tidak boleh melupakan bahwa ada hal lain yang mesti dikedepankan, yaitu keteladanan yang baik (al-matsal al-'ala) dari para pemimpin bangsa. Menyitir kata-kata seorang ulama, Ibnu Malik, "Keteladanan adalah yang paling utama. Sebab, ucapan tanpa keteladanan tidak akan pernah bisa dipahami."

KH Said Aqiel Siroj, Ketua Umum PBNU

(Khotbah of the Day) Isitqomah Sebagai Konsep Diri dalam Membentuk Karakter Seorang Muslim

Isitqomah Sebagai Konsep Diri dalam Membentuk Karakter Seorang Muslim
الحمد لله الذى أمرنا بالعدل والاحسان, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذى بصرنا من العمى وهدانا من الضلال. اللهم صل وسلم وبارك على رسول الله محمد ابن عبدالله وعلى اله واصحابه ومن تبعه باحسان الى يوم القيامة. أما بعد فياعبادالله أوصيكم واياي بتقوى الله وطاعته وافعلوا الخيرات واجتنبوا السيئات لعلكم تفلحون. قال الله تعالى فى القرأن العظيم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ان الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة الا تخافوا ولاتحزنوا وابشروا بالجنة التي كنتم توعدون

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Sembari bersila, duduk istiqamah di masjid ini, mari kita bersama-sama mendekatkan diri, menyatukan nurani kita dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang melidungi dan membimbing hidup kita. Upaya mendekatkan dan menyatukan diri merupakan sesuatu yang niscaya bagi kita selaku hamba-Nya dan sebagai manifestasi ketundukan dan kepatuhan kita di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Pada kesempatan kali ini, khatib ingin mengangkat tema tentang istiqomah sebagai konsep diri membentuk karakter seorang muslim.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Sebagai agama samawi, Islam memadukan antara dimensi esoterik (‘aqidah) di satu sisi, dan dimensi eksoterik (syari’ah) di sisi yang lain. Dimensi eksoterik ajaran Islam memuat ajaran paling fundamental yang menyangkut sistem keimanan dan kepercayaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta alam semesta. Oleh karena itu, pemaknaan atas iman secara benar dan istiqomah dimaksud untuk mestimulasi rasa spiritualisme keagamaan yang paling asasi dalam wujud penghambaan dan pengabdian secara total kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Istiqomah berasal dari kata Qawama yang berarti tegak lurus. Kata istiqomah selalu dipahami sebagai sikap teguh dalam pendirian, konsekuen, tidak condong atau menyeleweng ke kiri atau ke kanan dan tetap berjalan pada garis lurus yang telah diyakini kebenarannya.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Istiqomah adalah konsistensi, ketabahan, kemenangan, keperwiraan dan kejayaan di medan pertarungan antara ketaatan, hawa nafsu dan keinginan. Oleh karena itu mereka yang beristiqomah layak untuk dapat penghormatan berupa penurunan malaikat kepada mereka dalam kehidupan di dunia untuk membuang perasaan takut dan sedih dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan kenikmatan surga. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣۰﴾٣۰
Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(al-Fussilat:30).

Sikap istiqomah juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw sebagai identitas keislaman seseorang. Hal ini sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
عن سفيان بن عبد الله الثقفي قال قلت يارسول الله قل لى فى الاسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك قال قل أمنت بالله فاستقم (رواه مسلم)
Artinya:

Dari Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi r.a berkata: Aku berkata Wahai Rasulullah...! katakanlah satu perkataan padaku tentang islam yang aku tidak perlu menanyakannya kepada orang lain. Sabda Rasullah saw: “ucapkanlah aku beriman dengan Allah kemudian beristiqomahlah kamu” (HR. Muslim)

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Hadits di atas menjelaskan bahwa sikap istiqomah tersebut akan berimplikasi kepada bagaimana seorang muslim secara terus menerus dan konsisten berpegang teguh dalam beriman kepada Allah. Istiqomah itu sendiri dapat memberikan efek positif yang sangat besar bagi kehidupan seorang muslim dalam membentuk citra dirinya.

Citra diri (self image) atau konsep diri (self concept) adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri. Walaupun citra diri mempunyai subyektivitas yang tinggi, tetapi hal itu merupakan salah satu unsur penting dalam proses pengembangan pribadi. Citra diri yang positif akan mewarnai pola sikap, cara pikir, corak penghayatan, dan ragam perbuatan yang positif juga, demikian pula sebliknya. Seseorang yang memandang dirinya cerdas misalnya, akan bersikap berfikir, merasakan dan melakukan tindakan-tindakan yang dianggapnya cerdas (sekalipun orang-orang lain mungkin menganggapnya berlagak pintar)

Sesuai dengan citra diri yang disebutkan, maka yang dimaksud dengan citra diri muslim adalah gambaran seorang mengenai dirinya sendiri, dalam artian sejauh mana ia menilai sendiri kualitas kemusliman, keimanan, dan kemuhsinannya berdasarkan tolak ukur ajaran Islam. Peneliaian ini benar-benar tidak mudah dan mengandung subjektivitas yang tinggi, tetapi hal ini dalam ajaran Islam sangat dianjurkan mengingat setiap muslim wajib melakukan muhasabah (evaluasi diri), menghisab dirinya sebelum ia dihisab di hari akhir.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Seorang muslim yang melakukan istiqomah, maka ia telah melakukan sebuah usaha yang berkaitan dengan pengembangan pribadinya. Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Seseorang disebut memiliki kepribadian muslim manakala ia dalam mempersepsi sesuatu, dalam bersikap terhadap sesuatu dan dalam melakukan sesuatu dikendalikan oleh pandangan hidup muslim. Karakter seorang muslim terbentuk melalui pendidikan dan pengalaman hidup. Kepribadian seseorang disamping bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya, proses internalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini, agama yang diterima dari pengetahuan maupun yang dihayati dari pengalaman rohaniah, masuk ke dalam struktur kepribadian seseorang. Orang yang menguasai ilmu agama atau ilmu akhlak (sebagai ilmu) tidak otomatis memiliki kepribadian yang tinggi, karena kepribadian bukan hanya aspek pengetahuan.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Salah satu kegiatan pribadi adalah ‘menemukan makna hidup’ yang kiranya dapat dimodifikasi untuk merancang program pelatihan ‘menuju kepribadian muslim. Pelatihan menemukan makna hidup ini didasari oleh prinsip-prinsip panca sadar yakni: Pertama sadar akan citra diri yang diidam-idamkan. Kedua sadar akan kelemahan dan keunggulan diri sendiri. Ketiga sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar. Keempat sadar akan pendekatan dan metode penghambatan pribadi. Dan kelima sadar akan tokoh idaman dan panutan akan suri tauladan.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Kesimpulan dari khutbah kali ini adalah bahwa seorang muslim yang melakukan istiqomah, maka ia telah melakukan sebuah usaha yang berkaitan dengan pengembangan pribadinya dan citra dirinya. Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangja mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ,وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
(Mustasyar PBNU)
Disadur dari Kumpulan Khutbah Jum’at Islam dan Terorisme

(Do'a of the Day) 29 Rajab 1432H

Bismillah irRahman irRaheem
 
In the Name of Allah, The MostGracious, The Most Kind


Bismikarabbii wadha'tu jambi, wa bika arfa'uhuu, in amsakta nafsii farhamhaa, wa inarsaltahaa fahfadlhaa bi maa tahfadlu bihii 'ibaadakash shaalihiina.


Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhanku,kuletakkan lambungku dan dengan izin-Mu pula aku dapat mengangkatnya. JikaEngkau ambil diriku ini, limpahkanlah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau biarkansebagaimana halnya, peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Muyang shaleh.


Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian1, Bab 60.